<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008</id><updated>2012-01-30T17:46:12.172-08:00</updated><title type='text'>Warna Warni Bali</title><subtitle type='html'>Sekadar Mengungkap Warna Warni Kehidupan Masyarakat Bali</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>183</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-725781383484576382</id><published>2008-03-26T01:23:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T01:25:38.319-07:00</updated><title type='text'>Kunjungi Rumah Baru Penulis di</title><content type='html'>&lt;a href="http://warnawarnibali.wordpress.com"&gt; www.warnawarnibali.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-725781383484576382?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/725781383484576382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=725781383484576382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/725781383484576382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/725781383484576382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/kunjungi-rumah-baru-penulis-di_26.html' title='Kunjungi Rumah Baru Penulis di'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3909404122514975100</id><published>2008-03-18T04:16:00.001-07:00</published><updated>2008-03-18T04:16:59.195-07:00</updated><title type='text'>PAP Ngurah Rai Minta Maaf atas Insiden Penangkapan Fotografer</title><content type='html'>BADUNG – PT. Persero Angkasa Pura (PAP) I Ngurah Rai, Denpasar, Bali, secara resmi meminta maaf atas terjadinya insiden ‘penangkapan’ seorang jurnalis foto (fotografer) oleh security bandara saat mengambil foto maskapai AdamAir.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan maaf itu disampaikan General Manager PAP I Ngurah Rai I Nyoman Suwetja Putra saat bertemu dengan organisasi profesi jurnalistik di Kantor PAP I Ngurah Rai, di lingkungan Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Selasa (18/3/2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalangan pers diwakili Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Denpasar, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali-Nusa Tenggara dan sejumlah jurnalis yang bersimpati atas insiden tersebut. “Kami secara resmi minta maaf jika anak buah kami telah bertindak dan berbicara kasar,” kata Suwetja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suwetja, tiga orang security yang saat itu bertugas sudah memenuhi prosedur terutama untuk mengatisipasi munculnya gangguan terkait keamanan dan keselamatan di kawasan bandara. Namun, ia tidak memungkiri jika dalam praktiknya ada anggotanya yang bertindak berlebihan. “Maklum, banyak anggota kami yang hanya lulusan SMP, sehingga otaknya kurang cerdas,” ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, Suwetja meminta agar setiap wartawan mematuhi dan ikut menjaga kemananan di lingkungan bandara. Apalagi beberapa hari sebelumnya pihak security bandara sempat memergoki tiga orang mencurigakan mengendap-endap di sekitar kawasan bandara. Namun setelah diperiksa, mereka ternyata nelayan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas insiden tersebut, Suwetja berjanji akan melakukan pembinaan kepada para staf, terutama security, agar lebuh bisa memberikan pelayanan yang ramah kepada siapapun, termasuk pers. Pihaknya juga akan melakukan pembenahan yang lebih konkret terkait prosedur bagi wartawan yang ingin melaksanakan peliputan di lingkungan Bandara Ngurah Rai. Pihaknya bahkan menawarkan adanya semacam nota kesepakatan (MoU) antara PAP-jurnalis untuk memudahkan setiap wartawan yang ingin meliput di areal bandara. “Kalau bisa sebelum April sudah direalisasikan,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan, Suwetja juga berencana segera memutasi Kepala Humas PAP I Ngurah Rai Akhmad Munir. Menurut dia, insiden ‘penangkapan’ fotografer itu juga menunjukkan tidak berfungsinya divisi humas. “Saya sudah mendengar lama kalau dia (Munir, red) perilakunya tidak mencerminkan seorang humas. Dengan kejadian ini, semakin kuat alasan kami untuk memindahnya,” imbuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ketua AJI Denpasar Bambang Wiyono yang ikut hadir dalam pertemuan itu menilai pihak PAP I Ngurah Rai seperti memiliki ketakutan yang berlebihan ketika berhadapan dengan media. “Saya melihat seperti ada sebuah ketakutan ketika jurnalis mencoba untuk mengambil gambar dari sini. Sehingga perlakuannya menjadi berlebihan. Misalkan kalau ini bukan terjadi pada fotografer, apakah akan diperlakukan seperti itu? Kalau sebuah institusi merasa tidak memiliki salah satu aib, kenapa mesti takut, apalagi sampai menghalangi seorang wartawan saat hendak meliput,” katanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada dikatakan Ketua IJTI Bali-Nusa Tenggara Syafrudin Siregar. Dia mengatakan ikut mendukung langkah yang akan diambil PAP I Ngurah Rai dalam merumuskan aturan yang jelas terkait tugas jurnalis yang ingin meliput di kawasan bandara. Menurut dia, insiden serupa selama ini sering menimpa wartawan yang hendak meliput di kawasan Bandara Ngurah Rai.  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seperti diberitakan sebelumnya, fotografer harian Seputar Indonesia Zul T Edoardo ditangkap petugas security PAP I Ngurah Rai saat hendak mengambil gambar pesawat AdamAir dari luar pagar pembatas bandara, Senin (19/3/2008). Meski sudah menunjukkan Press Card dan hanya mengambil gambar dari luar pagar pembatas bandara, Zul tetap ditangkap dan sempat ditahan selama hampir empat jam di salah satu ruangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3909404122514975100?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3909404122514975100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3909404122514975100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3909404122514975100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3909404122514975100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/pap-ngurah-rai-minta-maaf-atas-insiden.html' title='PAP Ngurah Rai Minta Maaf atas Insiden Penangkapan Fotografer'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7948187733527087512</id><published>2008-03-17T08:11:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T08:16:22.259-07:00</updated><title type='text'>Meliput Adam Air, Fotografer Ditangkap</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/R96K7AIBtRI/AAAAAAAAADo/nuaLvo1q52Q/s1600-h/Foto+Zul.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/R96K7AIBtRI/AAAAAAAAADo/nuaLvo1q52Q/s200/Foto+Zul.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5178729367773230354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR – Pemberitaan tentang gonjang-ganjingnya maskapai Adam Air menorehkan getah pahit bagi jurnalis di Bali. Ini setelah seorang fotografer ditangkap saat melaksanakan tugas jurnalistik di Bandara Ngurah Rai, Badung, kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang menimpa fotografer Koran Seputar Indonesia Zul T Edoardo ini berawal saat dia berusaha mengambil foto pesawat Adam Air dari luar pagar pembatas bandara, sekitar pukul 17.00 wita kemarin. Setelah sekitar setengah jam, Zul akhirnya berhasil mengambil gambar pesawat Adam Air, meskipun dalam jarak yang cukup jauh karena peswat masih terparkir di landasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena naluri jurnalistiknya merasa merasa belum mememperoleh gambar yang maksimal, fotografer berkacamata ini bersikukuh menunggu pesawat Adam Air take off. &lt;br /&gt;Namun belum sempat niat itu kesampaian, tiga orang security PT Angkasa Pura tiba-tiba mendekat. Meski awalnya sempat merahasiakan identitasnya, Zul lalu mengatakan dirinya jurnalis. Dua petugas secutity bernama I Wayan Guntur dan I Made Sukerdana lantas meminta ID. “Saya kemudian memberikan ID Press,” ujar Zul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun petugas tetap tidak percaya dan malah menanyakan identitas lainnya. Zul lantas memberikan SIM A dari dalam dompetnya. Peristiwa tidak berhenti di situ. Tiga petugas lantas membawa Zul ke pos security. Di tempat ini, tas yang berisi perlengkapan kamera milik zul hendak diperiksa. Namun Zul menolaknya karena khawatir kameranya disita ataupun terjadi kerusakan. “Kamu tidak boleh mengambil gambar di sini,” bentak Guntur  dengan nada keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tidak melakukan kesalahan, Zul kemudian mengatakan dia mengambil foto dari pagar pembatas. Tak terima dengan jawaban itu, petugas lalu memasukkan Zul ke dalam mobil dan dibawa menuju kantor ADM (airport duty manager). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh petugas ADM bernama Mandia, Zul lantas diinterogasi dengan nada keras. Bukan cuma itu, tas berisi kamera akhirnya digeledah dan dikelurakan. Bahkan, setelah itu petugas juga memeriksa seluruh badan fotografer ini. Setelah dipastikan aman, dengan enteng petugas ADM mengatakan kejadian ini hanya salah paham. “Namun Anda tetap bersalah karena telah memasuki rumah kami tanpa ijin,” kata Mandia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu pun membuat kalangan jurnalis dan Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) malam itu juga mendatangi Bandara Ngura Rai. Petugas akhirnya melepas Zul sekitar pukul 20.00 wita. “Penyelesaiannya tidak sekadar melepas yang bersangkutan, karena ini telah melecehkan profesi jurnalistik. Apalagi fotografer yang bersangkutan mengambil gambar dari luar pagar pembatas bandara,” kata Syafrudin Siregar, pengurus AJI Denpasar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal senada disampaikan Ketua AJI Denpasar Bambang Wiyono. Menurut dia, tidak selayaknya pihak PT Persero Angkasa Pura I Ngurah Rai sampai melakukan penahanan terhadap seorang wartawan. “Itu perlakuan yang berlebihan dan tidak bisa dibenarkan oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” kata Bambang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Kepala PAP I Nyoman Suwetja Putra saat dikonfirmasi mengakui sudah mendengar peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian itu hanya berawal dari salah paham. Seharusnya, kata Suwetja, seorang jurnalis harus minta ijin saat hendak meliput di lingkungan bandara. Namun, dia juga mengakui tentang tindakan anak buahnya yang berlebihan. “Karena itu saya juga minta maaf,” ujarnya. (miftachul chusna/ ni komang erviani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7948187733527087512?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7948187733527087512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7948187733527087512' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7948187733527087512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7948187733527087512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/meliput-adam-air-fotografer-ditangkap.html' title='Meliput Adam Air, Fotografer Ditangkap'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/R96K7AIBtRI/AAAAAAAAADo/nuaLvo1q52Q/s72-c/Foto+Zul.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1794178981805886930</id><published>2008-03-16T09:33:00.002-07:00</published><updated>2008-03-17T09:40:41.190-07:00</updated><title type='text'>Oase di Gurun Gersang</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Minggu, 16/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia sepakat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru. Sebab, selama ini mereka tertinggal dibandingkan bangsa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga unit mobil pintar (smart car) terparkirrapididepanlobi Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, saat digelar pertemuan ketujuh para menteri pendidikan dari sembilan negara berpenduduk terbesar (E-9), 10–12 Maret lalu. Melengkapi itu, sejumlah anak sekolah taman kanakkanak sengaja didatangkan untuk menyapa para delegasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, para delegasi juga diajak berkunjung ke SMA Negeri 4 Denpasar. Di sekolah favorit di Denpasar yang berstandar internasional ini, para delegasi dari Indonesia, Bangladesh, Mesir, Brasil, India, China, Meksiko, Nigeria, dan Pakistan disuguhi berbagai kecanggihan teknologi yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga berbagai peragaan ilmu pengetahuan dan seni budaya dari berbagai bidang ekstrakurikuler yang diterapkan di sana. Dua agenda tambahan dalam pertemuan sembilan negara berpenduduk terbesar dunia itu sukses membuat kagum para delegasi. Sekretaris Menteri Pendidikan Bangladesh M Musharraf Hossain Bhuiyan mengaku terkesan dengan pembelajaran di SMA Negeri 4 Denpasar ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekolah ini bagus, baik dari segi intrakurikuler maupun ekstrakurikulernya. Ini patut ditiru sekolah lain di negara kawasan E-9,”ujarnya. Potret pendidikan sekolah favorit di Pulau Dewata tersebut tentu berbanding terbalik dengan kenyataan wajah pendidikan di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal infrastruktur pendidikan, misalnya, kerusakan gedung sekolah masih menimpa sekitar 50% gedung sekolah di Indonesia,437 unit gedung di antaranya terdapat di Jakarta. Jumlah itu bisa jadi naik seiring dengan bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah belakangan ini. Begitu juga dengan gaji guru yang rata-rata masih di bawah kesejahteraan, terlebih bagi tenaga honorer atau guru bantu. Persoalan yang dihadapi Indonesia ini juga menimpa negara di kawasan E-9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum,dunia pendidikan di kawasan E-9 dianggap masih jauh dari harapan. Menurut Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura, saat ini negara E-9 masih memiliki segudang permasalahan di bidang pendidikan yang cukup memprihatinkan. Misalnya, nasib sebagian besar pengajar yang masih bekerja dengan pendapatan minim,karier tidak jelas, serta tidak mampu mengakses pelatihan dan teknologi informasi untuk meningkatkan kapasitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan serupa disampaikan Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO Arief Rachman. Di Indonesia sendiri, menurut dia, peningkatan kualitas guru masih menjadi masalah utama, disusul buruknya infrastruktur pendidikan dan rendahnya aksesibilitas masyarakat miskin untuk mengenyam pendidikan. ”Di Indonesia masih ada 40–65% sekolah berada pada keadaan yang fasilitas gedungnya jelek, gurunya terbatas, bukunya tidak lengkap,” ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen anggota negara-negara yang tergabung dalam E-9 untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan ibarat oase di gurun gersang bagi masa depan anakanak bangsa. Deklarasi Bali yang dihasilkan dalam pertemuan selama tiga hari itu, misalnya,memuat butir tentang perlunya mengintensifkan mekanisme kerja sama Selatan- Selatan untuk menambah infrastrukturdanperlengkapan, dukungan pelatihan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technologies/ICT), serta pembelajaran terbuka (open and distance learning/ODL). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para menteri dari sembilan negara anggota juga menyepakati perlunya menjamin kecukupan jumlah tenaga pengajar, terutama bagi guru perempuan. UNESCO memperkirakan, hingga 2015 masih diperlukan tambahan 18 juta guru sekolah dasar (SD) di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 40% diperlukan di negaranegara E-9. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo berpendapat, kerja sama negara-negara E-9 memberi manfaat luar biasa pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan kebijakan sertifikasi guru,wajib belajar sembilan tahun hingga pembuatan UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Itu semua merupakan implementasi dari kesepakatankesepakatan kerja sama E-9 sebelumnya. ”Kita belajar banyak dari kawasan E-9,”ujarnya. Namun, dia mengakui masih banyak persoalan yang membelit pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pemerataan jumlah guru di perkotaan dan pedesaan, misalnya,masih perlu dicarikan solusinya. Hal itu diduga terkait dengan masalah kesejahteraan guru di daerah pedesaan yang masih rendah. Indonesia, lanjut dia, juga akan belajar dari China tentang mekanisme pemberian insentif kepada guru agar mau bertugas di pedesaan.Indonesia juga sepakat untuk belajar dari Meksiko dan Brasil tentang bagaimana memberdayakan guru melalui kurikulum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Fasli Jalal menyebutkan, Deklarasi Bali sebagai kesepakatan paling riil karena berisi program-program aksi yang jelas. (ni komang ervíani/ miftachul chusna/ thomas pulungan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1794178981805886930?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1794178981805886930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1794178981805886930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1794178981805886930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1794178981805886930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/oase-di-gurun-gersang_16.html' title='Oase di Gurun Gersang'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7564166960899921272</id><published>2008-03-16T09:33:00.001-07:00</published><updated>2008-03-17T09:40:38.235-07:00</updated><title type='text'>Oase di Gurun Gersang</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Minggu, 16/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara berpenduduk terbesar di dunia sepakat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru. Sebab, selama ini mereka tertinggal dibandingkan bangsa lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga unit mobil pintar (smart car) terparkirrapididepanlobi Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, saat digelar pertemuan ketujuh para menteri pendidikan dari sembilan negara berpenduduk terbesar (E-9), 10–12 Maret lalu. Melengkapi itu, sejumlah anak sekolah taman kanakkanak sengaja didatangkan untuk menyapa para delegasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berikutnya, para delegasi juga diajak berkunjung ke SMA Negeri 4 Denpasar. Di sekolah favorit di Denpasar yang berstandar internasional ini, para delegasi dari Indonesia, Bangladesh, Mesir, Brasil, India, China, Meksiko, Nigeria, dan Pakistan disuguhi berbagai kecanggihan teknologi yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga berbagai peragaan ilmu pengetahuan dan seni budaya dari berbagai bidang ekstrakurikuler yang diterapkan di sana. Dua agenda tambahan dalam pertemuan sembilan negara berpenduduk terbesar dunia itu sukses membuat kagum para delegasi. Sekretaris Menteri Pendidikan Bangladesh M Musharraf Hossain Bhuiyan mengaku terkesan dengan pembelajaran di SMA Negeri 4 Denpasar ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sekolah ini bagus, baik dari segi intrakurikuler maupun ekstrakurikulernya. Ini patut ditiru sekolah lain di negara kawasan E-9,”ujarnya. Potret pendidikan sekolah favorit di Pulau Dewata tersebut tentu berbanding terbalik dengan kenyataan wajah pendidikan di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal infrastruktur pendidikan, misalnya, kerusakan gedung sekolah masih menimpa sekitar 50% gedung sekolah di Indonesia,437 unit gedung di antaranya terdapat di Jakarta. Jumlah itu bisa jadi naik seiring dengan bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah belakangan ini. Begitu juga dengan gaji guru yang rata-rata masih di bawah kesejahteraan, terlebih bagi tenaga honorer atau guru bantu. Persoalan yang dihadapi Indonesia ini juga menimpa negara di kawasan E-9. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum,dunia pendidikan di kawasan E-9 dianggap masih jauh dari harapan. Menurut Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura, saat ini negara E-9 masih memiliki segudang permasalahan di bidang pendidikan yang cukup memprihatinkan. Misalnya, nasib sebagian besar pengajar yang masih bekerja dengan pendapatan minim,karier tidak jelas, serta tidak mampu mengakses pelatihan dan teknologi informasi untuk meningkatkan kapasitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan serupa disampaikan Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO Arief Rachman. Di Indonesia sendiri, menurut dia, peningkatan kualitas guru masih menjadi masalah utama, disusul buruknya infrastruktur pendidikan dan rendahnya aksesibilitas masyarakat miskin untuk mengenyam pendidikan. ”Di Indonesia masih ada 40–65% sekolah berada pada keadaan yang fasilitas gedungnya jelek, gurunya terbatas, bukunya tidak lengkap,” ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen anggota negara-negara yang tergabung dalam E-9 untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan ibarat oase di gurun gersang bagi masa depan anakanak bangsa. Deklarasi Bali yang dihasilkan dalam pertemuan selama tiga hari itu, misalnya,memuat butir tentang perlunya mengintensifkan mekanisme kerja sama Selatan- Selatan untuk menambah infrastrukturdanperlengkapan, dukungan pelatihan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technologies/ICT), serta pembelajaran terbuka (open and distance learning/ODL). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para menteri dari sembilan negara anggota juga menyepakati perlunya menjamin kecukupan jumlah tenaga pengajar, terutama bagi guru perempuan. UNESCO memperkirakan, hingga 2015 masih diperlukan tambahan 18 juta guru sekolah dasar (SD) di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 40% diperlukan di negaranegara E-9. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo berpendapat, kerja sama negara-negara E-9 memberi manfaat luar biasa pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mencontohkan kebijakan sertifikasi guru,wajib belajar sembilan tahun hingga pembuatan UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Itu semua merupakan implementasi dari kesepakatankesepakatan kerja sama E-9 sebelumnya. ”Kita belajar banyak dari kawasan E-9,”ujarnya. Namun, dia mengakui masih banyak persoalan yang membelit pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pemerataan jumlah guru di perkotaan dan pedesaan, misalnya,masih perlu dicarikan solusinya. Hal itu diduga terkait dengan masalah kesejahteraan guru di daerah pedesaan yang masih rendah. Indonesia, lanjut dia, juga akan belajar dari China tentang mekanisme pemberian insentif kepada guru agar mau bertugas di pedesaan.Indonesia juga sepakat untuk belajar dari Meksiko dan Brasil tentang bagaimana memberdayakan guru melalui kurikulum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Fasli Jalal menyebutkan, Deklarasi Bali sebagai kesepakatan paling riil karena berisi program-program aksi yang jelas. (ni komang ervíani/ miftachul chusna/ thomas pulungan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7564166960899921272?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7564166960899921272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7564166960899921272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7564166960899921272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7564166960899921272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/oase-di-gurun-gersang.html' title='Oase di Gurun Gersang'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4370454097560619125</id><published>2008-03-16T09:23:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T09:26:47.833-07:00</updated><title type='text'>Turis Australia Terancam Beralih</title><content type='html'>&lt;em&gt;Koran Seputar Indonesia - Minggu, 16/03/2008  &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR (SINDO) – Turis asal Australia terancam mengalihkan kunjungan wisatanya ke Singapura dan Vietnam akibat penerbangan langsung ke Bali sangat minim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,wisatawan Australia selama ini menjadi pasar potensial pariwisata Bali. Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus mengaku banyak wisatawan yang mengeluhkan atas minimnya kuantitas penerbangan langsung Australia–Bali. Untuk ke Bali, kata Perry, para turis harus melewati Jakarta atau ke Sydney terlebih dahulu. Padahal, banyak wisatawan Australia yang berasal dari Brisbane,Adelaide, atau Perth.Terpaksa turis harus menambah waktu tempuh dari daerah mereka ke Sidney atau Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini dikeluhkan. Jadi, yang dari Brisbane harus ke Sidney dulu. Malah ada juga yang harus ke Jakarta dulu,”ujar Perry di Denpasar kemarin. Dia mengaku kondisi ini membuat wisatawan Australia mulai beralih ke destinasi wisata lain dengan akses penerbangan lebih mudah.Dua negara yang kini banyak dikunjungi turis Australia,yakni Vietnam dan Singapura.”Karena susah ke Bali, mereka lebih gampang ke Vietnam atauke Singapura,”terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perry mengaku sejauh ini memang belum menunjukkan tanda-tanda memburuknya kunjungan wisatawan Australia ke Bali.Namun, pemerintah mengabaikan kondisi ini, maka jumlah wisatawan akan terus berkurang. Dia menambahkan,berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, total kunjungan wisatawan Australia ke Bali pada Januari 2008 memang masih tinggi,yakni mencapai 20.235 orang, naik 59% dibandingkan Januari 2007 yang hanya 12.716 orang. Ke depan Perry berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan tersebut dengan menambah penerbangan langsung rute penerbangan Denpasar–Perth, Denpasar– Brisbane, dan Denpasar– Adelide. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bila tidak, wisatawan Australia terancam akan beralih secara besarbesaran ke Vietnam atau Singapura. Australia adalah pasar potensial untuk kita. Mereka sangat mengharapkan ada penambahan penerbangan,” ujarnya. Ketua Program Studi Pariwisata Universitas Udayana I Putu Anom menyesalkan minimnya akses penerbangan langsung Bali–Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Anom, wisatawan Australia sangat menjanjikan, mengingat adanya kedekatan budaya antara masyarakat Australia dengan Bali. Terbukti, tragedi Bom Bali yang menewaskan ratusan warga Australia tidak mengurangi minat warga Australia berwisata di Bali. Selain itu, kendati pemerintah Australia mengeluarkan travel warning bagi warganya ke Indonesia,turis dari Australia tetap banyak yang berkunjung ke Tanah Air. ”Biar ada travel warning,mereka tetap datang.Saya harap Garuda membuka penerbangan tambahan langsung Bali-Australia.” (fahmi faisa/ni komang erviani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4370454097560619125?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4370454097560619125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4370454097560619125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4370454097560619125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4370454097560619125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/turis-australia-terancam-beralih.html' title='Turis Australia Terancam Beralih'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4781150577827377381</id><published>2008-03-15T21:41:00.000-07:00</published><updated>2008-03-15T21:45:00.857-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kunjungi Rumah Baru Penulis di &lt;a href="http://warnawarnibali.wordpress.com"&gt;warnawarnibali.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4781150577827377381?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4781150577827377381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4781150577827377381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4781150577827377381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4781150577827377381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/kunjungi-rumah-baru-penulis-di.html' title=''/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-6771912011378467857</id><published>2008-03-14T10:39:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:43:17.596-07:00</updated><title type='text'>MNC Sky Vision Ekspansi ke Bali</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Jum'at, 14/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR (SINDO) – PT MNC Sky Vision melakukan ekspansi ke wilayah Bali,Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir tahun ini, operator TV berbayar Indovision itu menargetkan tambahan 20.000 pelanggan baru di wilayah-wilayah tersebut. Wakil Presiden Direktur MNC Sky Vision Handhi S Kentjono menegaskan, pihaknya optimistis mencapai target pelanggan baru tersebut mengingatjumlahpelangganIndovision di Bali dan Nusa Tenggara saatinisudahmencapai15.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Padahal kita belum buka kantor perwakilan di Bali,tapi kitasudahdapat15.000pelanggan. Jadi saya sangat optimistis target ini akan tercapai,”ujarnya seusai membuka kantor perwakilan Indovision di Denpasar kemarin. Handhi mengatakan,selama ini banyak permintaan berlangganan dari masyarakat Bali yang tidak bisa digarap karena ketiadaan kantor perwakilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali, NTB, dan NTT merupakan pasar yang potensial dengan populasi mencapai 4,7 juta orang. Selain pelanggan rumahan, MNC Sky Vision juga menargetkan tambahan pelanggan korporasi dari kalangan perhotelan. Saat ini lebih dari 50 hotel berbintang empat dan lima di Bali telah menjadi pelangganIndovision. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukskalanasional, sekitar 70% hotel berbintang empat dan lima di Indonesia dipastikan merupakan pelanggan Indovision.Adapununtukpelangganrumahan secara nasional, MNC Sky Vision saat ini memiliki lebih dari 350.000 pelanggan. Wakil Presiden Penjualan MNC Skyvision Wesly Parapat menjelaskan, perusahaan akan melakukan strategi pemasaran door to door untuk menambah jumlah pelanggan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi itu juga dilakukan untuk mendekatkan produk- produk perusahaan kepada masyarakat. Untuk mengakomodasi segmen pasar yang lebih menyukai tontonan bermuatan lokal, imbuh dia, MNC Sky Vision kini menyediakan produk Top TVyangmenyediakan paket layanan 25 saluran unggulan Indovision yang kebanyakan bermuatan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wesly optimistis produk Top TV akan digemari masyarakat Bali mengingat harga berlangganan yang ditawarkan lebih murah. ”Bila iuran Indovision sebesar Rp149.000 per bulan, masyarakat dapat mendapatkan layanan Top TV hanya dengan Rp85.000 per bulan.Jadi kami memberi alternatif yang bisa dipilih konsumen,”ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Bali, MNC Sky Visionjugatelahmembukakantor perwakilan di sejumlah daerah, yakni Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, Bandung, Semarang, dan Pekanbaru. Dalam waktu dekat,perusahaan pun berencana membuka kantor perwakilan lain di kota-kota potensial lainnya. (ni komang erviani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-6771912011378467857?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/6771912011378467857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=6771912011378467857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6771912011378467857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6771912011378467857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/mnc-sky-vision-ekspansi-ke-bali.html' title='MNC Sky Vision Ekspansi ke Bali'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-315314040301117271</id><published>2008-03-13T10:48:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:49:04.564-07:00</updated><title type='text'>Negara E-9 Percepat Kualitas Pendidikan</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Kamis, 13/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA (SINDO) – Para menteri pendidikan dari sembilan negara berpenduduk terbesar dunia (E-9) sepakat untuk memperkuat kerja sama dan mempercepat pencapaian target pendidikan untuk semua atau (education for all/EFA). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tanpa upaya itu, kita akan kesulitan mencapai tujuan education for all (EFA) pada 2015 mendatang,” kata Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura seusai menutup pertemuan ketujuh para menteri pendidikan kawasan negara E-9 di Nusa Dua, Bali, kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan selama tiga hari tersebut terungkap bahwa sebagian besar pengajar di negara E-9 masih bekerjadalamkondisikerjayang memprihatinkan,seperti pendapatan minim, karier tidak jelas, serta tidak mampu mengakses pelatihan dan teknologi informasi untuk meningkatkan kapasitasnya. Di sisi lain, kawasan ini masih kekurangan sebanyak tujuh juta guru berkualitas dari total kekurangan guru di seluruh dunia sebanyak 18 juta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu,Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan, Indonesia dalam dua tahun mendatang akan memegang peranan penting sebagai ketua Kelompok E-9 bersama Nigeria sebagai wakilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, Indonesia akan jadi ukuran penting dari implementasi resolusi ini,” terangnya dalam kesempatan sama. Bambang menambahkan, Indonesia telah mengembangkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi melalui pendidikan jarak jauh oleh lebih dari 100 perguruan tinggi dan menjadi yangterbesardikawasan Asia. (ni komang erviani/ miftachul chusna)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-315314040301117271?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/315314040301117271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=315314040301117271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/315314040301117271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/315314040301117271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/negara-e-9-percepat-kualitas-pendidikan.html' title='Negara E-9 Percepat Kualitas Pendidikan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2553773809516814689</id><published>2008-03-13T10:44:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:47:29.530-07:00</updated><title type='text'>Dana SPMB Tak Pernah Diaudit</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Kamis, 13/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA(SINDO) – Pengelolaan keuangan SPMB ternyata tidak pernah diaudit pemerintah.Pemicu terjadinya perpecahan inilah yang akan diluruskan Depdiknas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) Fasli Jalal mengatakan, aspek keuangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) yang diterapkan 2006 dan 2007 memang tidak pernah diaudit pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, penerimaan itu dianggap bukan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Menurut dia, sistem pengelolaan keuangan SPMB selama ini hanya berdasarkan kesepakatan antarrektor perguruan tinggi negeri (PTN) se-Indonesia.“Semuanya didasarkan pada kesepakatan antarrektor saja,” ungkap Fasli di sela-sela pertemuan tingkat menteri pendidikan negara-negara E-9 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No 19/2001, semua penerimaan PTN harus dicatat sebagai PNBP. Namun, pengelolaan dana SPMB selama ini tidak pernah dikelola sesuai ketentuan PNBP. Berdasarkan Keputusan Menkeu,seharusnya model swakelola dana SPMB dalam pembelanjaan jelas dan transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Konsekuensinya, semua itemharus transparan dan harus ada detail rencana pembelanjaan terlebih dahulu. Kuitansinya harus disusun sesuai jumlah dana yang diterima.Itu merupakan ketentuan umum, bukan khusus untuk SPMB,” jelasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Priyo Suprobomenegaskan,keinginan mereka agar penerimaan mahasiswa baru tidak merugikan negara dan tidak menimbulkan masalah hukum bagi para rektor. Sikap hati-hati para rektor ini berdasarkan pengalaman adanya dua rektor PTN di Jawa Timur yang diaudit dan diperiksa aparat kepolisian terkait dana penerimaan mahasiswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, bukan karena pengelolaan keuangan SPMB kurang transparan,” tegasnya. Penolakan terhadap SPMB, menurut dia, bukan semata-mata karena takut diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau aparat hukum lainnya.Namun,yang paling penting, PTN harus mengutamakan asas kepatuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Jadi, masalah pertanggungjawaban yang harus diubah,”tandasnya. Dia menegaskan, kepanitiaan nasional tetap diperlukan sehingga tidak akan menyulitkan para calon mahasiswa. Apalagi,ada keharusan agar panitia seleksi dilakukan terpadu. (ni komang erviani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2553773809516814689?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2553773809516814689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2553773809516814689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2553773809516814689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2553773809516814689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/dana-spmb-tak-pernah-diaudit.html' title='Dana SPMB Tak Pernah Diaudit'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-6514435313207986259</id><published>2008-03-12T11:00:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T11:00:45.051-07:00</updated><title type='text'>Kisruh SPMB Berakhir</title><content type='html'>Sindo Sore - Rabu, 12/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA (SINDO) – Rektor perguruan tinggi negeri (PTN) sepakat membentuk panitia bersama dengan Perhimpunan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Pusat.   Kesepakatan itu lahir dalam pertemuan antara Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Fasli Jalal dengan perwakilan perguruan tinggi negeri di Bali Internasional Convention Centre (BICC) Nusa Dua, Bali, yang berakhir pukul 00.30 Wita,dini hari tadi. Dalam pertemuan tersebut, Fasli menjelaskan, seluruh perwakilan rektor bersedia bergabung jika itu jalan terbaik bagi calon mahasiswa memilih PTN yang diinginkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesediaan para rektor itu akan dibicarakan dengan Perhimpunan SPMB yang mengelola pelaksanaan SPMB selama ini.’’Diperkirakan, hal itu dilaksanakan pada Jumat (14/3) nanti,”tuturnya. Selain itu,Depdiknas akan berkonsultasi dengan Departemen Keuangan (Depkeu) untuk membahas masalah pendanaan yang akan digelar besok (13/3). Fasli menambahkan, untuk masalah keuangan akan disesuaikan dengan ketentuan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan pola swakelola. Artinya, uang yang akan masuk ke rekening rektor masing-masing akan dimasukkan ke kas negara. Sementarauntukbelanjanya, akan diusulkan kepada Menteri Keuangan (Menkeu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh November( ITS) Prof Ins Priyo Suprobo menyatakan, pada dasarnya, penolakan terhadap SPMB bukan karena takut dengan KPK,melainkan PTN lebih mengutamakan asas kepatuhan.’’ Namun,yang harus diubah yakni masalah pertanggung jawaban keuangannya,” jelasnya. Hal serupa juga dicetuskan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Ins Herry Suhardiyanto MSc.Sebenarnya, yang dilakukan IPB tidak berpengaruh karena saat ini telah berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang sudah bisa mengambil kebijakan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai bentuk kebersamaan terhadap terbangunnya sistem pendidikan yang lebih baik, pihaknya perlu ikut turun rembuk.’’Menurut kami, sistem yang ditanamkan 41 PTN itu lebih baik,” ujarnya. Pertemuan yang dilaksanakan malam tadi itu dimulai dari pukul 22.00 hingga 24.30 Wita. Acara dihadiri Dirjen Dikti Depdiknas Fasli Jalal,Rektor IPB Dr Ins Herry Suhardiyanto, Rektor Unair Prof DR Fasikh, Rektor Undip Prof Dr dr Susilo Wibowo, Rektor ITS Prof Ins Priyo Suprobo,Rektor UNY Prof Sugeng Murdiono Phd,dan Pembantu Rektor II Unisa Drs Nurhasan Mkes. Seperti diberitakan,ke-41 PTN menolak SPMB 2008 jika masih ditangani Perhimpunan SPMB Nusantara.Penolakan ini merupakan hasil kesepakatan pertemuan rektor di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada Minggu (9/4) lalu. (helmi syarif/miftachul chusna/ni komang erviani)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-6514435313207986259?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/6514435313207986259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=6514435313207986259' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6514435313207986259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6514435313207986259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/kisruh-spmb-berakhir_12.html' title='Kisruh SPMB Berakhir'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-6260378427183419627</id><published>2008-03-12T10:50:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:51:09.709-07:00</updated><title type='text'>Sistem Ganda Penerimaan Maba</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Rabu, 12/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENOLAKAN 41 perguruan tinggi negeri (PTN) terhadap sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) menuai protes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberatkan calon mahasiswa baru (maba) dalam memilih universitas favorit, penolakan SPMB juga melahirkan sistem ganda dalam penerimaan mahasiswa baru. Ketua Komisi X DPR Irwan Prayitno mengatakan, penyelenggaraan SPMB yang selama ini dijalankan sudah tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor yang menolak SPMB juga diminta tidak kembali ke sistem ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). ”Tentu cara ini akan menyulitkan calon mahasiswa yang jauh dari universitas yang mereka minati.Kalau sistem SPMB,anak Medan yang ingin di ITB tidak perlu jauh-jauh ke Bandung,”tuturnya kepada SINDO kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,sejumlah PTN lain tetap akan mengikuti SPMB. Sikap yang berbeda tersebut jelas memunculkan sistem ganda penerimaan maba. Menurut Irwan, jika ada dua proses penerimaan mahasiswa antara SPMB dan UMPTN, malah semakin membingungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sangat menyesalkan kalau memang hal itu benar- benar terjadi,”ujar politikus dari PKS ini. Padahal,PTN sudah diperbolehkan menjalankan seleksi calon mahasiswa sendiri melalui penelusuran minat bakat dan potensi (PMBP).Irwan mengatakan,persentase penyaringan mahasiswanya pun ditentukan tiap PTN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Namanya bisa macam-macam seperti PMBP atau ujian mandiri. Selama ini kan berjalan seperti itu.UGM dan UI juga melakukan hal itu. Itu kan boleh dijalankan selain SPMB,”paparnya. Anggota Komisi X DPR Anwar Arifin juga menyesalkan langkah 41 PTN yang menolak SPMB tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, persoalan di internal Perhimpunan SPMB Nusantara tidak seharusnya memecah PTN. Sementara anggota Perhimpunan SPMB Nusantara yang juga Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bejo Sujanto berharap, pemerintah segera membuat kebijakan baru tentang SPMB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia khawatir akan terjadi kepanitiaan ganda dalam penyelenggaraan penerimaan maba tahun 2008 ini.”Kemungkinan paling jelek, akan ada dua panitia.Tapi kita berharap ini tidak terjadi,”tandasnya. Kepanitiaan ganda,menurut dia,akan menyulitkan para calon maba. Selain itu, penyelenggaraan SPMB akan menjadi lebih mahal. (rendra hanggara/ ni komang erviani/ fahmi faisa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-6260378427183419627?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/6260378427183419627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=6260378427183419627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6260378427183419627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6260378427183419627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/sistem-ganda-penerimaan-maba.html' title='Sistem Ganda Penerimaan Maba'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7213628815662091333</id><published>2008-03-12T10:49:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:50:09.210-07:00</updated><title type='text'>Dikti Panggil Penolak SPMB</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Rabu, 12/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA(SINDO) – Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Fasli Jalal memanggil perwakilan 41 perguruan tinggi negeri (PTN) yang menolak SPMB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Dikti Fasli Jalal mengatakan, pertemuan tersebut diharapkan mampu menjembatani perbedaan kepentingan masing-masing kelompok. Perwakilan 41 PTN tersebut dikumpulkan menyusul penolakan mereka atas penyelenggaraan seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menolak ikut SPMB yang diselenggarakan Perhimpunan SPMB Nusantara akibat pengelolaan keuangan yang dinilai tidak transparan. Sebaliknya, 41 PTN ini menyepakati ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Menurut Fasli Jalal, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) telah mengeluarkan Permendiknas No 6/2008 yang menegaskan bahwa tugas penerimaan mahasiswa ada di tangan rektor masing- masing PTN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, seharusnya pelaksanaan seleksi mahasiswa baru boleh ditangani sendiri atau bekerja sama dengan rektor universitas lain atau dengan melibatkan pihak ketiga. ”Masalahnya,SPMB harus tetap menjamin adanya kemudahan bagi calon mahasiswa untuk mendaftar ke universitas manapun,”ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pukul 22.00 Wita tadi malam,pertemuan tertutup di Hotel Westin, Nusa Dua,Bali tersebut belum berakhir. Dari kalangan rektor, hadir Herry Suhardiyanto (IPB), Fasikh (Unair), Susilo Wibowo (Undip), Priyo Suprobo MS (ITS), Sugeng Mardiyono (UNY), dan Pembatu Rektor II Unesa Nurhasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini,kata Fasli,pendapatan panitia di PTN dari SPMB disetor ke panitia pusat terlebih dahulu baru kemudian dibagikan ke PTN. Meski demikian,keberadaan panitia bersama tetap diperlukan untuk mengatasi masalah pendaftaran lintas wilayah dan lintas PTN, mengatasi kualitas soal, dan pemeriksaan soal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia bersama juga akan mengatur komponen biaya yang bersifat lintas PTN. Untuk itu, ia menilai tetap perlu adanya perhimpunan SPMB yang selama ini sudah berpengalaman mengelola SPMB. Fasli menambahkan, pihaknya juga berencana membuat pertemuan dengan kelompok pro Perhimpunan SPMB Nusantara, Jumat (14/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,akan dilakukan juga konsultasi dengan Departemen Keuangan, Kamis (13/3) mendatang. ”Soal keuangan akan disesuaikan dengan ketentuan PNBP dengan pola swakelola, dimana uang masuk ke rekening masing–masing rektor kemudian masuk ke kas negara dan untuk pembelanjaan di-usulkan ke Menteri Keuangan,” tuntasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sugeng Mardiyono di Yogyakarta mengatakan, Dirjen Dikti memanggil para rektor dari 41 PTN itu untuk mendengar langsung penjelasan mengenai hal tersebut, termasuk hasil pertemuan 41 PTN di Surabaya, akhir pekan lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia,sebenarnya para rektor dari 41 PTN yang mengancam akan memboikot SPMB 2008 tersebut, pada prinsipnya, menilai SPMB memiliki nilai positif. Tetapi,kata Sugeng,hasil pertemuan 41 PTN di Surabaya pekan lalu juga memiliki pandangan lebih maju dan lebih baik mengenai perkembangan dan pelaksanaan SPMB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami sebenarnya tidak ingin memboikot SPMB, dan kami memiliki ide serta pandangan yang menurut kami lebih bagus dibandingkan pelaksanaan SPMB selama ini,” katanya. Menurut dia,jika ada yang tidak sepaham mengenai pelaksanaan SPMB, itu wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami berharap masalah ini atau polemik tentang SPMB tidak berkepanjangan, karena apabila berlarut-larut dikhawatirkan justru membuat bingung dan meresahkan masyarakat,” katanya. (ni komang erviani/ miftachul chusna/ant)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7213628815662091333?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7213628815662091333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7213628815662091333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7213628815662091333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7213628815662091333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/dikti-panggil-penolak-spmb.html' title='Dikti Panggil Penolak SPMB'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7707492466875267857</id><published>2008-03-11T10:51:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T10:52:44.105-07:00</updated><title type='text'>SPMB 2008 Ditinjau Ulang</title><content type='html'>Koran Seputar Indonesia - Selasa, 11/03/2008  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA(SINDO) – Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan akan meninjau ulang seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) 2008. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Permasalahannya mereka (para rektor PTN) menolak atau menyatakan diri keluar, tetapi hal itu merupakan kebijakan pemerintah untuk melakukan peninjauan kembali,” kata Mendiknas saat menghadiri pertemuan Menteri Pendidikan Sembilan Negara (E-9) di Hotel Westin, Nusa Dua,Bali,kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan, 41 perguruan tinggi negeri (PTN) menolak SPMB 2008 jika masih ditangani Perhimpunan SPMB Nusantara. Penolakan ini merupakan hasil kesepakatan pertemuan rektor di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Minggu (9/4) lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka beralasan, pelaksanaan SPMB oleh Perhimpunan SPMB tidak transparan karena uang pendaftaran calon mahasiswa masuk ke perhimpunan, bukan kas negara sesuai Keputusan Presiden (Keppres) 80/ 2003 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lantas menyepakati ujian masuk perguruan tinggi nasional (UMPTN). Mendiknas membenarkan keluhan tersebut.Dia mengakui memang ada proses dalam pelaksanaan SPMB yang kurang sesuai Keppres No 80/2003. Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, pemerintah segera melakukan pertemuan dengan semua rektor PTN se-Indonesia untuk meninjau ulang pelaksanaan SPMB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Diharapkan akan keluar keputusan terbaik dari Dirjen Dikti yang intinya bisa diterima semua pihak,”katanya. Menurut dia, kegiatan SPMB sepenuhnya tanggung jawab setiap rektor PTN.”Boleh melakukan sendiri atau kelompok. Itu terserah rektor. Tetapi,dalam konteks keputusan rektor PTN seluruh Indonesia,”tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal itu,Wakil Ketua Komisi X DPR Didik J Rachbini mengusulkan penerimaan seleksi mahasiswa baru dilakukan di kampus masing- masing. Menurutnya,hal itu dapat membuat setiap PTN lebih mudah menyaring calon mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”SPMB secara nasional sebenarnya tidak perlu ada. Biarlah setiap universitas menyelenggarakan sendiri-sendiri. Biar nggak ngerepotin,”katanya. Sementara itu, dua perguruan tinggi di Sulsel, Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM), belum mengambil sikap terkait penolakan SPMB 2008. Rektor Unhas Prof Dr Idrus Paturusi yang dihubungi SINDO tadi malam berharap polemik ini segera dituntaskan guna mendapatkan solusi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, kami akan menunggu petunjuk dari Dirjen Dikti,” kata Idrus. Sikap yang sama juga disampaikan Pembantu Rektor Bidang Akademik UNM Prof Dr Anwar Pasau.Apalagi, sebelum pertemuan Surabaya yang menghasilkan rekomendasi penolakan 51 PTN terhadap SPMB,pihaknya telah lebih dulu menandatangani persetujuannya di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Sumantri memastikan tetap ikut SPMB seperti tahun lalu yang diselenggarakan Perhimpunan SPMB Nusantara. Selain efisiensi, pelaksanaan SPMB dinilai positif karena mempererat keutuhan dan integrasi bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siswa dari Aceh hingga Papua dapat ikut tes untuk kuliah di UI di tempatnya masing-masing,”ujarnya. Hal senada dilontarkan Wakil Rektor I Universitas Airlangga M Zainuddin. Dia tidak mempersoalkan sistem SPMB. (rendra hanggara/ haryuna rahman/kukuh/ni komang erviani/fahmi faisa)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7707492466875267857?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7707492466875267857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7707492466875267857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7707492466875267857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7707492466875267857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/03/spmb-2008-ditinjau-ulang.html' title='SPMB 2008 Ditinjau Ulang'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4330058512457713137</id><published>2008-02-29T10:26:00.001-08:00</published><updated>2008-03-14T10:28:36.981-07:00</updated><title type='text'>Pelanggan Speedy di Bali Kecewa</title><content type='html'>Okezone-29 Feb 2008&lt;br /&gt;DENPASAR-Sekitar 6.000 pengguna layanan internet Speedy di Bali harus kecewa selama seharian kemarin. Terputusnya jaringan Speedy di seluruh Indonesia membuat fasilitas jaringan internet Speedy tidak dapat diakses dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan akibat terputusnya jaringan Speedy dirasakan salah seorang pelanggan layanan milik PT. Telkom ini, I Ketut Rahmadiana. Pria yang bekerja di sebuah kantor di Renon Denpasar itu mengaku kecewa dengan sulitnya akses speedy selama seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat hal tersebut, laki-laki yang bekerja sebagai web desainer menjadi tidak bisa bekerja. ?Jadi nggak bisa ngapa-ngapain kalau begini. Saya jadi nggak bisa kerja,? keluh Rahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas PT. Telkom Area Bali Ketut Purwa mengakui jaringan internet Speedy mengalami masalah sejak dini hari kemarin. Hal itu menurutnya akibat terputusnya serat optik di bawah laut milik Speedy. Tak hanya di Bali, gangguan akses akibat terputusnya serat optic itu juga dirasakan seluruh pelanggan speedy di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, kerusakan hanya mengakibatkan terputusnya jaringan ke luar negeri. Dia memastikan bahwa website yang servernya berada di dalam negeri masih bisa diakses. ?Untuk internet ke luar negeri memang terganggu. Tapi kalau untuk mengakses website yang servernya ada di dalam negeri, nggak masalah,? ujar Purwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwa mengakui, ada beberapa pelanggan Speedy yang menelpon untuk menyampaikan keluhannya. Hal itu menurutnya wajar karena pelanggan berharap layanan yang terbaik. ?Kami minta maaf kepada pelanggan,? ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Purwa, upaya perbaikan jaringan kini sedang dilakukan agar akses internet bisa segera dilakukan oleh pelanggan. ?Sekarang sedang diperbaiki. Mudah-mudahan malam ini sudah bisa,? tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masuk Bali pada 2006 lalu, jaringan internet Speedy sudah memiliki 6.000 pelanggan di Bali. Namun daerah yang sudah tercover jaringan Speedy hanya kawasan Badung, Denpasar, dan Gianyar (Ubud dan Sukawati,red). Hingga akhir 2008 ini, Telkom menargetkan jumlah pelanggan Speedy mencapai 31.000 orang. ?Kami harap bisa cover seluruh Bali sampai akhir tahun ini,? tegasnya. (Ni Komang Erviani/Sindo/srn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4330058512457713137?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4330058512457713137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4330058512457713137' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4330058512457713137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4330058512457713137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pelanggan-speedy-di-bali-kecewa_29.html' title='Pelanggan Speedy di Bali Kecewa'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1362533005387371715</id><published>2008-02-29T10:26:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:28:36.264-07:00</updated><title type='text'>Pelanggan Speedy di Bali Kecewa</title><content type='html'>Okezone-29 Feb 2008&lt;br /&gt;DENPASAR-Sekitar 6.000 pengguna layanan internet Speedy di Bali harus kecewa selama seharian kemarin. Terputusnya jaringan Speedy di seluruh Indonesia membuat fasilitas jaringan internet Speedy tidak dapat diakses dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan akibat terputusnya jaringan Speedy dirasakan salah seorang pelanggan layanan milik PT. Telkom ini, I Ketut Rahmadiana. Pria yang bekerja di sebuah kantor di Renon Denpasar itu mengaku kecewa dengan sulitnya akses speedy selama seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat hal tersebut, laki-laki yang bekerja sebagai web desainer menjadi tidak bisa bekerja. ?Jadi nggak bisa ngapa-ngapain kalau begini. Saya jadi nggak bisa kerja,? keluh Rahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas PT. Telkom Area Bali Ketut Purwa mengakui jaringan internet Speedy mengalami masalah sejak dini hari kemarin. Hal itu menurutnya akibat terputusnya serat optik di bawah laut milik Speedy. Tak hanya di Bali, gangguan akses akibat terputusnya serat optic itu juga dirasakan seluruh pelanggan speedy di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, kerusakan hanya mengakibatkan terputusnya jaringan ke luar negeri. Dia memastikan bahwa website yang servernya berada di dalam negeri masih bisa diakses. ?Untuk internet ke luar negeri memang terganggu. Tapi kalau untuk mengakses website yang servernya ada di dalam negeri, nggak masalah,? ujar Purwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwa mengakui, ada beberapa pelanggan Speedy yang menelpon untuk menyampaikan keluhannya. Hal itu menurutnya wajar karena pelanggan berharap layanan yang terbaik. ?Kami minta maaf kepada pelanggan,? ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Purwa, upaya perbaikan jaringan kini sedang dilakukan agar akses internet bisa segera dilakukan oleh pelanggan. ?Sekarang sedang diperbaiki. Mudah-mudahan malam ini sudah bisa,? tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masuk Bali pada 2006 lalu, jaringan internet Speedy sudah memiliki 6.000 pelanggan di Bali. Namun daerah yang sudah tercover jaringan Speedy hanya kawasan Badung, Denpasar, dan Gianyar (Ubud dan Sukawati,red). Hingga akhir 2008 ini, Telkom menargetkan jumlah pelanggan Speedy mencapai 31.000 orang. ?Kami harap bisa cover seluruh Bali sampai akhir tahun ini,? tegasnya. (Ni Komang Erviani/Sindo/srn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1362533005387371715?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1362533005387371715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1362533005387371715' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1362533005387371715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1362533005387371715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pelanggan-speedy-di-bali-kecewa.html' title='Pelanggan Speedy di Bali Kecewa'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7297668124223674080</id><published>2008-02-22T10:35:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:36:43.718-07:00</updated><title type='text'>Pelaku Pariwisata Bali Keluhkan Pemadaman Listrik</title><content type='html'>Okezone- 22 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR - Pemadaman listrik besar-besaran yang sempat terjadi Kamis (21/2) lalu dan diperkirakan masih akan terjadi selama cuaca buruk ini, dikeluhkan sejumlah pelaku pariwisata Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Ngurah Wijaya mengatakan, sarana listrik menurutnya merupakan bagian sangat vital bagi destinasi wisata dunia seperti Bali."Kalau tidak ada listrik, semua susah. Apalagi pariwisata," keluhnya di Denpasar, Jumat (22/2/2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui Wijaya, kalangan perhotelan di Bali sewaktu-waktu bisa mengurangi konsumsi listriknya dengan penggunaan generator. Namun tersedianya sistem kelistrikan yang andal menurutnya jauh lebih penting. "Kalau generator dipakai nonstop, lalu mati, gimana?" ujar pemilik hotel di Sanur itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski PLN memproritaskan kawasan wisata untuk tidak dipadamkan listriknya, Wijaya justru balik mempertanyakan. "Bali secara keseluruhan adalah kawasan wisata. Jadi saya rasa tidak bijak juga kalau PLN memprioritaskan wilayah-wilayah tertentu saja," terang Wijaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Jendral Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus juga mengeluhkan tidak andalnya sistem kelistrikan Jawa-Bali. Diakui Perry, semua hotel berbintang di Bali memiliki generator yang bisa dioperasikan ketika terjadi krisis pasokan listrik. Saat ini terdapat sebanyak 152 hotel berbintang di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian kalangan perhotelan menurutnya tidak bisa diminta menggunakan generator secara terus menerus. Pasalnya, kemampuan generator untuk menghasilkan listrik sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Beroperasi 24 jam saja, genset sudah panas. Nggak bisa disuruh operasi terus menerus. Kalau kondisi force majeur gak masalah. Asal jangan force majeur terus terusan," keluhnya Perry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain masalah kemampuan menghasilkan listrik, penggunaan generator juga menimbulkan konsekuensi pembengkakan biaya. Dikatakan, listrik dari generator menimbulkan biaya dua kali lipat lebih besar dibandingkan harga listrik PLN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau hitung-hitungan, listrik genset jelas lebih mahal. Karena kita harus beli solar dengan harga tanpa subsidi, bayar petugas tambahan, sampai biaya pemeliharaan," tambah Perry yang juga Ketua PHRI Badung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, PHRI Bali belum menghitung kerugian yang diakibatkan dari pemadaman listrik. Meski demikian, Perry berharap PLN tidak menyalahkan alam sebagai alas an krisis listrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau alam kan bisa diprediksi. Semua orang tahu kalau setiap Januari-Februari pasti ada hujan lebat dan cuaca buruk sampai sekarang. Ini kan musiman," tambahnya. (Ni Komang Erviani/Sindo/rhs)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7297668124223674080?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7297668124223674080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7297668124223674080' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7297668124223674080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7297668124223674080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pelaku-pariwisata-bali-keluhkan.html' title='Pelaku Pariwisata Bali Keluhkan Pemadaman Listrik'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-82563756551247671</id><published>2008-02-22T10:34:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:35:37.939-07:00</updated><title type='text'>Pemprov Jadikan Pilkada Bali Objek Wisata</title><content type='html'>Okezone-22 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR - Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Bali yang bakal digelar 9 Juli mendatang akan dikemas secara menarik. Sehingga layak menjadi tontonan politik berbudaya bagi turis mancanegara. Tak tanggung, dana yang dianggarkan untuk kesuksesan pesta demokrasi lokal tersebut mencapai Rp69 miliar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Saya akan buat pilkada berbudaya, sehingga bisa jadi tontonan politik berbudaya" ujar Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Bali, Anak Agung Oka Wisnumurti saat Konsolidasi Pemantapan Pelaksanaan Pilkada Bali di Gedung Wiswa Sabha Denpasar, Jumat (22/2/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, diharapkan turis asing yang tengah berkunjung ke Bali tidak akan terganggu dengan gaung pilkada, malah sebaliknya merasa kagum dengan proses demokrasi di Bali.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu bentuknya adalah kampanye bersama dengan arak-arakan dokar hias dan gebyar tarian dan nyanyian, pembuatan website untuk sosialisasi, pembukaan call center untuk tempat pengaduan masyarakat, hingga kampanye pelepasan atribut kampanye pada hari akhir masa kampanye. Uniknya, KPU Bali bahkan membuat lagu yang jadi mars pilkada Bali. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gubernur Bali Dewa Made Beratha menyatakan, dana yang dianggarkan untuk pilkada sesuai dengan pengajuan dari KPU. Pihaknya pun tidak menutup kemungkinan adanya penambahan anggaran untuk diajukan dalam APBD Perubahan di tengah tahun ini. "Mudah-mudahan cukup. Kalau kurang, ya kita akan tambahkan," tegasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pilkada Bali rencananya akan digelar pada 9 Juli mendatang. Tahapan pilkada sudah akan dimulai mulai 23 Februari ini dengan pembentukan PPS dan PPK. Pada April-Juni, mulai dilakukan penetapan daftar pemilih tetap. Jumlah pemilih potensial dalam Pilkada Bali diperkirakan mencapai 2.571.840 orang atau sekitar 79% dari jumlah penduduk Bali yang mencapai 3.527.991 orang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendaftaran bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali rencananya akan dilakukan pada April 2008. Hingga kini, telah muncul dua kandidat Gubernur Bali. PDIP menjagokan mantan Kapolda Bali Made Mangku Pastika sebagai Gubernur dan Walikota Denpasar saat ini Anak Agung Puspayoga sebagai Wakil Gubernur. Sementara Partai Golkar menjagokan Ketua DPD Golkar Cok Budi Suryawan yang hingga kini belum memiliki pasangan. (Ni Komang Erviani/Sindo/kem)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-82563756551247671?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/82563756551247671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=82563756551247671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/82563756551247671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/82563756551247671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pemprov-jadikan-pilkada-bali-objek.html' title='Pemprov Jadikan Pilkada Bali Objek Wisata'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4508309598248613801</id><published>2008-02-15T02:55:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T02:56:21.716-08:00</updated><title type='text'>PLN Rugi 17 Juta dalam Tiga Hari</title><content type='html'>Cuaca buruk disertai angin kencang yang terjadi di Bali sejak beberapa hari belakangan, membuat Perusahaan Listrik Negara (PLN) kelabakan. Hanya dalam tiga hari, PT. PLN Wilayah Distribusi Bali harus menanggung rugi lebih dari Rp.17 juta akibat kerusakan jaringan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian yang dialami PLN disebabkan karena rusaknya putusnya puluhan jaringan penyulang Penyulang merupakan sebutan untuk alat berupa sekering yang mewilayahi sekitar 10 sampai 15 gardu listrik. Kerusakan penyulang menyebabkan aliran listrik ke tempat konsumen bermasalah. Akibatnya, listrik yang sudah tersalurkan oleh PLN terbuang percuma. “Kerusakan menyebabkan listrik yang sebenarnya sudah tersalurkan. Tapi tidak sampai ke konsumen,” ujar Humas PT. PLN Wilayah Distribusi Bali, I Wayan Redika, di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perhitungan PLN, angin kencang selama 11-13 Februari lalu telah menyebabkan 61 penyulang terputus. Listrik yang terbuang akibat kerusakan itu mencapai total 24.368 KWH. Dari jumlah tersebut, total kerugian yang diderita PLN mencapai Rp. 17.059.600. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian terbesar dialami pada 12 Februari lalu dengan rusaknya 40 penyulang dan membuang listrik sebesar 17.478 KWH. Total kerugian di tanggal tersebut mencapai Rp. 12.234.600. Sementara kerugian pada 11 dan 13 Februari masing-masing hanya Rp. 2.682.400 dan Rp. 2.140.600. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan terparah terjadi di wilayah Bali Selatan, yakni di wilayah Badung dan Denpasar. Sementara itu, kerusakan yang lebih ringan terjadi di wilayah Bali Timur dan Bali Utara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan tersebut diakibatkan oleh banyaknya pohon tumbang atau dahan pohon yang patah dan diterbangkan angin. Padahal menurut Redika, pihaknya sudah berupaya memasang jaringan yang aman dari posisi pohon di sekitarnya. Lebih parah lagi, gangguan sejenis sempat terjadi beberapa kali. Hal itu diakibatkan oleh angin kencang yang terus terjadi hampir sepanjang hari.[ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4508309598248613801?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4508309598248613801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4508309598248613801' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4508309598248613801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4508309598248613801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pln-rugi-17-juta-dalam-tiga-hari.html' title='PLN Rugi 17 Juta dalam Tiga Hari'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1624003417761864925</id><published>2008-02-15T01:58:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T02:59:18.548-08:00</updated><title type='text'>Organda Bali Tolak Pembatasan BBM</title><content type='html'>Organisasi angkutan darat (Organda) Bali menolak rencana pembatasan bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya diujicobakan di wilayah Jawa dan Bali. Pembatasan tersebut dinilai mengancam usaha angkutan umum di Bali yang sedang terpuruk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan atas rencana pembatasan BBM di Bali, disampaikan Sekretaris DPD Organda Provinsi Bali I Ketut Widi kepada SINDO di Denpasar kemarin. Pemerintah diharapkan mempertimbangkan pengecualian angkutan umum dalam kebijakan tersebut. Menurut Widi, pembatasan BBM seharusnya tidak dilakukan terhadap usaha angkutan umum. Pasalnya, angkutan umum menggunakan BBM untuk usaha yang produktif. “Kalau angkutan umum, nggak bisa dibatasi begitu. Lagipula semua usaha angkutan umum pasti membeli BBM sesuai yang diperlukan,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan BBM menurut Widi akan menimbulkan risiko bertambahnya biaya operasional angkutan umum. Bila kuota yang diberikan tidak mencukupi, usaha angkutan secara otomatis harus membeli BBM dengan harga tanpa subsidi. Kondisi tersebut akan mengancam usaha angkutan umum di Bali yang saat ini sedang terpuruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan biaya operasional mengharuskan angkutan umum menaikkan tarif. Namun di sisi lain, usaha angkutan umum di Bali saat ini tengah terpuruk. Hal itu terutama disebabkan minimnya minat masyarakat menggunakan jasa angkutan umum. Akibatnya, banyak armada angkutan umum di Bali yang sudah menganggur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan tarif dinilai hanya akan memperburuk kondisi usaha angkutan umum di Bali. Karenanya, pembatasan BBM hanya akan membuat usaha angkutan umum mengalami dilemma, antara menaikkan tariff atau merugi karena adanya tambahan biaya operasional. “Permasalahannya, kalau kita menaikkan tariff, apakah akan diterima oleh masyarakat pemakai jasa? Kalau tidak diterima, apakah ini tidak malah menurunkan animo masyarakat menggunakan angkutan umum?” Widi mengeluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Widi, usaha angkutan umum harus berpikir seribu kali untuk menaikkan tarif angkutan umum. Pasalnya, dengan tariff yang berlaku saat ini, banyak masyarakat yang menawar hingga tariff batas bawah. “Jangankan menaikkan tarif, tarif yang  sekarang saja banyak ditawar. Kalau benar-benar ada pembatasan BBM, ya tinggal tunggu hancurnya,” keluh pria asal Buleleng Bali itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan PT. Pertamina Cabang Pemasaran Denpasar, konsumsi BBM di Bali mencapai rata-rata 2.200 kilo liter per hari. Jumlah tersebut terdiri atas 1.700 kilo liter premium dan 500 kilo liter solar. Secara keseluruhan, konsumsi BBM di Bali selama 2007 mencapai 477.595 kilo liter premium dan 148.050 kilo liter solar. Jumlah tersebut naik 3 % dibandingkan tahun 2006. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1624003417761864925?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1624003417761864925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1624003417761864925' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1624003417761864925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1624003417761864925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/organda-bali-tolak-pembatasan-bbm.html' title='Organda Bali Tolak Pembatasan BBM'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-569060090511045654</id><published>2008-02-14T02:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T03:00:33.279-08:00</updated><title type='text'>RUU Kepariwisataan Ditolak</title><content type='html'>Pelaku pariwisata Bali menolak rancangan Undang-Undang (RUU) Kepariwisata yang kini tengah dibahas di DPR RI. Banyak pasal-pasal dalam RUU tersebut yang dinilai sangat merugikan industri pariwisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan atas RUU Kepariwisataan yang akan menggantikan  Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tersebut, disampaikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali dan Bali Tourism Board. Kedua lembaga yang mewadahi industri pariwisata di Bali itu menilai RUU tersebut cenderung merugikan kalangan swasta yang notabene menjadi motor penggerak kepariwisataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekjen PHRI Bali, Perry Markus menjelaskan ada sejumlah poin yang memberatkan bagi industri pariwisata. Salah satunya tentang penetapan status hotel dan restoran sebagai usaha pariwisata, bukan industri jasa. Padahal, banyak disinsentif yang didapat hotel dan restoran dengan status hanya sebagai usaha pariwisata. Ia mencontohkan, pentarifan listrik oleh PLN kepada hotel cenderung lebih mahal karena masuk dalam kategori pelanggan bisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perry berharap hotel dan restoran diakui sebagai industri pariwisata, sehingga mendapat berbagai insentif yang banyak diberikan kepada industri. “Pengertian industri ka nada sejumlah usaha yang saling menguatkan satu sama lain. Saya pikir hotel dan restoran harusnya dimasukkan dalam kategori industri jasa, bukan usaha pariwisata,” tegas Perry di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PHRI juga mengeluhkan pasal tentang uji sertifikasi dan klasifikasi bidang yang bakal ditarik oleh pemerintah. Menurut Perry, bila uji sertifikasi dan klasifikasi bidang dilakukan oleh pemerintah sepenuhnya, maka akan menjadi langkah mundur bagi kepariwisataan nasional. Sistem yang ada sekarang dengan sertifikasi dan klasifikasi dilakukan asosiasi, menurutnya sudah merupakan sistem terbaik. “Klasifikasi hotel sekarang sudah dilakukan PHRI. Menurut saya, ini sudah paling bagus. Pemerintah cukup membuat standarisasinya saja,” tambah pria asal Palangkaraya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal yang mengatur tugas pokok dan wewenang dalam RUU Kepariwisataan juga menjadi perhatian. Perry menilai RUU terlalu banyak membebankan kewajiban kepada industri pariwisata, sementara hak yang diberikan sangat minim. Contoh sederhananya berupa keharusan industri pariwisata mengasuransikan semua turisnya. Hal terkait asuransi tersebut seharusnya sudah diatur dalam UU Asuransi. “Takutnya nanti orang yang mau makan di tempat kita juga harus diasuransikan,” keluhnya.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PHRI juga mengeluhkan poin yang mengharuskan pengusaha mencegah kegiatan yang berhubungan dengan penyalahgunaan  narkoba, judi, perbuatan terlarang, dan perbuatan melanggar hukum lainnya. Menurut Perry, pengusaha tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kamar hotel. Beban atas pasal itu menurutnya sangat berat bagi pengusaha. “Lagipula, soal narkoba kan sudah diatur di UU Narkotika dan Psikotropika. Jadi cukup diatur di sana,” usulnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan atas RUU Kepariwisataan juga disampaikan Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Ngurah Wijaya. Menurut pemilik salah satu hotel di Sanur itu, UU Kepariwisataan pada dasarnya dibuat untuk semua stakeholder pariwisata nasional. Karenanya, pihaknya sangat mengharapkan UU Pariwisata yang kondusif bagi industri pariwisata. Dengan demikian, industri pariwisata akan gampang berpromosi. “RUU ini akan sangat memberatkan sekali bila benar-benar disahkan. Padahal industri pariwisata kan mengakomodasi banyak sekali tenaga kerja,” keluhnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-569060090511045654?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/569060090511045654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=569060090511045654' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/569060090511045654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/569060090511045654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/ruu-kepariwisataan-ditolak.html' title='RUU Kepariwisataan Ditolak'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-718856353318309985</id><published>2008-02-13T03:00:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T03:01:30.502-08:00</updated><title type='text'>Pembatasan BBM Dikeluhkan</title><content type='html'>Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Wilayah Bali mengeluhkan rencana pemerintah melakukan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Jawa dan Bali. Kebijakan yang rencananya diterapkan pada Mei mendatang itu, dinilai akan membuat perekonomian masyarakat makin terpuruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua YLKI Bali I Nyoman Suwidjana mengatakan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi jelas akan merugikan. Apalagi bila dilakukan pada saat-saat sekarang, di mana masyarakat sedang dipusingkan dengan kenaikan harga-harga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suwidjana, masyarakat punya hak yang sama sebagai warga negara. Karenanya, ia tak sepakat bila pemerintah menakar jumlah  pemberian subsidi atas konsumsi masyarakat terhadap BBM. Pasalnya, besar tidaknya konsumsi BBM tidak terkait langsung dengan tingkat ekonomi masyarakat, tetapi karena kebutuhan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua konsumsi BBM oleh masyarakat, dipastikan untuk tujuan berproduksi. Suwidjaya yakin, masyarakat tidak akan membeli BBM bila tidak diperlukan. “Saya yakin konsumen bisa memanfaatkan BBMnya pada tingkat optimal. Kalau tidak perlu, mereka tidak akan beli. Ini jelas merugikan,” tegas Suwidjana di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah menurutnya tidak bisa menganggap subsidi BBM yang selama ini diberikan sebagai untuk perorangan. Subsidi BBM justru diberikan untuk menopang perekonomian. Pembatasan BBM dinilai hanya akan membatasi ruang gerak konsumen. Diakui pemilik salah satu hotel melati di Sanur itu, ekonomi yang ditopang oleh subsidi akan sangat rapuh. Namun harga premium saat ini menurutnya masih jauh di bawah kemampuan konsumen dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pengurangan subsidi menurutnya belum siap dilakukan saat ini. Bila pemerintan menetapkan harga BBM internasional, masyarakat akan terpuruh. “Kalau mengenakan harga internasional sekarang, konsumen akan sakit sekali. Bisa mandek perekonomian. Daya beli masyarakat akan mandek. Industri pun akan kehilangan kesempatan untuk berproduksi, karena produknya tidak laku,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila teknik pembatasan BBM benar-benar dilakukan, Suwidjana melihat akan terjadi kenaikan harga harga yang memicu melambungnya inflasi. “Akhirnya akan kembali pada kotak pertama, kemelaratan. Ada barangjnya tapi gak terjangkau oleh masyarakat. Pabrik tidak bisa produksi. Subsidi memang tidak baik, tapi saat ini lebih dibandingkan tidak,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurangan subsidi menrutnya paling tepat dilakukan bila perekonomian nasional benar-benar terjamin. Indikatornya berupa peningkatan produktivitas SDM, peningkatan pendidikan, serta kemampuan masyarakat yang menciptakan lapangan kerja sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, PT. Pertamina Cabang Pemasaran Denpasar hingga kemarin belum mendapat petunjuk pelaksana (juklak) untuk implementasi pembatasan BBM di Bali. Menurut Wira Penjualan Retail Rayon IX Pertamina Denpasar Putut Andrianto, pihaknya belum tahu persis bagaimana penerapan pembatasan BBM tersebut nantinya. “Kita belum tahu persis nanti teknisnya seperti apa,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, konsumsi BBM di Bali mencapai rata-rata 2.200 kilo liter per hari, terdiri dari 1.700 kilo liter premium dan 500 kilo liter solar. Secara keseluruhan, konsumsi BBM di Bali selama 2007 mencapai 477.595 kilo liter premium dan 148.050 kilo liter solar. Jumlah tersebut naik 3 % dibandingkan tahun 2006. Sementara jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) seluruh Bali mencapai 130 unit. “Pembatasan BBM akan diterapkan di seluruh SPBU yang ada di Bali,” ujarnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-718856353318309985?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/718856353318309985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=718856353318309985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/718856353318309985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/718856353318309985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pembatasan-bbm-dikeluhkan.html' title='Pembatasan BBM Dikeluhkan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3081031695580666927</id><published>2008-02-12T03:02:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T03:03:02.688-08:00</updated><title type='text'>Kriminal Warga Asing Rusak Citra Pariwisata</title><content type='html'>Pelaku pariwisata menyayangkan maraknya aksi kriminal terhadap warga asing di Bali belakangan ini, karena berpotensi merusak citra pariwisata Bali. Pihak kepolisian diharapkan bertindak cepat dalam kasus kriminalisasi warga asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi kriminal terhadap warga asing yang belakangan makin marak di Bali, mengundang prihatin Kepala Dinas Pariwisata Bali I Gede Nurjaya. Apalagi, aksi-aksi kriminal tersebut banyak terjadi ketika Bali baru saja mendapat penghargaan sebagai destinasi eksotik dunia dari majalah Travel and Leisure, sebuah majalah paiwisata berkelas dunia. Penghargaan tersebut diterima Bali pada 18 Januari lalu. “Ini sangat memprihatinkan. Di satu sisi, kita sedang bahagia karena baru terima award, di sisi lain ada kejadian seperti ini,” ujarnya di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ada kebanggaan, menurut Nurjaya, pariwisata Bali kini juga menghadapi tantangan berat terkait ketertiban, keamanan, dan kenyamanan wisatawan. Kasus kriminal terhadap warga asing dipastikan akan berpengaruh pada pariwisata Bali bila aparat kepolisian tidak bertindak cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Nurjaya, maraknya kasus criminal berpotensi merusak citra pariwisata Bali di dunia internasional. Karenanya, kasus yang ada harus disikapi dengan cepat. “Dan kita berharap polisi cepat temukan pelaku aksi-aksi kejahatan itu,” tegas pria asal Buleleng itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, aksi-aksi kriminal terhadap warga negara asing sebenarnya juga banyak terjadi di sejumlah destinasi pariwisata lainnya di dunia. Hanya saja, pemberitaannya tidak sampai ke luar. “Kejadian begini sebenarnya sering terjadi di mana-mana. Hanya saja, pemberitaannya tidak sampai ke negara kita,” tambah Nurjaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping polisi, Nurjaya juga mengingatkan pentingnya peranan seluruh masyarakat dalam menjaga keamanan Bali. “Pengamanan kan bukan hanya tugas polisi. Semua pihak ikut menjaga keamanan, termasuk wisatawan yang datang ke Bali,” tandasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurjaya menegaskan bahwa sistem keamanan pariwisata Bali sudah diupayakan semaksimal mungkin. Salah satunya dengan program sertifikasi keamanan di hotel-hotel di Bali. Namun ia mengingatkan bahwa perlu ada kesinambungan pengamanan oleh semua pihak. “Kalau tidak dijaga, kasus seperti ini akan bertambah terus. Harus ada sikap proaktif dari seluruh masyarakat. Keamanan itu kan kebutuhan semua pihak, tidak hanya wisatawan,”ujar dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi dampak negatif dari kasus-kasu criminal terhadap warga asing, Nurjaya mengaku berupaya memberi dorongan psikis kepada korban atau keluarga korban. Hal itu dilakukan selain untuk membantu menguatkan psikis korban atau keluarganya, juga untuk memberi kesan positif atas pariwisata Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ida Bagus Ngurah Wijaya menegaskan  pentingnya peningkatan keamanan di fasilitas-fasilitas akomodasi seperti hotel, villa atau bungalow. Namun senada dengan Nurjaya, Wijaya juga mengingatkan bahwa keamanan tidak melulu hanya tugas aparat. “Tapi kiranya bukan hanya aparat, tapi masyarakat juga harus tingkatkan keamanan. Karena Bali sudah jadi destinasi dunia,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi kriminal yang menyasar warga negara asing belakangan makin marak di Bali. Terakhir, kasus pembunuhan menimpa  seorang warga negara Australia bernama Heidi Murphy, 10 Feb. Perempuan 35 tahun itu ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di penginapan yang disewanya, Vila Mekar Sari, Kuta Utara, Badung. Sebelumnya, pada 9 Feb, aksi perampokan dan pembacokan menimpa warna negara Flipina bernama Fransisco Eli Zalden yang menginap di Villa Mebeline. Beruntung, Zalden selamat. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3081031695580666927?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3081031695580666927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3081031695580666927' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3081031695580666927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3081031695580666927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/kriminal-warga-asing-rusak-citra.html' title='Kriminal Warga Asing Rusak Citra Pariwisata'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8633047649354067158</id><published>2008-02-04T19:32:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T04:24:40.635-08:00</updated><title type='text'>Impor Cina Macet, Stok Pernik Imlek Merosot</title><content type='html'>Pernak-pernik Imlek diserbu warga keturunan Tionghoa di Denpasar Bali. Sayang, stok pernak-pernik yang tersedia jauh merosot dibandingkan Imlek tahun lalu. Para pedagang mengaku kesulitan mendatangkan produk asal Cina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imlek tahun ini tidak cukup menguntungkan bagi para pedagang pernak pernik Imlek. Di tengah tingginya permintaan, para pedagang justru kesulitan mendatangkan produk asal Cina. Padahal sebagian besar pernak-pernik Imlek merupakan produk impor dari Cina.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara tak ada produk Cina, stok yang tersedia di toko-toko penjualan pernak pernik imlek menjadi sangat terbatas. Hal itu dialami oleh hampir semua tokoh pernak-pernik Imlek yang ada di Denpasar. Akibatnya, omset penjualan yang bisa didapat pada Imlek tahun ini pun jauh merosot dibandingkan tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu toko pernak-pernik Imlek di Jalan Kartini Denpasar, Toko Usaha Baru, termasuk salah satu yang merasakan dampak macetnya impor produk Cina, Menurut pemiliknya Indra, omset penjualan pada Imlek tahun ini turun sekitar 20% dibandingkan tahun lalu. Nenek lima cucu itu mengeluhkan minimnya produk Cina sebagai salah satu penyebab penurunan omset tahun ini. “Omset memang naik dibandingkan hari biasa. Tapi kalau dibandingkan Imlek tahun lalu, turun,” ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Indra, pernak-pernik yang dijualnya tahun ini hanyalah sisa stok pada Imlek tahun lalu. Padahal biasanya ia khusus mendatangkan barang asal Cina dari Jakarta atau Surabaya, khusus untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada saat Imlek. Barang asal Cina umumnya berupa lampion, patung, hingga pernak-pernik lainnya. “Sekarang saya cuma jual stok lama aja. Semuanya sisa jualan tahun lalu,” ujar ibu lima anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Indra, pihaknya sudah beberapa kali mencoba mengorder produk Cina dari Jakarta atau Surabaya. “Tapi di Jakarta stoknya juga tipis. Jadi sulit sekali cari dagangan,” ujarnya. Minimnya stok diperkirakan merupakan dampak dari aksi pencabutan dan pelarangan impor produk Cina ke Indonesia tahun lalu. Pelarangan impor akibat beberapa produk Cina diduga mengandung formalin itu, diduga mengimbas pada sulitnya melakukan impor produk-produk Cina lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya stok pernak-pernik impor juga diakui pedagang lainnya di kawasan Jalan Raya Sesetan Denpasar, Winasih.Menurutnya, ia sama sekali tidak mendapat pasokan barang dari Jakarta. Selain karena pasokan yang menipis, Winarsih menduga banjir di Jakarta juga membuat barang yang dipesannya tidak dapat dikirim. “Mungkin juga karena banjir di Jakarta. Tapi memang agak sulit cari barang sekarang,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat tidak punya banyak stok, Winarsih terpaksa hanya menjual beberapa pernak-pernik imlek buatan lokal. “Terpaksa jual buatan sini. Memang barangnya nggak jelek, tapi kalau barang lokal, kita nggak bisa cari banyak karena mereka buatnya dalam jumlah kecil,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak pelarangan impor permen Cina karena diduga mengandung formalin, diakui Winarsih, paling terasa. Pasalnya, para konsumen umumnya mempertanyakan permen-permen rasa buah yang biasanya sangat digemari untuk Imlek. Hal itu membuat sejumlah pedagang memilih menjual permen-permen produksi dalam negeri. “Tapi nggak banyak yang mau beli permen biasa. Dulu kalau kita jual permen buah dari Cina, pembelinya banyak sekali,” tegasnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8633047649354067158?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8633047649354067158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8633047649354067158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8633047649354067158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8633047649354067158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/impor-cina-macet-stok-pernik-imlek.html' title='Impor Cina Macet, Stok Pernik Imlek Merosot'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5229878231329807912</id><published>2008-02-04T19:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T04:25:39.520-08:00</updated><title type='text'>Pengusaha Bali Akan Berinvestasi Bareng</title><content type='html'>Ratusan pengusaha Bali berencana membangun investasi bersama. Pasalnya, banyak dana-dana pengusaha Bali yang belum dimanfaatkan secara produktif. Investasi bersama diharapkan memperkuat sendi-sendi perekonomian Bali.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana investasi bersama tersebut disampaikan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali, I Gde Wiratha, di Denpasar kemarin. Menurut Wiratha, investasi bersama penting dilakukan untuk memanfaatkan dana-dana milik pengusaha Bali yang tidak produktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik Paddy’s Pub yang sempat jadi sasaran teroris tahun 2002 lalu itu mengakui, banyak pengusaha Bali yang belum mampu mengolah dana-dananya ke dalam investasi produktif. Akibatnya, banyak dana-dana menganggur yang dimiliki pengusaha Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi bersama diharapkan mampu memperkuat ikatan antar pengusaha Bali. Investasi tersebut juga diharapkan makin membuka lebar lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja di Bali. “Saya yakin, kalau semua pengusaha Bali mau melakukan ini, kekuatan ekonomi Bali yang kita kehendaki, bukan jadi hal yang muluk-muluk lagi,” tegasnya yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Wiratha belum menjelaskan bentuk riil dari investasi bersama itu. Rencana investasi bersama itu akan dibahas kembali secara konkrit dalam Silaturahmi Saudagar Nusantara yang bakal digelar di Denpasar Bali pada 17-19 Februari mendatang. Sekitar 500 orang pengusaha dari berbagai daerah di Bali diperkirakan hadir dalam pertemuan tersebut. Dalam pertemuan itu, pengusaha Bali akan melakukan pertemuan khusus untuk membahas secara konkrit bentuk invetasi yang akan dibangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana investasi bersama tersebut juga disambut positif Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bali, Panudiana Kuhn. Menurut Kuhn, investasi bersama merupakan salah satu solusi bagi pengusaha Bali di tengah makin ketatnya persaingan bisnis belakangan ini. Dengan menanam modal secara bersama-sama, ia optimis pengusaha Bali akan menjadi lebih bertahan di tengah serbuan penanaman modal asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi bersama juga diharapkan mampu memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat Bali. Dikatakan, investasi bersama dapat dilakukan pada bidang-bidang penting yang menyangkut pengembangan ekonomi Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, investasi bersama bisa dilakukan dalam perluasan Bandara Internasional Ngurah Rai. Menurut Kuhn, landasan bandara saat ini tidak memadai untuk pendaratan pesawat berukuran besar. Bila tidak ada upaya perpanjangan landasan, ia khawatir kunjungan wisatawan ke Bali akan menurun. “Apalagi Lombok sekarang sudah punya bandara sendiri. Kalau kita nggak punya, bisa-bisa wisatawan lebih memilih ke Lombok daripada ke Bali,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua panitia acara silaturahmi saudagar nusantara Jro Gde Karang Tangkid Suarshana berharap investasi bersama tersebut benar-benar terwujud pada acara yang dibuatnya. Investasi bersama yang akan dibangun melalui Bali Funds itu diharapkan mampu memperkuat daya saing pengusaha Bali di persaingan internasional. “Kami berharap pertemuan nanti bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha Bali,” harap pemilik hotel berbintang di kawasan Pecatu Badung Bali itu.  [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5229878231329807912?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5229878231329807912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5229878231329807912' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5229878231329807912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5229878231329807912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/pengusaha-bali-akan-berinvestasi-bareng.html' title='Pengusaha Bali Akan Berinvestasi Bareng'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-6101064584442766180</id><published>2008-02-04T19:18:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T04:26:48.933-08:00</updated><title type='text'>Imlek Gairahkan Usaha Angkutan Wisata</title><content type='html'>Libur tahun baru imlek tahun ini benar-benar menggairahkan industri pariwisata Bali. Tak hanya hotel, usaha angkutan wisata pun ikut bergairah. Selama libur Imlek,. permintaan atas jasa angkutan wisata naik 50% dibandingkan hari biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan permintaan atas angkutan wisata, diakui Ketua Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) Bagus Soediana di Denpasar, kemarin. Menurut Soediana, permintaan atas jasa angkutan wisata naik hingga 50% jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. “Kalau dari semua anggota Pawiba, kenaikannya rata-rata sekitar 50%,” terang Soediana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan Pawiba, saat ini ada sedikitnya 2.500 armada kendaraan sewa yang beroperasi secara resmi di Bali. Terdiri atas kendaraan biasa, mini bus, hingga bus berukuran besar.Dari keseluruhan armada, lebih dari separuhnya diperkirakan bakal beroperasi pada libur Imlek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya permintaan atas angkutan wisata tak terlepas dari tingginya kunjungan wisatawan asal Cina yang memilih merayakan imlek di Bali. Menurut Soediana, peningkatan jumlah permintaan jasa angkutan wisata sudah mulai terjadi sejak Senin hari ini. Hal tersebut sesuai dengan jadwal kedatangan wisatawan asal Cina yang rata-rata datang mulai hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain wisatawan Cina, Soediana memperkirakan usaha angkutan wisata juga akan digairahkan oleh wisatawan domestik. Diakui, hingga kini belum banyak booking yang diterima dari wisatawan domestik. Namun ia optimis kunjungan wisatawan domestik akan membludak mulai libur Imlek hingga akhir pekan ini. “Wisatawan domestik biasanya nggak booking. Mereka biasanya datang tiba-tiba, lalu sewa kendaraan,” ujar Soediana yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya tariff, Soediana mengakui ada banyak variasi tariff kendaraan sewa di Bali. Namun untuk layanan full day tour rata-rata dikenakan biaya Rp. 800 ribu per kendaraan. Sementara untuk half day tour, atau perjalanan wisata setengah hari, dikenakan biaya Rp. 500 ribu per satu kendaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soediana mengaku bersyukur dengan banyaknya wisatawan ke Bali pada Imlek tahun ini. Setidaknya, hal itu menjadi pertanda baik bagi pelaku industri pariwisata di Bali. Apalagi pada Konvensi PBB Menentang Korupsi yang berakhir 1 Februari lalu, jasa angkutan wisata banyak digunakan. “Pada saat UNCAC, ada 40 armada kendaraan sewa yang dipakai. Ini sangat membantu pengusaha angkutan wisata,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha angkutan wisata lainnya, Yus Suhartana, juga mengakui adanya peningkatan permintaan armada kendaraan sewa pada Imlek tahun ini. Bahkan Yus mengaku mengalami kenaikan hingga sekitar 60% dibandingkan hari biasa. Pengusaha yang banyak menggarap pasar wisatawan Cina itu berharap citra pariwisata Bali makin baik di mata dunia internasional. Dengan begitu, tidak ada lagi wisatawan yang ragu datang ke Bali. “Semoga nggak cuma Imlek. Semoga setiap momen, wisatawan memilih berlibur ke Bali,” harapnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-6101064584442766180?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/6101064584442766180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=6101064584442766180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6101064584442766180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6101064584442766180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/02/imlek-gairahkan-usaha-angkutan-wisata.html' title='Imlek Gairahkan Usaha Angkutan Wisata'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2646286370805614148</id><published>2008-01-28T10:37:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:38:49.380-07:00</updated><title type='text'>Daftar UNCAC, Ditarik Ongkos</title><content type='html'>Okezone - Senin, 28 Januari 2008 - 01:05 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NUSA DUA - Persiapan Konvensi PBB untuk Anti Korupsi (United Nation Convention Against Corruption/UNCAC) mendapat protes wartawan. Pasalnya, proses akreditasi pers di ajang internasional itu beraroma diskriminatif dan dan dimintai ongkos.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Insiden itu berawal saat panitia sempat menolak memberi akreditasi kepada sejumlah wartawan yang tidak membawa surat penugasan khusus. Namun di saat bersamaan, panitia mengabulkan akreditasi pers meski tanpa surat tugas khusus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah seorang panitia, Adilla Arief, beralasan bahwa surat penugasan dari media sangat penting sebagai persyaratan standar dari PBB. "Kalau syaratnya seperti itu, kenapa ada yang mendapat identity card meski tanpa surat khusus," ptotes salah seorang wartawan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beruntung, sebagian besar wartawan akhirnya berhasil mendapatkan akreditasi setelah panitia dihubungi kantor pusat media masing-masing. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Proses akreditasi di ajang UNCAC kemarin juga agak berbeda dibandingkan ajang-ajang internasional lainnya. Pasalnya, peserta wajib memfotocopy sendiri identitas di tempat photocopy center yang tersedia di arena eksibisi UNCAC. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Parahnya lagi, wartawan juga ditarik biaya fotokopi sebesar Rp1.000. "Uang sih tak seberapa. Tapi apakah PBB tidak menganggarkan dana sehingga harus menarik biaya," ujar wartawan lainnya jengkel.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski dongkol, para wartawan hanya bisa menuruti aturan itu. Mereka hanya mempertanyakan profesionalitas dalam mengurusi gawe besar seperti UNCAC. &lt;br /&gt;(Ni Komang Erviani/Sindo/kem)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2646286370805614148?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2646286370805614148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2646286370805614148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2646286370805614148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2646286370805614148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/daftar-uncac-ditarik-ongkos.html' title='Daftar UNCAC, Ditarik Ongkos'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4858166483362797167</id><published>2008-01-16T19:29:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T04:28:23.743-08:00</updated><title type='text'>Sulit, Bangun RSH di Bali</title><content type='html'>Pembangunan Rumah Sederhana Sehat (RSH), rumah bersubsidi bagi masyarakat tidak mampu, sulit diwujudkan di Bali. Harga tanah yang melambung membuat banyak pengembang enggan membangun rumah seharga Rp. 49 juta tersebut. Minimnya dukungan pemerintah daerah menjadi penghambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APPERSI) Bali, I Ketut Sugita, jumlah RSH yang berhasil dibangun di Bali selama 2007 hanya mencapai sekitar 300 unit. RSH tersebut tersebar di wilayah kabupaten Tabanan, Negara, dan Buleleng.Rata-rata luasnya sekitar 60 – 80 meter persegi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugita menjelaskan, pembangunan RSH di Bali bukan hal mudah. Pasalnya, sebagian besar perusahaan pengembang di Bali enggan membangun rumah mungil dengan harga hanya Rp. 49 juta. Harga tanah yang cukup mahal diakui menjadi salah satu kendala dari para pengembang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Sugita menilai minimnya dukungan pemerintah daerah menjadi kendala lain yang cukup mendasar. Upaya pemerintah daerah untuk menyediakan rumah murah bagi masyarakat di daerahnya, dinilai masih minim. Hal itu terbukti dari sulitnya mencari tanah untuk lokasi pembangunan RSH, serta urusan birokrasi perizinan yang masih dibuat berbelit-belit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Sugita, RSH merupakan program rumah bersubsidi yang konsepnya harus dikoordinasikan bersama antara pengembang, pemerintah daerah, dan perbankan. Pasalnya, RSH dibangun di atas tanah negara yang tak terpakai untuk kemudian dijual kepada masyarakat umum yang tidak memiliki rumah. Subsidi seharusnya diberikan pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. Selain itu, pembeli RSH juga berhak atas subsidi bunga bank. Dalam prosesnya, pembeli RSH hanya wajib membayar bunga bank selama dua tahun pertama. Selanjutnya di tahun ketiga, wajib membayar sebagian pokok dan bunga bank senilai 11 persen saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam praktiknya, dukungan pemerintah dirasakan Sugita sangat minim. Dukungan pemerintah daerah dinilai sangat minim. Pihak bank pemerintah pun tak banyak merespon program tersebut, kecuali Bank Tabungan Negara. “Padahal seharusnya semua bank pemerintah melakukan program ini,” keluh Sugita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, upaya membangun RSH menurutnya masih bisa diwujudkan bila ada keinginan kuat dari semua pihak. ”Kalau kita tidak peduli, siapa yang akan menyediakan rumah untuk masyarakat kecil. Burung aja punya rumah, masak kita manusia nggak punya,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Real Estate Indonesia (REI) Bali, Putu Agus Suradnyana, mengakui sulitnya membangun RSH di Bali. Apalagi untuk wilayah Denpasar Badung yang harga tanahnya kini sudah melambung hingga rata-rata ratusan juta rupiah per are. “Program RSH mungkin cuma bisa di Kabupaten Jembrana dan Buleleng,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga Rp. 49 juta per unit RSH dinilai Agus sudah sangat tidak visible dengan harga tanah di wilayah Bali. Dengan harga tersebut, Agus menilai RSH hanya bisa dibangun di tanah seharga Rp. 4 – 6 juta per are. “Susah sekali cari tanah harga segitu sekarang ini. Rata-rata di luar Denpasar sudah Rp. 10 – 15 juta per are,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, REI mengusulkan agar plafon sebesar Rp. 49 juta dinaikkan menjadi Rp. 72 juta. Nilai tersebut dinilai lebih logis untuk kondisi Bali. “Kalau tidak dinaikkan jadi Rp. 72 juta, saya pesimis RSH bisa dibangun di Bali,” ujar Anggota DPRD bali itu. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4858166483362797167?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4858166483362797167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4858166483362797167' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4858166483362797167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4858166483362797167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/sulit-bangun-rsh-di-bali.html' title='Sulit, Bangun RSH di Bali'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8257266092804114316</id><published>2008-01-16T19:28:00.001-08:00</published><updated>2008-02-04T19:29:30.439-08:00</updated><title type='text'>Ratusan Guide Liar Ajukan Lisensi</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Keberadaan guide (pemandu wisata,red) tak berlisensi alias liar dalam kepariwisataan Bali, kini mulai ditata. Ratusan orang guide liar dipastikan bakal mengikuti uji lisensi pada Maret mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji lesensi yang digelar atas kerjasama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali dan Dinas Pariwisata Bali itu merupakan salah satu upaya menata guide-guide liar yang banyak berpraktik di Bali. Sejak dibuka pada 29 Desember 2007 lalu, pendaftaran uji lisensi langsung diserbu peminat. Sedikitnya, 571 orang guide telah mendaftar untuk uji sertifikasi lisensi tersebut. Sebagian besar diantaranya diduga merupakan guide liar yang sudah berpraktik ilegal di Bali selama bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali, I Made Sukadana, banyaknya guide liar diperkirakan karena uji lisensi sudah tidak pernah dilakukan sejak tahun 2003 lalu. Dari 571 pendaftar, diperkirakan 300 orang diantaranya merupakan guide liar yang sudah bertahun-tahun berpraktik melayani wisatawan secara illegal. “Jadi kemungkinan besar diantara pendaftar-pendaftar itu, sudah jadi guide sejak bertahun-tahun. Mungkin dulunya dia guide liar yang sekarang ingin cari lisensi,” ujar Sukadana di Denpasar kemarin.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukadana menyebut, keberadaan guide liar yang banyak berpraktik di Bali sudah sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, kebanyakan guide liar tidak memiliki pemahaman benar tentang budaya Bali. “Ini merusak citra Bali,” demikian Sukadana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses uji lisensi, guide calon pemegang lisesnsi diwajibkan mengikuti kursus budaya Bali selama satu setengah bulan. Kursus itu diharapkan memberi pemahaman kepada para guide tentang budaya Bali dan segala filosofinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 260 orang yang mendaftar hingga kemarin, bermaksud mencari lisensi guide berbahasa Korea dan Mandarin. Sementara sisanya mencari lisensi guide berbahasa Jepang, Inggris, Rusia, Jerman, dan Belanda. Hingga akhir masa pendaftaran pada 20 Januari mendatang, Sukadana optimis akan ada 700 orang pendaftar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukadana berharap dengan uji lisensi tersebut, ada tambahan tenaga guide untuk menghadapi booming kembali pariwisata Bali. Beberapa guide yang diutamakan yakni berbahasa Rusia, dan Arab. Kedua pasar tersebut diakui mengalami peningkatan lumayan tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Pihaknya bahkan mengaku akan mencari 40 orang guide berbahasa Rusia. “Yang sulit cari guide berbahasa arab. Padahal potensi wisata Timur Tengah sangat besar sekali,” tambahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan HPI Bali, saat ini terdapat terdapat 4.786 guide aktif pemegang lisensi. Terdiri dari guide berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Korea, Perancis, dan Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebisnis travel agent yang khusus menangani pasar Rusia, Iwan Taruna, menyambut positif upaya mencari bibit-bibit baru guide Rusia. Pasalnya, selama ini pasar Rusia terus mengalami peningkatan, sementara tenaga guide yang ada sangat terbatas. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, jumlah kunjungan wisatawan Rusia ke Bali pada pada 2007 mencapai 31.267 orang, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 23.649 orang. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8257266092804114316?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8257266092804114316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8257266092804114316' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8257266092804114316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8257266092804114316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/ratusan-guide-liar-ajukan-lisensi_16.html' title='Ratusan Guide Liar Ajukan Lisensi'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7255340048569975692</id><published>2008-01-16T19:28:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T19:29:20.320-08:00</updated><title type='text'>Ratusan Guide Liar Ajukan Lisensi</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Keberadaan guide (pemandu wisata,red) tak berlisensi alias liar dalam kepariwisataan Bali, kini mulai ditata. Ratusan orang guide liar dipastikan bakal mengikuti uji lisensi pada Maret mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji lesensi yang digelar atas kerjasama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali dan Dinas Pariwisata Bali itu merupakan salah satu upaya menata guide-guide liar yang banyak berpraktik di Bali. Sejak dibuka pada 29 Desember 2007 lalu, pendaftaran uji lisensi langsung diserbu peminat. Sedikitnya, 571 orang guide telah mendaftar untuk uji sertifikasi lisensi tersebut. Sebagian besar diantaranya diduga merupakan guide liar yang sudah berpraktik ilegal di Bali selama bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali, I Made Sukadana, banyaknya guide liar diperkirakan karena uji lisensi sudah tidak pernah dilakukan sejak tahun 2003 lalu. Dari 571 pendaftar, diperkirakan 300 orang diantaranya merupakan guide liar yang sudah bertahun-tahun berpraktik melayani wisatawan secara illegal. “Jadi kemungkinan besar diantara pendaftar-pendaftar itu, sudah jadi guide sejak bertahun-tahun. Mungkin dulunya dia guide liar yang sekarang ingin cari lisensi,” ujar Sukadana di Denpasar kemarin.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukadana menyebut, keberadaan guide liar yang banyak berpraktik di Bali sudah sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, kebanyakan guide liar tidak memiliki pemahaman benar tentang budaya Bali. “Ini merusak citra Bali,” demikian Sukadana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses uji lisensi, guide calon pemegang lisesnsi diwajibkan mengikuti kursus budaya Bali selama satu setengah bulan. Kursus itu diharapkan memberi pemahaman kepada para guide tentang budaya Bali dan segala filosofinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 260 orang yang mendaftar hingga kemarin, bermaksud mencari lisensi guide berbahasa Korea dan Mandarin. Sementara sisanya mencari lisensi guide berbahasa Jepang, Inggris, Rusia, Jerman, dan Belanda. Hingga akhir masa pendaftaran pada 20 Januari mendatang, Sukadana optimis akan ada 700 orang pendaftar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukadana berharap dengan uji lisensi tersebut, ada tambahan tenaga guide untuk menghadapi booming kembali pariwisata Bali. Beberapa guide yang diutamakan yakni berbahasa Rusia, dan Arab. Kedua pasar tersebut diakui mengalami peningkatan lumayan tinggi sejak beberapa tahun terakhir. Pihaknya bahkan mengaku akan mencari 40 orang guide berbahasa Rusia. “Yang sulit cari guide berbahasa arab. Padahal potensi wisata Timur Tengah sangat besar sekali,” tambahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan catatan HPI Bali, saat ini terdapat terdapat 4.786 guide aktif pemegang lisensi. Terdiri dari guide berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Korea, Perancis, dan Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebisnis travel agent yang khusus menangani pasar Rusia, Iwan Taruna, menyambut positif upaya mencari bibit-bibit baru guide Rusia. Pasalnya, selama ini pasar Rusia terus mengalami peningkatan, sementara tenaga guide yang ada sangat terbatas. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Bali, jumlah kunjungan wisatawan Rusia ke Bali pada pada 2007 mencapai 31.267 orang, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 23.649 orang. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7255340048569975692?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7255340048569975692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7255340048569975692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7255340048569975692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7255340048569975692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/ratusan-guide-liar-ajukan-lisensi.html' title='Ratusan Guide Liar Ajukan Lisensi'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8806242292075410924</id><published>2008-01-15T19:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T19:28:06.351-08:00</updated><title type='text'>Jelang Galungan, Stok Janur dan Pisang Aman</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Menjelang hari raya Galungan dan Kuningan pada 23 Januari dan 2 Februari mendatang, stok janur dan pisang di Bali dipastikan aman. Sekitar 1.088 ton pisang akan didatangkan dari Jawa setiap harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janur dan pisang merupakan dua kebutuhan utama yang paling dicari umat Hindu di Bali pada setiap perayaan keagamaan. Pasalnya, janur dan pisang termasuk unsur wajib yang harus ada dalam setiap upacara keagamaan. Peningkatan permintaan atas janur dan pisang biasanya mengalami lonjakan luar biasa ketika hari raya tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada Galungan dan Kuningan mendatang, persediaan janur dan pisang dipastikan bakal mencukupi seluruh permintaan masyarakat Bali. Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Bagus Ketut Wijaya, menegaskan hal itu di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wijaya, timnya sudah melakukan pemantauan langsung ke pasar-pasar tradisional di Denpasar. Dari pantauan tersebut, diketahui bakal ada kiriman sebanyak 1.088 ton pisang dari Jawa Timur setiap hari sejak H-7 Galungan. Jumlah tersebut empat kali lipat lebih banyak dibandingkan hari biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman sebanyak itu akan didatangkan oleh 34 pemilik kios penjualan pisang di Pasar Anyar Ubung, pasar induk yang selama ini dikenal sebagai pusat penjualan janur dan pisang asal Jawa. Rupanya, para pedagang pisang dan janur sudah mengantisipasi meningkatnya permintaan menjelang Galungan dan Kuningan. Pasalnya, pada hari biasa masing-masing kios hanya mendatangkan satu truk pisang ke Bali setiap harinya, atau setara dengan 8 ton pisang. Menjelang Galungan, masing-masing kios meningkatkan pasokan menjadi 4 truk pisang per hari, atau setara dengan 32 ton per hari. “Jadi kalau dihitung keseluruhan, ada 1.088 ton pisang yang didatangkan ke Bali setiap hari,” terang Wijaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga terjadi pada janur. Menurut Wijaya, kiriman janur ke Bali dari sentra-sentra penghasil janur akan ditingkatkan. Selama ini, banyaknya kebutuhan janur di Bali memaksa pedagang mendatangkan janur dari sejumlah daerah di luar Bali, seperti dari Jawa Timur, Lampung, bahkan Sulawesi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wijaya optimis langkah pedagang mendatangkan lebih banyak pisang dan janur ke Bali, akan sangat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Saya yakin, persediaan janur dan pisang cukup melimpah. Apalagi ka nada pasokan janur dan pisang dari Bali sendiri,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, harga Janur dan pisang di pasar-pasar tradisional di Bali sudah mengalami peningkatan. Menurut salah seorang pedagang pisang di Pasar Badung, Ni Nyoman Mendri, harga pisang ambon sudah mengalami kenaikan dari rata-rata Rp. 4.000 per kg menjadi Rp. 5.500 per kg. Pisang raja juga mengalami kenaikan dari Rp. 6.000 per kg menjadi Rp. 7.500 per kg. Mendri memperkirakan harga pisang akan terus melambung hingga hari raya Galungan dan Kuningan berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanaikan juga sudah terjadi pada harga Janur. Salah seorang pedagang Janur di Pasar Badung, Ni Wayan Ayu, mengakui ada kenaikan  harga janur dari rata-rata 3.000 per ikat ukuran kecil menjadi Rp. 4.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait kenaikan harga tersebut, Wijaya mengaku pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, harga janur dan pisang sangat ditentukan mekanisme pasar. “Kami dari Disperindag hanya akan memastikan bahwa persediaan mencukupi. Soal harga, kami nggak bisa berbuat apa-apa. Toh, saya piker wajar kalau para pedagang mencoba cari untung lebih di saat-saat seperti ini,” tandasnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8806242292075410924?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8806242292075410924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8806242292075410924' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8806242292075410924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8806242292075410924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/jelang-galungan-stok-janur-dan-pisang.html' title='Jelang Galungan, Stok Janur dan Pisang Aman'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8429176280294185701</id><published>2008-01-15T19:25:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T19:26:51.463-08:00</updated><title type='text'>Industri Tahu Tempe Terancam Bangkrut</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Kenaikan tajam harga kedelai, membuat sekitar 83 unit industri tahu dan 109 unit industri tempe di Bali terancam bangkrut. Memperkecil ukuran produk jadi strategi andalan untuk tetap eksis meraih pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga kedelai yang melambung, hingga kemarin belum beranjak turun. Menurut salah seorang pedagang kedelai kering di Pasar Badung, Agung Dewantara, harga kedelai kering impor masih seharga Rp. 8.000 per kg. Padahal dulu, harga kedelai impor rata-rata hanya Rp. 4.000 per kg. Menurut Agung, kenaikan terjadi sejak sekitar dua bulan lalu. Sementara Agung tidak menyediakan kedelai lokal karena minim peminat.“Sejak dua bulan, harganya nggak turun-turun. Saya juga nggak tahu persis kenapa,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya harga kedelai, membuat industri pembuatan tempe dan tahu terpuruk. Iwan, salah satu pembuat tahu di Denpasar, mengaku sangat dipusingkan oleh kenaikan harga kedelai. “Lha wong dulu cuma Rp. 4.000, sekarang Rp. 8.000 per kg. Siapa yang nggak pusing,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kenaikan harga kedelai, Iwan terpaksa menaikkan harga eceran tahu buatannya dari Rp. 1.500 per bungkus menjadi Rp. 2.000 per bungkus. Tak cukup dengan menaikkkan harga. Ia juga memperkecil ukuran tahu buatannya menjadi hanya dua per tiga dari ukuran biasa. Jumlah tahu dalam satu bungkusnya juga dikurangi dari enam potong, menjadi hanya lima potong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi memperkecil ukuran, menurut Iwan, dilakukan agar masyarakat tidak makin merasa terbebani. “Sebab kalau ukurannya tetap seperti dulu, harganya harus naik dua kali lipat. Takutnya nggak ada yang mau beli,” terang Iwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pedagang tahu tempe di Pasar Badung, Maemunah, mengaku banyak mendapat protes dari pelanggan terkait kenaikan harga tahu tempe. Apalagi, ukuran tahu tempe yang dijualnya kini diperkecil. “Banyak sih yang protes. Tapi dulu. Sekarang sudah banyak yang ngerti kalau harga kedelai mahal,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Bagus Ketut Wijaya, mengakui sejumlah industri tahu tempe di Bali sedang terancam bangkrut. Pasalnya, sebagian besar industri tahu tempe di Bali sangat tergantung pada kedelai impor karena alasan kualitas. Padahal, lonjakan paling tinggi sedang terjadi pada kedelai impor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Wijaya, kebutuhan masyarakat Bali terhadap kedelai cukup tinggi. Total kebutuhan kedelai di Bali diperkirakan mencapai 20.909 ton per tahun. Bila dirinci, kebutuhan kedelai untuk tempe dan tahu tergolong paling tinggi, yakni masing-masing 8.688 ton dan 5.705 ton. Sementara kebutuhan kedelai kering dan kedelai tauge masing-masing hanya 4.927 ton dan 1.589 ton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal total produksi kedelai Bali pada 2007 lalu hanya sebanyak 10.844 ton. Sisanya sangat tergantung pada kiriman kedelai impor. Ironisnya, industri tahu tempe seratus persen tergantung pada kedelai impor. “Katanya kalau nggak pakai kedelai impor, hasilnya jelek,” ujar Wijaya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pihaknya mengaku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengendalikan harga kedelai. Pasalnya, kedelai merupakan produk bebas yang harganya diatur sesuai mekanisme pasar. “Kami tidak bisa mengatur harga kedelai. Jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya pasrah. [ni komang erviani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan Kedelai di Bali  &lt;br /&gt;Kedelai Tempe  8.688 ton&lt;br /&gt;Kedelai Tahu   5.705 ton&lt;br /&gt;Kedelai Kering  4.927 ton&lt;br /&gt;Kedelai Tauge  1.589 ton&lt;br /&gt;Total     20.909 ton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasokan Kedelai Bali &lt;br /&gt;Produksi Kedelai Lokal Bali  10.844 ton&lt;br /&gt;Impor      10.065 ton&lt;br /&gt;Total      20.909 ton &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data diolah dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8429176280294185701?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8429176280294185701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8429176280294185701' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8429176280294185701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8429176280294185701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/industri-tahu-tempe-terancam-bangkrut.html' title='Industri Tahu Tempe Terancam Bangkrut'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7185766236806596375</id><published>2008-01-12T22:52:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:53:01.480-08:00</updated><title type='text'>NTB Gaet Wisatawan Bali</title><content type='html'>SANUR (SINDO) – Tingginya kunjungan wisatawan asing ke Bali, membuat pelaku pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) berinisiatif untuk menggaet wisatawan dari Bali. Untuk mengurangi ketergantungan pariwisata NTB terhadap Bali, pelaku pariwisata NTB melakukan aksi jemput bola ke Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi jemput bola dilakukan dengan menggelar ajang Best of Lombok Table Top di salah satu hotel di Sanur Denpasar, kemarin. Sebanyak 16 pelaku industri pariwisata NTB yang terdiri dari hotel, tour operator dan biro perjalanan wisata NTB, mempresentasikan produknya di hadapan 65 pelaku wisata Bali. Ajang tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat pelaku wisata Bali untuk mempromosikan NTB sebagai destinasi kedua setelah Bali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggara kegiatan, Awan Aswinabawa, mengaku tidak punya spesifik terkait nilai transaksi yang bisa dibukukan dari acara tersebut. Sebaliknya, kegiatan itu diharapkan jadi media komunikasi antara pelaku wisata NTB dengan Bali. “Dalam jangka panjang, kami inginkan ada komunikasi intens dan saling pengertian antara pelaku wisata Bali dan Lombok,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Awan, selama ini masih ada gap yang cukup lebar antara pariwisata Bali dan NTB. Ia mencontohkan, total kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Bali selama 2007 mencapai 5,7 juta orang. Sementara jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB hanya 500 ribu. ”Padahal antara Bali dan Lombok sangat dekat sekali. Nah, gap ini yang coba kami persempit dengan berpromosi langsung ke Bali. Jadi dari total 7 hari kunjungan wisatawan asing ke Bali, dua harinya kan bisa dibawa ke Lombok,” ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan menjelaskan, ada banyak produk wisata baru di NTB yang cocok untuk dipasarkan ke pasar wisatawan di Bali. Bahkan menurut Awan, tarif wisata di Lombok sangat kompetitif. Untuk paket tiga hari empat malam misalnya, hanya diberi tarif USD 70–80 di luar flight. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jalur penerbangan dari Bali ke Lombok juga cukup banyak, mencapai 9 penerbangan sehari. Ada sekitar 800 seat penerbangan dari Bali ke lombok per harinya.” Antara Bali Lombok juga tidak terlalu jauh. Gampang tambah flight sewaktu-waktu,” tambahnya lagi. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Awan tegas menyebut bahwa Lombok bukan pesaing Bali. Justru, Lombok diharapkan bisa menjadi pelengkap pariwisata Bali. Meski infrastruktur di Lombok tak selengkap Bali, namun Awan memastikan segala fasilitas cukup memadai. Saat ini terdapat sedikitnya 2000 kamar hotel berbintang di Lombok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya tingkat ketergantungan pariwisata NTB terhadap Bali juga diakui Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Lombok Barat, Tjok Sutendra, yang hadir dalam acara Best Of Lombok Table Top. Menurut Sutendra, wisatawan yang datang ke Kabupaten Lombok Barat selama 2007 lalu mencapai 250 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat tipis dibandingkan kunjungan tahun 2006. Sekitar 55% dari total kunjungan tersebut, merupakan wisatawan asing. “Sekitar 70 persen wisatawan asing yang datang ke NTB berasal dari Bali. Jadi kami memang benar-benar tergantung pada pasar wisatawan Bali,” ujarnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang Best of Lombok Table Top diharapkan bisa menjadi salah satu upaya untuk lebih mengoptimalkan potensi kunjungan wisatawan Bali ke NTB. Dengan promosi jemput bola ke Bali, Sutendra optimis target kenaikan kunjungan wisatawan ke Lombok sebesar 20 persen bisa tercapai. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7185766236806596375?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7185766236806596375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7185766236806596375' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7185766236806596375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7185766236806596375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/ntb-gaet-wisatawan-bali.html' title='NTB Gaet Wisatawan Bali'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5912186531670815815</id><published>2008-01-12T22:50:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:51:58.068-08:00</updated><title type='text'>IITF 2008 Targetkan Transaksi 25 M</title><content type='html'>SANUR (SINDO) – Sebuah ajang promosi pariwisata bertajuk Indonesia International Travel Fair 2008 (IITF 2008), bakal digelar di Jakarta pada 27-30 Maret mendatang. IITF 2008 ditargetkan mampu membukukan transaksi wisata senilai Rp. 25 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IITF rencananya digelar di Balai Kartini Expo Jakartaa. Pihak panitia mengklaim ajang tersebut sebagai salah satu perhelatan travel fair terbesar di Indonesia yang menjadi salah satu agenda penting pada kalender Visit Indonesia Year 2008 (VIY 2008). Acara empat hari itu akan berlangsung dengan format satu trade show dan tiga hari consumer fair dimana masyarakat Jakarta dapat membeli paket domestik dan internasional dengan harga sangat spesial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Panca R Sarungu, Projesct Director IITF 2008, pihaknya ingin mengedukasi masyarakat agar merencanakan wisatanya lebih awal. Termasuk merencanakan wisatanya untuk musim liburan sekolah bulan Juni dan Juli mendatang dengan harga spesial. “Kami bahkan meminta pihak peserta pameran untuk memberikan harga sangat spesial yang hanya berlaku untuk pemesanan serta pembayaran selama acara ini berlangsung,” ujarnya berpromosi di hadapan pelaku industri pariwisata Bali di Sanur Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung program VIY 2008, penyelenggara juga akan mengundang sedikitnya 50 buyer asing yaitu wholesaler dan top outboud agent dari negara ASEAN dan China dalam program semi hosted buyer. Untuk mensukseskan program tersebut, Panca mengaku mendapat dukungan dari pihak hotel yang memberikan fasilitas akomodasi cuma cuma serta pihak perusahaan penerbangan yang memberikan diskon khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempromosikan ajang IITF 2008, panitia menganggarkan dana yang cukup besar mencapai senilai Rp.1,8 milyar. Kegiatan tersebut ditargetkan mampu menarik 30.000 pengunjung dan berhasil membukukan transaksi senilai Rp. 25 miliar. “Kami yakin target pengujung sebanyak 30.000 dari kalangan menengah keatas serta pembukuan transaksi senilai Rp.25 milyar akan tercapai,” demikian Panca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bali yang merupakan tujuan wisata utama dari pasar domestik, diharapkan bisa menjadi pemain penting dalam penyelenggaraan IITF 2008. Pasalnya menurut Panca, Bali telah membukukan sedikitnya Rp. 87 triliun transaksi dari kunjungan wisatawan domestik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana penyelenggaraan even IITF 2008, mendapat sambutan positif dari beberapa kalangan pelaku pariwisata di Bali. Shawal A Mohamed, manager salah satu hotel di Denpasar Mengakui, potensi wisatawan domestik yang Sangay besar Belem digarap secara optimal oleh pelaku pariwisata. Padahal, berwisata sudah menjadi salah satu gaya hidup yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia.  &lt;br /&gt;Oleh Shawal, peningkatan potensi wisatawan domestik itu dirasakan sendiri di hotelnya. Bahkan pasar domestik menurutnya jauh lebih menguntungkan, karena biasanya berwisata dengan keluarga dalam kelompok besar. “Kalau wisatawan Eropa, biasanya berpasangan dua orang. Tapi kalau wisatawan domestik, bareng keluarga. Jadi sebetulnya lebih menguntungkan,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Shawal menilai Belem ada upaya optimal menggarap pasar domestik. Ajang IITF 2008 diharapkan menjadi perintis dalam upaya menggarap pasar wisatawan domestik secara lebih serius. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5912186531670815815?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5912186531670815815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5912186531670815815' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5912186531670815815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5912186531670815815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/iitf-2008-targetkan-transaksi-25-m.html' title='IITF 2008 Targetkan Transaksi 25 M'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7868662754092887500</id><published>2008-01-01T19:22:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T19:24:01.596-08:00</updated><title type='text'>Transaksi Ritel Naik 50 %</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Tansaksi ritel di Bali mengalami kenaikan sekitar 50 % selama libur akhir tahun ini. Kenaikan terutama ditopang oleh transaksi pembelian makanan dan minuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi perdagangan riitel di Bali mengalami kenaikan gara-gara antusiasme masyarakat menyambut tahun baru 2008. Berdasarkan pantauan SINDO kemarin, sejumlah swalayan diserbu pengunjung sejak pagi hingga malam hari. Antrian panjang juga terlihat di kasir-kasir swalayan, hampir sepanjang hari. Bahkan sejumlah swalayan menambah tenaga kasirnya untuk mengurangi panjangnya antrian. Seperti terlihat di Swalayan Ramayana Jl. Sesetan Denpasar dan Tiara Dewata Jl. Letjen Sutoyo Denpasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Store Manager Ramayana cabang Sesetan, Benny Santoso, menjelaskan peningkatan transaksi penjualan sudah terjadi lima hari sebelum tahun baru. Bila omset penjualannya di hari biasa hanya Rp. 100 juta per hari, menjelang tahun baru naik menjadi sekitar Rp.150 juta per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan nilai transaksi penjualan terutama disebabkan oleh transaksi penjualan snack dan minuman. Dikatakan Benny, transaksi penjualan snack sejak jelang tahun baru naik hingga 30 % dibanding hari biasa. Sementara transaksi penjualan minuman naik hingga 50%. “Yang paling banyak dibeli soft drink dan bir. Malah kami kehabisan stok karena suppliernya sendiri sudah nggak punya stok,” terang Benny. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk produk fashion, Benny mengakui adanya kenaikan transaksi penjualan. Namun kenaikannya tidak terlalu signifikan dibandingkan hari biasa. “Produk fashion banyak dicari pada saat Natal lalu. Sekarang juga ada kenaikan, tapi tidak terlalu signifikan,” tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar Swalayan Tiara Dewata juga mengalami kenaikan transaksi penjualan jelang tahun baru. Menurut Operation Manager Tiara Dewata, Novie Setyo Utomo, transaksi penjualan naik sekitar 30 hingga 50% sejak Jumat pekan lalu. Sayang, Novie enggan menyebut nominalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan transaksi di Tiara Dewata terutama terlihat pada penjualan makanan dan minuman. “Yang paling banyak dibeli adalah soft drink dan kue kering. Mungkin untuk persiapan malam tahun baru,”terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, kenaikan transaksi penjualan ikan pada detik-detik pergantian tahun kemarin mencapai 500 persen, atau 5 kali lipat dari hari biasa. Kenaikan penjualan ikan pada tahun baru, jelas Novie, merupakan kecenderungan yang selalu terjadi setiap tahunnya. Hal itu diduga karena tradisi masyarakat Bali yang biasa menghabiskan malam tahun baru dengan barbeque party. “Kami memang sudah siap dengan kenaikan dengan manambah stok ikan. Karena di Bali ini sudah sangat khas di mana masyarakat merayakan detik-detik tahun baru dengan barbeque party,” terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah antisipasi atas keamanan malam tahun baru, sejumlah swalayan kemarin juga menyiagakan personil keamanannya dalam jumlah yang lebih banyak dari hari biasa. Selain itu, sejumlah swalayan juga melakukan kerjasama dengan aparat kepolisian setempat untuk pengamanan. “Hanya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas Novie. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7868662754092887500?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7868662754092887500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7868662754092887500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7868662754092887500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7868662754092887500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/transaksi-ritel-naik-50.html' title='Transaksi Ritel Naik 50 %'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-78191469196934092</id><published>2007-12-31T19:18:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T19:21:39.656-08:00</updated><title type='text'>Penjualan Miras Naik Drastis</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Penjualan minuman keras (miras) di Bali jelang tahun baru naik drastis hingga empat kali lipat dari hari biasa. Outlet-outlet penjualan miras di obyek-obyek wisata pun menambah stok jelang detik-detik pergantian tahun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melonjaknya penjualan miras dirasakan oleh hampir semua outlet penjualan miras, terutama di obyek-obyek wisata. Ibusama Wine and Spirits Shop yang terletak di Jalan Danau Tamblingan Sanur Denpasar misalnya, sejak seminggu terakhir telah mengantongi omset Rp. 15 juta per hari. Padahal di hari biasa, outlet yang menjual berbagai jenis miras produksi dalam dan luar negeri tersebut hanya mengantongi omset rata-rata tujuh sampai delapan juta per hari. Omset tersebut dipastikan makin melonjak pada detik-detik pergantian tahun. “Biasanya kalau pas tanggal 31 desember, bisa sampai empat kali lipatnya,” jelas Wayan Sri Utami, penjaga outlet.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman tahun lalu, jelas Sri, omset yang diperoleh tepat di penghujung tahun mencapai Rp. 30 juta. Karena itu, stok miras ditambah untuk mengantisipasi lonjakan pembeli. Waktu buka outlet juga akan diperpanjang untuk melayani pembeli. Bila pada kondisi normal outlet buka sampai pukul sebelas malam, pada malam tahun baru diperpanjang hingga pukul dua pagi. “Penjualannya mulai naik sejak dua hari sebelum Natal. Malam tahun baru pembeli pasti makin banyak,” terang Utami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan penjualan terutama terjadi pada miras jenis spirit wiski dan wine. Selain itu, penjualan arak bali juga diakui lumayan tinggi. “Kalau arak, biasanya banyak dibeli orang lokal. Bule biasanya lebih suka wine atau spirit,“ ujar Utami sembari menyebut ada 300 merek miras yang dijual di outletnya. Harga miras yang dijual bervariasi, dari Rp. 17.000 sampai Rp. 3 juta per botol. “Harganya tergantung mereknya,” tegas Utami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lonjakan penjualan miras juga diakui Indri, penjual miras lainnya di kawasan Sanur. Indri bahkan merasakan kenaikan penjualan miras sejak awal Desember. Dikatakan, sejak awal Desember pihaknya sudah mengantongi omset penjualan sebanyak 85 jura rupiah. Padahal sebelumnya, omset total sebulan biasanya hanya mencapai 70 juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski optimis peningkatan penjualan akan makin tinggi pada detik-detik pergantian tahun, namun Indri mengaku tidak menambah stok. Pasalnya, stok yang dimiliki supplier sudah menipis. “Inginnya sih nambah stok. Tapi supplier sudah nggak punya stok. Jadi terpaksa kami jualan apa adanya,” cerita Indri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Bagus Ketut Wijaya, mengakui kecenderungan peningkatan transaksi penjualan minuman keras menjelang tahun baru. Hal itu diduga karena banyaknya pesta tahun baru dengan minuman keras. Untuk mengantisipasi penyimpangan dalam distribusi miras, pihak disperindag menurutnya terus menurunkan tim untuk melakukan pemantauan. “Walaupun libur, tim pemantau tetap turun untuk menghindari adanya penyimpangan,” jelasnya kepada SINDO di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, Wijaya juga mengakui adanya peningkatan transaksi penjualan miras di Bali selama tahun 2007 ini. Peningkatan terutama terlihat pada transaksi penjualan miras goloang B dengan kandungan alkohol 5-10 persen. Penjualan miras golongan B pada tahun 2007 ini (data sampai 27 Desember) mencapai 2,15 juta pieces, melonjak dari tahun 2006 lalu yang hanya 1,2 juta pieces. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-78191469196934092?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/78191469196934092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=78191469196934092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/78191469196934092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/78191469196934092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/01/penjualan-miras-naik-drastis.html' title='Penjualan Miras Naik Drastis'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7862836552392242286</id><published>2007-12-29T22:49:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:55:07.420-08:00</updated><title type='text'>Wisatawan Bali Bakal Dimanja E-Kios</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Kunjungan wisatawan ke Bali terus digenjot. Salah satu upaya untuk memberi kenyamanan kepada wisatawan adalah dengan menyediakan sedikitnya 270 unit e-kios di setiap sudut obyek wisata di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-kios (electronic kios) merupakan alat pemandu wisata secara elektronik yang bentuknya mirip ATM (anjungan tunai mandiri). Lewat e-kios, wisatawan dapat mengakses berbagai informasi terkait pariwisata Bali. Mulai dari peta menuju obyek wisata, nomor telepon penting, fasilitas-fasilitas wisata, informasi hotel, dan berbagai informasi lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan e-kios merupakan program Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Rencananya, sebanyak 270 unit e- kios akan disebar di sejumlah obyek wisata di Bali pada akhir pertengahan Januari mendatang. E-kios akan disebar di seluruh kabupaten/kota di Bali. Konsentrasi penyebaran terbanyak rencananya berada di Kabupaten Badung, terutama di kawasan Kuta dan Nusa Dua. “Karena aktivitas pariwisata di Kabupaten Badung paling padat, jadi  alat ini paling banyak diletakkan di Badung,” jelas Herdy D Sayogha, Vice Chairman Bali Village, usai rapat persiapan e-kios di Denpasar kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengadaan e-kios menurut Herdy merupakan langkah positif untuk memperkuat citra Bali sebagai destinasi yang nyaman. “Pengadaan alat itu juga merupakan indikator dari modernisasi sebuah destinasi,” jelasnya. Apalagi, alat semacam e-kios sudah terbukti sangat membantu wisatawan di Singapura, Kanada, Jerman, dan negara-negara lain di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Herdy, e-kios merupakan langkah maju dalam pariwisata Bali. Apalagi, wisatawan dapat mengaksesnya melalui handphone, serta mendownload data atau gambar yang diperlukan. ”Ini luar biasa. Bagi wisatawan, ini jelas adalah kenyamanan,” jelasnya sembari menyatakan harapannya agar lokasi penempatan e-kios benar-benar dipertimbangkan agar efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-kios juga diharapkan tak sekadar memberi informasi peta atau obyek wisata, tetapi juga memberi informasi tentang telepon darurat, hingga jadwal penerbangan. Para pelaku wisata di Bali juga diharapkan peran sertanya dalam menambah daftar kalender of events pariwisata Bali. E-kios benar-benar mampu memberikan informasi terlengkap soal pariwisata Bali. Dengan demikian, wisatawan diharapkan mendapat manfaat besar dari e-kios. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun operasional e-kios diakui berisiko pada kerusakan teknis, entah akibat ulah tangan usil ataupun sebab lain. Atas hal itu, pengelola e-kios diharapkan mampu melakukan kontrol sehingga e-kios nantinya tidak menjadi barang mati yang mangkrak. ”Tapi pengelolanya sudah mengatakan bahwa mereka punya alat untuk mengontrol e-kios. Jadi e-kios yang mati akan terkontrol dari satu titik,” terang Herdy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Herdy, Ketua Bali Tourism Board (BTB) Ngurah Wijaya juga menyambut positif rencana pembangunan e-kios. Menurutnya, e-kios akan sangat efektif untuk memberi informasi yang benar dan lengkap tentang Bali. E-kios juga diharapkan bisa memberi informasi detil tentang hal-hal kecil yang diperlukan wisatawan di Bali. “Seperti aturan tentang mengendarai motor di Bali, di mana sewa motor, berapa harganya, dan lain sebagainya,” harap Ngurah. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7862836552392242286?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7862836552392242286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7862836552392242286' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7862836552392242286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7862836552392242286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/12/wisatawan-bali-bakal-dimanja-e-kios.html' title='Wisatawan Bali Bakal Dimanja E-Kios'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3166610311275305596</id><published>2007-12-29T22:46:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:57:33.555-08:00</updated><title type='text'>Inflasi Ancam Ekonomi 2008</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Lonjakan inflasi mengancam sektor perekonomian nasional pada 2008 mendatang. Inflasi Indonesia pada 2007 yang mencapai 6,7%, diperkirakan akan makin melonjak di 2008 hingga menembus angka 7 %. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya inflasi dipicu oleh meningkatnya harga-harga bahan pangan. Pengamat ekonomi Faisal Basri menjelaskan, kenaikan harga pangan disebabkan karena menipisnya cadangan komiditas pangan di pasaran. “Ancaman inflasi sudah di depan mata,” ujar Faisal Basri dalam sebuah seminar tentang prospek ekonomi 2008 di Denpasar kemarin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Faisal, produsen beras dunia saat ini ragu menyalurkan berasnya ke pasar internasional karena cadangan beras yang makin menipis. Hal tersebut berisiko pada makin melambungnya harga beras di pasaran dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya lagi, banyak kebutuhan-kebutuhan pangan di Indonesia yang mengandalkan impor seperti terigu dan kedelai. Konsumsi terigu misalnya, kini sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Padahal stok terigu dunia saat ini makin menipis. ”Sayangnya, masyarakat kita sudah tergantung pada terigu yang harus diimpor. Sementara stok terigu dunia sekarang sudah turun drastis dan kini berada pada stok terendah dalam 60 tahun terakhir,” jelas Faisal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inflasi yang meninggi berisiko pada menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, pendapatan masyarakat dikikis oleh kenaikan harga-harga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan inflasi pada gilirannya juga akan menaikkan suku bunga. Bila suku bunga naik, maka dipastikan nilai investasi akan makin merosot. ”Padahal di tahun 2008 mendatang, kita harus tingkatkan investasi,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan ekonomi nasional diakui Faisal akan naik ke kisaran 6,4–6,5 %. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun 2007 ini yang berkisar 6,4–6,5%. Namun pertumbuhan ekonomi nasional saat ini masih mengandalkan sektor konsumsi dan ekspor. Sektor investasi masih memberikan andil yang sangat minim terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni di bawah 10 . ”Ini masih mengkhawatirkan. Diharapkan pertumbuhan sektor investasi jadi double digit tahun depan,” ujar mantan Ketua KPPU tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga minyak dunia yang terus melambung, menjadi tantangan lain bagi ekonomi nasional 2008. Apalagi, Indonesia termasuk negara yang paling boros dalam konsumsi minyak. Untuk memproduksi satu unit output misalnya, energi yang digunakan industri di Indonesia lima kali lipat lebih besar dibandingkan industri du Jepang. “Harga minyak tidak akan menjadi beban bila bangsa ini mau berhemat energi,” terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bali, Panudiana Kuhn, menilai pertumbuhan ekonomi di 2008 masih cukup prospektif bagi sektor usaha. Meski demikian, para pengusaha menurutnya harus melakukan merger untuk membangun usaha dengan permodalan yang kuat. Dengan demikian, pengusaha nasional mampu meningkatkan persaingannya dengan pengusaha asing. ”Pengusaha harus bersatu padu untuk menghadapi persaingan di 2008,” tegasnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3166610311275305596?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3166610311275305596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3166610311275305596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3166610311275305596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3166610311275305596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/12/inflasi-ancam-ekonomi-2008.html' title='Inflasi Ancam Ekonomi 2008'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1748003790108019356</id><published>2007-12-29T22:42:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:58:33.683-08:00</updated><title type='text'>Rupiah Melemah, Pedagang Valas Was Was</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Kurs rupiah yang terus melemah terhadap dolar, membuat pedagang valuta asing (valas) was was. Pasalnya, pelemahan dolar di akhir tahun berisiko tinggi menyebabkan kerugian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sekjen Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA), Ayu Astuti Dhama, melemahnya rupiah di akhir tahun merupakan tren umum tahunan. Hal tersebut umum terjadi setiap tahun karena banyaknya aksi pembelian dolar oleh masyarakat. ”Kenaikan dolar kan pada dasarnya disebabkan orang-orang kita (indonesia,red) juga yang melakukan pengambilan dolar besar-besaran untuk liburan di luar negeri,” terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenaikan dolar di akhir tahun, jelas Ayu, biasanya akan diikuti oleh anjloknya dolar di awal tahun depan. Harga dolar yang saat ini berada di kisaran Rp. 9.400 misalnya, berisiko anjlok menjadi di bawah Rp. 9.200 per dolar. ”Sekarang harga dolar memang tinggi. Tapi belum tentu bertahan sampai awal tahun. Biasanya, harga dolar di awal tahun tiba-tiba anjlok,” keluh perempuan yang juga Wakil Ketua APVA Bali itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko kerugian bagi pedagang valuta asing, menurut Ayu, menjadi jauh lebih besar karena perbankan tutup di akhir tahun. Akibatnya, pedagang valas terpaksa menjual dolarnya di awal tahun. ”Kita jual Januari, harganya bisa anjlok. Berisiko sekali,” cerita Ayu. Padahal, transaksi penukaran yang harus dilayani di masa libur akhir tahun cenderung meningkat di bandingkan hari biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, sejumlah pedagang valas terpaksa melakukan antisipasi dengan menaikkan split kurs. Split kurs merupakan selisih antara kurs riil dengan kurs yang diberikan kepada konsumen. Ayu menjelaskan, split kurs yang biasanya diambil pedagang valas pada kondisi normal hanya sekitar  lima sampai 10 poin. Pada akhir tahun ini, para pedagang valas melakukan antisipasi dengan menaikkan split kurs menjadi 75 sampai 100 poin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi menaikkan split kurs terpaksa dilakukan pedagang valas untuk mengurangi risiko kerugian di awal tahun. ”Karena kalau nggak begitu, nanti waktu kita jual Januari harganya sudah turun. Harganya jadi tidak sesuai dengan pasar. Rugi dong kita,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi aksi pedagang valas menaikkan split kurs, Pemimpin Bank Indonesia Denpasar, Viraguna Bagoes Oka, mengingatkan agar pedagang valas tidak merugikan konsumen. Menurutnya, menaikkan split kurs sampai 100 poin merupakan aksi yang tidak seharusnya dilakukan dengan alasan apapu. Tidak terkecuali dengan alasan aktivitas perbankan yang tutup. ”Mestinya tidak begitu. Pedagang valas harus tetap ikuti mekanisme pasar. Mekanisme pasar kan sudah ada. Bank sentral sudah memberi sinyal terkait berapa kurs yang dipakai. Itu saja ikuti,” tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai destinasi wisata dunia yang banyak dikunjungi wisatawan asing, transaksi penukaran valas di Bali lumayan tinggi. Data Bank Indonesia Denpasar menyebutkan, total transaksi penukaran valas di Bali selama 2006 mencapai USD 563,882. Jumlah tersebut naik tipis 6,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya USD 529.804. [ni komang erviani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi Valas di Bali   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Nilai Transaksi (dalam USD) Peningkatan &lt;br /&gt;2002 754.211    &lt;br /&gt;2003 1.232.521   63,42 %&lt;br /&gt;2004 641.165    -47,98 %&lt;br /&gt;2005 529.804    -17,37 %&lt;br /&gt;2006 563.882    6,43 %&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1748003790108019356?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1748003790108019356/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1748003790108019356' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1748003790108019356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1748003790108019356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/12/rupiah-melemah-pedagang-valas-was-was.html' title='Rupiah Melemah, Pedagang Valas Was Was'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7829372873471167198</id><published>2007-12-27T22:44:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T22:59:55.792-08:00</updated><title type='text'>Hujan, Beban Listrik Bali Turun</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Hujan lebat yang melanda Bali sejak seminggu terakhir, membuat konsumsi listrik berkurang. Bahkan tepat di hari Natal, beban puncak konsumsi listrik hanya mencapai 391 megawatt (MW). Padahal dalam kondisi normal, beban puncak di Bali mencapai rata-rata 440 MW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Distribusi Bali, I Wayan Redika, menjelaskan, menurunnya beban puncak listrik sudah terasa sejak satu minggu terakhir. Pada malam Natal, Senin (24/12) misalnya, beban puncak hanya mencapai 405 MW. Padahal beban puncak di malam Natal biasanya mengalami kenaikan karena banyaknya kegiatan yang dilakukan untuk perayaan. Beban puncak pada malam Natal tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari 440 MW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma pada malam Natal, penurunan beban puncak juga terjadi tepat di hari Natal. Berdasarkan catatan PLN Distribusi Bali, beban puncak pada Selasa (25/12) hanya mencapai 391 MW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan konsumsi listrik diperkirakan karena hujan lebat yang terjadi hampir sepanjang hari seminggu terakhir telah menyebabkan berkurangnya aktivitas masyarakat.   “Mungkin Karena malam Natal tahun ini hujan, jadi aktivitas sedikit, dan AC (Air Conditioner,red) tidak dinyalakan,” terang Redika kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, hujan lebat yang sesekali diikuti angin kencang membuat banyak gangguan instalasi kabel PLN. Volume gangguan mencapai dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa. Dijelaskan Redika, dalam cuaca normal petugas PLN hanya menangani rata-rata 2 sampai 3 gangguan per hari. Memasuki musim hujan dan angin seminggu belakangan, gangguan yang harus ditangani mencapai 7 sampai 10 gangguan per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan instalasi listrik terutama terjadi akibat kabel yang terputus karena pohon tumbang, atau ranting pohon yang patah. Oleh pihak PLN, gangguan ini biasa disebut gangguan penyulang. Namun gangguan yang terjadi hingga saat ini belum terlalu mengkhawatirkan karena tidak menyebabkan kerusakan permanent. “Gangguannya masih ringan, tidak sampai memutus aliran listrik secara besar-besaran,” Redika menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi Tahun Baru 2008 mendatang, Redika tegas menyebut pasokan listrik Bali masih aman. Beban puncak yang tersedia di seluruh wilayah Bali mencapai total 562 MW. Pasokan listrik Bali saat ini mengandalkan dari empat sumber, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron Buleleng sebesar 80 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesek (PLTD) Pesanggaran Denpasar sebesar 152 MW, PLTG Gilimanuk sebesar 130 MW, serta listrik dari Pulau Jawa lewat kabel laut sebesar 200 MW. Redika berharap masyarakat mau berhemat listrik dalam tahun baru mendatang, untuk mengurangi beban listrik di Bali.[ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7829372873471167198?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7829372873471167198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7829372873471167198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7829372873471167198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7829372873471167198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/12/hujan-beban-listrik-bali-turun.html' title='Hujan, Beban Listrik Bali Turun'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-415921456316317930</id><published>2007-12-27T22:40:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T23:01:32.277-08:00</updated><title type='text'>Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Merugi</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Cuaca buruk yang melanda wilayah Bali akhir-akhir ini, membuat para pengusaha wisata bahari merugi. Pasalnya, banyak wisatawan membatalkan rencananya berwisata di laut. Pembatalan mencapai sekitar 50 – 70 persen dari total booking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pengusaha wisata bahari yang berkantor di Jl. Danau Tamblingan Sanur, I Ketut Ena Partha, mengakui banyaknya cancellation (pembatalan) sejak hujan disertai angin terjadi di Bali. Pemilik Ena Dive Center itu menjelaskan cancellation yang diterima sebanyak 50 persen dari total booking dalam satu minggu terakhir. Pada Rabu (26/12) kemarin misalnya, ada 10 orang wisatawan yang membatalkan rencana diving (menyelam). Sementara pada Selasa (25/12), ada 5 cancellation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pembatalan disebabkan karena sebagian besar wisatawan merasa khawatir melakukan aktivitas wisata di laut dalam cuaca buruk. Pembatalan tidak cuma dilakukan untuk kegiatan diving, tetapi juga wisata memancing dan wisata melihat dolphin (lumba-lumba). Cancellation banyak dilakukan wisatawan Jepang dan Eropa. “Rata-rata mereka takut beraktivitas di laut,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya cancellation, diakui Ena, menyebabkan kerugian yang lumayan besar. Sayang, Ena enggan menyebut total kerugian yang dialaminya. Namun sebagai gambaran saja, tariff yang dipatokj untuk sekali diving mencapai USD 70 – 120, atau Rp. 650 ribu sampai Rp. 1 juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski merugi, Ena mengaku usahanya cukup terbantu dengan adanya wisatawan yang tetap berani melakukan aktivitas bahari. Beberapa wisatawan tetap nekat melakukan diving ataupun memancing, meski hujan. Menurut Ena, cuaca buruk di masa akhir tahun sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Cuaca buruk yang terjadi kali ini, justru dinilai tidak terlalu buruk karena air laut tidak terlalu keruh dan arus tidak terlalu kencang. Arus kencang hanya terjadi di perairan sebelah selatan Sanur, yakni di kawasan Uluwatu yang menjadi lokasi melihat dolphin . Karenanya, aktivitas wisata untuk sementara tidak diarahkan ke sana. “Sepanjang situasinya masih cukup aman, kami tetap melayani wisatawan yang tetap ingin berwisata di laut. Yang pasti, faktor keamanan dan keselamatan bagi kami tetap di atas segalanya,” ujarnya berpromosi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian yang cukup besar juga dirasakan pengusaha wisata bahari lainnya, Yos WK. Amertha. Pemilik Yos Dive Center itu bahkan mengakui menerima pembatalan sebanyak 70 – 80 persen dari total booking. Padahal, booking yang ada untuk akhir tahun ini menurutnya cukup besar. Sayang, Yos menolak menyebutkan jumlahnya secara rinci. “Cuaca buruk, bisnis wisata bahari juga terpuruk,” begitu Yos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau harus menanggung kerugian yang cukup besar di akhir tahun, namun Yos mengaku senang dengan perkembangan bisnis wisata bahari di Bali selama tahun 2007 ini. Pria yang juga Ketua Gabungan Wisata Bahari (Gahawisri) Bali itu menilai bisnis pariwisata di tahun 2007 sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 2006. “Semoga di tahun depan bisa lebih baik lagi,: harapnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-415921456316317930?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/415921456316317930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=415921456316317930' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/415921456316317930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/415921456316317930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2008/12/cuaca-buruk-pengusaha-wisata-bahari.html' title='Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Merugi'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2889604506706724529</id><published>2007-12-27T16:13:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T16:15:02.350-08:00</updated><title type='text'>Turis China ke Bali Naik 113,2 %</title><content type='html'>DENPASAR(SINDO) – Selama 2007, jumlah wisatawan China yang melakukan perjalanan wisata ke Bali naik hingga 113,2%. Pada 2006, jumlah turis dari China hanya 36.394 orang, kini meningkat jadi 77.592 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan, mampu menempati urutan VI pada 2007, dari peringkat XI pada 2006, setelah Jepang,Australia,Taiwan, Korea, dan Malaysia,” kata praktisi pariwisata Bali Tjok Gde Agung kemarin. Turis asal Hong Kong yang melancong ke Bali juga mengalami peningkatan signifikan, yakni 29%, dari 8.572 orang menjadi 11.055 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha di sektor pariwisata ini mengaku gembira atas jumlah kunjungan wisatawan dari China dan Hong Kong tersebut.Namun, Tjok Agung mengimbau pemerintah bersama komponen pariwisata agar tetap bekerja keras untuk bisa menarik wisatawan China ke Bali. Ini penting, mengingat jumlah warga China yang melakukan kunjungan ke luar negeri sekitar 34 juta per tahun. Berarti, turis China yang berlibur ke Bali tidak lebih dari 0,2% jika dibanding dengan masyarakat asal tirai bambu itu yang melakukan perjalanan ke luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu,Pemprov Bali perlu lebih kerja keras.“Jumlah itu bertambah terus setiap tahunnya,” tandas Tjok Agung yang juga pengusaha di bidang perhotelan. Pada 2002 lalu pernah ditargetkan turis asal China yang akan berlibur ke Bali sedikitnya 150.000 orang per bulan. Namun, belum pernah terealisasi sepenuhnya hingga sekarang. Salah satu kendalanya yakni terkait pengurusan visa. “Begitu pula jasa penukaran uang China (Yuan) masih langka di pulau wisata Bali.” Di sisi lain, Tjok Agung mengaku bangga dengan seringnya para pejabat di Bali yang mendatangi China dalam rangka menarik kedatangan para turis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perjalanan dinas ke China tentu dengan mewacanakan sekaligus mempromosikan sektor pariwisata di negeri tersebut.” Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali juga pernah mengikutsertakan para pengusaha dan perajin dalam kegiatan pameran dagang bertaraf internasional di China dan cara itu pula dapat menarik minat turis negeri itu ke Bali. Di bagian lain, cuaca buruk yang melanda wilayah Bali akhir-akhir ini membuat para pengusaha wisata bahari merugi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, banyak wisatawan membatalkan rencananya berwisata di laut. Para pengusaha wisata bahari mengaku, pembatalan mencapai sekitar 50–70% dari total booking. “Dalam seminggu ini, cancellation (pembatalan) yang kami terima mencapai 50% dari total booking,” kata I Ketut Ena Partha,pemilik Ena Dive Center. Pengusaha yang berkantor di Jalan Danau Tamblingan,Sanur, ini menjelaskan, aksi pembatalan disebabkan banyaknya wisatawan yang merasa khawatir melakukan aktivitas wisata di laut dalam cuaca buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatalan tidak cuma dilakukan untuk kegiatan diving,tetapi juga wisata memancing dan wisata melihat dolphin (lumbalumba). Pembatalan banyak dilakukan wisatawan Jepang dan Eropa. Ena mengaku, banyaknya cancellation menyebabkan kerugian yang lumayan besar.Sebagai gambaran saja, tarif yang dipatok untuk sekali diving mencapai USD70–120 atau Rp650 ribu–Rp1 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski merugi, Ena mengaku usahanya cukup terbantu dengan adanya wisatawan yang tetap berani melakukan aktivitas bahari. Beberapa wisatawan tetap nekat melakukan diving ataupun memancing meski hujan. Menurut Ena, cuaca buruk di masa akhir tahun sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Cuaca buruk yang terjadi kali ini justru dinilai tidak terlalu buruk karena air laut tidak terlalu keruh dan arus tidak terlalu kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus kencang hanya terjadi di perairan sebelah selatan Sanur, yakni di kawasan Uluwatu yang menjadi lokasi melihat dolphin. Karena itu, aktivitas wisata untuk sementara tidak diarahkan ke sana. “Sepanjang situasinya masih cukup aman, kami tetap melayani wisatawan yang tetap ingin berwisata di laut.Faktor keamanan bagi kami tetap di atas segalanya.” (ni komang erviani/ant / dimuat di Koran SINDO Edisi Kamis 27 Des 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2889604506706724529?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2889604506706724529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2889604506706724529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2889604506706724529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2889604506706724529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/turis-china-ke-bali-naik-1132.html' title='Turis China ke Bali Naik 113,2 %'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3476263748604272139</id><published>2007-12-27T16:11:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T16:12:46.260-08:00</updated><title type='text'>Hujan, Beban Listrik Bali Turun</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Hujan lebat yang melanda Bali sejak seminggu terakhir, membuat konsumsi listrik berkurang. Bahkan tepat di hari Natal, beban puncak konsumsi listrik hanya mencapai 391 megawatt (MW). Padahal dalam kondisi normal, beban puncak di Bali mencapai rata-rata 440 MW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Humas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Distribusi Bali, I Wayan Redika, menjelaskan, menurunnya beban puncak listrik sudah terasa sejak satu minggu terakhir. Pada malam Natal, Senin (24/12) misalnya, beban puncak hanya mencapai 405 MW. Padahal beban puncak di malam Natal biasanya mengalami kenaikan karena banyaknya kegiatan yang dilakukan untuk perayaan. Beban puncak pada malam Natal tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari 440 MW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma pada malam Natal, penurunan beban puncak juga terjadi tepat di hari Natal. Berdasarkan catatan PLN Distribusi Bali, beban puncak pada Selasa (25/12) hanya mencapai 391 MW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan konsumsi listrik diperkirakan karena hujan lebat yang terjadi hampir sepanjang hari seminggu terakhir telah menyebabkan berkurangnya aktivitas masyarakat.   “Mungkin Karena malam Natal tahun ini hujan, jadi aktivitas sedikit, dan AC (Air Conditioner,red) tidak dinyalakan,” terang Redika kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, hujan lebat yang sesekali diikuti angin kencang membuat banyak gangguan instalasi kabel PLN. Volume gangguan mencapai dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa. Dijelaskan Redika, dalam cuaca normal petugas PLN hanya menangani rata-rata 2 sampai 3 gangguan per hari. Memasuki musim hujan dan angin seminggu belakangan, gangguan yang harus ditangani mencapai 7 sampai 10 gangguan per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan instalasi listrik terutama terjadi akibat kabel yang terputus karena pohon tumbang, atau ranting pohon yang patah. Oleh pihak PLN, gangguan ini biasa disebut gangguan penyulang. Namun gangguan yang terjadi hingga saat ini belum terlalu mengkhawatirkan karena tidak menyebabkan kerusakan permanent. “Gangguannya masih ringan, tidak sampai memutus aliran listrik secara besar-besaran,” Redika menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi Tahun Baru 2008 mendatang, Redika tegas menyebut pasokan listrik Bali masih aman. Beban puncak yang tersedia di seluruh wilayah Bali mencapai total 562 MW. Pasokan listrik Bali saat ini mengandalkan dari empat sumber, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Pemaron Buleleng sebesar 80 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesek (PLTD) Pesanggaran Denpasar sebesar 152 MW, PLTG Gilimanuk sebesar 130 MW, serta listrik dari Pulau Jawa lewat kabel laut sebesar 200 MW. Redika berharap masyarakat mau berhemat listrik dalam tahun baru mendatang, untuk mengurangi beban listrik di Bali.[ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3476263748604272139?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3476263748604272139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3476263748604272139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3476263748604272139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3476263748604272139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/hujan-beban-listrik-bali-turun.html' title='Hujan, Beban Listrik Bali Turun'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8164506150539170690</id><published>2007-12-27T16:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T16:11:24.006-08:00</updated><title type='text'>Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Merugi</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Cuaca buruk yang melanda wilayah Bali akhir-akhir ini, membuat para pengusaha wisata bahari merugi. Pasalnya, banyak wisatawan membatalkan rencananya berwisata di laut. Pembatalan mencapai sekitar 50 – 70 persen dari total booking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang pengusaha wisata bahari yang berkantor di Jl. Danau Tamblingan Sanur, I Ketut Ena Partha, mengakui banyaknya cancellation (pembatalan) sejak hujan disertai angin terjadi di Bali. Pemilik Ena Dive Center itu menjelaskan cancellation yang diterima sebanyak 50 persen dari total booking dalam satu minggu terakhir. Pada Rabu (26/12) kemarin misalnya, ada 10 orang wisatawan yang membatalkan rencana diving (menyelam). Sementara pada Selasa (25/12), ada 5 cancellation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pembatalan disebabkan karena sebagian besar wisatawan merasa khawatir melakukan aktivitas wisata di laut dalam cuaca buruk. Pembatalan tidak cuma dilakukan untuk kegiatan diving, tetapi juga wisata memancing dan wisata melihat dolphin (lumba-lumba). Cancellation banyak dilakukan wisatawan Jepang dan Eropa. “Rata-rata mereka takut beraktivitas di laut,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya cancellation, diakui Ena, menyebabkan kerugian yang lumayan besar. Sayang, Ena enggan menyebut total kerugian yang dialaminya. Namun sebagai gambaran saja, tariff yang dipatokj untuk sekali diving mencapai USD 70 – 120, atau Rp. 650 ribu sampai Rp. 1 juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski merugi, Ena mengaku usahanya cukup terbantu dengan adanya wisatawan yang tetap berani melakukan aktivitas bahari. Beberapa wisatawan tetap nekat melakukan diving ataupun memancing, meski hujan. Menurut Ena, cuaca buruk di masa akhir tahun sudah menjadi hal biasa yang rutin terjadi. Cuaca buruk yang terjadi kali ini, justru dinilai tidak terlalu buruk karena air laut tidak terlalu keruh dan arus tidak terlalu kencang. Arus kencang hanya terjadi di perairan sebelah selatan Sanur, yakni di kawasan Uluwatu yang menjadi lokasi melihat dolphin . Karenanya, aktivitas wisata untuk sementara tidak diarahkan ke sana. “Sepanjang situasinya masih cukup aman, kami tetap melayani wisatawan yang tetap ingin berwisata di laut. Yang pasti, faktor keamanan dan keselamatan bagi kami tetap di atas segalanya,” ujarnya berpromosi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian yang cukup besar juga dirasakan pengusaha wisata bahari lainnya, Yos WK. Amertha. Pemilik Yos Dive Center itu bahkan mengakui menerima pembatalan sebanyak 70 – 80 persen dari total booking. Padahal, booking yang ada untuk akhir tahun ini menurutnya cukup besar. Sayang, Yos menolak menyebutkan jumlahnya secara rinci. “Cuaca buruk, bisnis wisata bahari juga terpuruk,” begitu Yos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau harus menanggung kerugian yang cukup besar di akhir tahun, namun Yos mengaku senang dengan perkembangan bisnis wisata bahari di Bali selama tahun 2007 ini. Pria yang juga Ketua Gabungan Wisata Bahari (Gahawisri) Bali itu menilai bisnis pariwisata di tahun 2007 sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 2006. “Semoga di tahun depan bisa lebih baik lagi,: harapnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8164506150539170690?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8164506150539170690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8164506150539170690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8164506150539170690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8164506150539170690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/cuaca-buruk-pengusaha-wisata-bahari.html' title='Cuaca Buruk, Pengusaha Wisata Bahari Merugi'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2575721599178213657</id><published>2007-12-25T16:08:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T16:09:51.599-08:00</updated><title type='text'>Kendaraan Sewa Full Booking</title><content type='html'>* Libur Akhir Tahun di Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR (SINDO) – Sekitar 2.500 armada kendaraan sewa yang ada di Bali, dipastikan bakal beroperasi selama masa liburan Natal dan Tahun Baru ini. Kepastian itu disampaikan Ketua Perhimpunan Pengusaha Angkutan Wisata Bali (PAWIBA), Bagus Sudiana, kepada SINDO di Denpasar Senin (24/12) kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan Sudiana, banyaknya wisatawan asing dan domestik yang menghabiskan masa liburannya di Bali membuat banyak permintaan atas kendaraan sewa. Bahkan 2.500 kendaraan sewa yang tercatat di bawah PAWIBA Bali, sudah dipesan sejak jauh-jauh hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan jumlah permintaan sudah terjadi sejak akhir pekan kemarin dan diperkirakan berakhir pada dua hari paska malam pergantian tahun. “Kendaraan sewa sudah full booking semua,” terang Bagus yang juga pemilik Seruni Transport. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya permintaan atas kendaraan sewa terjadi pada semua jenis, merk, ataupun tipe kendaraan. Tak cuma bus dan minibus, kendaraan kecil biasapun banyak peminatnya. Karenanya, sekitar 128 pengusaha angkutan wisata legal di Bali dipastikan bakal panen hingga awal tahun depan. Itu belum termasuk kendaraan-kendaraan sewa yang  dikelola secara illegal. Untuk diketahui, keberadaan kendaraan sewa yang tidak mengantongi izin sewa cukup banyak tersedia di kawasan-kawasan wisata di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudiana menjelaskan, permintaan atas kendaraan sewa pada akhir tahun ini lebih didominasi oleh permintaan untuk full day tour  (sewa 24 jam,red). Meski over permintaan, namun tarif persewaan kendaraan selama akhir tahun ini tidak mengalami kenaikan. Untuk layanan full day tour misalnya, dikenakan biaya Rp. 800 ribu per kendaraan. Sementara untuk half day tour, atau perjalanan wisata setengah hari, dikenakan biaya Rp. 500 ribu per satu kendaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan permintaan atas kendaraan sewa ppada libur akhir tahun ini, cukup memberi angin segar bagi pengusaha angkutan wisata di Bali. Pasalnya menurut Sudiana, usaha angkutan wisata di Bali cukup terpuruk paska tragedi Bom Bali pada 2002 dan 2005 lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada disampaikan Yus Suhartana, pengusaha angkutan wisata lainnya di Bali. Pemilik Nusantara Transport itu mengaku senang dengan tingginya permintaan pada libur Natal dan Tahun Baru ini. Apalagi, sebanyak 17 armada yang dimilikinya bisa beroperasi secara maksimal di akhir tahun ini. Padahal paska bom Bali lalu, beberapa armadanya sempat menganggur dalam jangka waktu yang cukup lama gara-gara sepi wisatawan. “Kenaikannya cukup membahagiakan untuk pengusaha kecil seperti kami. Apalagi, waktu UNFCCC lalu juga sudah ada banyak sekali permintaan,” ujarnya senang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan sebelumnya, wisatawan asing dan domestic dipastikan bakal menyerbu Bali pada libur akhir tahun ini. Sebagian besar biro perjalanan wisata telah menerima banyak sekali permintaan layanan wisata dari wisatawan asing dan domestik. Sebagian besar hotel di kawasan Sanur, Kuta, dan Nusa Dua juga telah full booking. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2575721599178213657?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2575721599178213657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2575721599178213657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2575721599178213657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2575721599178213657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/kendaraan-sewa-full-booking.html' title='Kendaraan Sewa Full Booking'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-6822511851658366884</id><published>2007-12-25T16:07:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T16:08:15.313-08:00</updated><title type='text'>Harga Emas Makin Tak Stabil</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Harga emas di Denpasar makin tidak stabil. Berdasarkan pantauan SINDO di sentra penjualan perhiasan emas di Jl. Hassanudin Den pasar Bali Senin (24/12) kemarin, perhiasan emas dengan kadar 18 karat dijual dengan harga Rp. 185 ribu per gram. Padahal seminggu lalu, harganya cuma Rp. 170 ribu per gram. Sementara harga emas dengan kadar 22 karat dijual Rp. 200 ribu per gram, naik dari Rp. 190 ribu per gram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut salah seorang pedagang , Jupri, harga emas makin tidak stabil sejak enam bulan terakhir. Pria berusia 31 tahun itu menduga ketidakstabilan harga emas terkait dengan lonjakan harga minyak dunia yang kini telah menyentuh USD 94.per barel. “Kayaknya sih karena harga minyak dunia yang katanya naik,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakstabilan harga emas, menurut Jupri, telah membuat nasib pedagang emas makin tidak karuan. Pasalnya, pedagang seringkali harus menanggung rugi bila harga emas tiba-tiba anjlok. Pasalnya, harga emas dapat berubah setiap waktu. Padahal sebelumnya, harga emas bisa bertahan pada nominal yang sama hingga berbulan-bulan. “Kalau dulu,  emas bisa bertahan di harga yang sama sampai enam bulan atau satu tahunan. Kalau sekarang, harganya makin nggak karuan. Sekarang naik, besok bisa turun. Risiko ruginya banyak,” keluh Jupri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga disampaikan Wayan Sani, pedagang emas lainnya. Dikatakan Sani, harga emas yang tidak stabil membuatnya harus sangat berhati-hati menentukan harga jual. Karenanya, setiap saat ia harus selalu memantau harga umum. “Biar nggak rugi. Kalau salah harga, nanti rugi,” terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski harganya tak stabil, perdagangan emas di Denpasar tetap ramai. Apalagi terkait serangkaian hari raya Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru ini. Sejumlah warga Denpasar memilih berbelanja perhiasan emas untuk dikenakan di hari raya. Namun sejumlah pedagang mengaku belum ada peningkatan penjualan dari hari-hari biasa. Jupri misalnya, mengakui omset penjualannya masih normal di kisaran Rp. 20 hingga 25 juta per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang konsumen, Novita, mengaku tak khawatir dengan ketidakstabilan harga emas. Ditemui sesaat setelah membeli sebuah kalung emas di salah satu toko emas Jl. Hassanudin, perempuan asal Manado itu mengaku tetap senang menabung dalam emas. Menjelang Natal, ia sengaja membeli sebuah kalung emas agar bisa dikenakan di Hari Natal. Dikatakan, investasi emas tetap paling aman dan menjanjikan.“Biar bisa dipakai Natalan, sekaligus nabung,” terangnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-6822511851658366884?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/6822511851658366884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=6822511851658366884' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6822511851658366884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/6822511851658366884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/harga-emas-makin-tak-stabil.html' title='Harga Emas Makin Tak Stabil'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-364809530556570073</id><published>2007-12-23T19:07:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T19:09:13.087-08:00</updated><title type='text'>Mengeruk Dolar di Walidwipa</title><content type='html'>Bali bukan cuma nyaman untuk berwisata, melainkan juga untuk berinvestasi.Sebanyak 70% investasi di Bali dikuasai asing.Parahnya,semua keuntungan investasi justru dibawa pergi dari Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bali, sepuluh tahun silam, Benjamin Ripple langsung jatuh cinta. Hanya dalam rentang tiga hari, pria berkewarganegaraan Amerika Serikat itu langsung menginvestasikan modalnya di Bali. Padahal sebelumnya dia sempat menjelajah wilayah Irian Jaya, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Nusa Tenggara Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika pertama kali tiba di Bali, saya sudah lihat ada peluang untuk berinvestasi,” ujar Ben, begitu dia biasa disapa. Ben memilih berinvestasi di bidang pertanian, bidang yang sama dengan latar belakang pendidikannya. Sayang, Ben enggan menyebut nominal uang yang diinvestasikannya ketika itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas dengan investasi pertamanya, pada 2004 Ben kembali menginvestasikan modalnya di perusahaan lain dengan bidang usaha serupa. Sebanyak USD500.000 ditanamkan Ben dalam perusahaan yang kini dipimpinnya sendiri,PT Bening Big Tree Farms. Perusahaan yang berkantor di Jln By Pass Ngurah Rai Denpasar itu, kini aktif melakukan ekspor beberapa produk pertanian, seperti kakao,jambu mede, merica, garam, hingga gula jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar 30 tenaga kerja yang kini menggantungkan hidup pada perusahaan eksportir hasil pertanian tersebut. Ada juga ribuan petani garam, petani kakao, petani jambu mede, dan perajin gula jawa yang rutin memasok produk ke perusahaan yang kini telah melebarkan sayap ke Yogyakarta,Jawa Tengah, dan Flores itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski masih membukukan kerugian, Ben optimistis investasinya di PT Bening Big Tree Farms bakal mulai meraup untung pada 2008 nanti. ”Untuk keluar dari garis merah (rugi) ke hitam (untung), biasanya perlu waktu 3–6 tahun,” harapnya. Investasi di Bali rupanya sudah sangat membuai Ben. Dia bahkan berencana untuk berinvestasi lagi di bidang lain dalam waktu dekat. Bentuknya? ”Masih rahasia,” ujarnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan paradise island yang rekat pada nama Bali rupanya bukan sekadar istilah. Bali atau dulunya disebut Walidwipa, ternyata bukan cuma surga bagi wisatawan yang ingin berlibur, melainkan juga surga bagi investor asing. Ben hanyalah satu dari banyak orang asing yang memilih menaruh modalnya di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bali telah menerbitkan sedikitnya 218 surat persetujuan investasi asing dengan nominal total Rp36,3 triliun. Sedangkan surat persetujuan investasi dalam negeri yang diterbitkan pada kurun waktu tersebut, 34 buah dengan nominal sebesar Rp14,9 triliun. Artinya, 70% dari total investasi di Bali selama kurun waktu 10 tahun terakhir dikuasai investor asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada 30% investasi yang benarbenar milik investor dalam negeri. Besarnya ”kekuasaan” asing pada pundipundi ekonomi Bali, paling terlihat pada sektorsektor yang terkait erat dengan pariwisata, di antaranya sektor konstruksi (Rp13,7 triliun), perdagangan (Rp11,4 triliun), serta hotel dan restoran (Rp9 triliun).Itu belum termasuk investasi ”terselubung”yang tentu saja tidak tercatat di BKPMD Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mencatat 75% investasi bidang akomodasi di Bali dikuasai investor asing. Sebagai gambaran, saat ini ada sedikitnya 53.000 kamar hotel di seluruh Bali. 30% dari jumlah itu merupakan hotel berbintang yang seluruhnya dikuasai investor asing. Sudah bukan rahasia lagi, banyak investor asing yang memilih berinvestasi secara ”terselubung” dengan ”meminjam” nama warga lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa di antaranya bahkan mengambil jalan pintas dengan menikahi warga lokal. Pengamat ekonomi dari Universitas Udayana, I Made Kembar Sri Budhi, mensinyalir fenomena ”nikah sembari berinvestasi” ini muncul karena banyak investor yang tidak mau ribet dengan aturan hukum di Indonesia. Ironisnya,warga lokal justru merasa diuntungkan dengan aksi para investor asing itu karena mampu menaikkan derajat ekonominya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya investasi asing ”terselubung”, membuat serbuan investor asing ilegal di Bali makin tidak terkendalikan. Banyak di antaranya kini telah ”menyerbu” hingga ke daerah-daerah pelosok Bali dengan membangun vila-vila pribadi yang disewakan. Tingginya investasi asing di Bali sayangnya tidak dibarengi penyerapan tenaga kerja lokal dalam jumlah cukup banyak. Jumlah tenaga kerja yang diserap investasi asing di Bali hanya sebanyak 95.351 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jumlah angkatan kerja yang ada di Bali saat ini mencapai 2,01 juta orang. Sementara itu, ada sebanyak 5.571 orang pekerja asing yang diserap investor asing di Bali. Secara angka, investor asing memang menyerap lebih banyak tenaga kerja Indonesia dibandingkan tenaga kerja asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tenaga kerja lokal umumnya menduduki level menengah ke bawah. Level manajer dan pembuat kebijakan di perusahaan asing umumnya dipegang pekerja asing. Level yang tentu saja mendapatkan penghasilan dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan pekerja lokal. Kecenderungan ”membayar” pekerja lokal dalam jumlah yang jauh lebih kecil,bahkan juga terjadi pada posisi-posisi yang sebenarnya satu level. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, pekerja lokal dan asing yang sama-sama menduduki posisi manajer bagian di sebuah hotel akan mendapat gaji yang berbeda. Pekerja asing umumnya cenderung menerima jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan pekerja asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Celakanya, investor asing membayar orang kita lebih rendah, meski dalam posisi yang sama,” keluh Murjana Yasa, pengamat ekonomi dari Universitas Udayana. Investasi asing pada masa-masa awal Orde Baru, harus diakui mampu menggairahkan perekonomian masyarakat Indonesia secara umum, tidak terkecuali masyarakat Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan makin tingginya kepemilikan asing pada pundipundi ekonomi Bali dalam beberapa tahun terakhir, justru menyebabkan banyaknya kebocoran di sana sini. Banyak keuntungan asing yang lantas dibawa ke negara mereka masingmasing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sayangnya, tidak banyak investor asing yang me-reinvest keuntungannya di Bali. Ini menyebabkan kebocoran pendapatan luar biasa karena keuntungan dibawa ke luar negeri,” tegas Murjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat angka pertumbuhan ekonomi Bali, memang ada tanda-tanda peningkatan yang cukup melegakan. Lihat saja bagaimana pertumbuhan ekonomi Bali terus merangkak naik dari pascakrisis 1999 hanya sebesar 0.69%, mencapai 5,9% pada 2006. Pada 2007 ini, pertumbuhan dipastikan naik lagi menjadi 6%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada 2008 mendatang,sejumlah pengamat memprediksi pertumbuhan ekonomi Bali akan bisa menyentuh angka 7%. Namun, apa yang terjadi di balik itu? Ironis. Ketika pertumbuhan ekonomi Bali terus merangkak naik,jumlah penduduk miskin di Bali justru ikut merangkak naik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Pusat Statistik Bali mencatat hingga Maret 2007 total penduduk miskin di Bali sebanyak 229.000 orang. Jumlah itu 6,63% dari total penduduk Bali sekitar 3,4 juta orang.Padahal data yang diperoleh pada Juli 2005 silam mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 228.400 orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.Selama Juli 2005 hingga Maret 2007, garis kemiskinan mengalami kenaikan sebesar 8,81%, yaitu dari Rp152.519 per kapita per bulan pada Juli 2005 menjadi Rp165,954 per kapita per bulan pada Maret 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya investasi asing dan pertumbuhan ekonomi yang juga berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan di Bali, menunjukkan betapa investasi asing di Bali belum mampu meningkatkan perekonomian dari masyarakat Bali itu sendiri. Kenyataannya, pertumbuhan ekonomi Bali masih digerakkan konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Indonesia mencatat ada tiga komponen dari sisi permintaan yang menggerakkan angka pertumbuhan ekonomi Bali,yakni konsumsi rumah tangga sebesar 14,36%, diikuti investasi (9,06%) dan konsumsi pemerintah (6,38%). Sementara dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi terutama digerakkan sektor pengangkutan sebesar 13,39%, diikuti sektor keuangan (12,86%) dan sektor industri pengolahan (11,04%). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tingginya konsumsi dalam jangka panjang akan menyebabkan disinsentif bagi perekonomian,” aku Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Viraguna Bagoes Oka. Oleh karena itu, investasi asing masih sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian Bali. Diharapkan, masuknya investasi Bali bisa menekan peningkatan angka pengangguran di Bali. (ni komang erviani/andika hendra mutaqim/ dimuat di Koran SINDO Minggu 23/12/2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-364809530556570073?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/364809530556570073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=364809530556570073' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/364809530556570073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/364809530556570073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/mengeruk-dolar-di-walidwipa_23.html' title='Mengeruk Dolar di Walidwipa'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4651064044813883941</id><published>2007-12-22T16:19:00.001-08:00</published><updated>2007-12-22T16:19:59.082-08:00</updated><title type='text'>Apa Daya Investor Lokal</title><content type='html'>Investasi memang universal. Tidak memandang apakah asing atau lokal. Siapa yang memiliki kapital besar, kemungkinan besar akan menguasai pasar. Namun, minimnya investor lokal di Bali memang patut dipertanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor dalam negeri tampaknya kalah bersaing dengan investor asing yang mempunyai modal lebih besar. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjok Oka Artha Ardana Sukawati mengakui adanya kelemahan investor lokal dalam berinvestasi. Cok Ace, sapaan karibnya, beralasan hal itu akibat dari minimnya transfer pengetahuan oleh para investor asing kepada masyarakat Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Cok Ace menolak melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada investor asing. Dikatakan, investor asing telah terbukti memiliki kekuatan modal yang lebih tinggi dan keberanian yang jauh lebih besar dalam berinvestasi. Kemampuan investor asing tersebutlah yang menjadikan dorongan terbesar bagi mereka untuk berinvestasi di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah menjadi hukum dagang bahwa di mana ada peluang dan ada kemampuan maka investasi pun bisa dijalankan,”ujarnya pada SINDO. Selain kemampuan berinvestasi yang rendah, iklim investasi dalam negeri juga tidak cukup menguntungkan bagi investor lokal. Seperti diakui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bali Panudiana Kuhn. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menunjuk tingginya tingkat suku bunga kredit di Indonesia membuat daya saing pengusaha lokal menjadi sangat rendah. Suku bunga kredit perbankan di Indonesia saat ini rata-rata 14%, jauh lebih besar dibandingkan suku bunga tabungan yang hanya sekitar 8%. Padahal di luar negeri, selisih antara suku bunga kredit dan tabungan sangat tipis.Suku bunga kredit di Singapura misalnya, kini hanya sekitar 6,5%, atau sekitar 1% lebih tinggi dari suku bunga 5,5%. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi jelas daya saing pengusaha lokal jauh lebih rendah, karena kita harus bayar bunga bank jauh lebih besar,” keluh pengusaha tekstil itu. Australia sebagai negara yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Bali,menjadi ”penguasa” dari pundi-pundi ekonomi Bali.Investasi Australia menduduki peringkat pertama investasi di Bali, diikuti Singapura,Jepang,Amerika Serikat, dan Korea Selatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1998 hingga 2007 ini, investasi Australia di Bali yang tercatat sudah mencapai USD609.700. Sementara investasi Singapura sebesar USD427.400, Jepang USD131.350. Amerika Serikat USD107.100, dan Korea Selatan USD93.000. Apa pun alasannya, serbuan investor asing menjadi tantangan tersendiri yang harus dijawab Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di Bali bisa menjadi salah satu langkah untuk makin meningkatkan peran masyarakat lokal dalam perekonomian Bali. ”Masyarakat dan tenaga kerja di Bali harus meningkatkan kemampuannya, agar memiliki bargaining power yang tinggi untuk bisa bersaing. Ini penting agar masyarakat Bali benar-benar merasakan manfaat dari keberadaan para investor asing di Bali,” tegas Murjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patut dipikirkan sebuah regulasi investasi yang bisa membantu investor lokal.Salah satu yang bisa dicoba adalah setiap investasi asing diwajibkan menggandeng pengusaha lokal sebagai partner. Atau mungkin membuat regulasi yang mewajibkan, jabatan tertentu diisi orang Bali. (ni komang erviani/ andika hendra mutaqim / Dimuat di Koran SINDO Edisi Minggu, 23/12/2007 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4651064044813883941?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4651064044813883941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4651064044813883941' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4651064044813883941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4651064044813883941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/apa-daya-investor-lokal.html' title='Apa Daya Investor Lokal'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-9036032991879599269</id><published>2007-12-22T16:17:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:18:40.014-08:00</updated><title type='text'>Jangan Anaktirikan Pertanian dan Kelautan</title><content type='html'>PARIWISATA merupakan prospek investasi yang masih diandalkan di Bali,namun potensi pertanian dan kelautan juga patut menjadi andalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat bagus menggabungkan pariwisata, pertanian, dan kelautan menjadi sinergis. Wisata terpadu menjadi pendidikan Pemerintah Provinsi Bali. Kesuksesan Bali Tourism Development Center (BTDC) Nusa Dua akan ditiru untuk diterapkan di berbagai kabupaten di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kawasan yang bisa dikembangkan adalah Batu Ampar, Grograk, Buleleng dengan pasir putihnya dan daratan yang datar menawarkan prospek untuk dibangun kawasan pariwisata terpadu. Di wilayah-wilayah tersebut bisa dibangun, hotel, restoran, taman rekreasi, dan pusat perbelanjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan pariwisata terpadu juga bisa dilakukan di Pulau Nusa Penida, Klungkung. Tren pariwisata ke depan lebih mengarah ke ekowisata. Untuk itu, kawasan yang bisa dikembangkan adalah kawasan agrowisata komoditas kopi arabika dan jeruk di Kintamani, Bangli.Pengembangan kawasan agrowisata buah salak di Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, juga belum mendapat perhatian penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja sama dengan masyarakat setempat akan semakin menguntungkan dan memudahkan bagi investor asing dalam pengelolaannya. Pengembangan kawasan pariwisata di Bali lebih mengarah ke Bali bagian utara, yaitu kabupaten Buleleng. Pariwisata di Bali timur juga bakal mendapat prioritas sebagai tempat berinvestasi terutama untuk investor asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah pengembangan investasi ke daerah barat dan timur bertujuan untuk menyeimbangkan investasiinvestasi di Bali. Sejak 1960-an sampai 2000, konsentrasi investasi lebih mengarah ke Bali bagian selatan, yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar dengan Kuta, Nusa Dua,Jimbaran dan Sanur sebagai sentra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Badung dan Denpasar sudah mengalami titik jenuh sebagai tempat investasi sektor pariwisata,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bali I Made Kandiyuana. Sektor pertanian dalam arti luas akan diarahkan pada pertanian yang mendukung berkembangnya industri pariwisata di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jarangnya hotel, terutama hotel berbintang di Bali, menggunakan produk pertanian lokal sebenarnya menjadi tantangan tersendiri bagi investor asing. Mereka tidak perlu lagi memerlukan pasar untuk produk pertanian karena sudah ada ribuan hotel dan ribuan restoran yang siap menampung hasil produksi.Tetapi dengan catatan, produk pertanian pada kualifikasi ini harus memenuhi standar internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk pertanian yang bisa digarap oleh investor asing di Bali adalah jeruk, salak, anggur, durian, mangga, manggis, dan stroberi. Khusus untuk Kabupaten Jembrana saja, produk total buahbuahan mencapai 35.655 ton per tahun. Investasinya akan diarahkan ke peningkatan budi daya dan pemasaran. Akan menjadi sebuah keunggulan jika investornya membangun perusahaan pengolahan buah karena jika panen maka buahnya akan melimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain buah, investasi pertanian mengarah sayur-sayuran juga cukup prospektif. Sektor kelautan yang seharusnya mendapatkan prioritas unggulan adalah budi daya perikanan. Kalau melihat di Kabupaten Buleleng, potensi budi daya perikanan masih sangat terbuka luas.Apalagi didukung adanya budi daya nener di Gerogak, Buleleng, sebagai tempat pengembangan terbesar di Asia Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, potensi budi daya ikan hias bisa mencapai seluas 27,32 hektare, potensi budi daya ikan kerapu mencapai 500 hektare, budi daya rumput laut seluas 250 hektare. Budi daya tambak udang tak kalah menariknya.Tambak udang mempunyai potensi untuk dikembangkan seluas 500 hektare,tidak ketinggalan adalah potensi budi daya mutiara seluas 250 hektare. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Penguatan investasi di sektor pertanian dan kelautan akan menciptakan fondasi yang kuat bagi perekonomian Bali,” ujar Kandiyuana. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu tidak diinginkan menghancurkan pariwisata Bali (semoga tidak pernah lagi), maka perekonomian Bali bisa bergantung ke sektor selain pariwisata. (andika hendra mustaqim/ ni komang erviani / dimuat di Koran SINDO Edisi Minggu, 23/12/2007  )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-9036032991879599269?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/9036032991879599269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=9036032991879599269' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/9036032991879599269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/9036032991879599269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/jangan-anaktirikan-pertanian-dan.html' title='Jangan Anaktirikan Pertanian dan Kelautan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2100357136962774131</id><published>2007-12-22T16:15:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:17:21.541-08:00</updated><title type='text'>Wisatawan Lari, Investor Pergi</title><content type='html'>Ledakan bom yang telah dua kali mengoyak tidak hanya membuat pariwisata Bali nyaris ambruk, tetapi juga menorehkan momok menakutkan bagi calon investor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bali mencatat, rencana investasi asing di Bali pada 2000 sebesar Rp1,78 triliun.Angka itu meningkat tajam pada 2002, di mana rencana investasi mencapai Rp9,973 triliun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, realisasinya tentu tak seindah yang dibayangkan, yakni hanya Rp602,18 miliar atau 6,04%. Penyebabnya adalah terjadinya peledakan Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 yang membuat investor pun berpikir berulang kali untuk melanjutkan investasinya. Pada tahun itu, rencana 86 perusahaan asing untuk membuka usahanya pun hanya terealisasi 13 perusahaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurunnya nilai investasi, juga diiringi anjloknya angka kunjungan wisatawan asing ke Bali. Pada 2002, mencapai 1.285.844 orang atau menurun sebesar 5,23% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.356.774 orang. Kondisi pariwisata Bali semakin parah pada 2003. Kunjungan wisatawan asing hanya menembus angka 993.029 orang atau penurunan sebesar 22,77%.Angka ini merupakan penurunan wisatawan yang paling drastis sejak 1969. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Bom Bali I menjadikan trauma bagi investor asing yang akan menanamkan investasinya di Bali.Tidak ayal,pada 2003,rencana investasi yang sudah disetujui BKPM sebesar Rp1,41 triliun, realisasinya mencapai Rp764,38 miliar. Adanya jaminan keamanan dari pemerintah daerah dan pusat dengan dukungan kepolisian, menjadikan investor asing pun sedikit demi sedikit kembali percaya untuk berinvestasi di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2004, rencana investasi asing terdongkrak mencapai Rp4,61 triliun dengan nilai realisasinya mencapai Rp487,89 miliar. Kepercayaan investor asing terhadap jaminan keamanan kembali mendongkrak rencana investasi pada 2005 mencapai Rp10,54 triliun. Namun, Bali ibarat kembali menjadi keledai yang terjebak pada lubang yang sama.Bom Bali II meledak kembali di Nyoman Kafe, Jimbaran dan Raja’s Kafe di Kuta pada 1 Oktober 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang menyalahkan pemerintah dan aparat kepolisian karena telah kecolongan aksi teroris. Tidak ayal, realisasi investasi kembali melorot ke Rp140,59 miliar atau hanya 1,33%. Yang menyedihkan, angka itu sekaligus tercatat sebagai realisasi yang paling rendah dalam 10 tahun terakhir. Kunjungan wisatawan asing pada tahun itu juga menurun menjadi 1.386.449 orang atau menurun 4,93%, di mana pada tahun tersebut, realisasi investasi juga menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berikutnya, angka kunjungan wisata kembali turun menjadi 1.260.317 orang. Turunnya tren investasi juga menciptakan multiplier effect berupa sulitnya para pengusaha untuk membayar gaji karyawannya. Bahkan, tidak sedikit yang berujung pada terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Pada 2006, tercatat sedikitnya 378 pekerja mendapat PHK maupun dirumahkan. Itu pun baru pekerja hotel di wilayah Kuta,seperti Hotel Bali Clif,Grand Balisani Suites dan Vila Rumah Manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, Bali Recovery yang dilaksanakan pemerintah daerah dan swasta dalam membangun kembali pariwisata Bali setelah Bom Bali I, menjadikan kunjungannya cukup bagus pada 2004 sebanyak 1.458.309 orang atau meningkat 46,85% dibandingkan tahun sebelumnya. Bak sebuah lagu dangdut yang dipopulerkan Kristina, investasi di Bali mengalami jatuh bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, setelah Bali mendapatkan bencana, kemudian merestrukturisasinya, kemudian tertimpa bencana yang sama. Menurut Kepala BKPMD Provinsi Bali I Made Kandiyuana, pemerintah daerah berusaha membangun kembali kepercayaan investor asing setelah Bom Bali II pada 2002.Bahkan,apa yang diusahakan pemerintah daerah dan masyarakat Bali sudah membuah hasilnya pada 2004 dan awal 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan indikasi pada kedua tahun tersebut, investasi asing sudah menunjukkan angka yang progresif karena kepercayaan investor asing terhadap kondisi keamanan dan kesiapan Bali sudah membaik. Kenyataannya, akhir 2005, bom kembali meledak dan menghancurkan kembali kepercayaan investor asing yang mulai tumbuh tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Padahal, kita sudah susah payah meyakinkan investor potensial ke berbagai negara. Sepertinya, apa yang sudah kita lakukan dan rencanakan menjadi sia-sia saja karena bom,” ujarnya. Namun, Kandiyuana mengatakan bahwa pemerintah tidak putus asa dalam memperjuangkan untuk masuknya investasi asing ke Bali bekerja sama dengan semua pihak termasuk jaminan keamanan dari aparat keamanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Antonius Samuel Reniban mengatakan, polisi bekerja keras untuk menciptakan sebuah keamanan bukan hanya semata-mata untuk kepentingan investor, melainkan untuk menciptakan keamanan dan kedamaian bersama.Namun menciptakan keamanan bukan hanya tugas polisi, melainkan semua pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semua pihak berperan untuk menjaga keamanan karena ini masalah rasa,” paparnya. Begitu lembaran tahun 2006 dibuka, Pemerintah Daerah Bali berjuang kembali untuk meyakinkan investor asing bahwa Bali tidak akan kecolongan untuk yang kedua kali. Usaha yang dilakukan tidak percuma, rencana investasi pada 2006 mencapai Rp2 triliun,dengan realisasi Rp380,61 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka rencana investasi pada 2007 kembali melonjak sampai Rp5,34 triliun dan angka realisasinya belum bisa diketahui. Pandangan pengamat ekonomi dari Universitas Udayana Murjana Yasa, membaiknya investasi di Bali pasca-Bom Bali I dan II bukanlah merupakan suatu hal yang membanggakan. Sebabnya adalah investor asing datang membawa uang dalam jumlah banyak bukannya mendirikan perusahaan baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mereka mengakuisisi sejumlah perusahaan, seperti hotel dan biro perjalanan wisata, terutama milik orang lokal yang mengalami trauma karena krisis pasca-Bom Bali. ”Masalahnya, persoalan perizinan untuk mendirikan perusahaan baru memerlukan waktu yang relatif lama dan biaya tinggi, jadi beli yang ada saja. Orang tidak mau membangun dari nol,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya bom atau belum, investasi di bidang pariwisata masih menjadi primadona. Buktinya, investasi hotel dan restoran yang disetujui BKPM pada 2001 Rp185,42 miliar. Kemudian setelah terjadinya Bom Bali I pada 2003, investasi di hotel dan restoran justru mel o n j a k mencapai Rp1,73 triliun. Setelah Bom Bali II pada 2006, rencana investasi hotel dan restoran juga cukup tinggi mencapai Rp743,65 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Ardhana Sukawati, investor asing menanamkan investasinya di Bali terutama di bidang hotel dan restoran lebih karena adanya kesempatan dan peluang untuk berinvestasi di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah, adanya modal baik modal sendiri maupun modal pinjaman bank didukung dengan kemampuan dalam bidang pengetahuan tertentu menjadikan keberanian mereka berinvestasi. ”Hukum dagang di mana ada peluang dan ada kemampuan maka investasi pun bisa dijalankan,” ujarnya. (andika hendra mustaqim/ ni komang erviani/ dewi umaryati/ miftachul chusna/ dimuat di Koran SINDO Edisi Minggu, 23/12/2007  )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2100357136962774131?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2100357136962774131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2100357136962774131' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2100357136962774131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2100357136962774131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/wisatawan-lari-investor-pergi.html' title='Wisatawan Lari, Investor Pergi'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1191253321935887801</id><published>2007-12-22T16:13:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:15:04.109-08:00</updated><title type='text'>Antara Izin,Pungli,dan Tanah</title><content type='html'>Bali mempunyai potensi yang melimpah untuk berinvestasi.Sayang,kendala klasik berupa ruwetnya perizinan dan pungutan liar selalu menghantui investor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamanya pengurusan perizinan, mulai dari pusat kemudian turun ke provinsi, kemudian harus turun kembali mengurus di kabupaten atau kota menjadikan banyak waktu yang terbuang percuma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,salah satu prinsip yang diterapkan sebagian besar investor asing adalah kecepatan dan ketepatan perizinan. Di balik perizinan yang ribet, sudah menjadi rahasia umum pula jika di dalamnya terdapat pungli. Benjamin Ripple, investor asal Amerika Serikat, membenarkan sinyalemen itu. Dia mengeluhkan sulitnya mengurus perizinan investasi di Indonesia. Belum lagi, banyak oknum-oknum yang cenderung mempersulit perizinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya tidak mengerti, sebenarnya dia (pemerintah) mau kami investasi atau tidak?” gugatnya. Terus sampai kapan perizinan dan pungli bisa diselesaikan? Sejak zaman orde baru sampai zaman reformasi pun susah dilepaskan dan sepertinya sudah mendarah daging. Hal tersebut memang diakui Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Bali I Made Kandiyuana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya adalah penerapan pelayanan satu atap dalam hal perizinan investasi seperti yang diatur dalam Undang- Undang No 25/2007. Pelayanan satu atap akan diberlakukan mulai 2008. Kelak, semua investor asing dan lokal yang akan menanamkan investasinya di Bali tidak akan menemukan proses berbelit-belit sekaligus mendapatkan layanan penuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kabupaten hanya akan mengurusi izin mendirikan bangunan (IMB),” ujar Kandiyuana. Peranan pusat dalam hal investasi akan dipangkas karena hanya memiliki kewajiban dalam pengurusan standar prosedur semata. Perizinan adalah masalah klasik, memang. Namun, permasalahan investasi yang paling membuat pusing kebanyakan investor adalah tanah. Harga tanah di Bali yang mahal dibandingkan daerah lain menjadikan nilai investasi yang harus ditanamkan di Bali lebih mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya harga jual tanah dan harga sewa tanah itu lantaran Pulau Bali adalah pulau yang kecil sehingga tanahnya terbatas. Contohnya tanah di dekat Pantai Sanur, Denpasar.Di sana, harga tanahnya mencapai Rp400 juta per are (100 meter persegi). Bahkan, ada salah satu konsorsium pengusaha Korea Selatan merencanakan investasi di tanah bekas galian C di Kabupaten Klungkung, Bali, namun batal karena harga tanah yang melonjak dalam hitungan hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga awal tanah bekas galian C itu di bawah Rp10 juta per are,namun setelah isu tanah tersebut akan dibangun hotel, pemilik tanah menaikkan harga tanah sampai 5 kali lipat menjadi Rp50 juta per are. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Padahal kami menargetkan harga tanah per arenya maksimal Rp12 juta,” papar DI Jung, pimpinan konsorsium. Persepsi bisnis pariwisata yang mampu menghasilkan uang dalam jangka waktu cepat menjadikan harga tanah pun semakin mahal. Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Sukawati alias Cok Ace mengatakan, tanah yang mahal lebih banyak karena investor asing cepat mendapatkan break event point (BEP) alias dalam waktu singkat bisa tutup modal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cok Ace sendiri tidak bisa memastikan seberapa cepat BEP yang dicapai investor asing ini, Dia hanya menyebut kisaran 3 sampai 5 tahun dengan catatan pariwisata Bali stabil. Cok Ace juga mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengusaha lokal. Padahal, pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap investor lokal dengan dukungan kebijakan yang melindungi dan pro kepada pengusaha lokal. Pengusaha lokal sendiri tidak bisa berbuat banyak tanpa bantuan pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bantuan pemerintah yang paling penting adalah pinjaman atau kredit perbankan yang mudah dan murah bunganya,” tuturnya. Infrastruktur tidak boleh ditinggalkan saat kita berbicara permasalahan investasi. Adalah hal yang mustahil bila berharap investasi asing masuk ke Bali tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Infrastruktur yang paling memprihatinkan di masa depan menyangkut kelistrikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan listrik di Bali mencapai 480 megawatt (MW), sementara pasokan listriknya mencapai 550 MW,pasokan listrik tersebut pun dibantu 200 MW melalui jaringan interkoneksi bawah laut. Menurut Kandiyuana, jika Bali tidak membangun pembangkit listrik dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, investor akan enggan menggelontorkan uangnya ke Bali.Bali memang berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Celukan Bawang, Buleleng dan Karangasem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian,tantangan infrastruktur ke depan bagi Bali adalah bagaimana membangun jalan tol dari Denpasar– Jembrana, Denpasar– Buleleng,Buleleng– Jembara, atau jalan tol penghubung antarkota. Perluasan landasan Bandara Ngurah Rai juga sangat signifikan menjadi dua untuk take off dan landing pesawat. Perpanjangan bandara juga menjadi penting sehingga pesawat berbadan lebar bisa masuk ke Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ada hambatan dan tantangan, investasi asing akan terus digenjot pada 2008 mendatang. Target yang dipatok untuk investasi bagi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp6–10 triliun.Tentunya sebagian besar,target tersebut akan dipasok oleh PMA yang akan lebih mendominasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Target investasi tersebut untuk menunjang pertumbuhan ekonomi di atas 6% pada 2008,”ujar Kandiyuana. Promosi Bali ke luar negeri adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengenalkan potensi Pulau Dewata ini kepada investor asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu melakukan pendekatan dengan berbagai perusahaan besar di luar negeri untuk membentuk konsorsium dan menanamkan modalnya di Bali dengan berbagai jaminan kepastian hukum dan keamanan. Insentif juga bakal diberikan kepada investor asing seperti memberikan keringanan pajak dan sebagainya. ”Bagaimanapun, Bali adalah impian bagi investor asing,” pungkasnya. (andika hendra mustaqim/ ni komang erviani / Dimuat di Koran SINDO Edisi Minggu, 23/12/2007 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1191253321935887801?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1191253321935887801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1191253321935887801' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1191253321935887801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1191253321935887801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/antara-izinpunglidan-tanah.html' title='Antara Izin,Pungli,dan Tanah'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5841606657822965476</id><published>2007-12-22T16:12:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:13:04.601-08:00</updated><title type='text'>Sayang Ibu Lewat Bahasa Bunga</title><content type='html'>DENPASAR (SINDO) – Suasana di sentra penjualan bunga potong kawasan Jl. Letjen Sutoyo Denpasar Sabtu (22/12) kemarin terasa berbeda. Sejak pagi, belasan outlet bunga potong sudah dipadati pengunjung yang sebagian besar berseragam sekolah. Kebetulan, sejumlah sekolah di Denpasar kemarin memulangkan siswanya lebih cepat setelah pembagian hasil ujian semester. Selain anak sekolah, tidak sedikit pula karyawan kantoran, pasangan suami istri, hingga bapak-bapak paruh baya yang menyerbu pedagang bunga potong.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sahabat Ni Wayan Wida Primadewi (16 tahun) dan Nimas Febri Dionita (15 tahun), ikut berdesakan diantara belasan pelanggan dan ratusan potong bunga di salah satu outlet. Kedua siswi SMA Negeri 3 Denpasar itu sengaja meluangkan waktu sepulang sekolah untuk membeli bunga potong. Buket kecil berisi setangkai bunga Krisan dan dua tangkai mawar merah dibayar Wida dengan selembar uang sepuluh ribuan. ”Ini untuk ibu. Kan sekarang Hari Ibu,” terang Wida. Beda dengan Wida, Nimas memilih dua tangkai anggrek untuk sang ibu. “Soalnya ibu saya senang anggrek,” Nimas beralasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah empat tahun ini, Wida dan Nimas tidak pernah absen memberikan bingkisan bunga kepada ibu mereka, tepat di Hari Ibu. Bagi Wida, memberi bunga ketika Hari Ibu merupakan ungkapan rasa sayang dan terimakasih kepada ibu. “Sudah kebiasaan sih. Cuma sebagai ungkapan terimakasih kepada ibu yang sudah merawat kita,” cerita Wida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyoman Indra Wira Sasmita (12 tahun) pun tak mau kalah. Bersama sang ayah Nyoman Warmita (47 tahun) yang menjemputnya di sekolah, siswa SMP 7 Denpasar itu juga sengaja mampir untuk membeli enam tangkai mawar. “Ini untuk ibu dan nenek. Untuk memperingati Hari Ibu,” ujarnya polos. Menurut Warmita, tradisi memberi bunga kepada istri, ibu, dan mertua perempuannya sudah dilakukan sejak 15 tahun lalu. “Ini sudah tradisi. Anak saya sekarang juga sudah terbiasa dengan kebiasaan ngasih bunga,” ujar bapak dua anak itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jargon “ungkapkan cinta dengan bunga” rupanya masih erat dengan kehidupan masyarakat kita. Bunga sering dijadikan media untuk menyampaikan perasaan cinta dan sayang. Hal itu jelas terlihat ketika momen-momen tertentu, seperti pada Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember. Para pedagang bunga pun merasakan panen di momen Hari Ibu kemarin. Pemilik Tunjung Florist, Gede Swastika misalnya, mengaku mengalami peningkatan penjualan hingga 25 persen dari kondisi normal. Momen Hari Ibu, menurut Swastika, merupakan salah satu momentum untuk meraup lebih banyak keuntungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedagang bunga potong rupanya juga memanfaatkan momen Hari Ibu untuk menaikkan harga. Setangkai mawar yang biasanya bisa diperoleh dengan harga berkisar Rp. 1.500 sampai Rp. 2.000 misalnya, tiba-tiba naik menjadi Rp. 3.000. Swastika pun mengakui, satu buket bunga yang biasa dijual seharga Rp. 20 ribu kemarin dijual Rp. 30 ribu. “Harganya naik karena memang sudah naik dari pengepulnya,” Swastika menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin, pemilik Flamboyan Indah, juga mengakui adanya sedikit peningkatan penjualan di saat Hari Ibu. Namun peningkatannya dirasakan tidak terlalu signifikan. Menurut Hadirin, omset penjualannya masih mendekati kondisi normal, sekitar Rp. 1 juta rupiah per hari. “Kalau Harii Ibu memang agak ramai. Walaupun memang tidak seramai saat Valentine,” terangnya. [ni komang erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5841606657822965476?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5841606657822965476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5841606657822965476' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5841606657822965476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5841606657822965476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/sayang-ibu-lewat-bahasa-bunga.html' title='Sayang Ibu Lewat Bahasa Bunga'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8141567611786092331</id><published>2007-12-22T16:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:11:01.471-08:00</updated><title type='text'>Anak-anak dan Gombal Warming</title><content type='html'>KUTA (SINDO) -  Ada aksi tebang pohon di Kuta. Korbannya dua batang pohon. “Apa yang dikisahkan sebatang -pohon ketika ditebang?” teriak sejumlah anak-anak sanggar kesenian Bajra Sandi, membacakan puisi karya sastrawan Bali Cok Sawitri. Anak-anak lain lantas muncul dalam kostum pelepah pisang kering. Mereka mencoba mengungkapkan betapa aksi tebang pohon menyebabkan kekeringan di mana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang bukan aksi tebang pohon sungguhan, melainkan sebuah aksi teatrikal yang ditampilkan sekitar 35 anak-anak dan remaja akhir pekan kemarin. di Aula Kantor Kelurahan Kuta, Badung, Bali. Mereka tampil dengan sebuah aksi teater berjudul Tanah Air Api, yang mengungkap betapa aksi penebangan sebatang pohon telah merusak lingkungan di masa sekarang dan masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi teatrikal Tanah Air Api digelar dalam rangkaian kegiatan Alam Raya Milik Bersama, serangkaian kegiatan dialog, workshop, proses kreatif, dan pertunjukan seni. Alam Raya Milik Bersama gelaran Kelompok Tulus Ngayah dan Institute for Global Justice bakal dilaksanakan sampai Senin (10/12) ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koordinator Kelompok Tulus Ngayah, Cok Sawitri, Perayaan Alam Raya Milik Bersama dilaksanakan untuk sekadar memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat terkait isu global warming. Pasalnya, menurut Cok, bahasa-bahasa yang digunakan dalam sidang UNFCCC terlalu tinggi bagi masyarakat. Sebagian besar dari masyarakat bahkan merasa tidak punya kepentingan dengan global warming. “Padahal, yang bakal merasakan dampak langsung global warming kan masyarakat juga. Yang sekarang banyak dibahas di Nusa Dua, kami lihat sebagai gombal warming,” keluh Cok yang mengenakan kaos bertuliskan “gombal warming”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih mendekatkan pemahaman global warming kepada masyarakat, jelas Cok, masyarakat adat juga dilibatkan penuh dalam kegiatan tersebut. Selain itu, sejumlah guru taman kanak-kanak juga diminta pelibatannya. “Karena guru TK adalah penyampai pesan pertama untuk anak-anak kita. Jadi mereka bisa sampaikan pesan global warming dengan benar,” ujar Cok. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meski masih usia dini, anak-anak sanggar seni Bajrasandi rupanya cukup mengerti dengan makna tari yang mereka bawakan malam itu. Kadek Evi Andriani (11 tahun) misalnya, mengaku tidak senang melihat orang menebang pohon. “Kan kasihan kalau ditebang. Nanti panas,” ujar bocah kelas lima sekolah dasar yang berperan sebagai pohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ade Agoes Kevin (7 tahun) tak jauh beda. Meski hanya berperan sebagai pemegang payung, Kevin tegas menolak aksi penebangan pohon. “Takut. Kan nggak boleh tebang pohon. Nanti Tuhan marah,” ujar  Kevin ketika ditanya pendapatnya tentang aksi tebang pohon. [Ni Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8141567611786092331?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8141567611786092331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8141567611786092331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8141567611786092331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8141567611786092331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/anak-anak-dan-gombal-warming.html' title='Anak-anak dan Gombal Warming'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1159837265989435931</id><published>2007-12-22T16:08:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:09:46.642-08:00</updated><title type='text'>Rumput Laut Pengganti Bom Ikan</title><content type='html'>BULELENG (SINDO) - Keakraban Daeng Hayak (71 tahun) dengan bom ikan dan potasium, kini tinggal sejarah. Padahal, keseharian Daeng di masa lalu tak pernah lepas dari bom ikan dan potas. Pria keturunan bugis yang lahir dan besar di Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali itu, dulunya termasuk salah satu nelayan pencari ikan dengan bom. Meski ia mengaku punya alasan untuk itu. ”Sebab saya dulu nggak tahu harus bekerja apa lagi. Sementara anak-anak harus makan dan tetap sekolah,” kenang ayah dari 10 anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dulu, beda sekarang. ”Sekarang saya tahu kalau itu (bom ikan,red) merusak,” ujarnya. Daeng Hayak kini memang sudah tidak lagi menggantungkan hidupnya dari mengebom ikan. Ia kini menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut, usaha yang kini juga diikuti oleh sekitar 180 orang nelayan lain di pesisir Gerokgak, Buleleng, Bali.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budidaya rumput laut telah menjadi mata pencaharian baru yang memberi keuntungan ekonomis bagi para nelayan Gerokgak. Setidaknya, keuntungan itulah yang dirasakan Daeng Hayak, sejak merintis budidaya rumput laut tersebut tahun 2005 lalu. ”Baru beberapa bulan saya tanam rumput laut, saya sudah bisa jual enam juta rupiah. Jauh lebih untung dibandingkan cari ikan pakai bom,” terang Daeng Hayak. Sejak tahun 2005 itu pula, banyak nelayan pencari ikan dengan bom dan potas di wilayah Gerokgak yang beralih ke budidaya rumput laut. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Naiknya popularitas rumput laut di kalangan nelayan sekitar Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu, tak cuma memberi harapan ekonomis yang tinggi bagi masyarakat pesisir Bali Barat. Setidaknya, ancaman terhadap kelestarian terumbu karang di wilayah TNBB juga telah berkurang. Berdasarkan catatan WWF-Indonesia, tutupan karang yang tersisa dalam kondisi baik pada 1998 hanya sekitar 25 persen. Hal tersebut diduga karena banyaknya aktivitas pengeboman ikan. Padahal, TNBB merupakan bank bagi semua spesies hewan dan tanaman laut Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan budidaya rumput laut mulai digiatkan di kawasan Bali barat sejak Agustus 2003 oleh masyarakat bersama Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP) dan WWF-Indonesia. FKMPP merupakan forum yang terbentuk pada 2002 sebagai respon atas banyaknya bentrokan-bentrokan kepentingan antara nelayan, masyarakat, industri pariwisata, dan kegiatan pelestarian lingkungan TNBB.  “Kegiatan ini dipilih sebagai mata pencaharian alternatif yang tidak membahayakan kawasan TNBB setelah melalui proses pengkajian yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat,” jelas Misnawiyanto, Ketua FKMPP. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lahan seluas 40 Ha di perairan Desa Sumberkima dan Desa Pejarakan, kini telah ditutupi budidaya rumput laut. Panen yang dihasilkan pun lumayan, mencapai 12 ton per bulan. Potensi budidaya rumput laut di kawasan luar TNBB itu pun masih terbuka lebar. Berdasarkan perhitungan, potensi lahan budidaya rumput laut di sekitar kawasan TNBB bisa mencapai sekitar 298 Ha, dengan potensi menghasilkan rumput laut kering sebesar 500-750 ton setiap panen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut aktivis lingkungan yang juga pengamat terumbu karang, Putu Iwan Dewantama, alih mata pencaharian masyarakat dari nelayan pengebom ikan menjadi petani rumput laut telah terbukti mampu mengembalikan kelestarian ekosistem bawah laut perairan Gerokgak. Dikatakan Iwan, hasil riset terakhir mencatat bahwa tutupan karang di perairan Gerokgak sudah meningkat menjadi 40 persen. Sebagai upaya membantu pelestarian terumbu karang, para nelayan juga telah sepakat tidak menggunakan patok untuk menanam terumbu karang. ”Para nelayan sepakat untuk menanam rumput laut dengan sistem apung. Mereka benar-benar telah sepakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya,” cerita Iwan. [Ni Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1159837265989435931?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1159837265989435931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1159837265989435931' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1159837265989435931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1159837265989435931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/rumput-laut-pengganti-bom-ikan.html' title='Rumput Laut Pengganti Bom Ikan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3933313605238132020</id><published>2007-12-22T16:05:00.001-08:00</published><updated>2007-12-22T16:07:24.278-08:00</updated><title type='text'>Dulunya Danau, Kini Padang Rumput</title><content type='html'>Sebagian wilayah Danau Buyan di Buleleng Bali, kini berubah menjadi padang rumput luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3933313605238132020?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3933313605238132020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3933313605238132020' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3933313605238132020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3933313605238132020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/dulunya-danau-kini-padang-rumput_22.html' title='Dulunya Danau, Kini Padang Rumput'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-4635379746594691482</id><published>2007-12-22T16:05:00.000-08:00</published><updated>2007-12-22T16:07:22.821-08:00</updated><title type='text'>Dulunya Danau, Kini Padang Rumput</title><content type='html'>Sebagian wilayah Danau Buyan di Buleleng Bali, kini berubah menjadi padang rumput luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-4635379746594691482?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/4635379746594691482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=4635379746594691482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4635379746594691482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/4635379746594691482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/dulunya-danau-kini-padang-rumput.html' title='Dulunya Danau, Kini Padang Rumput'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2460751517084312257</id><published>2007-12-08T22:22:00.001-08:00</published><updated>2007-12-08T22:22:38.900-08:00</updated><title type='text'>Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan</title><content type='html'>Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan Pulau Serangan Bali melakukan penanaman terumbu karang di wilayah laut mereka. Mengembalikan keseimbangan ekosistem yang rusak karena reklamasi dan eksplotasi karang untuk bahan bangunan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENPASAR (SINDO) – Belasan nelayan Pulau Serangan Denpasar Bali, sibuk merangkai potongan-potongan pipa paralon dan jaring ikan berukuran besar. “Ini akan dipakai untuk wadah meletakkan terumbu karang, sebelum dibawa ke laut,” jelas Wayan Karsika, (38 tahun), salah seorang nelayan. Sejak awal Desember ini, Karsika dan anggota Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan sibuk bersiap-siap menerima kunjungan partisipan UNFCCC (United Nation Framework on Climate Change Conference) pada 9 dan 10 Desember mendatang. “Yah, kami perbaiki bagian-bagian yang rusak aja. Biar kelihatan sedikit lebih rapi,” ujar Wayan Patut, Koordinator Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan bakal menjadi salah satu lokasi pararel event UNFCCC, karena keberhasilan mereka membangun konservasi terumbu karang di Pulau Serangan. Konservasi dilakukan dengan melakukan penanaman terumbu karang di laut sekitar Pulau Serangan. Pulau Serangan merupakan pulau kecil di sisi timur Pulau Bali, masih berada di wilayah administratif Kota Denpasar Bali. Sejak 1997, Pulau Serangan direklamasi hingga menyatu dengan Pulau Bali. Reklamasi juga memperluas wilayah Pulau Serangan dari hanya 112 hektar menjadi seluas 480 hektar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wayan Patut, program konservasi dimulai pada 2003 dengan melakukan perbanyakan terumbu karang. “Kami menerapkan metode transpalantasi (stek,red),” terang Patut. Media tanam yang digunakan dalam metode transplantasi berupa kerangka plat beton yang kemudian ditempeli bibit terumbu karang dengan substrat buatan. Dengan metode ini, terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai upaya menggali dana untuk membiayai program konservasi, nelayan Serangan tak kehabisan akal. “Kami sekarang menjual soft coral dan terumbu karang buatan,” cerita Patut. Soft coral merupakan jenis terumbu karang lunak yang hidup di antara terumbu karang keras (hard coral,red) dan tidak memberi manfaat signifikan bagi ekosistem. Soft coral bahkan cenderung mengganggu pertumbuhan hard coral dan beracun bagi ikan. Soft coral yang diperjualbelikan nelayan Serangan, diambil dari kebun karang buatan mereka sendiri. “Kami tidak mengambil soft coral di alam bebas. Kami cuma mengambil soft coral yang mengganggu kebun karang buatan kami,”tegas Patut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjual soft coral, nelayan Serangan juga menjual terumbu karang buatan yang dibentuk dari campuran semen, batu apung, dan mill. Sebelum dijual, karang dbuatan diletakkan di dalam laut agar ditumbuhi alga. Karang buatan yang telah ditumbuhi alga itulah yang kemudian dijual untuk hiasan akuarium air laut. Soft coral dan terumbu karang buatan nelayan Serangan sudah diekspor ke luar negeri, yakni Paris. Selain digunakan untuk membiayai program konservasi, hasil penjualan soft coral dan terumbu karang buatan juga dibagikan kepada para nelayan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari program konservasi juga dirasakan oleh nelayan setempat.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inisiatif warga melakukan konservasi terumbu karang Pulau Serangan, tidak lepas dari proyek reklamasi besar-besaran yang dilakukan investor. Menurut Wayan Patut, ide melakukan konservasi terumbu karang di Serangan bermula dari kesadaran atas tingginya kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Kerusakan lingkungan tersebut berdampak sangat besar pada perekonomian warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan Karsika (38 tahun) termasuk salah satu nelayan yang merasakan dampak nyata kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Gara-gara kerusakan lingkungan, kini ia hanya bisa mendapat penghasilan melaut rata-rata Rp. 10 ribu per bulan. “Itu kalau beruntung. Kalau nggak beruntung, bisa nggak makan,” terangnya. Mencari ikan sudah menjadi bagian dari keseharian Karsika sejak kecil. Ia bahkan membiayai uang sekolahnya sendiri dari hasil mencari ikan, seperti yang juga dilakukan oleh sebagian besar anak-anak Serangan lainnya ketika itu. Namun hasil laut yang melimpah sudah menjadi barang mewah bagi Karsika dan nelayan lainnya di Pulau Serangan sejak reklamasi dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kesulitan mencari ikan, reklamasi juga menyebabkan hilangnya mata pencaharian 150 orang istri nelayan yang menjadi pedagang souvenir, pencari cacing laut, serta puluhan orang penambang (transportasi penyeberangan dengan perahu,red). Serangan dulunya merupakan salah satu tempat wisata favorit di Bali dengan daya tarik utama berupa atraksi penyu. Banyaknya penyu yang bertelur secara alami di Serangan, bahkan membuat pulau ini dikenal dengan sebutan pulau penyu.“Tapi setelah reklamasi, jarang sekali ada penyu datang. Karena lingkungannya sudah rusak. Wisatawan juga jadi sepi sekali,” ujar Nyoman Sopi (42 tahun), mantan pemandu wisata yang sempat kehilangan pekerjaannya paska reklamasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya mata pencaharian yang hilang, sempat membuat warga Serangan mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan. Warga memilih mencari karang di laut dan dijual untuk bahan bangunan. Setelah bertahun-tahun, baru pada 2003, warga sadar bahwa aksi tersebut makin memperparah kerusakan lingkungan di wilayah mereka. Berangkat dari kesadaran itulah, para nelayan lantas merintis upaya konservasi terumbu karang di laut Serangan. Harapannya agar kerusakan lingkungan Serangan tidak semakin parah. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali ekosistem Serangan. [Ni Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2460751517084312257?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2460751517084312257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2460751517084312257' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2460751517084312257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2460751517084312257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/konservasi-laut-ala-nelayan-serangan.html' title='Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1838987932590839592</id><published>2007-12-05T18:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-05T18:12:11.710-08:00</updated><title type='text'>Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat</title><content type='html'>Sebuah taman koral seluas 2,5 hektar, sukses dibangun dengan teknik biorock di kedalaman 15 meter laut Pemuteran, Buleleng, Bali. Mustahil tanpa keterlibatan warga desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran.  “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang  lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1838987932590839592?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1838987932590839592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1838987932590839592' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1838987932590839592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1838987932590839592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/taman-koral-berbasis-masyarakat-adat.html' title='Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3493903320700959518</id><published>2007-12-05T18:05:00.000-08:00</published><updated>2007-12-05T18:07:36.724-08:00</updated><title type='text'>Tebang Pohon Kena Sanksi Adat</title><content type='html'>Ketika demam perubahan iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, justru kebingungan mencari lahan kosong untuk ditanami. Aturan adat desa setempat ternyata sudah mengatur konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro pun dibangun untuk mengurangi penggunaan bahan baker fosil.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARANGASEM (SINDO) – Hamparan sawah luas dengan bukit menghijau di baliknya, langsung menyapa ketika memasuki perbatasan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Tak ada satu pun pemukiman warga di sekitarnya. Hanya sebuah bangunan mungil berukuran 2 x 3 meter, tampak berdiri kokoh di atas sebuah saluran irigasi milik Subak Tenganan. Subak merupakan sebutan untuk sistem saluran irigasi sawah tradisional di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah generator listrik yang digerakkan oleh putaran turbin dari aliran air subak, terlihat memenuhi bangunan mungil yang didominasi bahan kayu. “Listrik yang dihasilkan di sini, kami pakai untuk menggerakkkan penggilingan beras. Jadi, padi yang dihasilkan desa kami, bisa langsung kami olah jadi beras,” begitu Mangku Wayan Widya, tokoh Desa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan detil alur kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikro hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang ramah lingkungan. Teknologi sederhana yang mengubah aliran air menjadi listrik tersebut, kini coba diterapkan warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan untuk menggerakkan penggilingan beras di desa mereka. “Semoga dengan begini, masyarakat desa kami tidak perlu lagi beli beras. Jadi kami bisa menikmati beras hasil panen di sawah sendiri,” harap Mangku Widya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan PLTMH oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, memang bukan tanpa alasan. PLTMH dibangun atas kesadaran masyarakat akan perubahan kehidupan sosial dan ekonomi yang mereka jalani. “Kami menyadari ada yang janggal. Kami punya sawah seluas 255 hektar, tetapi semua warga kami beli beras di luar desa,” terang Wakil Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra. Kelihan adat merupakan sebutan bagi tokoh pemimpin desa di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan Sadra, masyarakat Tenganan dulunya hidup dari sawah desa seluas total 255 hektar. “Bahkan dulu kami semua di sini punya lumbung padi, untuk menyimpan hasil panen. Seluruh hasil panen kami gunakan untuk konsumsi sendiri,” kenang Sadra. Namun kini, lumbung-lumbung padi milik warga tak lagi berfungsi. “Sekarang, semua warga beli beras di luar desa. Di swalayan atau toko-toko,” terang Sadra. Masyarakat kini terpaksa membeli beras, karena hasil panen dari sawah mereka dijual dalam bentuk gabah. Tak cuma itu. Beralihnya mata pencaharian penduduk ke bidang pariwisata, membuat sawah-sawah mereka digarap oleh warga desa tetangga dengan sistem bagi hasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perhitungan yang dilakukan masyarakat adat Tenganan, lahan sawah desa seluas 255 hektar  dapat menghasilkan sedikitnya 500 ton beras setiap kali panen. Namun dengan sistem bagi hasil yang belakangan diterapkan masyarakat, desa adat mendapat hasil yang jauh lebih kecil. Di tahun 2006 misalnya, desa hanya menerima 266 ton beras. Sadra memperkirakan, dari total panen yang seharusnya mereka terima pada tahun 2006, masyarakat desa mengalami kerugian total Rp. 300 juta. “Ditambah lagi, hampir semua masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli beras,” keluh Sadra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggilingan beras mikrohidro diharapkan menjadi solusi untuk membangun kembali swasembada beras di Tenganan, dengan cara yang tetap ramah lingkungan. Itu sebabnya, selip beras digerakkan dengan tenaga listrik yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil. PLTMH hanya memanfaatkan sumber daya air dari sungai yang melintasi desa, Sungai Buhu. Debit air sungai Buhu yang cukup besar, yakni 350 liter/detik, kini bisa menghasilkan sedikitnya 12.500 watt listrik untuk menggerakkan alat penggilingan beras. Program PLTMH dibuat masyarakat desa Tenganan atas dukungan Yayasan Wisnu, Global Environmental Facilities-Small Grannt Programs (GEF-SGP), Jaringan Ekowisata Desa, Bank Indonesia (BI), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa Adat Tenganan Pegringsingan memang tergolong satu dari sedikit desa di Bali, bahkan mungkin Indonesia, yang punya kepedulian terhadap masalah lingkungan. Jauh sebelum masyarakat dunia berteriak tentang pemanasan global, desa yang terletak di bagian timur pulau Bali ini sudah mengatur pelestarian lingkungannya dalam awig-awig (aturan) desa. Aturan desa jelas mengatur peruntukan lahan dari total 917 hektar wilayahnya. “Itu sebabnya, luas sawah desa tetap 255 hektar sejak dulu. Tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah mengalihkan fungsi lahan di sini,” ujar Sadra bangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan tanah di Desa Tenganan adalah milik desa adat, walaupun atas nama perorangan atau kelompok. Pengelolaan tanah diatur jelas dalam aturan desa, terutama untuk mempertahankan keberadaannya dan kepemilikannya. Masyarakat Tenganan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Hal inilah yang menyebabkan luas wilayah Tenganan saat ini masih sama seperti pada abad ke-11 silam. Dalam aturan desa juga tegas disebutkan bahwa desa adat memiliki hak ngerampag, hak mengambil hasil bumi di tanah milik pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederet aturan lainnya, juga tetap dipegang erat masyarakat di desa yang kini menjadi desa wisata budaya itu. Pohon yang ada di wilayah Tenganan misalnya, tak boleh ditebang sembarangan, bahkan untuk pohon yang tumbuh di tanah milik pribadi. Terutama untuk pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, dan durian. Bahkan untuk memetik hasilnya, warga hanya dihasilkan mengambil buah yang jatuh setelah matang di pohon. Jika pohon-pohon tersebut tumbang, maka kayunya akan secara otomatis menjadi milik desa. Kayu tersebut nantinya bakal digunakan untuk membuat atau memperbaiki fasilitas umum. Karena sudah menjadi aturan, maka semua bentuk pelanggaran bakal dikenai sanksi adat. Dapat berupa teguran, dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan ketat Desa Tenganan, membuat desa ini tetap terjaga kelestarian alamnya. Bahkan ketika masyarakat Indonesia heboh-heboh dengan aksi tanam sejuta pohon, nmasyarakat Tenganan tak lagi menemukan lahan kosong untuk bertanam. “Kita tidak tahu lagi harus tanam pohon di mana,” ujar Sadra. Permukiman penduduk tetap terjaga tanpa mengganggu lahan hutan dan persawahan. “Jadi jelas, masyarakat Tenganan sudah melakukan konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Mereka tidak perlu ikut aksi tanam sejuta pohon, karena mereka sudah menjaga pohon-pohon yang ada sejak dulu,” ujar I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan selip beras bertenaga mikrohidro diharapkan bisa menjadi bentuk lain dari upaya konservasi lingkungan di Tenganan. Diakui Suarnatha, dana yang diperlukan untuk membangun selip beras mikrohidro tersebut tak sedikit, mencapai hampir Rp. 400 juta. “Tapi kita harus lihat manfaatnya. Ini bukti upaya pelestarian lingkungan yang nyata dari masyarakat Tenganan dengan kearifan lokalnya,” tegas Suarnatha. Masyarakat Tenganan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menyelamatkan alam dari kerusakan lingkungan. [Ni Komang Erviani / dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 4 Desember 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3493903320700959518?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3493903320700959518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3493903320700959518' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3493903320700959518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3493903320700959518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/12/tebang-pohon-kena-sanksi-adat.html' title='Tebang Pohon Kena Sanksi Adat'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1222875039458761705</id><published>2007-11-04T19:58:00.000-08:00</published><updated>2007-11-04T20:00:25.401-08:00</updated><title type='text'>Seeing natural beauty at the top of Mount Batur</title><content type='html'>Before the cocks had started crowing early in the morning, dozens of tourists were already trekking up a path from Toya Bungah in Kintamani, Bangli regency. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of them were headed to the top of Mount Batur, including our group. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guided by Kadek Sarjana, 28, at the front and Wayan Julita, 27, at the back, our group walked slowly from the hotel where we had stayed overnight. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because it was still too early in the morning, we were reluctant to move our legs. But Sarjana, who has been a tourist guide for decades, told us to get a wriggle on or we would miss the sunrise. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He said the eight-kilometer journey to the crater would take about two hours. This means that to catch a glimpse of the sunrise, visitors have to start trekking at 4 a.m. "Tourists usually want to see the sunrise from the top of the mountain. The sunrise in the area is very beautiful," Sarjana said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After walking for several hundred meters, the shining pathway suddenly turned into a dark gravel path. There were no longer lines of tourist huts with bright lights. We just caught light from the houses of locals here and there. It was fortunate that we were equipped with small flashlights. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The more we walked the darker it got. Our sight was limited. Several times Sarjana reminded us to be aware of the ravines on the left and right sides of the path. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He is very familiar with the route having climbed the mountain for the first time at the age of 10. "I came here every morning to sell beverages," he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People living on the slopes of the mountain are accustomed to dealing with tourists. Sarjana, for example, has relied heavily on trekking tourism since his childhood. Every day, the small Sarjana climbed the mountain to offer beverages and snacks to the tourists. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He would return home before 8 a.m. "Sometimes I would have to run so I wouldn't be late for school. But I realized that earning money was useless if I didn't go to school," he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana's feelings were shared by Wayan Julita. The money he had made selling snacks and drinks not only covered his school fees but could also be used to buy essential items for his younger brothers and sisters. His mother, a farm worker, could not provide much on her low income. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"My father died when I was small. Since then I have been selling things to tourists. If I didn't do that, I wouldn't be able to survive," Julita said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarjana and Julita also practiced speaking English with the tourists. The two decided to become tour guides after graduating from junior high school. Nearly every day, the two guided tourists to the top of Mount Batur. "Sometimes, I was forced to climb the mountain twice in one day," Julita said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Careful, there are a lot of loose rocks. Watch your step," Sarjana cried. The path was steep and full of potholes. Fortunately Julita had packed drinks and cookies for energy. "It's my job to help everyone in the group make it to the top," he said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After walking for nearly one-and-a-half hours, we reached a stony area where clusters of wildflowers grew. In the distance, we spotted a small hut at the top of the mountain. "Not far to go," Julita said. But we were unable to witness the beauty of the sunrise. "There are too many clouds, so it's difficult to see a thing," Julita said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite missing out on seeing the sunrise, we did not regret doing the walk. At 1,717 meters above sea level, we were also able to see Mount Agung, Bali's highest mountain. On the other side, Mount Abang was also clearly visible. "Everything looks so beautiful from up here," said Mita, a student at a private university in Denpasar, who was climbing Mount Batur for the first time. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the time we had reached the top of the mountain, the small hut we had earlier seen in the distance was full of tourists. Some of them sang, others ate instant noodles and drank tea, and there were others who just sat and relaxed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The owner of the hut, Komang Budiasa, 57, was busy serving her guests. She has been earning a living on Mount Batur for the past 20 years. "Initially I started selling food and drinks up here because my husband was sick and we were very poor. After about 10 years I built a hut to protect me from the elements," Budiasa said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She climbs the mountain very early in the morning before the tourists arrive and returns home in the evening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"If I'm very tired I don't go home. I sleep here," Budiasa said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides Budiasa's hut, there are also three other huts where walkers can go to get warm after their long climb. A plate of instant noodles costs Rp 10,000 for local visitors and Rp 20,000 for foreign tourists. "The food is expensive because we have to bring it all the way up here. It is very heavy," Budiasa said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mount Batur is one of two active mountains on Bali. It erupted in 1917 and 1926. In 1917 its eruption killed more than 1,000 villagers and destroyed part of Batur village. But many people insisted on staying on in the area. The next eruption in 1926 destroyed the whole village. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is also a big cave in the area, known as the crystal cave, and two smaller caves from where sulfuric clouds appear. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the two caves, which are similar to two small holes, visitors can cook eggs. In five minutes, the eggs are ready to consume. "This place is truly astonishing. I hope I can come back," said Sherlin, a tourist from France. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The situation at the top of the mountain got even merrier with the arrival of long-tailed monkeys. Sarjana said the monkeys were used to tourists. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We stayed at the top of Mount Batur for several hours before returning. Our exhaustion melted away when we took a bath in naturally warm water in Toya Bungkah village. [Ni Komang Erviani/The Jakarta Post November 01,2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1222875039458761705?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1222875039458761705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1222875039458761705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1222875039458761705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1222875039458761705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/11/seeing-natural-beauty-at-top-of-mount.html' title='Seeing natural beauty at the top of Mount Batur'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8110647461452056643</id><published>2007-10-18T19:48:00.000-07:00</published><updated>2007-10-18T19:55:36.986-07:00</updated><title type='text'>Children Act As Guardians of Sacred 'Legong' Dance</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/RxgcmThy7UI/AAAAAAAAACY/8FFp8z4WSCk/s1600-h/topeng+legong+021-edit.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/RxgcmThy7UI/AAAAAAAAACY/8FFp8z4WSCk/s200/topeng+legong+021-edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5122876020536569154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A dozen beautiful girls danced together in the courtyard of Payogan Agung Temple in Ketewel village, Sukawati, near Ubud in Gianyar in early October.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dancers were dressed in gold with crown-like headdresses adorned with fresh flowers. Other girls wearing similar costumes sat patiently in a corner of the temple waiting for their turn to perform.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni Kadek Dewi Puspayanti and the other girls are members of a legong troupe that was not formed to entertain tourists or dance enthusiasts but to serve in life cycle rites, ceremonies and celebrations. The troupe was rehearsing for the opening and closing ceremonies of the Payogan Agung Temple celebration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The legong Ketewel dance is only performed during ceremonies and celebrations at major temples and in villagers' private homes," said Jero Mangku Ketut Widia, a caretaker at Payogan Temple.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legong Ketewel is said to have been created by I Dewa Agung Anom Karna, a member of the royal family of the Sukawati Kingdom in Gianyar, after a period of mediation in the temple. He said he was inspired by the angels in heaven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jero Mangku said it was believed that the dance was created to honor Ratu Dedari or Tu Dari (the Queen of the Angels). The people of Ketewel believe performing the dance keeps them safe by warding off evil spirits, epidemics and disasters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I can vividly remember when the Ketewel villagers suffered from a mysterious disease in the late 1940s," the religious leader said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The villagers' solution was to stage the legong dance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I knew of a doctor who had the skills to cure the sick, but we still believed in the healing power of the dance," he said. Legong Ketewel is usually staged every six months according to the Balinese calendar when people observe the Pagerwesi holiday, one of the most important celebrations in Bali in addition to Galungan and Nyepi or the Day of Silence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since Legong is a sacred dance, not all girls are eligible to be dancers. Most dancers are pre-teen girls who have not yet started menstruating.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Once we have our first period, we have to quit the troupe," said Komang Wikantini, 13. Komang was a prominent legong dancer who started her career when she was 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komang and other former legong dancers are currently active in training youngsters and assisting legong dancers back stage. Legong dancers are also prohibited from consuming beef and pork. "According to Hindu beliefs, the cow is a sacred animal and the carriage of Shiva, the destroyer," said Jero Mangku Widia. "Meat symbolizes material things that can take away from the sacredness of the dance itself," he added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Legong dancers must also refrain from consuming sour or cold food and beverages. "This is important to strengthen their teeth," he said. During a legong performance, a dancer must wear a wooden mask that they hold in place with their teeth. "If their teeth are decaying they cannot hold the mask properly," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every year, no less than 30 children audition to be legong dancers. Kadek Dewi Puspayanti was one of the 12 dancers selected this year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I am very proud to be a legong dancer. This is really an honor for me and my family," Puspayanti said."My parents and grandparents told me I would become a healthy and beautiful girl when I was chosen to be a legong dancer."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During a legong performance, only two dancers are allowed to perform. The rest of the group has to pray before the show and help their friends prepare for the performance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the Payong Agung Temple celebration the troupe had been rehearsing for, Puspayanti teamed up with 9-year-old Ni Wayan Bianka Aristania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni Luh Anna, one of the trainers, said the dance allowed children to live up to their potential."They have to be physically strong as well as extremely patient," she said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Accompanied by gamelan music from the Sekaa Gong Semara Pengulingan Indra Parwati, Puspayanti and Wayan Bianka staged the rare legong Ketewel. The two girls seemed to be in another world. The sweet smell of incense mixed with the fragrance of jasmine and frangipani flowers drifted through the temple courtyard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to dance expert I Wayan Dibya from the Denpasar Institute of the Arts, the legong Ketewel dance has contributed to the creation of more contemporary legong dances. "In l811, legong Ketewel was modified into what we called modern legong," he said recently, adding that in the development process, some movements had been added and others eliminated. "Legong is a rich and very elaborate dance that requires a high level of skill. Only a few dancers can fully master legong, so we are facing a shortage of qualified legong dancers," Dibya said. Dancer, choreographer and politician Guruh Sukarnoputra said recently he was concerned by the recent development of the dance form. "The dance is only fit to be perormed before tourists, It has lost its originality," Guruh said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But both Dibya and Guruh are happy to see the children of Ketewel are still taking an interest in the dance."They are the last guardians of the rare and sacred legong Ketewel dance," Dibya said.[Ni Komang Erviani / The Jakarta Post, October 18, 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8110647461452056643?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8110647461452056643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8110647461452056643' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8110647461452056643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8110647461452056643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/10/children-act-as-guardians-of-sacred.html' title='Children Act As Guardians of Sacred &apos;Legong&apos; Dance'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_TewqYlv6330/RxgcmThy7UI/AAAAAAAAACY/8FFp8z4WSCk/s72-c/topeng+legong+021-edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5419812795646553004</id><published>2007-10-10T04:29:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T04:38:24.849-07:00</updated><title type='text'>Legong di Tengah Pergeseran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy5pDhy7PI/AAAAAAAAABo/E1NYTOSm8W0/s1600-h/Foto+4-edit.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy5pDhy7PI/AAAAAAAAABo/E1NYTOSm8W0/s200/Foto+4-edit.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119670991386242290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tari legong punya riwayat nan panjang. Bermula dari Desa Ketewel, legong kemudian berkembang menurut gaya-gaya yang diolah para empu tari di pelbagai desa kawasan Pulau Dewata. Legong topeng diperkirakan menjadi cikal bakal tarian ini. Meski ada pergeseran, tari legong diyakini akan tetap lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alunan nada bersemangat seperangkat gamelan yang dimainkan Sekaa Semara Pegulingan Gunung Jati menyapa para tamu di  Balerung Stage. Di panggung pertunjukkan sempit di Desa Peliatan, Ubud, Bali, itu sesosok penari tiba-tiba muncul dari balik tirai yang membalut sepasang candi bentar. &lt;br /&gt;Gerakannya lincah, tegas, tapi tetap gemulai. Khas gerakan penari legong keraton. Tak lama kemudian, dua penari lainnya muncul dari balik tirai, menggantikan penari pertama di atas panggung. Kostumnya sama. Aksesorisnya pun tak jauh beda. &lt;br /&gt;Keduanya bergerak kompak, bak sesosok penari dengan bayangannya. Tangan-tangan lentik para penari membawa mata penonton untuk terus mengikuti gerakannya. Lirik matanya lincah, membuat penonton enggan berkedip. &lt;br /&gt;Entakan tegas kaki para penari bagai angin puting beliung, membius penonton di ruang pertunjukkan. Konon, gemulai gerakan kedua penari menggambarkan sosok bidadari dari kahyangan. Di tengah tarian, keduanya tiba-tiba berganti peran. &lt;br /&gt;Dua tokoh bidadari kini berganti peran menjadi dua sosok ksatria kera: Subali dan Sugriwa. Dua ksatria kera gagah perkasa ini adalah kakak beradik yang berasa; dari Kerajaan Kiskenda. Mereka berseteru lantaran berebut tugas dari Dewa Indra untuk membunuh raksasa Mahesora. &lt;br /&gt;Alunan gamelan pengiring tiba-tiba mengentak. Gerak gemulai penari, berubah menjadi jauh lebih tegas. Kipas yang ada di tangan keduanya, juga ikut berubah peran menjadi senjata. &lt;br /&gt; Pertempuran Subali dan Sugriwa itu bukanlah ending pertunjukkan ini. Cerita kembali ke plot awal. Para penari kembali memerankan dua sosok bidadari dari khayangan. Beberapa gerak gemulai kembali diperlihatkan, sebelum penari pertama yang digambarkan sebagai sosok pembantu bidadari, menggantikan peran mereka di atas panggung. &lt;br /&gt;Rupanya dalam tari legong, penari pertama yang disebut penari Condong, hanya sebagai pembuka dan penutup tari. Kehadiran tokoh Condong yang menggambarkan sosok pembantu atau abdi dari dua bidadari (tokoh utama), menjadi ciri yang tak dimiliki tari bali lainnya. &lt;br /&gt;Pertunjukkan ditutup kembali dengan gerak lincah, tegas, dan gemulai si tokoh Condong. Penampilan Tari Legong Kuntir malam itu, benar-benar membius para tamu. “It’s wonderful,” seorang tamu asing di kursi tengah nyeletuk.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Asli Gaya Peliatan&lt;br /&gt;Legong memang tak sekadar tarian asal Bali. Tarian ini memberi satu warna tersendiri bagi penikmatnya. Tak mengherankan, banyak sekali paket pertunjukkan tari legong yang ditawarkan dalam industri pariwisata Bali. &lt;br /&gt;Legong tak hanya dipentaskan sanggar pertunjukkan tradisional, melainkan juga igelar oleh kafe hingga hotel berbintang. Tarian ini kerap menjadi pertunjukkan rutin di akhir pekan. Namun pertunjukkan legong di Peliatan Ubud malam itu berbeda dari biasa. &lt;br /&gt;Ada sejumlah cerita legong dalam versi asli gaya Peliatan, yang bisa disaksikan langsung oleh para tamu. Disebut versi asli, karena selama ini banyak pertunjukkan tari legong tak lagi memperhatikan orisinalitasnya. Banyak sekali pengaruh modernisasi, termasuk karena permintaan pasar pariwisata, yang menggeser orisinalitas pertunjukkan legong. &lt;br /&gt;Mulai dari gerakan-gerakan yang nyaris distandardisasi oleh sejumlah sanggar tari yang terus menjamur di Bali, hingga lama waktu pertunjukkan yang bisa ditawar untuk menyesuaikan bujet si penyelenggara acara. Toh, para turis asing tak tahu kalau legong yang ditontonnya bukan versi asli. &lt;br /&gt;Begitulah umumnya prinsip banyak pemilik hotel atau kafe yang menyediakan paket tari legong di tempatnya. Maka, tak mudah mendapatkan tari legong yang benar-benar asli. &lt;br /&gt;Pertunjukkan legong di Peliatan malam itu disesaki pengunjung. Pertunjukkan yang digelar selama empat hari berturut-turut itu, benar-benar memanjakan penikmat seni pertunjukkan bali. Apalagi, penari yang tampil merupakan penari tua yang menyerap ilmu tari dari maestro legong, mendiang Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog—juga sudah meninggal. &lt;br /&gt;Dua tokoh itu adalah mahaguru tari Bali yang mengembangkan tari legong gaya Peliatan. “Pertunjukan ini kami gelar untuk mengembalikan kenangan kepada masyarakat, disertai harapan agar legong gaya Peliatan tetap dicintai dan dipelihara sebagai salah satu bentuk dalam khasanah seni pertunjukan Bali, “ ujar Anak Agung Gde Oka Dalem, penyelenggara acara. &lt;br /&gt;Legong gaya peliatan merupakan istilah yang digunakan untuk membedakanya dari legong dengan gaya khas daerah lain. Pasalnya, banyak daerah di Bali yang memiliki legong dengan ciri khas masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Tari Legong Topeng&lt;br /&gt;Perjalanan legong sebagai seni pertunjukkan, ternyata cukup panjang hingga membentuk gaya-gaya daerah seperti sekarang ini. Meski tak ada sumber pasti, sejumlah pengamat tari meyakini bahwa tari legong berasal dari Desa Ketewel, sebuah desa kecil di Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali. &lt;br /&gt;Menurut I Wayan Dibia, pengamat seni tari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari legong yang kini berkembang menjadi legong keraton, bermula dari sebuah tari ritual sakral di Pura Payogan Agung, sebuah pura di Desa Ketewel. Bentuk tari legong asal Desa Ketewel pun jauh berbeda dengan legong yang ada sekarang. &lt;br /&gt;Tari legong asal Ketewel itu biasa disebut tari legong topeng, karena penarinya wajib menggunakan topeng yang disangga dengan gigi. Berbeda dengan tari legong keraton yang kini dikenal gemulai, energik, tapi mengentak, gerakan tari legong topeng jauh dari kesan mengentak. &lt;br /&gt;Gerakan para penari legong topeng terkesan sangat gemulai, kalem, tanpa satupun gerakan cepat. Semua berirama teratur. “Karena lakonnya bidadari, ya menggambarkan gerakan bidadari di kahyangan,” terang Mangku Widia. &lt;br /&gt;Mangku Widia menambahkan, kemunculan legong topeng bermula dari seorang Ksatria di Puri Sukawati bernama I Dewa Agung Anom Karna. Ia mendapat wangsit ketika bersemadi di Pura Payogan Agung Ketewel. Sang ksatria kabarnya mendapat perintah dari Hyang Pasupati, untuk menciptakan sebuah tarian dengan karakter topeng yang telah ada. &lt;br /&gt;Memang, jauh sebelum Dewa Agung Anom Karna bersemadi, sejumlah topeng bidadari telah tersimpan di Pura Payogan Agung. Topeng yang berusia ratusan tahun itu diduga buatan Ki Lampor dari Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur. Lontar Raja Purana yang ditemukan di Pura Payogan Agung mengungkapkan, topeng-topeng itu dipersembahkan oleh Raja Kediri dalam tari wali di Gunung Semeru. Paska persembahan, barulah topeng-topeng itu dibawa ke Bali dan diletakkan di Pura Payogan Agung. Tak jelas, kapan topeng-topeng itu sampai di Bali. Namun diperkirakan sejak ratusan tahun lalu. Atas wangsit itu, dengan bantuan masyarakatnya, Dewa Agung Anom Karna pun mencipatakan Tari Ratu Dari. &lt;br /&gt;Tari yang digubah lengkap dengan tabuh semara pegulingan sebagai pengiringnya ini, diperkirakan sudah ada pada tahun 1811. Tari inilah yang dalam perjalanannya disebut sebagai legong topeng. Nama ”legong” diduga berasal dari akar kata bahasa Bali leg yang berarti gerak yang luwes dan elastis serta gong yang berarti gamelan. &lt;br /&gt;Maka, legong disimpulkan sebagai tarian yang luwes dan diiringi dengan seperangkat gamelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembang di Seantero Bali&lt;br /&gt;Bermula dari legong topeng yang dikembangkan Anak Agung Rai Perit di Puri Paang, Sukawati, Gianyar, sejumlah pakar tari seantero Bali mulai belajar tentang seluk beluk Legong. Selanjutnya, para murid Anak Agung Rai Perit itu mengembangkan legong di daerahnya masing-masing.&lt;br /&gt;Tak ada satu pun sumber yang bisa memberi kepastian, kapan legong berkembang di setiap daerah. Hal ini terkait minimnya dokumentasi yang ada tentang seni pertunjukan Bali. Menurut Wayan Dibia, seni pertunjukkan di Bali adalah bagian dari tradisi lisan yang tidak didokumentasikan secara permanen. &lt;br /&gt;Selama ini, tidak ada cukup bukti yang menunjukkan dari mana dan ke mana bergeraknya Legong. “Tapi yang sudah kita kumpulkan selama ini, yakni penyebarannya dari Sukawati, lalu ke tempat lain di Gianyar. Belakangan, baru berkembang di Badung dan Denpasar,“ Wayan Dibia menerangkan.&lt;br /&gt;Yang pasti, legong telah berkembang ke sejumlah daerah di Bali, disesuaikan dengan gaya khas masing-masing daerah. Berdasarkan catatan yang dibuat Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya Bali pada tahun 1974, Legong berkembang di enam kabupaten di Bali. Masing-masing 20 daerah di Kabupaten Badung termasuk Denpasar, 13 daerah di Kabupaten Gianyar, tiga daerah di Kabupaten Tabanan, dua daerah di Kabupaten Buleleng, dua daerah di Kabupaten Negara, dan dua daerah di Kabupaten Karangasem. &lt;br /&gt;Pengembangan Legong dengan kekhasan gaya daerah masing-masing, sangat dipengaruhi tokoh yang membawanya. Seperti yang dilakukan I Gusti Lanang Gde Sudana Jelantik dan Anak Agung Raka Saba yang membangun legong gaya Desa Saba Blahbatuh Gianyar. Wayan Lotring membangun legong gaya Kuta. Selain itu, Anak Agung Gde Mandera (1905 – 1986) dan Gusti Made Sengog (1890-1972) membangun Legong gaya Peliatan, Ubud. &lt;br /&gt;Wayan Dibia menuturkan, peran tokoh-tokohnya itu karena mereka ingin memasukkan rasanya sendiri, mempengaruhi gaya masing-masing daerah. Walaupun dari sumber yang sama, setelah di bawa ke daerah, legong menjadi tontonan yang berbeda. Legong yang sumbernya sukawati, jadi berbeda-beda karena tokoh Saba ingin membuat yang lain. ”Jadi itu seolah sudah terbawa oleh ekspresi artistik ketika itu tentu ingin mengarah pada keberagaman,” katanya lagi.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ragam Cerita dan Legong Keraton&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya itu pula, legong mulai bercerita. Tak sekadar liak liuk bidadari seperti tari asalnya. Cerita pertama yang dikembangkan adalah tentang kisah hidup Prabu Lasem dan Putri Rangkesari dari Kerajaan Daha sekitar abad ke-12. Lalu, cerita legong berkembang hingga beragam cerita. &lt;br /&gt;Beberapa cerita yang ada, antara lain Legong Kuntir. Di sini diungkap pertarungan antara dua kera bersaudara Subali dan Sugriwa memperebutkan Dewi Tara dalam kisah Ramayana. Ada juga Legong Jobog yang bertutur tentang perjalanan putra Rsi Gautama, yang awalnya manusia lalu menjadi kera. &lt;br /&gt;Banyak lagi cerita lain, seperti Legong Legod Bawa (kisah Lingga Manik), Legong Kuntul (kisah dua ekor burung bangau), Legong Pelayon, Legong Bapang, Legong Smarandana,Legong Sudarsana, dan Legong Prabangsa. Tari legong kemudian disebut legong keraton, karena banyak dipertunjukkan di istana. Tidak terkecuali di Istana Kepresidenan Tampak Siring, Bali.  &lt;br /&gt;Karena pengaruh ini pula, legong kemudian tak hanya bercerita, melainkan juga menambah satu tokoh di luar penari utama. Tokoh baru itu diberi nama Condong. &lt;br /&gt;Tokoh berjuluk Condong ini tampil sebagai pembuka dan penutup tarian yang menggambarkan seorang abdi yang berwatak lembut, serius, dan formal.  Belakangan, dengan terciptanya tabuh Gong Kebyar di Wilayah Buleleng, legong pun tak lagi hanya setia pada tabuh Semara Pegulingan. Beberapa legong juga kerap diiringi tabuh Gong Kebyar. &lt;br /&gt;Tari legong mulai diperkenalkan kepada turis pada sekitar tahun 1927. Bali Hotel, hotel tertua di Bali, diperkirakan menjadi tempat pentas pertama tari legong di hadapan turis. Meski, di luar itu, sudah banyak turis yang datang secara sendiri-sendiri ke tempat pertunjukkan legong. &lt;br /&gt;Legong makin dikenal pada tahun 1931, sejak tarian ini diperkenalkan ke dunia internasional. Ketika itu, legong Peliatan tampil dalam misi kesenian ke Paris, Perancis. Misi yang sama juga membawa legong ke Amerika Serikat pada tahun 1952. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya Makin Bergeser&lt;br /&gt;Sayangnya, tak banyak daerah yang mampu mempertahankan kekhasan tari legongnya. Selain legong Peliatan yang tengah diperkenalkan kembali Legongnya, legong Saba kini juga kembali berusaha menunjukkan eksistensinya. Adalah I Gusti Ngurah Agung Serama Semadi, putra Anak Agung Raka Saba, yang berusaha memperkenalkan kembali legong gaya Saba.&lt;br /&gt; Setiap Sabtu dan Minggu sore, Agung Aji Rai, begitu Semadi kerap disapa, selalu mengajari puluhan anak-anak Desa Saba tarian khasnya itu. Hal yang sama coba dilakukan I Wayan Kelo, cucu I Wayan Lotring yang kini berupaya memperkenalkan kembali legong gaya Kuta. &lt;br /&gt; Namun, bagi Agung Aji Rai maupun Wayan Kelo, tak mudah mempertahankan legong gaya daerah yang diwariskan. Pasalnya, ruang yang ada untuk mereka berekspresi tak cukup banyak. Sebaliknya, permintaan pasar dan keterbatasan budget anggaran menjadi kendala. Contoh sederhananya, kini banyak penyelenggara pertunjukkan seperti hotel dan kafe mengajukan permintaan tari legong berdasarkan pasar dan anggaran tadi. &lt;br /&gt; Tak mengherankan bila kini banyak tari legong yang tampil hanya 10 menit, dari yang seharusnya sekitar 20 sampai 30 menit. Ironisnya, menjamurnya sanggar-sanggar tari di Bali membuat perlakuan tidak layak terhadap kesenian Bali itu tak lagi dihiraukan. ”Daripada enggak pentas. Ya, terpaksa kami terima,” aku Agung Rai Aji. Meski demikian, Agung Rai Aji tetap optimis legong Saba tidak akan pernah punah selama ia intens mewariskannya kepada anak-anak di Saba.    &lt;br /&gt; Beda Agung Rai Aji, beda pula yang dilakukan Wayan Kelo. Wayan Kelo justru tegas menolak permintaan pentas tari legong di luar pakem legong gaya Kuta. ”Saya lihat, ini merupakan bentuk penghargaan yang rendah terhadap seniman Bali. Kalau kami terima, nanti legong kami yang asli bisa punah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat Ihwal Legong Turis&lt;br /&gt; Pergeseran makna tari legong juga mendapat perhatian Guruh Soekarnoputra, putra proklamator Soekarno, yang juga seniman tari. Guruh yang banyak belajar tari legong di Peliatan Ubud, mengaku kecewa melihat banyaknya tari legong yang seolah sudah distandardisasi melalui lembaga pendidikan, seperti ISI Denpasar. &lt;br /&gt; ”Sekarang terkesan lebih banyak legong turis,” kata Guruh, yang sempat menjadi murid Anak Agung Gde Mandera, tokoh legong Peliatan. Tudingan Guruh rupanya balik mengundang komentar Dekan Seni Pertunjukan, ISI Denpasar, Ketut Sariada. Ia membantah tegas adanya standardisasi tari legong di dalam isntitusinya yang menyebabkan orisinalitas legong mulai bergeser. ”Kami jelas memiliki program pelestarian. Mahasiswa bahkan kami minta terjun langsung ke daerah-daerah lumbung seni Legong,” terang Sariada.&lt;br /&gt; Wayan Dibia menegaskan, tak ada seorang pun yang bisa disalahkan atas pergeseran yang ada. Menurut dia, kita tidak bisa melihat tari Bali sebagai suatu yang standar. Setiap generasi mempunyai kontribusi untuk memperbarui kesenian tersebut. &lt;br /&gt; ”Itu konsekuensi tradisi seni pertunjukan yang berkembang dalam sebuah tradisi lisan. Proses pewarisannya itu secara turun temurun. Dan dalam proses itu, selalu terjadi adjustment, perubahan-perubahan. Tapi, secara umum, secara visual, ada bentuk yang dipertahankan,” tegas Dibia. &lt;br /&gt;Dibia menambahkan, ekspresi seni tari Bali sangat erat kaitannya dengan konsep continue and changing. ”Ada hal-hal yang dipertahankan, yang jadi prioritas. Selain itu, ada hal-hal yang selalu diubah. Itu sudah biasa,” tegasnya. &lt;br /&gt;Hal itu jelas terlihat dari banyaknya kreasi tari legong yang belakangan berkembang. Tapi Dibia membantah kondisi itu dapat menyebabkan seni legong yang benar-benar asli, punah. ”Saya yakin, itu tidak akan terjadi,” tutur Dibia optimistis. &lt;br /&gt;Apalagi, tari legong memiliki kekhasan tersendiri yang membuatnya kuat. Legong menggunakan perbendaharaan tari yang agak klasik. Kekhasan lain, perwatakan suatu karakter dalam legong tidak ditentukan oleh perubahan kostum. Hanya perubahan gerak yang menunjukkan perubahan karakter. &lt;br /&gt;Contohnya tokoh Condong, yang mulanya abdi, kemudian berubah menjadi musuh. ”Kalau orang hanya melihat begitu saja, bingung. Lho, tadi dia jadi begini, sekarang kok beda. Legong itu tidak membedakan karakter dan watak suatu tokoh dengan perbedaan kostum,” Dibia menegaskan. &lt;br /&gt;Bahkan belakangan ini, menurut Dibia, banyak tari Bali kreasi baru yang muncul menggunakan konsep pelegongan. Banyak pula upaya mencipta legong kreasi, yang terbukti tak mengusik kekuatan tari legong asli. Legong kreasi tidak pula mengurangi kecintaan masyarakat pada tari legong asli. [Komang Erviani/ dimuat di Majalah GATRA No 47/XIII beredar 4-10 Okt 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5419812795646553004?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5419812795646553004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5419812795646553004' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5419812795646553004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5419812795646553004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/10/legong-di-tengah-pergeseran.html' title='Legong di Tengah Pergeseran'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy5pDhy7PI/AAAAAAAAABo/E1NYTOSm8W0/s72-c/Foto+4-edit.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2110154536490507243</id><published>2007-10-10T04:21:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T04:29:27.466-07:00</updated><title type='text'>Berangkat dari Tari Ritual</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy3Ujhy7NI/AAAAAAAAABc/ff4y2Vsw7Rw/s1600-h/topeng+legong+021-edit.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy3Ujhy7NI/AAAAAAAAABc/ff4y2Vsw7Rw/s200/topeng+legong+021-edit.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119668440175668434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ni Wayan Wiwin Oktarini dan teman-temannya terlihat sibuk. Gadis sembilan tahun itu menghias gelungan, sejenis mahkota berwarna keemasan. Satu per satu bunga kamboja dipasangkan. Dan, gelungan yang bakal dipakai untuk menari telah siap dikenakan. &lt;br /&gt;Wiwin dan teman-temannya bergegas menuju salah satu bale di Pura Payogan Agung. ”Tadi minum es ya?” tanya Luh Ana, 17 tahun, kakak pendamping mereka yang juga mantan penari legong topeng. Wiwin mengangguk sambil tersenyum. &lt;br /&gt;Rupanya, hari itu Wiwin sempat minum es gara-gara lupa kalau kelompok legong topengnya akan medal. Medal adalah istilah bahasa Bali yang biasa digunakan bila legong topeng Pura Payogan Agung akan mentas di luar pura. &lt;br /&gt;Di dalam Pura Payogan Agung sendiri, tari legong topeng hanya dipertunjukkan enam bulan sekali. Yakni pada upacara piodalan, perayaan rutin yang jatuh pada hari Buda Kliwon Pagerwesi sesuai dengan penanggalan Bali. Di luar itu, legong topeng Ketewel kerap dipertunjukkan di setiap upacara piodalan di pura keluarga di rumah-rumah warga.&lt;br /&gt;Gara-gara minum es, Wiwin tak diperbolehkan ikut menari sore itu. ”Kalau minum es, nanti giginya enggak kuat. Jadi, enggak bisa ikut nari,” Ana menjelaskan. Sebab kekuatan gigi sangatlah penting bagi para penari legong topeng. &lt;br /&gt;Maklum, sesuai namanya, para penari wajib mengenakan topeng selama membawakan tarian ini. Uniknya, topeng yang digunakan tidak diikatkan pada kepala, tetapi menggunakan janggem yang hanya bisa disangga oleh gigi penarinya. ”Kalau giginya nggak kuat, takut topengnya jatuh,” kata Ana lagi.       &lt;br /&gt;Persyaratan menjadi penari legong topeng, memang tak sesederhana tarian lain. Selain wajib menjaga kekuatan gigi, penari legong topeng juga dilarang keras makan daging sapi dan babi. Satu syarat terpenting, penari legong topeng belum akil balig, atau belum mengalami menstruasi. &lt;br /&gt;”Ini wajib untuk menjaga kesakralan tarian,” ujar Jero Mangku Ketut Widia, 64 tahun, pemangku atau pendeta hindu di Pura Payogan Agung. Karena persyaratan yang ketat itu, maka kini hanya ada 12 orang generasi penerus tari Legong Topeng. Wiwin adalah salah satunya. &lt;br /&gt;Sayang, Wiwin tak bisa tampil sore itu gara-gara lupa dengan pantangannya. Sejumlah temannya yang lain lantas mengajukan diri. Semua bersemangat. ”Soalnya bangga kalau bisa nari,” jawab Ni Kadek Dwi Puspayanti, 10 tahun, ketika ditanya motivasinya menari legong topeng. &lt;br /&gt;Puspayanti dan temannya, Ni Wayan Bianka Aristania yang berusia sembilan tahun, boleh bangga hari itu. Mereka terpilih untuk menarikan legong topeng di tiga rumah warga. Meski tak terpilih, yang lainnya tak kalah gembira. Meski gagal tampil, mereka tetap bersemangat membantu Puspayanti dan Bianka berpakaian. &lt;br /&gt;Kain prada yang sudah lumayan kusam dipasangkan di pinggang, menyusul sebuah baju putih berlengan panjang yang sudah cukup usang. Lalu sabuk prada yang panjangnya bermeter-meter, dililitkan melingkar dari pinggang sampai dada. Ampok-ampok (hiasan pada pinggang), lamak (hiasan depan,), hingga tutup dada (hiasan depan), dipasang menyusul. Semua berkilau keemasan, dengan perpaduan warna-warni khas pakaian tari bali. Bedanya, tak ada setitikpun bedak atau make up yang dioleskan ke wajah penari. Ini untuk menunjukkan kepolosan mereka.   &lt;br /&gt;Sementara penari bersiap, Luh Ana dan mantan penari legong lain yang menjadi pendamping, menghaturkan canang ke seluruh sudut pura. Di depan pintu gedong, salah satu bangunan di dalam pura, Ana menghaturkan doa-doa. Di dalam gedong itulah, tersimpan enam buah topeng yang akan digunakan dalam tari legong. Selain topeng itu, ada tiga buah topeng lain yang hanya digunakan dalam tari topeng lanang, tari topeng yang dibawakan oleh laki-laki. &lt;br /&gt;Ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, Ana memberi aba-aba agar semua bersiap. Gelungan yang tadi dihias, dipasangkan pada kepala Puspayanti dan Bianka. Keduanya lantas diperciki air suci atau tirta, yang dipercaya dapat membersihkan diri penari sebelum tampil. Sebatang dupa yang menyala, juga dipasangkan di atas gelungan mereka. Dupa dipercaya menjadi media perantara antara kita, manusia, dengan Tuhan sebagai pencipta, pelindung, sekaligus pelebur kita. &lt;br /&gt;Mereka pun bergegas menuju rumah warga. Kebetulan, rumah warga yang sedang menggelar upacara tak begitu jauh. Jadi, para penari cukup berjalan kaki. Dua anak dengan bendera putih berada di barisan paling depan. Sedangkan satu orang dewasa mengusung kotak berisi enam buah topeng yang akan digunakan nanti, di kepalanya. &lt;br /&gt;Sebuah payung warna kuning setia memayungi kotak topeng yang disakralkan itu. Seperangkat gamelan dibawa oleh anggota Sekaa Gong Duwe Indra Parwati, kelompok gamelan semara pegulingan yang bakal menjadi pengiring tari legong topeng.  &lt;br /&gt;Tak lebih dari 10 menit menyusuri jalan berbatu, para penari pun tiba di rumah warga di Banjar Tengah, Desa Ketewel. Ni Wayan Madri, 40 tahun, salah satu penghuni rumah, menyambut hangat. Menurut Madri, ia sengaja mengundang para penari legong topeng yang oleh masyarakat Ketewel lebih karib disebut Tari Tu Dari (Ratu Dedari). &lt;br /&gt;”Ini wajib. Setiap upacara, Tu Dari harus ada. Kalau nggak mampu, boleh juga kita minta tirta (air suci,red) saja di Pura Payogan Agung. Tapi rasanya kurang pas kalau enggak ada Tu Dari,” begitu Madri beralasan. &lt;br /&gt;Menurut Jero Mangku Ketut Widia, pemangku atau pendeta hindu di Pura Payogan Agung, tari legong topeng memiliki makna yang sangat sakral. Legong topeng merupakan pemuput karya atau penyelesai upacara. Jadi, tarian ini biasanya ditampilkan untuk menutup suatu upacara. &lt;br /&gt;Selain itu, legong topeng juga dipercaya sebagai penolak bala. Mangku Widia menyatakan, pada tahun 1940-an sempat terjadi wabah penyakit yang cukup mengkhawatirkan di Desa Ketewel. Untuk mengatasi, legong topeng kemudian dipentaskan secara bergilir di semua banjar adat di desa itu. Walhasil, wabah tersebut segera tertanggulangi. ”Pada waktu itu memang ada dokter yang datang dari kota, tapi kami percaya keberhasilan menangani wabah itu tidak lepas dari pementasan tari legong topeng,” kata Mangku Widia. &lt;br /&gt;Besarnya kekuatan fungsi tari legong topeng, membuat tari ini menjadi penuh makna bagi masyarakat Ketewel. Itu terlihat dari sambutan yang diberikan penghuni rumah yang mengundang mereka. Ketika memasuki rumah, penari legong berserta rombongan langsung disambut senyum para penghuni rumah. Mereka diantar menuju pura keluarga di bagian belakang rumah. Sebelum mereka tampil, sejumlah ritual masih harus dilakukan para penari dan pendampingnya. &lt;br /&gt;Kotak berisi topeng juga diberi mantra-mantra oleh pendeta hindu di pura setempat. Para penari kembali mengucap doa, memohon keselamatan. &lt;br /&gt;Tak lama kemudian, alunan musik dari Sekaa Gong Duwe Indra Parwati mulai mengalun, pertanda tarian bakal segera dimulai. Puspayanti dan Bianka lantas mengunyah beberapa bunga kamboja sebagai simbol membersihkan mulut. Wangi dupa pun dihirup kuat ke dalam mulutnya. &lt;br /&gt;Puspayanti dan Bianka lalu mengenakan topeng pertamanya, Dibantu kakak pendampingnya. Dua topeng pertama yang ditarikan adalah topeng bidadari Sulasih dan Nilotama. Semua topeng yang ditarikan dalam legong topeng, merupakan tokoh bidadari. Selain Sulasih dan Nilotama, ada juga topeng Aminaka, Supraba, Gagarmayang, dan Tunjung Biru, yang ditarikan secara bergantian. &lt;br /&gt;Di balik topeng, Puspayanti dan Bianka bergerak gemulai. Meski pandangan mereka hanya bergantung pada dua lubang yang sangat kecil, keduanya tidak terlihat canggung. Gerakannya serasi. &lt;br /&gt;[Komang Erviani/ dimuat di Majalah GATRA Nomor 47 / XIII,beredar 4-10 Okt 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2110154536490507243?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2110154536490507243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2110154536490507243' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2110154536490507243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2110154536490507243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/10/berangkat-dari-tari-ritual.html' title='Berangkat dari Tari Ritual'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_TewqYlv6330/Rwy3Ujhy7NI/AAAAAAAAABc/ff4y2Vsw7Rw/s72-c/topeng+legong+021-edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5352901792931066490</id><published>2007-08-21T19:32:00.000-07:00</published><updated>2007-08-21T19:57:10.152-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_TewqYlv6330/RsulUDuu50I/AAAAAAAAAAw/ZzZ-0Ao2LT4/s1600-h/batur1898.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_TewqYlv6330/RsulUDuu50I/AAAAAAAAAAw/ZzZ-0Ao2LT4/s200/batur1898.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101352766944503618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5352901792931066490?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5352901792931066490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5352901792931066490' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5352901792931066490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5352901792931066490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/08/blog-post.html' title=''/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_TewqYlv6330/RsulUDuu50I/AAAAAAAAAAw/ZzZ-0Ao2LT4/s72-c/batur1898.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8126387178672272389</id><published>2007-08-21T19:22:00.000-07:00</published><updated>2007-08-21T19:27:46.213-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Minggu pagi, 19 Agustus 2007. Dari puncak gunung batur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8126387178672272389?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8126387178672272389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8126387178672272389' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8126387178672272389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8126387178672272389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/08/minggu-pagi-19-agustus-2007.html' title=''/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5624993164461696542</id><published>2007-08-01T20:39:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T20:44:01.675-07:00</updated><title type='text'>Ketika Remaja Bali Jadi Pemimpin Muda Indonesia 2007</title><content type='html'>Walau masa liburan sekolah sudah berakhir sejak dua minggu lalu, namun Kadek Ridoi Rahayu bahkan belum sempat menyentuh bangkunya di kelas tiga SMAN 1 Gianyar. Ia baru akan menempati bangku barunya selepas naik kelas itu, pertengahan Agustus mendatang. Banyaknya aktivitas di luar sekolah, membuat Doi, begitu gadis kelahiran 29 Agustus 1990 itu biasa dipanggil, tak sempat masuk kelas. “Sebulan ini, saya harus ikut latihan paskibra setiap hari. Sudah minta dispensasi dari sekolah,” begitu Doi. Doi tergabung dalam pasukan pengibar bendera yang bakal mengibarkan bendera merah putih pada peringatan Hari Kemerdekaan RI di tingkat Kabupaten Gianyar, Bali. Ini bukan kali pertama Doi absen dari sekolahnya. Sejak duduk di bangku SD, aktivitas-aktivitas ekstra di luar pelajaran sekolah seringkali membuat Doi membuat absensi sekolahnya lowong.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat penampilannya, Doi memang tak terlihat istimewa. Pakaian sederhana dengan rambut kepangnya, memberi kesan biasa. Tapi seabrek kegiatan mulianya di luar sekolah, membuatnya jadi istimewa. Tak heran bila pada peringatan Hari Anak Nasional lalu, ia dinobatkan sebagai Pemimpin Muda Indonesia versi UNICEF dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Doi adalah satu dari tiga anak Indonesia yang menerima gelar istimewa itu, langsung dari Menteri Pemberdayaan Perempuan Mutia Hatta. Dua anak Indonesia lain dengan gelar itu yakni Asep Ramdani dari Bandung dan Joko Sukamto dari Boyolali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Pemimpin Muda Indonesia 2007, tidak diraih cuma-cuma oleh putri kedua dari pasangan guru Wayan Ubud, Spd dan Ni Made Wesnawati, Spd itu. Aktivitasnya yang luar biasa dengan komitmen pemasyarakatan hak anak, menjadi modal utama raihan gelar tersebut. Ada banyak catatan-catatan kegiatan pemasyarakatan hak anak, yang dipertimbangkan juri dalam proses seleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas luar sekolah Doi yang fokus pada pemasyarakatan hak anak, dimulai pada tahun 2005 lalu. Ketika itu, Doi dinobatkan sebagai duta anak nasional oleh Komnas Perlindungan Anak. Ia menjadi satu dari 10 orang anak Indonesia yang menjadi duta anak nasional 2005, sekaligus delegasi pertama Bali untuk duta anak nasional. Ada banyak kegiatan anak yang mulai akrab buat Doi sejak itu. Mulai dari bakti sosial, hingga berbagai sosialisasi hak anak ke sekolah-sekolah di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari tugas wajibnya sebagai duta anak nasional, Doi tidak begitu saja pergi meninggalkan aktivitasnya dengan teman sebaya dan anak-anak lainnya. Di tahun 2006, Doi dipercaya memimpin Gerakan Siswa Hindu Indonesia. Hingga sekarang, statusnya masih sebagai Ketua dari organisasi pemuda keagamaan dengan skup nasional itu. Dalam kapasitas ini, Doi seringkali mengikuti kegiatan bakti sosial berupa kunjungan ke anak-anak dan siswa Hindu di luar Bali. Ada juga aktivitas rutin bulanan yang paling disukai Doi, yakni membagi-bagikan makanan dan obat-obatan gratis kepada para pekerja anak di area Pasar Badung, pasar tradisional terbesar di Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir 2006 lalu, embel-embel ketua kembali didapatnya dari Forum Anak Daerah Bali. Forum yang dibentuk oleh Lembaga Perlindungan Anak Daerah Bali itu, menjadi forum anak pertama di Bali yang berupaya memperjuangkan hak-hak anak itu sendiri. Sedikitnya, ada 25 anak yang aktif dalam forum tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kegiatan, kembali bersentuhan dengan anak-anak, yang makin memperkaya aktivitas Doi. Audiensi kepada para pejabat, jadi salah satu agenda awal. “Forum ini kan merupakan organisasi baru yang fokus pada anak. Jadi masih butuh pengakuan,” Doi beralasan tentang audiensi kepada pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Forum Anak Bali tak terbatas pada upaya pengakuan para pejabat. Dalam memperingati Hari Anak Nasional lalu,  Doi dan rekannya di forum anak mengunjungi anak-anak di lembaga pemasyarakatan (Lapas) anak di Kabupaten Karangasem, Bali. “Di situ, intinya kami sosialisasi masalah anak,” terang perempuan yang meraih banyak prestasi di bidang pendidikan dan budaya ini. Ada satu kesan yang hingga kini tak bisa dilupakan Doi terkait kunjungannya ke Lapas Anak. Ketika tahu kalau 18 anak di lapas anak itu tersangkut beragam kasus, seperti pembunuhan dan pencurian, Doi sempat was was. “Awalnya takut juga. Tapi cuma 5-10 menit. Sesudah itu, gabung deh semua. Ternyata mereka tidak ada bedanya dengan anak-anak biasa,” cerita Doi. Dan, suasana lantas mencair. Anak-anak lapas dan anggota forum kemudian bermain bersama, mulai dari lomba makan kerupuk sampai main kelereng. “Di sana, kami juga buat pohon harapan, berupa kain putih sepanjang 10 meter. Di sana, anak-anak lapas menulis harapan mereka,” terang Doi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas lain yang tak kalah berkesan bagi Doi, adalah ketika 19 Juli lalu, ia dan Forum Anak Bali melakukan kunjungan ke Desa Muntigunung, Kabupaten Karangasem Bali. Desa Muntigunung dikenal sebagai desa yang menjadi sumber gelandangan dan pengemis (gepeng) di Bali. Tak sedikit anak-anak asal Desa Muntigunung yang kini mengadu nasib sebagai pengemis di Kota Denpasar dan sekitarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Muntigunung, Forum Anak Bali bertemu dengan sekitar 600 anak-anak. “Di sana Doi dan forum tekankan agar mereka tidak turun ke jalan,” ujarnya. Mereka juga memberi bantuan buku pelajaran, pakaian layak pakai, dan bantuan lain yang dikumpulkan secara sukarela di antara anggota forum. “Ya, seadanya aja,” jelas Doi. Yang mengharukan Doi, ketika salah seorang anak menanyakan aktivitasnya sebagai duta anak. “Ada anak yang nanya, kak, gimana caranya agar bisa aktif jadi duta anak?. Itu mengharukan sekali,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa kecil itu pula, Doi mendapat kesan mendalam ketika bertemu dengan salah seorang aktivis anak yang sempat menghadiri Kongres Anak Nasional. Sang teman yang bernama Wayan Sutriani itu, adalah bekas gepeng yang kemudian memutuskan untuk mengenyam pendidikan. “Dia juga motivator untuk anak-anak di Muntigunung,” cerita Doi. Sayang, beberapa hari paska pertemuan itu, Sutriani dikabarkan meninggal karena kecelakaan. “Saya benar-benar kaget. Tapi saya kagum dengan prestasinya memotivasi anak-anak Muntigunung untuk sekolah,” kenang Doi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam prestasi di bidang pelestarian budaya, juga telah dikantongi Doi, bahkan sejak duduk di bangku SD. Ketika SD, Doi meraih juara dalam lomba membaca cepat tingkat provinsi. Ketika SMP, ia pernah meraih juara dalam lomba pidato berbahasa Bali. Di sekolahnya, SMP 1 Sukawati Gianyar, ia dipercaya memimpin sejumlah ekstrakurikuler di sekolahnya. Mulai dari Ketua Karya Ilmiah Remaja (KIR), Ketua Palang Merah Remaja (PMR), hingga Ketua OSIS. Di SMA, prestasinya tak surut. Setidaknya, ia telah meraih juara 1 Lomba Utsawa Dharma Gita (mimbar agama Hindu) pada Pesta Kesenian Bali 2006, juara 2 lomba cerpen pada Pesta Kesenian Bali 2007, juara 3 lomba baca puisi Bali modern pada Pesta Kesenian Bali. Tak puas dengan itu, ia pun masih memegang posisi ketua untuk sejumlah ekstrakurikuler yang diikutinya, yakni teater, cricket, dan Keselamatan Reproduksi Remaja (KRR). Di bidang karya ilmiah remaja, ia pun mencoba meraih prestasi dengan mengikuti lomba karya ilmiah yang digelar Universitas Udayana, 2006 lalu. Hasilnya memang tak cukup memuaskan bagi Doi. Ia hanya meraih posisi 30 besar. Namun penelitian yang dilakukan terkait tingkat pengetahuan remaja desa dengan kesehatan reproduksi remaja di Desa Beng Kabupaten Gianyar, memberinya pengalaman betapa remaja kita tak cukup mengerti tentang kesehatan reproduksinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keaktifan Doi memang patut diacungi jempol. Di manapun ada kompetisi, ia selalu berusaha untuk berpartisipasi. Maka, seleksi olimpiade biologi 2007 lalu pun ia ikuti. Meski tak lolos, Doi mengaku telah mendapat pengalaman luar biasa. Terakhir, Juli lalu, ia juga mengikuti seleksi siswa teladan tingkat Provinsi Bali. “Hasilnya belum diumumkan. Tapi kalaupun nggak lolos, nggak masalah,” jawabnya enteng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya aktivitas Doi, menuntutnya untuk selalu fit. Maka, kesehatan harus dijaga. “Kalau sakit, gak bisa ngapa-ngapain,” terang Doi yang juga mengaku tak sempat pacaran gara-gara seabrek aktivitasnya. Meski begitu, ia tetap beusaha untuk selalu mengikuti pelajaran sekolahnya dengan baik. “Pinter-pinternya Doi atur skala prioritas,” terangnya. Meski banyak meninggalkan mata pelajaran di kelas, namun Doi mengaku selalu mengikuti perkembangan pelajaran di sekolah melalui teman-temannya. Pelajaran di kelas pun dibayar dengan pelajaran di rumah bersama kedua orang tuanya yang juga guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah meraih seabrek prestasi, Doi mengaku tak menyangka kalau ia kemudian dinobatkan menjadi salah satu Pemimpin Muda Indonesia 2007. Pasalnya, ia harus bersaing dengan anak-anak lain yang mencapai ratusan orang. Doi ingat betul, ketika proses seleksi wawancara dilakukan para juri di Jakarta via telepon kepada anak yang masuk 10 besar. Doi yang menerima telepon dari kantor Lembaga Perlindungan Anak Bali, awalnya menjawab lancar semua pertanyaan juri yang terdiri dari kalangan pemerhati anak, LSM, dan pers. Pertanyaannya seputar kegiatan yang telah dilakukan, kendala, kesuksesan, tanggapan masyarakat, hasil kegiatan, dan harapan kedepan untuk anak. Namun ada satu pertanyaan yang sempat membuat Doi kalang kabut. “Ditanya, kalau ketemu presiden dan diberi waktu untuk ngomong satu kalimat, apa yang akan kamu katakan?. Saya sampai beberapa menit diam. Lalu yang terpintas di pikiran saya, perjuangkan hak anak!”  cerita Doi bersemangat. Wawancara via telepon selama 30 menit itu pun, berakhir sukses. Namun, tetap saja Doi tak terbayang kalau dia akan lolos seleksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sempat nggak percaya. Saya pikir, padahal pengalaman saya nggak begitu mendalam. Bagi saya, ini keajaiban, anugerah Tuhan. Juga, karena ini pertama kalinya Bali kirim perwakilan. Ada perasan bangga sebagai orang Bali,” terangnya. Tapi lama kelamaan, Doi mencoba mencari hikmah dari penghargaan itu. Ia kini mulai menyadari bahwa apa yang dilakukannya sudah memberi makna tersendiri dalam memasyarakatkan hak anak. “Karena masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya memasyarakatkan hak anak. Dengan kasus kekerasan, paedofilia, diskriminasi, banyak yang belum sadar,” keluh Doi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doi menyoroti banyaknya kasus kekerasan terhadap anak yang menjadi cermin minimnya kesadaran masyarakat akan hak anak. Ia mencontohkan kasus kematian anak akibat perkelahian dengan teman kelasnya di Denpasar Bali beberapa waktu lalu. “Saya menyayangkan media massa. Seharusnya media tidak begitu saja memampang gambar anak yang diduga jadi pelaku. Dia memang tersangka, tapi dia anak-anak. Kalau belum apa-apa dia sudah dicap preman kecil, pembunuh, gimana nanti masa depannya,” ujar Doi kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal penting yang penting dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah mengatur penayangan TV. “TV sangat rentan untuk anak. Tindakan kekerasan masih ada di TV kita. Walau masih dibungkus dengan kartun-kartun lucu, tetap ada kekerasan,” Doi mengingatkan. Doi pun menyoroti dampak negatif play station yang terkesan dibiarkan oleh para orang tua. “Play station membuat anak mengesampingkan budaya daerahnya sendiri. Play Station juga merusak penglihatan, merusak pikiran anak-anak. Smack down misalnya, juga banyak di Play Station. Harusnya orang tua lebih mengajarkan permainan budaya positif yang bisa lestarikan budaya,” tegasnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mimbar anak yang digelar di Denpasar beberapa waktu lalu, jelas Doi, sudah dibuat rekomendasi anak bagi pemasyarakatan hak anak. Dalam rekomendasi itu, anak-anak Bali menyatakan harapan-harapannya agar tidak ada anak-anak yang diperlakukan secara tidak wajar. Dua poin penting dalam rekomendasi yang bakal dikirim ke Gubernur Bali dan DPRD Bali itu, yakni penghapusan diskriminasi terhadap anak dan tuntutan hak pendidikan bagi anak-anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doi tak pernah ingin lepas dari dunia anak-anak, meski usianya kini sudah menginjak 17 tahun. Kelak, Doi berharap bisa membangun sebuah panti asuhan bagi anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya. Satu angan mengejutkan yang diungkap Doi, bahwa ia kelak ingin menjadi menteri anak. “Kementerian anak sangat penting. Biar lebih fokus. Kalau Kementerian Pemberdayaan Perempuan kan nggak cuma urus anak-anak, tetapi juga urus macam-macam, dari masalah perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain. Belum fokus,” terang Doi. Namun, kalaupun cita-cita menjadi Menteri Anak kelak tak kesampaian, ia berharap bisa melayani anak-anak dengan menjadi dokter anak. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5624993164461696542?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5624993164461696542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5624993164461696542' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5624993164461696542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5624993164461696542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/08/ketika-remaja-bali-jadi-pemimpin-muda.html' title='Ketika Remaja Bali Jadi Pemimpin Muda Indonesia 2007'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3145345761358837603</id><published>2007-06-20T21:02:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T21:04:15.124-07:00</updated><title type='text'>Serbuan Berduri Karang Bali</title><content type='html'>Mahkota berduri menyerbu kawasan konservasi laut Bali Barat. Merusak karang penjaga ekosistem. Gara-gara eksploitasi napoleon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal alat selam, besi kait, dan sebuah keranjang bambu, sekitar 130 orang warga di sekitar Taman Nasional Bali Barat (TNBB), bersiap menuju pulau seberang. Di antara mereka ada nelayan, perangkat desa adat, praktisi hotel, dive operator, anak sekolah, hingga petugas TNBB sendiri. Dari pelabuhan kecil di ujung barat Pulau Bali, Labuhan Lalang, perahu nelayan membawa mereka menuju Pulau Menjangan. Semuanya membawa misi yang sama, yakni penyelamatan ekosistem laut Pulau Menjangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau kecil yang merupakan salah satu pemegang ekosistem laut utama Pulau Bali itu, kini tengah diancam kerusakan. Biang keroknya adalah mahkota berduri, binatang sejenis bintang laut yang merupakan predator karang yang ada secara alami dalam ekosistem terumbu karang. Nama lain hewan ini adalah Acanthaster plancii atau crown of thorn. Dalam jumlah wajar, mahkota berduri sangat berguna menyeimbangkan laju pertumbuhan karang. Namun sejak predatornya, antara lain ikan napoleon dan kerang triton, habis dieksploitasi manusia, populasi mahkota berduri di Pulau Menjangan meningkat drastis. Akibat populasi yang berlebihan, keberadaan mahkota berduri malah merusak ekosistem terumbu karang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang bisa dilakukan masyarakat Bali Barat untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem laut di kawasan mereka. Yang bisa dilakukan hanyalah membersihkan mahkota berduri dari kawasan itu, sekadar untuk mengurangi populasinya yang terlalu berlebih. Dan, misi itu pula yang lagi-lagi dibawa warga sekitar TNBB di Pulau Menjangan, tepat di Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni lalu. Hasilnya, 550 ekor mahkota berduri dibersihkan dari areal seluas 10 hektar di permukaan laut kawasan Bali Barat, atau sekitar 80 persen dari populasi mahkota berduri yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi bersih-bersih tidak hanya dilakukan secara fisik. Kali ini, masyarakat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP) Bali Barat juga melakukan pembersihan secara spiritual. Masyarakat menggelar upacara pecaruan dan pakelem yang oleh umat hindu di Bali dipercaya sebagai upacara untuk membersihkan segala sesuatu yang tidak berguna di alam. Upacara pecaruan dan pekelem ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh warga setempat. Sebelumnya, tiap tahun warga lebih menekankan pada kegiatan pembersihan secara fisik, namun mahkota berduri masih menyerang terumbu karang di sekitar Pulau Menjangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada keresahan bahwa terumbu karang akan terus diserang mahkota berduri. Maka perlu pendekatan spiritual untuk mengimbangi pembersihan yang selama ini sudah dilakukan," kata Ketua FKMPP Bali Barat, Misnawiyanto. Menurut Mis, wabah mahkota berduri bisa jadi merupakan bagian dari bencana alam yang terus terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, fenomena itu mungkin terjadi akibat dampak perubahan iklim global (climate change). Hal ini dapat dilihat dari terjadinya wabah serupa di berbagai tempat di dunia. Di Filipina misalnya, pada April lalu terjadi serangan yang sama terhadap terumbu karang setempat akibat populasi mahkota berduri yang berlebih. Warga sekitar TNBB maupun dive operator khawatir hal yang sama akan terjadi di Bali. Maka diadakan pecaruan dan pakelem yang lebih menekankan aspek spiritual. Upacara ini untuk mendukung upaya pembersihan yang sudah dilakukan secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serbuan mahkota berduri yang tak terkontrol, sangat mengancam ekosistem di kawasan TNBB. Pasalnya, hewan yang mampu hidup selama 3-5 tahun ini menghisap zoozanthellae yang merupakan teman hidup hewan karang dan memberi warna karang. Akibatnya, karang menjadi memutih. Karang yang paling disukai terutama jenis karang meja (acropora). Dampaknya, terjadi keruakan terumbu karang yang imbasnya ke sector pariwisata, perikanan, serta terganggunya fungsi ekologi karang sebagai pencegah abrasi. “Keluhan lebih sering dari pelaku wisata bahari, karena banyak karang yang menjadi putih,” tegas Made Iwan Dewantama, aktivis lingkungan dari Yayasan WWF-Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serbuan mahkota berduri, menurut Kepala Program Master Lingkungan Universita Udayana, I Wayan Arthana, dapat berdampak merusak segala sendi kehidupan manusia. Akibat paling jelas akan terlihat dari menurunnya produki ikan di kawasan tersebut. Pasalnya, terumbu karang yang bisa dijadikan rumah ikan, sudah tidak ada lagi. Sangat mungkin ikan-ikan tersebut akan mati karena tidak memiliki ruang untuk hidup, atau berpindah ke kawasan lain yang penuh terumbu karang. Akibat terparah yang mungkin terjadi, adalah abrasi pantai. “Ini sangat serius karena karang menjadi barier ombak agar tidak langsung menghantam pantai. Kalau karang-karang habis akibat mahkota berduri, sangat mungkin akan terjadi abrasi besar-besaran yang semakin memperkecil kawasan daratan,” tegas Arthana. Terancamnya karang juga akan memperkecil produksi pasir putih yang sebenarnya berasal dari pecahan-pecahan karang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serbuan mahkota berduri ke kawasan Menjangan, diperkirakan terjadi karena predator hewan laut ini sudah habis dieksploitasi manusia. Setiap makhluk dalam ekosistem, memiliki predator untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Namun menurut Iwan, predator utama mahkota berduri, yakni ikan napoleon dan kerang triton, habis dieksploitasi oleh manusia. Harga ikan napoleon yang mahal dan rasanya yang enak, menjadi salah satu pemicu banyaknya orang tergiur mengeksploitasi predator mahkota berduri itu. Padahal, ikan napoleon kini telah masuk kategori binatang dilindungi. Akibatnya, TNBB sebagai daerah konservasi dan tujuan wisata, secara rutin mendapat serangan mahkota berduri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma itu, Iwan juga menengarai adanya keterkaitan serbuan mahkota berduri dengan pemanasan global yang membuat air laut menjadi lebih hangat. Pasalnya, mahkota berduri cenderung senang hidup di air yang hangat. Meski demikian, diakui Iwan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut guna merumuskan tindakan pencegahan yang tepat. ”Tapi penelitian makhluk laut memang cukup sulit dan membutuhkan biaya besar,” tegas Iwan. Arthana justru memiliki pendapat lain atas serbuan mahkota berduri. Ia mensinyalir ada kaitan serbuan mahkota berduri dengan ketidakseimbangan ekosistem yang telah terjadi belakangan. Termasuk akibat ulah-ulah manuia yang tak bertanggung jawab, seperti penangkapan ikan dengan sianida. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini, yang bisa dilakukan hanyalah membersihkan sebagian mahkota berduri dari kawasan Menjangan. Pembersihan secara total mahkota berduri, menurutnya tidak bisa dilakukan karena justru akan memperparah keseimbangan ekosistem. ”Mahkota berduri tidak boleh dimusnahkan total, karena dalam kondisi normal, mahkota berduri bertugas memakan karang yang pertumbuhannya sangat cepat. Dengan begitu, tidak akan terjadi dominasi jenis hewan tertentu. Untuk jangka panjang, jelas Iwan, perlu diefektifkan tindak perlindungan terhadap ikan napoleon dan kerang triton, sehingga mahkota berduri tetap memiliki predator. Selain itu, diperlukan manajemen pengelolaan laut yang baik serta penegakan hukum yang serius dan tidak memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arthana juga menyatakan pendapat serupa tentang pentingnya penanganan serius atas serbuan mahkota berduri. Dalam jangka pendek, ia menilai penting membangun areal proteksi di kawasan yang diserang mahkota berduri. “Jadi di areal itu, jangan boleh ada aktivitas selama beberapa waktu tertentu yang berpotensi mengganggu, seperti diving, penangkapan ikan, atau aktivitas lain,” tegas Arthana. Sementara dalam jangka panjang, dinilai penting untuk mengembalikan ikan napoleon dan kerang triton ke dalam ekosistem, dengan populasi yang berimbang. Namun diperlukan upaya serius dan pengawasan yang kontinyu untuk mengembalikan ikan napoleon dan kerang triton ke dalam habitatnya, sehingga kembali melakukan fungsinya memangsa mahkota berduri. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3145345761358837603?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3145345761358837603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3145345761358837603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3145345761358837603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3145345761358837603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/06/serbuan-berduri-karang-bali.html' title='Serbuan Berduri Karang Bali'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5632927881157180757</id><published>2007-05-17T02:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T02:27:12.098-07:00</updated><title type='text'>Yang Beruntung di Tanah Rantau</title><content type='html'>“Morning… morning sir… morning miss.. ,“ kalimat itu terus berulang keluar dari mulut Jon (28 tahun) dan Soleh (23 tahun) setiap kali ada turis asing yang melintas di depan toko majikannya di Jalan Pantai Kuta Bali. Sesekali tangannya menunjuk ke arah produk-produk yang terpajang. Entah itu jam tangan, kacamata, T-shirt, tas, atau celana pantai. Begitulah cara sederhana Jon dan Soleh untuk menarik perhatian turis asing. Beberapa turis menyambut sapaan Jon dan Soleh dengan sapaan yang sama. Beberapa lainnya menghentikan langkah dan melihat-lihat produk yang ditawarkan. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan Jon dan Soleh agar sebisa mungkin si turis mau merogoh koceknya. “This is good,” begitu Jon bersemangat, sambil memperlihatkan sebuah tas jinjing bermerek Louis Vuitton. Tak lama, si turis Australia membayar lunas tas bermerk palsu tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik manis Jon dan Soleh menarik pembeli, menjadi kunci kesuksesan mereka dan ribuan masyarakat Pulau Raas Madura Jawa Timur lainnya dalam mengadu nasib di Bali. Kuta, telah menjadi salah satu tujuan pilihan masyarakat Raas Madura untuk merantau dan mencoba peruntungan sejak puluhan tahun lalu. Maka, jangan heran bila ternyata sebagian besar artshop di kawasan Kuta dan sekitarnya dikelola oleh masyarakat Raas. Produk khas yang ditawarkan berupa beragam asesoris bermerk asing palsu, mulai dari jam tangan Rolex, Tag Hever, Diesel, Paul Frank, dan Seiko, kaca mata Gucci, asesoris Billabong dan Quicksilver, hingga tas jinjing Louis Vuitton. Semuanya bermerk aspal (asli tapi palsu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, banyak turis asing yang seolah tidak peduli dengan keaslian merk produk yang mereka beli. “Mereka tahu kok kalau palsu. Tapi mereka tetap suka. Terutama wisatawan Australia,” terang Haji Mahali, salah satu warga Raas yang sukses mengadu nasib di Bali dengan mengelola sebuah artshop di Kuta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali tiba di Bali, sekitar 15 tahun lalu, majikan Jon dan Soleh ini bukan siapa-siapa. Dengan bekal seadanya, ia berangkat dari Raas dengan perahu menuju Pelabuhan Asem Bagus Situbondo. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menuju melalui dengan bus. Sejak awal, Mahali yang ketika itu berusia 20 tahun memang bertujuan mencari pekerjaan. Ia ingin mencontoh kesuksesan banyak perantau Raas di Bali yang terlihat sukses ketika pulang kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Bali, Mahali yang berangkat dari Raas bersama seorang temannya, langsung menuju komunitas Raas di Kuta. “Ternyata semua teman-teman dari Raas ngacung (pedagang acung) di Kuta. Jadi, saya ikut,”kenangnya. Sebagian besar komunitas Raas di Kuta, memang memulai karirnya dari pedagang acung dengan produk khas, jam tangan bermerek aspal. Mahali memulai bisnisnya dengan bantuan modal dari teman sesama Raas. “Waktu itu dibantu modal separuh sama teman,” cerita Mahali. Begitulah modal sukses kebanyakan orang Raas di Kuta. Kedekatan secara emosional sebagai sesama Raas, ditambah rasa saling percaya di antara mereka, merupakan modal utama kesuksesan Raas dalam berbisnis di negeri orang. “Nggak ada perjanjian khusus untuk pinjam barang. Pokoknya kalau ada yang laku, saya kasi dia uang seadanya. Terserah kita,” terang Mahali.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pedagang acung di Kuta, ternyata memberi angin segar pada Mahali. Hanya dalam hitungan minggu, ia sudah bisa ngacung dengan modal sendiri secara keseluruhan. Namun kerja Mahali bukan tanpa kendala. Di tahun 1993, semua barang dagangannya senilai total Rp 1 juta, hilang ketika ia lari dari kejaran petugas Dinas Ketentraman dan Ketertiban Kabupaten Badung. Meski begitu, Mahali berupaya untuk bangkit. Hasilnya pun tak mengecewakan. Penghasilannya per bulan ketika itu mencapai sekitar Rp 200 sampai Rp 300 ribu per bulan. Setidaknya, ia bisa naik haji pada tahun 1999 dengan hanya hasil ngacung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan kembali harus dihadapi Mahali ketika pada tahun 2000. Desa Adat Kuta melarang para pedagang acung berkeliaran di wilayah Kuta. Hanya pedagang acung yang terdaftar di kawasan Pantai Kuta, yang diperbolehkan. Artinya, para pedagang acung harus memiliki kartu identitas anggota Persatuan Pedagang …………………………. &lt;br /&gt;Mereka pun hanya diperbolehkan ngacung di dalam kawasan pantai. Bila keluar pantai, mereka akan mendapat peringatan. Bila peringatan selama tiga kali berturut-turut tidak diindahkan, maka identitas berdagang akan dicabut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gara-gara tak punya kartu anggota, Mahali dan sejumlah rekannya sesama pedagang acung asal Raas lantas berinisiatif menyewa toko di kawasan Jalan Pantai Kuta. Mahalnya harga sewa, membuat mereka memilih bekerjasama. Satu took disewa bersama dengan dua sampai lima orang Raas. Seperti dilakukan Mahali, yang menyewa toko sempit berukuran 3x3 m2 bersama seorang temannya seharga Rp 30 juta per tahun. “Karena sewa berdua, jadi ringan,” kenangnya. Setelah sewa tiga tahun habis, Mahali akhirnya bisa berdiri sendiri. Kini, ia menempati sebuah toko di kawasan yang sama berukuran 3 x 4 m, dengan harga sewa Rp 70 juta setahun. Minimal, Mahali harus menyewa toko milik warga asli Kuta itu selama tiga tahun. Tapi itu bukan masalah bagi pria asal Kelurahan Alas Malang Raas Madura ini. “Kalau pas ramai, cari 30 juta satu bulan sih gampang,” Mahali sedikit menyombong. Namun sekarang, diakui keuntungannya menurun. “Sebelum bom, dapat satu sampai dua juta sehari sudah biasa. Sekarang, dapat lima ratus sampai tujuh ratus ribu saja sudah lumayan,” ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Mahali tak menyesal dengan kondisi saat ini. Setidaknya, ia masih menuai untung dari bisnisnya. Ia telah membangun sebuah rumah yang cukup mewah di Raas, juga menghajikan orang tua dan istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahali bukan satu-satunya orang Raas yang sukses merintis usaha di Bali dari nol. Bila berjalan di kawasan Jalan Legian, Jalan Pantai Kuta, hingga Seminyak, dan Kerobokan, ada banyak artshop yang ternyata dikelola orang Raas. Jumlahnya bahkan mencapai ratusan. Dulunya, orang Raas identik dengan produk-produk jam tangan bermerk palsu. Namun kini, produk mereka telah berkembang ke jenis lain. Tak sulit mengenali pedagang asal Raas di kawasan Kuta dan sekitarnya. Pada dasarnya ada dua tipe art shop milik Raas. Tipe pertama menjual produk-produk merek asing palsu seperti jam tangan, kaca mata, tas, serta pakaian. Sementara tipe kedua berupa kerajinan, umumnya berupa kerajinan kerang berupa aksesoris kalung dan gelang,ataupun peralatan rumah tangga berbahan dasar kerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai pedagang, suku Raas di Kuta juga menggeluti usaha kerajinan. Ada dua lokasi para perajin Raas di Bali. Lokasi yang tertua berada di kawasan Gang Lestari, Jimbaran. Di gang sempit ini, Ada lebih dari 700 kepala keluarga warga asal Raas. Semuanya hidup dengan menggantungkan nasib dari kerajinan tempel, kerajinan yang mengandalkan keahlian menempel hiasan-hiasan unik pada produk kerajinan. Ada mangkuk yang berhias kayu manis, bola-bola berhias batok kelapa, dan sejumlah kerajinan kreatif lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Eno, adalah salah satu yang sukses membangun bisnisnya di gang sempit itu. Dari ruangan kerjanya yang hanya 3 x 3 m2, Haji Eno kini mengirim produk-produk kerajinan karya 50 orang warga Raas ke sejumlah negara. Mulai dari Malaysia, Thailand, Taiwan, Amerika, Denmark, sampai Spanyol. Sebuah laptop, lengkap dengan modem yang disambungkan ke saluran telepon, kini jadi andalannya untuk mencari pembeli dan menerima order via internet. Orderan yang diterimanya pun tak sedikit. Nilainyua rata-rata ratusan juta rupiah. “Barusan saya kirim barang ke Amerika. Nilainya sampai Rp 280 juta,” jelas bapak dua anak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat penampilannya, mungkin akan banyak orang yang tak percaya dengan sukses Haji Eno. Maklum, bahasa Indonesia saja, ia tidak fasih. Ada banyak kata-kata bahasa Indonesia yang tidak dimengertinya. “Saya dulu malah tidak bisa bahasa Indoesia sama sekali,” kenang Haji Eno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika nekat berangkat ke Bali dari rumahnya di Desa Alas Malang, Pulau Raas, tahun 1988 silam, Eno bahkan tak paham sama sekali dengan bahasa Indonesia. Maklum, ia hanya pernah mengenyam pendidikan sampai kelas 2 sekolah dasar. Hanya satu bahasa yang dikenalnya, yakni bahasa Madura. Tapi ia punya tekad. “Awalnya ingin cari pengalaman di Bali. Ingin bisa adu pikiran dengan orang asing,” ujar Eno. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi angan Eno ketika itu, sempat kandas ketika ia menemukan kenyataan bahwa tidak mudah mencari pekerjaan di Bali. Ia bahkan pernah berdagang bakso demi mendapat sesuap nasi, sesuatu yang tabu bagi orang Raas di Kuta. Memang, berdagang makanan bukan hal biasa bagi masyarakat Raas di Bali. Berbeda dengan kesan umum soal orang Madura yang ahli berjualan sate, orang Raas seolah gengsi untuk menjalani profesi itu. “Nggak ada orang Raas jualan sate, jualan makanan,” cerita Haji Mahali. Kalaupun tak punya modal untuk berdagang, beberapa orang Raas memilih untuk menjadi guide di Kuta. Tentu saja, para guide asal Raas akan selalu mengajak tamunya berbelanja kepada para pedagang Raas. Kalau si tamu berbelanja, maka si guide akan mendapat rezeki dari komisi yang diberikan si empunya toko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa keahlian berbahasa Indonesia, membuat Eno tak mudah mendapat pekerjaan. Namun setelah ia bertemu masyarakat Raas yang telah membangun komunitas di Jimbaran, ia mulai dapat titik terang. Eno bekerja pada seorang Raas sebagai perajin. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar berbahasa Indonesia. Karena banyak orang asing di Bali, ia juga tertantang untuk mendekati mereka. Maka, di sela-sela waktunya berkreasi dengan kerajinan tempel, Eno juga mengikuti jejak rekannya berdagang acung di Pantai Kuta. “Biar bisa komunikasi sama bule. Saya ingin adu pemikiran sama mereka,” ujar Eno. Dari pergaulan pedagang acung itu juga, Eno mulai belajar berbahasa Inggris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peruntungan Eno memang bagus. Ketika ia belum cukup fasih berbahasa Inggris, seorang warga Negara Swiss mempercayakan perusahaannya untuk dikelola Eno. Kepercayaan yang sama kemudian juga dating dari seorang wisatawan asal Italia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1994, barulah Eno mulai mencoba merintis usaha kerajinannya sendiri. Hasilnya, kini bisa dilihat secara kasat mata. Di ruangannya yang memang cukup sempir, Eno tak perlu berpanas-panasan karena  ruangannya dilengkapi AC. Sebuah laptop juga menemani pekerjaannya. “Saya bersyukur,” ujar Eno. Kini, ada puluhan pengusaha Raas lainnya di Gang Lestari Jimbaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Raas di Bali, memang luar biasa banyak. Selain di Kuta dan Jimbaran, komunitas ini juga dapat dengan mudah ditemui di kawasan Suwung Denpasar. Jaraknya tidak jauh dari Kuta. Hanya sekitar beberapa ratus kilometer dari perbatasan Denpasar dan Kuta. Gang Wijaya III, merupakan basis warga Raas lainnya. Namun lokasi ini baru berkembang sejak sekitar tahun 2000 lalu, ketika tempat tinggal para warga Raas diLegian tergusur. Setelah masa kontrak mereka habis, parawarga Raas tidak diperbolehkan memperpanjang kontraknya di lokasi lama. AKibatnya, mereka secara bersama-sama mengontrak tanah di wilayah Suwung. Bangunan rumah pun dibuatsecara bergotong royong. “Kami biasa bekerjasama,” ujar Haji Husin, salah seorang Raas di Suwung. Di lokasi ini, jumlah warga Raas juga tak terlalu banyak, hanya sekitar 100 KK. Semuanya berprofesi sama, perajin tempel. Ada yang sukses, ada juga yang hidup pas pasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nyaris semua warga Raas, mengaku betah tinggal di Bali. Tak ada satupun yang menyatakan ingin kembali ke wilayahnya. Tak terkecuali Salam, bapak dua anak yang sudah puluhan tahun masih bekerja sebagai pedagang acung di Pantai Kuta. “Kalau di Raas, nggak ada kerjaan,” ujarnya. Mereka pun merasa suasana berusaha di Bali, cukup kondusif. Tak ada rasa iri atau persaingan tidak sehat dengan warga pribumi. “Kalau kita baik, mereka pasti juga baik,” ujar Mahali. Hal senada juga disebut Haji Eno. “Sejauh ini, saya merasa baik-baik saja dengan warga asli,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, warga asli Bali pun mengaku sama sekali tak terusik dengan  kesuksesan warga Raas di wilayahnya. Bahkan, beberapa pemilik artshop asal Kuta, mengaku bersyukur dengan keberadaan warga Raas. “Cuma mereka yang berani bayar sewa mahal,” ujar Kadek Sri Hartini, salah seorang pemilik artshop asal Kuta. Menurut Sri Hartini, warga Raas justru memberi keuntungan tersendiri bagi warga asli Kuta yang kini hanya menggantungkan hidup dari pariwisata. Pasalnya, hasil dari berdagang tidak cukup menjanjikan. “Jadi, rata-rata masyarakat asli sini menyewakan sebagian tanahnya. Cuma sebagian kecil yang disisakan untuk berjualan,” ungkap Sri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran warga Raas di Kuta, juga sama sekali tak mengusik hati Nyoman Medang, pemilik artshop asal Karangasem Bali. “Mereka saling percaya. Itu keuntungan buat mereka. Jadi kontrakan ditanggung bersama. Nggak berat,” ujar Medang, yang mengaku kewalahan membayar sewa artshopnya yang seluas 4x5 m seharga 45 juta setahun. Medang bahkan mengaku tak mampu lagi membayar sewa, sehingga berencana menutup pusahanya sampai habis masa kontraknya pertengahan tahun ini.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di perantauan, sudah menjadi sesuatu yang lazim bagi warga Pulau Raas, Madura. Bali menjadi tempat tujuan rantau yang paling favorit bagi mereka. Kunci keberhasilan mereka hanya satu, yakni kebersamaan dan rasa saling percaya. [Komang Erviani / Dimuat di Majalah GATRA Nomor 25 Beredar Kamis,3 Mei 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5632927881157180757?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5632927881157180757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5632927881157180757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5632927881157180757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5632927881157180757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/05/yang-beruntung-di-tanah-rantau.html' title='Yang Beruntung di Tanah Rantau'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3130315686340434944</id><published>2007-05-05T21:00:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T21:01:55.745-07:00</updated><title type='text'>Dana Sehat Si Miskin Diembat</title><content type='html'>Dana asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin, ditilep oknum pegawai Rumah Sakit Sanglah. Nilainya mencapai Rp 2,3 miliar. Rumah Sakit Sanglah dan PT. Askes, tiba-tiba saling menyalahkan.Diduga ada konspirasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengecek pembayaran klaim asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin) yang ditransfer PT. Askes ke rekening Rumah Sakit Sanglah, 23 April lalu, Drs I Ketut Nadra MM terkejut. Laporan Askes yang menyebut telah melakukan transfer sebesar 6,7 miliar, tidak ditemukan dalam rekening Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali bernomor 002343-7 atas nama RS Sanglah. Direktur Keuangan Rumah Sakit Sanglah itu hanya menemukan dana sebesar Rp 6,4 miliar. Selisih Rp 300 juta, mengundang tanda tanya besar di benak Nadra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi panik, Nadra langsung mendatangi PT. Askes Kantor Cabang Denpasar guna mempertanyakan kebenaran nilai transfer. “Waktu itu saya tanya, kok transfer cuma Rp 6,4 miliar?” cerita Nadra. Di luar dugaan, pihak Askes yang ketika itu diwakili langsung oleh Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, bersikeras telah mentransfer Rp 6,7 miliar. “Ibu Mas bilang, dana Rp 6,7 miliar sudah ditransfer ke rekening Sanglah. Coba dicek ke rekening yang satu lagi,” terang Nadra meniru pernyataan Aryanthi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadra mengaku kaget luar biasa ketika itu. Pasalnya, selama ini Rumah Sakit Sanglah hanya memiliki satu rekening di BPD Bali. Rekening resmi atas nama Rumah Sakit Sanglah itu bahkan dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan, sesuai aturan perundang-undangan. Namun pihak Askes justru menyebut keberadaan sebuah rekening lain di BNI 46, yang diklaim sebagai rekening resmi milik Sanglah. Pihak Askes mengaku selalu mentransfer dana klaim Askes Maskin ke dua rekening tersebut, yakni rekening resmi di BPD Bali dan BNI 46. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dicek, ternyata rekening BNI 46 bernomor 97423728 tersebut dibuka atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. IGA Maryani adalah petugas entry data masyarakat miskin di Rumah Sakit Sanglah. Keberadaan satu rekening tak dikenal yang mengatasnamakan Rumah Sakit Sanglah, membuat kaget. “Saya bilang ke Askes, ini rekening siapa? Yang saya tahu, Sanglah hanya punya satu rekening,” cerita Nadra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, ini bukan kali pertama PT. Askes mentransfer dana klaim Askes Maskin ke rekening BNI 46. Sejak dibuka pada Februari 2006, rekening pribadi milik oknum pegawai Sanglah itu sudah menerima 12 kali transferan dari PT. Askes. Nilainya pun tak tanggung, mencapai lebih dari Rp 2,3 miliar. Transfer dilakukan antara 5 April 2006 hingga 20 April 2007 atas pembayaran klaim dana Askes Maskin Februari 2006 hingga Januari 2007. Namun dana yang tersisa di dalam rekening, hanya Rp 2 juta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajer PT. Askes Cabang Denpasar, dr. Ngurah Mas Aryanthi, beralasan transfer ke rekening BNI 46 dilakukan atas dasar kepercayaan yang tinggi terhadap pegawai IGA Maryani, yang telah lama menjadi contact person RS Sanglah di PT. Askes. Menurut Mas, IGA Maryani mengajukan satu rekening baru di BNI 46 pada Februari 2006. “Dia (IGA Maryani) bilang ke saya, Rumah Sakit Sanglah punya rekening baru di BNI 46. Tolong transfer klaim maskin tiap bulannya, displit sebagian ke rekening baru ini. Karena kami sudah percaya dengan dia, ya kami selalu transfer sebagian ke rekening BNI,” terang Mas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IGA Maryani sendiri, menurut Nadra, telah mengakui perbuatannya. Hal itu dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani  pegawai yang bekerja di RS Sanglah sejak tahun 1995 sebagai honorer dan baru diangkat sebagai pegwai negeri sipil (PNS) tahun 1997 itu. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani 26 April tersebut, Maryani mengakui telah menerima transfer dana dan menyatakan akan menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Anehnya, dalam surat pernyataan juga disebutkan bahwa pihaknya tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim kuasa hukum IGA Maryani, I Ketut Gede Suarnatha, SH,MH dan R. Teddy Raharjo,SH, mempertanyakan keabsahan surat pernyataan kliennya itu. “Untuk apa ada poin tidak akan melibatkan karyawan PT. Askes ?” Teddy heran. Menurut Teddy, kliennya terpaksa menandatangani surat pernyataan itu karena berada di bawah tekanan pihak Askes dan RS Sanglah. Yang juga ganjil, keesokan harinya pihak RS Sanglah kembali meminta IGA Maryani menandatangani surat pernyataan serupa. Bedanya, poin ketiga diganti dengan pernyataan “tidak akan melibatkan karyawan RS Sanglah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Teddy maupun Suarnatha, menduga ada konspirasi besar dibalik penuduhan terhadap kliennya. Menurut Suarnatha, kliennya yang saat ini dinon-jobkan tidak pernah merasa membuka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah. Karenanya, Maryani tak pernah tahu ke mana dana yang pernah mampir ke rekening atas namanya itu. Maryani memang memiliki tiga rekening atas nama dirinya di BNI 46. dua rekening digunakan untuk tabungan kedua anaknya, sementara satu rekenig untuk menerima gaji dari RS Sanglah. “Semua rekeningnya atas nama IGA Maryani. Dia tidak pernah buka rekening atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” tegas Suarnatha. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah aneh, menurut Teddy, Maryani tiba-tiba menemukan buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah di dalam tasnya, tepat ketika ia dituduh menyelewengkan dana. “Waktu itu Ibu Maryani diminta mengeluarkan buku tabungan dari tasnya. Karena merasa tak bersalah, dia langsung mengambil buku tabungan BNI yang memang ada di tasnya. Ia sendiri kaget karena ternyata di tasnya ada buku tabungan atas nama IGA Maryani/RS Sanglah,” terang Teddy. Dari sana, dugaan adanya konspirasi besar di balik kasus itu, makin menguat. Ia menduga ada upaya menutupi kesalahan seseorang atau beberapa orang kuat, dengan menjadikan kliennya sebagai tumbal. “Klien kami hanya bertugas sebagai staf entry data. Dia mengaku tidak pernah ke Askes. Lagi pula, yang aneh, kenapa setelah satu tahun baru diketahui? Apa selama ini Sanglah tidak pernah merasa ada dana transfer yang kurang?” tandas Teddy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak PT. Askes dengan RS Sanglah sendiri, terkesan saling menyalahkan atas kasus ini. Rumah Sakit Sanglah menilai PT. Askes gegabah mentransfer dana ke rekening pribadi. Sementara Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, justru balik mempertanyakan sikap RS Sanglah yang baru mempertanyakan setelah berjalan satu tahun. “Kenapa baru sekarang dipertanyakan Selama ini, kok Sanglah tidak pernah menanyakan ada kekurangan transfer klaim?” tegas Erna, sembari mengaku selalu mengirimkan surat pemberitahuan dan copy bukti transfer dana kedua rekening ke rumah sakit Sanglah lewat jasa ekspedisi. Tapi, Kepala Satuan Pengendalian Intern (SPI) RS Sanglah, Ketut Rupini, membantah telah menerima surat pemberitahuan dan bukti transfer. “Yang jelas, kami tidak pernah terima surat pemberitahuan dan bukti transfer. Kami tidak tahu apakah yang bersangkutan (IGA Maryani,red) juga yang menerima surat itu,” tandas Rupini. Anehnya, kekurangan dana transfer yang selama ini diterima Sanglah, menurut Rupini, langsung dibukukan sebagai piutang kepada PT. Askes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keganjilan pun tercium oleh anggota DPRD Bali. Anggota Fraksi PDIP, Made Arjaya, mengaku heran melihat sikap saling menyalahkan PT. Askes dan RS Sanglah. Sikap PT. Askes yang langsung mentransfer tanpa konfirmasi kepada pihak berwenang di RS Sanglah, dinilai sebagai tindakan gegabah. Sementara sikap RS Sanglah yang tidak mempertanyakan kekurangan transfer dan langsung membukukannya sebagai piutang, juga sesuatu yang aneh. Padahal di saat yang sama, Erna mengakui kalau Direktur Keuangan RS Sanglah, Ketut Nadra, seringkali datang ke PT. Askes. Ketika dipanggil anggota DPRD Bali untuk menjelaskan perihal kasus tersebut, Erna mengaku bahwa Nadra datang ke PT. Askes sekitar dua hingga tiga kali sebulan. Tidak itu saja, Nadra juga dikatakan sering menelpon ke PT. Askes. “Katanya antara RS Sanglah dan PT. Askes sering kontak. Kenapa hal seperti ini bisa jalan sampai satu tahun,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah ganjil, baik pihak PT. Askes maupun RS Sanglah, tidak berupaya mengusut masalah ini secara hukum. RS Sanglah beralasan, pihak PT.Askes lah yang seharusnya melapor secara hukum. "Kalau dilihat persoalannya pihak PT Askes seharusnya yang memperkarakan (melaporkan IGA MA, Red)," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Sanglah, dr I Gusti Lanang M Rudiartha MHA. Sementara pihak PT. Askes mengaku masih akan mempelajari kasus ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, pihak Inspektur Jenderal Departemen Kesehatan RI langsung menurunkan tim pemeriksanya setelah mendengar kasus ini. Tim yang diketuai Inspektor IV I Gusti Gde Djestawana, SKM, M.Kes tersebut, langsung mengorek keterangan para pegawai rumah sakit dan memeriksa dokumen-dokumen maskin selama periode April 2006 hingga April 2007. Tim yang terdiri atas lima orang itu, rencananya akan melakukan pemeriksaan selama enam hari, untuk mencari kebenaran atas dugaan penyelewengan dana bagi masyarakat miskin itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, meski tak mendapat laporan resmi, pihak Kejaksaan Tinggi Bali menyatakan tetap akan mengusut kasus ini. Senin, 7 Mei, pihak Kejati Bali memanggil IGA Mayani untuk dimintai keterangan. Penyelesaian kasus secara hukum, menjadi penting. Apalagi dana yang digelapkan adalah dana kesehatan bagi masyarakat miskin. [Komang Erviani]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transfer Klaim Askesin ke Rekening IGAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TGL TRANSFER NOMINAL UNTUK PEMBAYARAN KLAIM&lt;br /&gt;5 April 2006 Rp. 177.580.500 Februari 2006&lt;br /&gt;18 Mei 2006 Rp. 250.000.000 Maret 2006&lt;br /&gt;7 Juni 2006 Rp. 150.000.000 Juni 2006&lt;br /&gt;26 Juni 2006 Rp. 300.000.000 April 2006&lt;br /&gt;21 Juli 2006 Rp. 150.000.000 Mei 2006&lt;br /&gt;28 Agustus 2006 Rp. 227.000.000 Juni 2006&lt;br /&gt;28 September 2006 Rp. 200.000.000 Juli 2006&lt;br /&gt;2 November 2006 Rp. 100.441.500 Agustus 2006&lt;br /&gt;24 November 2006 Rp. 137.597.500 September 2006&lt;br /&gt;18 Desember 2006 Rp. 125.000.000 Oktober 2006&lt;br /&gt;22 Maret 2007 Rp. 250.000.000 Desember 2006&lt;br /&gt;20 April 2007 Rp. 280.311.428 Januari 2007&lt;br /&gt;TOTAL Rp. 2.347.930.928 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelamat yang Membuat Sekat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komang Sujana, terus merengek di gendongan ibunya, Luh Murni, 23 tahun. Selang infus yang menempel di tangan kanannya, membuat bocah dua tahun empat bulan itu tampak gelisah kesakitan. Mata kanannya terbalut kapas dan perban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir setahun, Komang tiba-tiba menjadi sangat akrab dengan Sal Anak Kelas III Jempiring, Rumah Sakit Sanglah. Bersama lima pasien anak lain di ruang yang hanya seluas 5 x 3 meter itu, Sujana kini harus menghabiskan sebagian besar harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dinyatakan mengidap tumor ganas pada mata, Sujana wajib berobat rutin ke Rumah Sakit Sanglah. Awalnya, ia bahkan harus dirawat selama dua bulan penuh. Namun kini, ia hanya perlu menghabiskan empat hari tiap minggunya, untuk tinggal di rumah sakit. Itu karena Sujana harus menjalani kemotherapi untuk mengobati tumor di kedua matanya yang kini sudah tak berfungsi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luh Murni dan suaminya Gde Nyeneng, 21 tahun, bahkan harus pindah dari tempat asalnya di Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem ke Denpasar, demi mempermudah akses pengobatan Komang. Awalnya, Luh Murni mengaku tak tahu harus melakukan apa pada mata Komang. Keterbatasan biaya, sempat membuatnya hanya mengobati Komang ke dukun di desa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah tahu ada fasilitas asuransi kesehatan bagi masyaakat miskin, Luh Murni seperti mendapat angin segar. Ia kini tak perlu mengeluarkan dana sepeser pun untuk mendapat layanan kesehatan. “Semuanya gratis,” terang Murni. Penghasilan suaminya yang tak menentu sebagai sopir angkot di Denpasar, dipastikan tak akan mampu membiayai pengobatan sang anak. “Syukur juga ada layanan gratis. Kalau nggak, cari di mana? Bapaknya kadang-kadang dapat uang, kadang nggak. Malah sering norok karena penumpang sepi,” ujar ibu tiga anak itu.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luh Murni termasuk beruntung, karena tak pernah merasa dianaktirikan pihak rumah sakit. Tapi jamak terdengar, ada keluhan dari masyarakat miskin atas layanan yang tak memuaskan bagi mereka. Komang Ane, termasuk salah satu yang pernah mengalaminya. Ketika ia mengalami kecelakaan dan harus dirawat inap, perawat rumah sakit tiba-tiba bersikap tak ramah saat tahu ia menggunakan kartu miskin. Ia bahkan harus menghuni lorong rumah sakit, untuk mendapatkan kamar di kelas III. Pria asal Buleleng itu, tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima perlakuan kasar dari perawat di Rumah Sakit Sanglah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien miskin asal Gerokgak Buleleng, Made Suparja, 50 tahun, juga sempat merasakan sikap tak mengenakkan hanya gara-gara ia mengunakan asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askes Maskin). Itu dirasakannya ketika mencari hendak mencari ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Singaraja. “Istilahnya, kalau pakai kartu miskin, nggak ada kamar. Tapi kalau pakai duit, ada kamar,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Kepala PT. Askes Regional Bali, NTB dan NTT, dr. Erna Wijaya Kusuma, membantah adanya kecenderungan itu. Menurutnya, ia selalu melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit agar memberi pelayanan terbaik, termasuk bagi pasien miskin. Pihak rumah sakit pun mengaku selalu mencoba memberi layanan terbaiknya. Dirut RS Sanglah dr. Lanang M. Rudhiarta, menyatakan selalu berupaya memberi yang terbaik bagi semua pasien, tak terkecuali pasien miskin. Disebutkan Lanang, RS Sanglah kini memiliki 677 tempat tidur yang 40 persennya diperuntukkan bagi pasien maskin. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berdasarkan data PT. Askes Regional Bali, NTB, dan NTT, selama tahun 2006 terdapat sedikitnya 548.357 jiwa penduduk Bali yang memegang kartu Askes Maskin. “Kami selalu berupaya memberi layanan terbaik,” tegas Erna. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3130315686340434944?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3130315686340434944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3130315686340434944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3130315686340434944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3130315686340434944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/05/dana-sehat-si-miskin-diembat.html' title='Dana Sehat Si Miskin Diembat'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8922600787700172133</id><published>2007-04-20T23:15:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T23:16:23.159-07:00</updated><title type='text'>Seks Dini Remaja Bali</title><content type='html'>Seks pra nikah seolah sudah menjadi gaya hidup remaja di Bali. Akses informasi terlalu minim. Kuncinya tidak Cuma ada di tangan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, empat bulan lalu, dokter Lely Setyawaty kedatangan seorang pasien muda. Spesialis kejiwaan yang sehari-hari bertugas di Rumah Sakit Sanglah itu, harus menenangkan pasiennya, sebut saja Manda. Manda baru saja lolos dari maut, gara-gara cairan pembasmi serangga yang diminumnya. Siswi kelas dua sebuah SMA di Denpasar itu lolos dari upaya bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manda beralasan, ada masalah berat yang tak mampu lagi dihadapi. Ternyata, semua masalah Manda berpangkal dari hubungan dengan sang pacar, sebut saja Agung. Manda dan Agung telah menjalin hubungan pacaran sejak tiga tahun lalu. Ketika itu, Manda baru duduk di kelas dua SMP, dan Agung kelas satu SMA. Kedua orang tua Manda pun tak memberi restu saat itu. Alhasil, keduanya tetap berhubungan sembunyi-sembunyi alias backstreet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan backstreet yang dijalani Manda dan Agung, ternyata justru tak terkontrol. Mereka bahkan sudah menganggap hubungan seksual sebagai hal biasa. Mereka sudah melakukan hubungan seks pra nikah sejak awal berpacaran. Keduanya  sudah tahu teknik untuk mencegah kehamilan dengan kondom. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belakangan, Manda hamil. Manda dan Agung menyadari, ada masalah besar yang harus diselesaikan. Agung yang sudah duduk di bangku kuliah, menyatakan siap bertanggung jawab penuh. Ia bahkan mengajak Manda kawin lari, bila orang tuanya menolak memberi restu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi mencoba terbuka pada orang tua, Manda keburu ketakutan. Ia tak cukup berani memberi tahu kondisinya kepada orang tua yang sejak awal sudah menentang hubungannya dengan Agung. Mereka pun urung melaksanakan kawin lari yang sudah dirancang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kegalauannya, Manda mendapat banyak sekali informasi keberadaan tempat aborsi dari teman-teman sekolahnya. Entah dari mana mereka mengetahui info tempat-tempat aborsi itu. Tapi toh, Manda tetap tak punya cukup keberanian untuk membunuh janinnya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru ketika usia kandungannya sudah menginjak empat bulan, orang tua Manda menaruh curiga pada perubahan bentuk tubuh putri mereka. Awalnya Manda mencoba mengelak. Ia bersikeras, kalau ia masih datang bulan. Tapi karena perutnya terus membuncit, Manda tak bisa mengelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada tenang, ibunda Manda mencoba memancing kejujuran putrinya. “Kalau memang kamu hamil, bilang saja. Kita carikan solusinya bersama-sama,” begitu sang ibu, menurut penuturan Manda kepada dokter Lely. Berharap ada penyelesaian, Manda pun jujur menceritakan masalah yang dihadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujuran Manda ternyata tak menyelesaikan masalah. Kedua orang tuanya memang tak marah. Mereka hanya menangis, menyesali semua perbuatan Manda. Mereka merasa gagal menjaga putrinya, hingga menciptakan aib keluarga yang membuat mereka malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan orang tua, justru menjadi awal masalah bagi Manda. Perasaan bersalahnya mencapai klimaks, hingga ia memutuskan mengakhiri hidup dengan menenggak racun serangga. Beruntung, orang tua Manda segera membawanya ke rumah sakit. Dan, Manda selamat dari percobaan bunuh dirinya. Dokter Lely pun lega, karena kemudian hubungan Manda dan Agung direstui. Keduanya menikah, meski Manda terpaksa melepas sekolahnya hanya sampai kelas dua SMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lely, kasus yang dialami Manda bukanlah hal baru di kalangan remaja di Bali. “Ada banyak kasus-kasus seperti ini,” terang Koordinator Center Remaja Amerta Rumah Sakit Sanglah itu. Kasus percobaan bunuh diri di kalangan remaja, menduduki peringkat kedua di antara seluruh pelaku kasus percobaan bunuh diri berdasarkan catatan Rumah Sakit Sanglah. “Rata-rata ada 250 kasus percobaan bunuh diri dalam setahun. Kasus pada remaja tergolong sangat tinggi,” jelas Lely. &lt;br /&gt;Kebanyakan kasus percobaan bunuh diri pada remaja, menurut Lely, didasari pada masalah pacaran. Masalah utama kedua adalah masalah dengan orang tua. Ironisnya lagi, sebagian besar dari mereka yang mencoba bunuh diri, berada dalam keadaan hamil. Ada juga sebagian yang tidak sedang hamil, tetapi melakukan percobaan bunuh diri karena diputus pacarnya. “Ada yang merasa ketakutan karena sudah pernah berhubungan seks dengan si pacar yang mutusin. Takut nanti ternyata hamil, atau tidak ada laki-laki yang mau dengan dia karena sudah tidak perawan,” terang Lely. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun detil kasusnya, fenomena seks pra nikah di kalangan anak muda di Bali ditenggarai cukup besar. Bukan rahasia lagi, banyak pasangan menikah dalam keadaan hamil tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita Sayang Remaja (Kisara), organisasi bentukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi remaja, hingga kini mencatat laporan sedikitnya 41 kasus hubungan seksual pra nikah. Masing-masing 2 kasus pada kelompok umur 13 – 15 tahun, 14 kasus pada umur 16-18 tahun, 12 kasus pada umur 19-21 tahun, 8 kasus pada umur 22-24 tahun, serta 5 kasus pada umur di atas 25 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru jumlah kasus yang terdata di Kisara berdasarkan konseling via telepon. Belum termasuk puluhan atau bahkan ratusan kasus lain yang tidak terlaporkan. &lt;br /&gt;Dalam catatan Kisara, juga terekam adanya 10 kasus kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada periode yang sama. Masing-masing tiga kasus pada kisaran umur 17 – 20 tahun, 4 kasus pada umur 21-24 tahun, dan 3 kasus pada umur di atas 24 tahun. &lt;br /&gt;Menurut Mahar, Koordinator Konseling Kisara, hubungan seks pra nikah sudah menjadi hal yang seolah biasa bagi remaja Bali. Ada banyak remaja yang melakukan konseling via telpon, dengan kasus beragam. “Ada yang nelpon, ngaku baru putus sama cowoknya. Dia ngaku takut hamil, karena sudah dua kali berhubungan seksual,” cerita Mahar. Ada juga seorang siswi SMP yang mengaku sudah pernah berhubungan seks dengan om om, tetapi sedang jatuh cinta dengan seseorang lainnya yang lebih tua. “Dia tanya, apakah dia harus jujur kepada cowok itu?” Mahar melanjutkan ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimnya informasi soal kesehatan reproduksi, serta keluarga dan lingkungan yang kurang mencukung, disinyalir menjadi penyebab banyaknya remaja yang melakukan seks pra nikah. Tak heran, ada banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar yang ditanyakan dalam konseling per telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya tentang apakah seseorang bisa hamil dengan hanya sekali berhubungan seksual, tentang bagaimana proses kehamilan terjadi, serta masalah-masalah dasar lain. “Ada yang minta masukan karena pacarnya menuntut berhubungan seksual sebagai bukti rasa sayang,” jelas Mahar. Dalam catatan Kisara, tidak sedikit pula remaja yang mengaku menyesal telah melakukan seksual di masa lalunya. Sebagian besar dari mereka mengaku sebelumnya tidak tahu sama sekali seperti apa berhubungan seksual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Survei Kesehatan Reproduksi di Indonesia tahun 2003, diketahui 5 persen remaja pernah melakukan hubungan seks sebelum nikah. Lembar fakta yang diterbitkan oleh PKBI, United Nations Population Fund (UNFPA) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menyebutkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan. Lembar fakta tersebut juga menyebutkan setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi terjadi di Indonesia, dan 20 persennya dilakukan oleh remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah seks pra nikah, menurut dokter Lely, merupakan masalah kompleks. Maka, kunci pemecahannya pnu sangat kompleks. Diperlukan kepedulian semua pihak, baik orang tua ataupun masyarakat umum. “Ini harus dipecahkan bersama-sama,” terang Lely. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 27, April 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8922600787700172133?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8922600787700172133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8922600787700172133' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8922600787700172133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8922600787700172133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/04/seks-dini-remaja-bali.html' title='Seks Dini Remaja Bali'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7196618383805470404</id><published>2007-04-10T02:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T02:28:19.983-07:00</updated><title type='text'>Terperangkap Nikmat Junk Food</title><content type='html'>Ketika bel berdering lantang, Komang Dewi (11 tahun) bergegas memasukkan semua bukunya ke tas ransel warna pinknya. Langkahnya cepat menuju gerbang sekolah. Tapi, bocah kelas lima sekolah dasar itu tak lantas pulang ke rumah. Bersama beberapa teman sekolahnya, Dewi masuk ke sebuah warung, tak jauh dari sekolahnya di bilangan Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Beberapa snack ringan yang tergantung, diraihnya. Sebuah permen loli pop juga tak luput dari perhatiannya. Terakhir, ia memesan es minuman beraroma strawberry seharga Rp 500 per bungkus. Dua ribu rupiah di sakunya langsung amblas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hartati, sang pemilik warung, tentu saja menjadi senang. Bukan cuma karena Dewi, tetapi juga karena banyak teman Dewi yang berbelanja banyak makanan ringan. ”Kalau jam pulang sekolah, pasti ramai begini,” ujarnya. Menurut Hartati, yang paling disuka anak-anak justru makanan-makanan yang berhadiah. Jenis hadiahnya beragam, dari boneka pastik mini, kapal-kapalan, sampai duit ribuan. Tak peduli apa jenisnya, asal berhadiah, pasti laris manis.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makanan dengan komposisi gizi tak berimbang, biasa diistilahkan junkfood, entah kenapa selalu jadi idola anak-anak. Seperti Bagus Antaka (5 tahun) yang siang itu terlihat sangat berseri ketika memasuki restoran cepat saji di kawasan Jalan Dewi Sartika Denpasar. Di depan kasir, Bagus lancar menyebut makanan kesukaannya. ”Burger ama fried chicken,” begitu Bagus dengan pelafalan inggrisnya yang tak cukup jelas. Segelas kola juga diminta bocah yang siang itu tampil rapi dengan hem oranye. ”Soalnya enak. Mantap,” jawab Bagu tegas ketika ditanya alasannya menyukai fastfood.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Ini memang kesukaannya,“ begitu Wayan Kota (35 tahun), sang ayah. Bahkan menurut laki-laki yang bekerja sebagai supir angkutan wisata itu, fast food bukan cuma kegemaran anak keduanya. Anak perempuan pertamanya, Ayu Cahya yang kini duduk di kelas empat sekolah dasar, juga penggemar setia fast food. ”Kalau kakaknya, lebih suka lagi,” terang Kota. Diduga, karena kegemarannya itu pula, Ayu Cahya mengalami berat badan berlebih. Di usia 10 tahun, berat badan Ayu sudah mencapai 40 kg. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wayan Kota mengaku agak khawatir melihat kegemaran anak-anaknya mengkonsumsi fast food. Apalagi, kedua anaknya juga menggemari snack-snack ringan. Ia sadar, kegemaran anaknya membuat mereka rentan terkena beragam penyakit, mulai dari obesitas, penyakit jantung, sampai diabetes melitus. Namun Wayan Kota mengaku selalu melakukan antisipasi. Kota membatasi konsumsi fast food hanya sebulan sekali. ”Sebenarnya sering merengek minta dibelikan. Tapi nggak saya kasi. Cukup sebulan sekali,” ujar Kota diamini sang istri, Nengah Sucita.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tingginya tingkat kegemaran anak-anak terhadap junkfood, terungkap pula dalam hasil penelitian ahli gizi, Ida Ayu Eka Padmiari, SKM, M.Kes, terhadap 80 anak sekolah dasar di Kota Denpasar pada 2004. Penelitian Dosen Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Denpasar, itu menyebutkan sekitar 75 persen konsumsi energi anak-anak tersebut berasal dari jajanan. Padmiari mengistilahkannya sebagai street food (makanan jalanan). Sementara itu, hanya 25 persen konsumsi energi anak-anak dipasok dari makanan pokok berupa nasi, daging, sayuran, dan pelengkapnya. Yang dimaksud dengan street food oleh Padmiari sangat beragam, mulai dari beragam fast food, jajanan pasar, hingga snack ringan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil penelitian Padmiari tentang ”konsumsi makanan jajanan pada anak SD di Denpasar”, itu memperkuat penelitiannya tentang ”fast food dan risiko obesitas” di tahun 2002. Penelitian soal kegemaran anak-anak mengkonsunsumsi fast food ketika menyelesaikan tesisnya di Magister Kesehatan Universitas Gadjah Mada tersebut menemukan, sekitar 15,8 persen anak usia SD di Denpasar mengalami obesitas. Terdiri atas 9,7 persen laki-laki dan 3,9 persen perempuan. Angka itu diperoleh dari total 154 siswa SD di Kota Denpasar. Penelitian dilakukan selama 4 bulan pada 2002. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian yang menggunakan standar Nutrition Community Health Survey (NCHS) dari WHO tersebut juga menemukan fakta, 50 persen dari anak yang mengalami obesitas ternyata pengkonsumsi setia fast food. Sisanya, mencampur fast food dengan jenis makanan lainnya. Bagi ibu 3 anak kelahiran Denpasar 17 April 1964 ini, perubahan gaya hidup pemicu obesitas tak hanya tercermin dari tren fast food, tetapi juga perubahan cara pergaulan. Sebagian besar anak-anak sekarang memiliki cara bermain yang berbeda. Sebagian besar lebih senang di rumah untuk bermain play station atau sekadar menonton TV. "Anak-anak sekarang akivitas fisiknya sangat kurang. Kalau kita mengonsumsi 100, harusnya kan keluar 100. Tapi biasanya cuma keluar 50 persen. Jadi ada kalori yang tak terpakai dan menjadi timbunan lemak,"jelas Ketua Yayasan Mitra Gizi Bali itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian lanjutan sempat dilakukan Padmiari di tahun 2004 terhadap sebanyak 2.700 orang dewasa. Hasilnya, sebanyak 10,5 orang dewasa di Denpasar mengalami obesitas. Artinya, di setiap 100 orang dewasa, ada sekitar 10 orang mengalami obesitas. Obesitas yang kemudian menjadi pemicu penyakit degeneratif lain seperti jantung dan diabetes melitus, diketahui terjadi karena konsumsi makanan yang berlebih dan aktivitas fisik yang kurang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil penelitian lain di tahun 2005 terhadap siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Denpasar juga menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan.  Dari 120 siswa putri yang dijadikan responden, sekitar 70,2 persennya ternyata memiliki pola hidup sedentary. Sisanya hidup dengan pola hidup normal Pola hidup sedentary merupakan pola hidup dengan aktivitas yang rendah dan konsumsi yang berlebih. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian tersebut pun menunjukkan, para remaja yang memiliki pola hidup sedentary umumnya mengkonsumsi energi berlebih sebesar 101,24 persen dari tingkat kecukupannya. Tingkat kecukupan kalori pada remaja, seharusnya sebesar rata-rata 1.800 kalori per hari. Artinya, remaja yang memiliki pola hidup sedentary umumnya kelebihan energi sebesar 1,24 persen dari 1.800 kalori. Sementara, kelebihan konsumsi protein juga berlebih, mencapai 112,11 persen dari yang seharusnya. Idealnya, konsumsi protein pada remaja sebesar 1 gram untuk setiap 1 kg berat badannya. ”Jadi, kalau beratnya 50 kg, seharusnya protein yang dikonsumsi Cuma 50 gram,” jelas ibu dua anak itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konsumsi yang berlebih dari gaya hidup sedentary, menjadi makin rawan karena konsumsi tersebut tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup. Dari penelitian dengan metode studi komparasi itu, Padmiari mengungkap sejumlah aktivitas sehari-hari pengikut pola hidup sedentary yang dapat memicu obesitas dan beragam penyakit ikutannya seperti diabetes melitus dan jantung. Kegiatan tersebut diantaranya kebiasaan menonton TV, menggunakan kendaraan, malas berolahraga, dan lainnya. Akibatnya, anak yang bergaya hidup sedentary cenderung menjadi gemuk dan rentang penyakit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaruh pola hidup yang tidak teratur, termasuk hobi mengkonsumsi junkfood, memang menjadi penyebab utama terjadinya obesitas. Sayangnya lagi, obesitas tidak berhenti di situ. Penyakit kelebihan berat badan itu juga memicu munculnya penyakit lainna. Ni Komang Wiardani (39 tahun), ahli gizi lain, sempat melakukan penelitian soal pola makan dan obesitas sebagai faktor risiko diabetes melitus (DM) tipe 2. Seperti diketahui, ada dua tipe DM. Tipe pertama adalah DM yang terjadi karena faktor genetis. Sementara DM tipe 2 merupakan DM yang muncul karena perubahan gaya hidup, aktivitas fisik, dan pola makan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam penelitian yang dilakukan dalam rangka menyelesaikan studi di Magister Gizi dan Kesehatan Universitas Gadjah Mada tersebut, ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan DM tipe 2.  Obesitas yang disebabkan pola makan dan gaya hidup, merupakan faktor risiko terhadap DM tipe 2. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wiardani membagi jenis obesitas dalam dua tipe, yakni obesitas overall yang dinilai berdasarkan indeks massa tubuh dan obesitas sentral yang dinilai berdasarkan lingkar pingang. Penelitian dilakukan terhadap 147 pasien Rumah Sakit Sanglah. Terdiri dari 49 pasien DM, sementara 98 lainnya terdiri dari pasien penyakit lain yang tidak mengalami DM dam individu sehat yang bertempat tinggal berdekatan dengan pasien DM. Hasilnya, orang dengan obesitas overall memiliki risiko 5,5 kali lebih besar terhadap DM tipe 2 dibandingkan yang tidak obesitas. Sementara itu, obesitas sentral memiliki risiko 3,7 kali lebih besar terhadap DM tipe 2 dibandingkan dengan yang tidak obesitas.  ”Obesitas adalah faktor risiko bagi terjadinya DM tipe 2. Pengaruhnya sangat signifikan,” begitu ibu dua anak yang menggarap penelitiannya selama Agustus-Desember 2005 itu.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari penelitian yang sama, Wiardani juga menemukan beragam riwayat pola hidup tidak sehat dari para penderita obesitas. Diantaranya konsumsi yang berlebih terhadap karbohidrat, lemak, dan makanan suplemen lainnya. ”Frekuensi kunjungan mereka ke restoran fast food umumnya juga sangat tinggi,” tegas Wiardani yang meraih gelar magisternya dengan predikat cumlaude. Sayang, Wiardani enggan mengungkap hasil penelitiannya secara detil dengan alasan belum dipublikasikan secara resmi melalui jurnal ilmiah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atas tingginya risiko yang mungkin dialami akibat pola hidup tidak sehat, termasuk kebiasaan mengkonsumsi junkfood, Padmiari menyarankan kepada para orang tua untuk membatasi konsumsi junkfood. ”Junkfood sebenarnya nggak masalah, asal konsumsi makanan pokoknya tetap dan diimbangi dengan makanan berserat,” jelas Padmiari. Memberikan makanan dengan gizi seimbang, dikatakan sangat penting. Artinya, komposisi karbohidrat yang masuk ke tubuh sesuai dengan komposisi protein maupun lemaknya. Melakukan olahraga dan aktivitas fisik lainnya juga tak kalah penting. Agar masa depan anak-anak tak terhalang penyakit degeneratif. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7196618383805470404?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7196618383805470404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7196618383805470404' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7196618383805470404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7196618383805470404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/04/terperangkap-nikmat-junk-food.html' title='Terperangkap Nikmat Junk Food'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5779001911233802035</id><published>2007-04-05T02:22:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T02:26:14.622-07:00</updated><title type='text'>Nila Bali Ternoda Deterjen</title><content type='html'>Bau busuk langsung menyambut, ketika mendekati kawasan Pintu Air Buagan, salah satu bagian di hilir Sungai Badung, Denpasar, Bali. Semakin dekat, baunya makin menyengat. Warna airnya terlihat pekat. Sampah-sampah menumpuk di beberapa sudut. Di sepanjang bantaran sungai, beberapa gunungan sampah seperti tak bisa luput dari pandangan, seperti tak terkendali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara rimbun sampah di Sungai Badung, Made Segara (40 tahun) tampak asyik memancing bersama Ayu (2 tahun), putri keduanya. Tawa riang sesekali terdengar dari bibir mungil Ayu, setiap kali ikan menyangkut di kail sang ayah. Ada lumayan banyak ikan nila hasil pancingan Made Segara hari itu. “Kadang-kadang saya bisa dapat 50 ekor,” terang Segara yang biasa menghabiskan akhir pekannya di tempat itu. Sudah hampir 20 tahun, Sungai Badung menjadi pilihan utamanya untuk menyalurkan hobi memancing.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampah-sampah yang menumpuk, sama sekali tidak mengganggunya. Tidak juga mengganggu beberapa pemancing lainnya yang hari itu juga sibuk dengan kail-kailnya. “Ini sudah termasuk bersih mbak. Biasanya kotor sekali,” jelas Segara. Akhir pekan, Sabtu dan Minggu, menurutnya merupakan pilihan paling tepat untuk memancing di Sungai Badung. Sebab, pembersihan sepanjang aliran sungai dilakukan pihak Pemerintah Kota Denpasar setiap hari Kamis. “Kalau belum dibersihkan, kita nggak bisa mancing kayak gini,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Badung, masih menjadi pilihan bagi para pemancing untuk menyalurkan hobinya. Padahal di awal Maret ini, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bali telah menyatakan sungai ini tercemar oleh bahan-bahan kimia buatan. “Kami menemukan indikasi pencemaran,” jelas Kepala Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan, Bapedalda Bali, AA GA Sastrawan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 itu, air di kawasan hilir Sungai Badung ini merupakan salah satu yang tercemar berat dengan kandungan bahan-bahan kimia berbahaya jauh di atas ambang baku mutu. Nilai STORET, atau nilai perbandingan antara data kualitas air dengan baku mutu yang disesuaikan peruntukannya, dari air yang diteliti di hilir Sungai Badung ini mencapai minus 74. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, parameter mutu air dengan kualitas baik adalah dengan nilai STORET nol. Cemaran air di Sungai Badung dinyatakan berasal dari deterjen, minyak, nitrit, fosfat, Plumbun (Pb), Cadnium (Cd), dan bakteri E.Colli. Indikasi pencemaran juga dilihat dari meningkatnya kadar BOD (Biology Oxygen Demand/ parameter yang menunjukkan kadar bahan-bahan organic yang berasal dari limbah domestik, limbah makanan, dan dekomposisi bahan organik) serta kadar COD (Chemist Oxygen Demand /parameter yang menunjukkan kadar oksidasi bahan anorganik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma di Sungai Badung, hasil penelitian yang sama juga menemukan indikasi pencemaran pada 21 sungai lain di Bali. Diantaranya Sungai Medewi, Sungai Yeh Leh, Sungai Balian, Sungai Sungi, Sungai Mati, Sungai Ayung, Sungai Pakerisan, Sungai Petanu, Sungai Melangit, Sungai Jinah, Sungai Unda, Sungai Saba, Sungai Sangsang, Sungai Bubuh, Sungai Daya, Sungai Yeh Sumbul, Sungai Yeh Satang, Sungai Pulukan, Sungai Yeh Lebah, dan Sungai Panghyangan Pengragoan. Semua sungai tersebut di hampir seluruh kabupaten/kota di Bali. Untuk masing-masing sungai, penelitian difokuskan pada kawasan hulu, tengah, dan hilir. Hasilnya, sebagian besar sungai telah mengalami pencemaran berat dengan nilai STORET melebihi minus 30. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sastrawan, pencemaran dapat terjadi oleh berbagai hal. Pencemaran fosfat dan nitrit misalnya diduga karena kegiatan perkebunan, dan limbah pertanian dengan menggunakan pupuk kimia buatan. Pencemaran karena limbah industri makanan, limbah domestik, limbah rumah tangga, limbah tekstil, serta limbah umum lain seperti bekas baterai, cat, pengawet kayu, peralatan listrik, pelumas, peralatan fotografi, gelas, dan plastik, merupakan factor-faktor pencemar yang sangat mengganggu ekosistem. “Pencemaran umumnya disebabkan oleh aktivitas keseharian masyarakat yang tidak ramah lingkungan,” terangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik industri tekstil di kawasan bantaran Sungai Badung, merupakan pihak yang akhir-akhir ini paling dipersalahkan akibat pencemaran di Sungai Badung. Pihak Satuan Polisi Pamong Praja Kota Denpasar, bahkan gencar melakukan sidak kepada puluhan usaha pencelupan tekstil yang berada di bantaran sungai ini. Hasilnya, sebanyak sepuluh pengusaha telah dikenai denda masing-masing Rp 5 juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugeng, 36 tahun, merupakan salah satu yang bernasib sial. Tiga minggu lalu, pengusaha tekstil asal Banyuwangi Jawa Timur ini terpaksa mencari pinjaman uang ke teman dan tetangganya untuk membayar denda Rp 5 juta yang dijatuhkan dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring) di kantor Sat Pol PP Kota Denpasar. Sugeng dan sembilan rekannya sesama pengusaha penceluban tekstil, dinyatakan bersalah telah melakukan pencemaran dengan tidak melakukan pengolahan terhadap limbah tekstilnya. Bila tak membayar denda, bapak tiga anak ini diancam penjara selama tiga bulan. “Daripada dipenjara, saya akhirnya pinjam uang ke mana-mana. Syukurnya dapat,” cerita  Sugeng yang ketika itu hanya diberi waktu beberapa jam untuk membayar denda. “Diketok jam 10 pagi, maksimal jam tiga  sore harus sudah dibayar. Pusing juga waktu itu,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugeng sendiri mengaku telah menyadari kesalahannya. Limbah tekstilnya dibuang begitu saja tanpa pengolahan, di sebuah lubang tanpa lapisan beton. Akibatnya, terjadi perembesan limbah ke sungai dan sumur-sumur warga. “Saya tahu kalau saya salah. Tapi bagaimana lagi. Saya tidak ada biaya untuk membangun tempat pengolahan limbah,” Sugeng beralasan. Tapi, alasan Sugeng tak dipedulikan pihak Sat Pol PP Kota Denpasar. Lima juta rupiah tetap harus dibayarnya. “Uang lima juta itu sudah bukan lumayan lagi. Untuk dapat segitu, nggak mudah bagi pengusaha kayak saya,” ujarnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi sudah menjadi bubur bagi Sugeng. Maka ia mulai melakukan pembenahan. Kini, ia membangun sebuah tempat pengolahan limbah sendiri. Sedikitnya, enam lubang beton berukuran 2 meter x 1,5 meter x 2,25 meter, dibangunnya di tempat usahanya yang seluas 4 are. “Limbah –limbah itu nanti akan masuk ke setiap tahap di lubang-lubang ini. Jadi, ketika kami buang ke sungai, sudah bebas dari bahan pewarna,” ujar pria yang sudah 23 tahun tinggal di Bali itu, optimis. Ia berharap setelah ini usahanya bisa berjalan normal kembali, tanpa harus membayar denda karena kesalahannya. Namun di sela-sela wawancara, ada seorang oknum petugas SatPol PP Kota Denpasar datang. Tiga lembar ribuan langsung dikeluarkan dari sakunya, diserahkan kepada si empunya kostum coklat-coklat itu. “Biasa mbak, tiap hari juga begitu,” tandas Sugeng santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya permainan oknum aparat yang cenderung membiarkan pencemaran untuk alasan ekonomi pribadi, memang menjadi masalah klasik yang mempersulit upaya menyetop pencemaran. Seperti diakui Made Segara. “Petugas kadang-kadang heboh melakukan penertiban. Tapi kadangdiam-diam aja. Nggak tahu juga. Jaman sekarang, pake pelican aja, semua pasti selesai,” keluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, meski mengetahui hasil penelitian Bapedalda, Segara tak khawatir memancing di lokasi tersebut. Menurutnya, Sungai Badung masih cukup bersih dibandingkan sungai-sungai lain. Selain itu, ikan di Sungai tersebut juga cukup enak dibandingkan ikan di sungai lain. “Saya pernah mancing di sungai lain, malah airnya biru. Waktu saya masuk sungai, kaki saya warna biru. Ikannya waktu saya makan juga, terasa kayak ada bahan kimia. Kalau di sini, ikannya masih enak,” Segara beralasan. &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Bagaimanapun caranya, pencemaran lingkungan harus segera dihentikan. BapedaldaBali, menurut Sastrawan, telah berupaya mengimbau masyarakat melalui camat-camat di lokasi sungai-sungai tersemar, untuk segera melakukan sosialisasi tentang hidup sehat. Upaya penting untuk itu diantaranya dengan tidak membuang sampah ke sungai dan saluran drainase, tidak membuang limbah domestic langsung ke sungai, melakukan pengolahan limbah cair, melakukan penghijauan di Daerah Aliran Sungai, tidak melakukan pembangunan di area sempadan sungai, memperketat pemberian izin mendirikan bangunan di daerahresapan air hujan, membatasi penutupan pekarangan dengan semen, serta melakukan pengawasan terhadap unit usaha yang menghasilkan limbah. Tentu saja, upaya-upaya yang dilakukan perlu didukung oleh pola hidup ramah lingkungan dari masyarakat. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5779001911233802035?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5779001911233802035/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5779001911233802035' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5779001911233802035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5779001911233802035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/04/nila-bali-ternoda-deterjen.html' title='Nila Bali Ternoda Deterjen'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-1695830051854701082</id><published>2007-03-30T20:49:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T20:54:36.720-07:00</updated><title type='text'>Nila Bali Rasa Deterjen</title><content type='html'>Mata Ayu lekat-lekat menatap ujung joran milik sang ayah, Made Segara, 40 tahun. Belum lagi satu isapan rokok, pelampung pancing tampak bergoyang. Made pun refleks menarik joran. Hup... di ujung kail, seekor ikan nila menggelepar! Bocah dua tahun itu pun bertepuk girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ayu, ikut memancing pada Sabtu lalu itu bukan yang pertama. Segara sering mengajak putrinya itu memancing di Pintu Air Buagan, bagian hilir Sungai Badung, Denpasar, Bali, tiap akhir pekan. "Kadang-kadang saya bisa dapat 50 ekor ikan nila," kata Segara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segara mengaku telah hampir 20 tahun menyalurkan hobi memancing di Sungai Badung. Namun, selama setahun terakhir, ia mengaku keasyikannya memancing mulai terganggu. Apa sebab? Itu tak lain gara-gara sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang bantaran sungai, beberapa gunungan sampah teronggok begitu saja. Baunya? Hm... jangan ditanya. Bisa-bisa melekat bak parfum di tubuh. "Tapi ini sudah termasuk bersih lho. Biasanya kotor sekali," kata Segara kepada Gatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar sebenarnya telah mengadakan bersih-bersih bantaran Sungai Badung tiap Kamis. "Kalau belum dibersihkan, kami nggak bisa mancing kayak gini," tutur Segara. Ia pernah mencoba mancing di sungai lain. "Airnya malah bewarna biru. Waktu masuk sungai, kaki saya jadi biru. Ikannya terasa kayak ada bahan kimia ketika dimakan," kata Segara. Karena itu, tiap akhir pekan Segara lebih senang memancing di Badung. "Kalau di sini, ikannya masih enak," kata Segara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungai Badung, terutama di bagian tengah dan hilir, sudah jelas tercemar berat. "Kami menemukan ada indikasi pencemaran," ujar Kepala Bidang Pengawasan Dampak Lingkungan, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Bali, A.A. G.A. Sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2006, air sungai di kawasan hilir tercemar oleh polutan bahan-bahan kimia berbahaya jauh di atas ambang baku mutu. "Nilai Storet (storage and retrieval system)-nya mencapai minus 74," kata Sastrawan. Nilai Storet sering digunakan para ahli untuk menilai kualitas air. "Storet adalah nilai perbandingan data kualitas air dengan baku mutu. Nilai Storet yang baik sesuai baku mutu adalah 0," kata Sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bisa dibayangkan, seperti apa mutu air jika punya nilai hingga -74. Bapedalda menemukan adanya sejumlah polutan di sana. Dari deterjen, minyak, nitrit, fosfat, plumbum (Pb), kadnium (Cd), hingga bakteri Escherichia coli (E. coli). Kadar BOD (kebutuhan oksigen untuk proses biologi) serta COD (kebutuhan oksigen untuk proses kimia) juga tak memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Sungai Badung, Bapedalda juga menemukan indikasi pencemaran pada 21 sungai lain di Bali. Hasilnya, sebagian besar sungai telah mengalami pencemaran berat dengan nilai Storet -30 hingga -74 (lihat tabel). Menurut Sastrawan, pencemaran terjadi oleh berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencemaran fosfat dan nitrit, misalnya, disebabkan limbah kegiatan perkebunan dan pertanian yang menggunakan pupuk kimia buatan. "Selain itu, limbah industri rumah tangga juga banyak yang mencemari sungai. Semua ini karena aktivitas sehari-hari masyarakat yang tidak ramah lingkungan," ujar Sastrawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang harus diperhatikan adalah kehadiran E. coli. Bakteri yang biasanya hidup di usus besar manusia dan ternak ini dalam jumlah besar dapat berbahaya. Ia bisa menyebabkan diare, mencret, dehidrasi, dan muntah-muntah. Jika tak diimbangi dengan pasokan cairan yang cukup, penderita bisa meninggal. Sangat berbahaya bagi anak-anak atau mereka yang daya tahannya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, E. coli umumnya menyebar lewat makanan atau air minum yang terpapar oleh kuman ini. Bakteri ini juga bisa menular melalui sungai yang tercemar tadi. Amat berbahaya jika sungai yang tercemar kemudian ikut meracuni sistem air sumur penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Bapedalda Bali mengaku tak hanya mengeluarkan data. Mereka juga bekerja sama dengan Pemkot Denpasar mengusut biang pencemaran sungai. Hal itu dimulai dari puluhan industri tekstil di kawasan sungai. Satuan Polisi Pamong Praja Denpasar akhirnya berhasil menangkap basah 10 pemilik industri tekstil yang nakal, pertengahan bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dianggap bersalah karena tidak mengolah air limbah lebih dulu sebelum dibuang ke sungai. Masing-masing pengusaha didenda Rp 5 juta. Salah satu yang bernasib sial adalah Sugeng S., 36 tahun. Pengusaha tekstil asal Banyuwangi ini lintang pukang mencari pinjaman untuk bayar denda. "Diketok (putusan sidang) pukul 10 pagi, paling lambat pukul tiga sore sudah harus dibayar. Pusing juga," katanya. Soalnya, kalau tak membayar, ia bakal masuk bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugeng mengaku salah. Limbah tekstilnya dibuang begitu saja tanpa diolah pada sebuah lubang tanpa lapisan beton. Akibatnya, terjadi perembesan limbah ke sungai dan sumur warga. "Saya tahu saya salah. Tapi, bagaimana lagi? Tak ada biaya untuk membangun pengolahan limbah," tutur Sugeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini Sugeng mengaku kapok. Ia segera membangun tempat pengolahan limbah enam lubang beton berukuran 2 x 1,5 x 2,25 meter. "Limbah-limbah itu akan masuk ke setiap tahap di lubang-lubang ini. Jadi, ketika kami buang ke sungai, sudah bebas dari bahan pewarna," kata Sugeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, patroli kebersihan sungai ini angin-anginan. "Petugas kadang-kadang heboh razia pencemaran sungai, tapi kadang-kadang diam saja. Ada juga yang pakai "pelicin", langsung selesai," ujar Segara. Jika begini terus, ikan nila hasil tangkapan bakal berasa deterjen. &lt;br /&gt;[Nur Hidayat, dan Komang Erviani (Denpasar)]&lt;br /&gt;[Lingkungan, Gatra Nomor 20 Beredar Kamis, 29 Maret 2007]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-1695830051854701082?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/1695830051854701082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=1695830051854701082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1695830051854701082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/1695830051854701082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/03/nila-bali-rasa-deterjen.html' title='Nila Bali Rasa Deterjen'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-3982375096409730469</id><published>2007-02-17T02:20:00.001-08:00</published><updated>2007-07-17T02:21:54.876-07:00</updated><title type='text'>Pejantan yang Tak Berkembang</title><content type='html'>Sejak masih kanak-kanak, Andi, sebut saja begitu, memiliki kelainan di bagian kemaluannya. Ukuran penisnya tak kunjung berkembang. Hingga usia 19 tahun, penisnya hanya berukuran panjang 2,5 cm. Andi mengalami mikropenis, keadaan di mana perkembangan penis terhambat. Tidak cuma itu. Kulitnya juga tidak berkembang. Kulitnya mulus, bersih dari pertumbuhan rambut kelamin, kumis, jenggot, atau rambut-rambut lain yang biasa menjadi tanda kedewasaan fisik laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pertumbuhan penis yang terhambat (mikropenis,red), menurut Androlog dan Seksolog, Prof.Dr.dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd,FAACS, bukanlah hal baru. Bahkan kasus mikropenis umumnya terjadi pada anak-anak. Wimpie bahkan mengaku telah menemukan ratusan kasus mikropenis. “Sejak dulu sudah ada,” tegasnya. Meski demikian, Wimpie mengakui jumlah kasus yang ditemukannya cenderung meningkat sejak beberapa tahun terakhir. “Ada dua kemungkinan. Mungkin karena memang jumlah kasusnya lebih banyak. Mungkin juga para orang tua sekarang makin sadar mengobati anaknya,” jelas Wimpie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara medis, Wimpie menyebut mikropenis disebabkan oleh karena hormon-hormon dalam tubuh yang tidak berfungsi bagus. Ketidaknormalan fungsi hormon-hormon itu, pada akhirnya menyebabkan tidak berfungsinya hormon testosteron. Kondisi ini biasa disebutnya sebagai Hypogonadism. “Hormon testosteron yang tidak berfungsi bagus inilah yang membuat perkembangan penis terhambat,” lanjut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berfungsinya hormon spesifik pada laki-laki itu, diperkirakan karena ada cemaran bahan-bahan yang dapat menghambat fungsi hormon testosteron ke dalam tubuh anak. “Bisa jadi dari makanan, bisa dari menghirup bahan itu, bisa juga yang lain. Apapun. Pokoknya semua bahan yang masuk ke tubuh yang mengganggu hormon testosteron,” ujar Wimpie. Sayang, Wimpie enggan merinci bahan-bahan yang dimaksud. Ia hanya menyebut bahan-bahan tersebut berupa bahan yang memiliki fungsi mirip hormon estrogen (hormon spesifik pada perempuan). “Estrogen itu adalah antinya testosteron. Jadi apapun bahan yang masuk ke tubuh, dalam bentuk apapun, kalau bahan itu berfungsi seperti estrogen, akan menghambat perkembangan penis,” tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan penis yang terhambat akibat kelainan hormon, ditegaskan Wimpie, tidak dipengaruhi faktor orang tua. Menurut Wimpie, testosteron yang menipis pada orang tua saat melakukan hubungan seks, tidak menurunkan kondisi yang sama pada anak yang dihasilkan. “Semua orang dewasa pasti akan menurun fungsi testosteronnya kalau sudah tua. Bukan berarti kalau dia punya anak, terus anaknya begitu (testosteron tidak berfungsi),” tegasnya. Terganggunya fungsi hormon pada anak tidak dipengaruhi orang tua, melainkan pada pola hidup si anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, faktor orang tua dapat berpengaruh bila mikropenis yang dialami terjadi akibat kelainan genetik. Secara ilmiah, mikropenis akibat kelainan kromosom ini biasa disebut Klinefelter’s Syndrome. Namun kasus mikropenis akibat genetik yang terganggu, menurut Wimpie, jarang terjadi. Dari ratusan kasus yang ditemukan Wimpie, menurutnya hanya 2 kasus yang terjadi akibat kelainan &lt;br /&gt;genetik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mikropenis pada dasarnya dapat disembuhkan melalui terapi hormon. Umumnya, penyembuhan bisa dilakukan dalam dua bulan, dengan kuantitas terapi dua kali seminggu. “Bisa disembuhkan, asal tidak terlambat,” tegas Wimpie. Dikatakan, terapi tidak hanya memfokuskan pada perkembangan penis saja, tetapi juga fertilitas (kesuburan) si pasien. Jadi, perkembangan testisnya juga harus menjadi perhatian. Karenanya, terapi sebaiknya dilakukan sebelum anak menginjak usia remaja. Usia paling idel untuk pengobatan, adalah di bawah 10 tahun. Kalau pasien datang setelah lewat usia remaja, biasanya penis bisa berkembang, tetapi tidak testisnya. “Pasien tertua yang pernah saya terima, umur 21 tahun. Itu sudah lewat sekali. Dengan pengobatan, penisnya masih bisa berkembang. Tapi testisnya nggak bisa,” ujar Wimpie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, agar pengobatan tidak terlambat, penting bagi para orang tua memperhatikan kelainan yang mungkin terjadi pada kelamin putranya. Wimpie menyebutkan bahwa pada kondisi normal, bayi berusia sampai 6 bulan memiliki penis dengan panjang sekitar 2 cm. “Setelah itu akan terus berkembang. Pada usia 7 tahun, idealnya sudah mencapai panjang 4 cm. Kalau tidak, bisa jadi tidak normal,” tambahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus mikropenis tidak bisa dianggap sebagai kasus biasa yang tidak penting diatasi. Pasalnya, mikropenis dapat mempengaruhi masa depan si anak. Wimpie menyebut, bila anak mikropenis tidak diobati, si anak akan hidup tidak normal. “Bukan hanya punya mikropenis. Kualitas hidupnya nggak akan bagus. Berpengaruh ke keseluruhan hidupnya. Ototnya tidak berkembang, kulitnya tidak berkembang, tulangnya juga tidak normal,” tandas Wimpie. Hormon testosteron tidak hanya berpengaruh pada perkembangan penis, tapi pada seluruh tubuh. “Kalau tidak diobati, dia tidak akan berkembang menjadi pria remaja dewasa normal,” tegas Wimpie. Testosteron yang tidak normal dapat juga dapat berakibat pada disfungsi ereksi, gairah seks yang rendah, infertilitas (ketidaksuburan) dan sejumlah akibat lain. Mikropenis hanyalah salah satu ciri kelainan yang paling mudah dikenali sejak usia anak-anak. “Pada anak-anak, ciri-ciri tidak normalnya testosteron tidak terlalu kelihatan. Dia kan belum punya gairah seks. Yang paling kelihatan, ya mikropenis,” tandas Wimpie. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-3982375096409730469?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/3982375096409730469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=3982375096409730469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3982375096409730469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/3982375096409730469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/02/pejantan-yang-tak-berkembang_17.html' title='Pejantan yang Tak Berkembang'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7773909146439955711</id><published>2007-02-12T22:55:00.000-08:00</published><updated>2007-07-20T22:56:32.494-07:00</updated><title type='text'>Perjuangan Panjang Melepas Kecanduan</title><content type='html'>Kecanduan narkoba membuat sejumlah anak muda nyaris kehilangan masa depannya. Mereka berjuang keras untuk bisa lepas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah seluas dua are di kawasan Denpasar Barat, seperti tak berpenghuni. Cat putih yang menempel di temboknya, sudah tampak kusam. Tak terlihat perabot-perabot rumah tangga seperti biasa. Tak ada meja, kursi, bahkan almari. Hanya sebuah rak kayu yang sudah berumur, berdiri tegap di ruang keluarga. Lantai dari keramiknya basah di sana sini ketika hujan deras mengguyur Kota Denpasar, 18 Desember 2006 lalu. “Banjir semua nih. Maklum, atapnya bocor,” ujar I Gusti Ngurah Wahyunda, 26 tahun, si empunya rumah.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wahyu, begitu ia biasa disapa, kini menjadi orang yang bertanggung jawab atas rumah milik orang tuanya itu. “Orang tuaku sudah balik ke kampung. Mereka stress ngelihat aku dulu. Katanya, urus diri kamu sendiri,” kenang Wahyu. Tak sendirian, Wahyu juga harus merawat anak laki-laki semata wayangnya yang kini berusia 10 tahun. Setiap pagi, ia harus mengantar anaknya yang kini duduk di kelas empat sekolah dasar (SD) itu ke sekolahnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hidup Wahyu kini memeng jauh lebih teratur dari sebelumnya, ketika ia masih sangat tergantung dengan narkotika, psikotropika, dan obat-obatan berbahaya lainnya (narkoba). Dunia adiksi pernah seperti tak bisa dilepaskannya. Kecanduan itu pula yang menghabiskan semua perabot yang ada di rumah orang tuanya itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wahyu mengenal narkoba ketika duduk di kelas dua SMA. Ketika itu, Wahyu seringkali melihat teman-teman sekolahnya menyuntikkan PT (baca: pete), nama jalanan heroin atau putauw. Selama tiga bulan pertama, Wahyu sama sekali tak tertarik untuk ikut-ikutan. “Soalnya aku takut sama jarum suntik,”cerita Wahyu. Keinginan menggunakan PT mulai muncul setelah ia melihat teman sekelasnya yang berprestasi di sekolah, tiba-tiba menjadi tak karuan. Sakauw (sakit karena putauw) membuat sang teman malas ke sekolah. “Ngelihat itu, aku jadi tertantang. Aku pikir, masa sih barang sekecil ini bisa membuat orang jadi begitu? Paling-paling karena dia lemah. Dari sana, aku coba ah,” kenang Wahyu. Keinginannya untuk mencoba makin kuat, ketika ia tahu kalau tak harus menggunakan jarum suntik untuk pakauw (pake putauw). “Katanya bisa didragon (dihirup dengan hidung,red). Jadi, aku coba aja,” begitu pria berpostur sedang itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baru satu kali pakauw, Wahyu merasa sudah bisa membuktikan kalau PT tak ada apa-apanya. Ia belum merasa kecanduan atas barang yang saat itu masih didapat gratis dari teman-temannya. Sejak itu pula, ia mengenal lebih dekat beberapa jenis narkoba lain. Mulai dari pil koplo, ganja, hingga alkohol. Semuanya digunakan secara bergantian, tergantung situasi. Beberapa bulan setelahnya, Wahyu baru merasa ada yang tak beres. Sekolahnya kacau karena terlalu banyak membolos. Sampai-sampai, ia harus dua kali pindah sekolah untuk bisa lulus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selepas SMA, Wahyu memutuskan melanjutkan kuliah ke sebuah institut di Malang, Jawa Timur. Maksudnya, agar ia bisa menghindari narkoba di Bali. Ia memboyong serta istrinya yang dinikahi selepas SMA. Satu semester pertama di kampusnya, Wahyu sukses lepas dari narkoba. Namun setelah itu, pergaulan narkoba kembali ditemukannya. “Ternyata, di sana (Malang,red) justru lebih banyak (pergaulan narkoba,red). Mulai lah make lagi,” terangnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun make PT, kecanduan fisik baru dirasakan Wahyu di Malang. Itu diperkirakan karena baru selama di Malang, ia mulai rutin make PT. Tak ada lagi perpaduan dengan ganja, koplo, atau yang lainnya. Awalnya, Wahyu tak menyadari sakauw (sakit karena putauw,red) pertamanya. Badannya yang terasa seperti demam dan pusing-pusing, ia pikir hanya sakit biasa. Beberapa obat demam dari warung sempat dicoba. Tapi oleh seorang teman, ia ditawari untuk make PT. Katanya, pakauw merupakan obat paling ampuh. “Temanku bilang, coba aja. Aku jamin, pasti sembuh,” cerita pria asal Kabupaten Badung itu. Benar saja, ia merasa kondisi badannya kembali pulih setelah pakauw. Sejak itu, PT tak pernah bisa lepas dari kesehariannya. Minimal dua kali sehari, ia harus pakauw. “Setiap meriang dikit, langsung hajar pake PT,” terang Wahyu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak itu pula, ia mulai mengenal pakauw dengan jarum suntik. “Biar lebih irit dan reaksinya lebih cepat,” begitu pria yang kini menjadi aktivis di sebuah yayasan penanggulangan narkoba itu. Untuk memenuhi kebutuhan pakauwnya, Wahyu harus mengeluarkan minimal Rp 50 ribu sehari. Ketika itu, harga satu paket putauw yang hanya sekitar 0,01 gram, masih seharga Rp 25 ribu. “Tapi Rp 25 ribu waktu itu lumayan gede. Harga rokok aja masih Rp 900  sebungkus,” jelas Wahyu sembari menyebut harga putauw ketika ia masih SMA hanya sekitar Rp 12 ribu.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kecanduan heroin makin lama makin tak mampu dikontrol Wahyu. Dosis yang harus dikonsumsinya makin hari makin tinggi. Ia bahkan bisa menghabiskan Rp 300 ribu sehari hanya untuk serbuk putih itu. Awalnya, Wahyu tak terbeban oleh ongkos Pakauw yang lumayan tinggi. Orang tuanya yang membuka usaha di kawasan wisata Kuta, berhasil dikibuli Wahyu. Ada saja alasan wahyu untuk meminta transferan uang. Mulai dari keperluan istri dan anaknya yang masih bayi ketika itu, biaya kos, bayar SPP, beli buku, sampai urusan skripsi. “Seribu satu alasan deh. Orang tua juga nggak curiga. Rata-rata, aku dikirimin Rp 200 ribu sehari,” cerita Wahyu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, kecanduan heroin yang menjadi-jadi, tak mampu dikendalikannya. Transferan uang dari orang tuanya, tak cukup memuaskan kebutuhan pakauwnya. Semua perabot di rumah, ludes digadaikan. Komputer, TV, bahkan lemari. Rumah yang dikontrakkan orang tuanya untuk ia dan keluarganya pun, diover kontrak ke orang lain. “Aku akhirnya ngekos,” kenang Wahyu. Bertahun-tahun, belangnya belum ketahuan oleh orang tuanya. Maklum, Wahyu masih bisa mendongkrak indeks prestasinya di kampus. “Karena IP ku masih bagus, ya orang tua nggak curiga,” terangnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belangnya baru terbongkar ketika sang istri merasa tak tahan, dan melapor ke orang tuanya. Sang istri yang yang sudah memutuskan pisah rumah sejak setahun setelah menikah, sebelumnya sering diminta berbohong agar mendapat uang dari orang tuanya. Rupanya, kesabaran sang istri ada batasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laporan istrinya, membuat orang tua Wahyu geram. Segala cara dicoba untuk menyembuhkan kecanduannya. Sejumlah tempat rehab di Malang dan Jakarta sempat dicoba. Bahkan, Wahyu yang datang dari keluarga berkasta di Bali, pernah dimasukkan ke sebuah pesantren. Tapi, semua upaya rehab itu gagal buat Wahyu. Mungkin karena putus asa, orang tua Wahyu bahkan sempat berencana “membiayai” kecanduan Wahyu, asal Wahyu bisa menamatkan perkuliahannya. “Aku sampe ditanya, kamu perlu berapa untuk make (make putauw,red) biar bisa lulus?” kenang Wahyu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Baru di tahun 2000, Wahyu memutuskan kembali ke Bali. Ia mencoba sebuah tempat rehab di Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). Setelah dua minggu menjalani rehab, Wahyu sempat yakin untuk bisa kembali kuliah. Namun angannya gagal lagi. Ia gaul lagi dengan PT. Semua barang-barang di rumah kontrakannya yang sudah ditebus oleh orang tua, dijual. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah empat bulan, ia balik lagi ke Bali. Kali ini, ia merasa ingin benar-benar tobat. Ia memutuskan meninggalkan kuliah jurusan Teknik Planologinya, dan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Upaya menata kembali hidupnya, setelah orang tuanya sudah putus asa dan memberi kebebasan, mendapat jalan terang. Ia ditawari bekerja di Yakeba, yayasan penanggulangan narkoba, tempatnya menjalani rehab. Waktu itu, hari-harinya kembali berwarna dengan kegiatan penyuluhan anti narkoba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Relaps, jadi momok yang terus saja menghambat upaya Wahyu untuk menata hidup. Sejumlah rehab di Bali kembali dicobanya. Entah kenapa, sulit bagi wahyu untuk melepas dunia adiksi yang telah membuainya. Karena harga barang yang makin mahal, dosis yang dibutuhkannya makin tinggi, sementara tak ada lagi subsidi dari dari orang tua, semua barang di rumahnya ludes dijual. Setelah semua ludes, jalan kriminal jadi pilihan. Kebutuhan putauwnya ketika itu makin tak terkontrol, mencapai Rp 500 ribu per hari. Maklum, harga PT pun terus saja naik. Per paket, ia harus membeli seharga Rp 60 ribu.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun Wahyu mengaku selalu berhati-hati saat pakauw. Ia tak berani menggunakan dalam jumlah banyak sekaligus. “Aku biasanya pake sedikit dulu. Kalau belum terasa, baru aku pake sedikit lagi. Takut OD (over dosis),” ujar Wahyu yang mengaku dua temannya sudah meninggal di depan matanya karena OD. Wahyu sendiri pernah mengalami hal aneh ketika habis pakauw. Ia tak sadarkan diri selama 7 jam. “Temanku bilang, aku OD. Aku dipukul-pukul gak sadar. Tapi aku nggak merasa. Aku cuma seperti baru bangun tidur,” terang Wahyu.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tahun 2003, ia tertangkap karena kasus penjambretan. Sembilan bulan Wahyu menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan. Di LP, Wahyu tetap tak mampu meninggalkan hobinya. Apalagi, PT lebih mudah didapat di dalam LP, dengan harga yang justru lebih murah. Harga PT di dalam LP ketika itu hanya sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per paket. “Di dalam (LP)  justru banyak BD (bandar). Jadi lebih gampang dapat barang,” jelasnya. Uang dari teman-teman yang membesuk, digunakannya untuk pakauw.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tepat di tanggal 17 Agustus 2004, ketika ia mendapat remisi bebas, menjadi titik balik kehidupan Wahyu. Setelah bebas, Wahyu langsung diboyong ke kampung oleh orang tuanya. Rasa malu dengan masyarakat sekitar, juga kasihan melihat orang tua, membangun kesadarannya. Ia mulai bangkit, dan bertekad untuk melepaskan hidupnya dari PT. Beberapa bulan, ia berkutat dengan aktivitas barunya di kampung, beternak ayam. Tekadnya makin kuat ketika ia memutuskan bekerja di sebuah tempat persewaaan VCD di Kuta dengan gaji hanya Rp 250 ribu sebulan. “Dari sana aku sadar, sulit sekali cari uang yang halal,” begitu Wahyu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, Wahyu menjadi Program Manager Yayasan Kesehatan Bali, yayasan penanggulangan narkoba yang pernah menjadi tempatnya menjalani rehab. Wahyu mulai menata hidupnya, dengan melakukan pendampingan kepada para pecandu lainnya yang masih terpuruk dalam jerat narkoba. Tak mudah bagi Wahyu untuk meninggalkan hobinya, di tengah pergaulan dengan para pecandu aktif. Suggest untuk pakauw lagi, diakui masih sering muncul. Terutama bila ia mengingat masa lalu, kegagalannya menjadi orang yang diharapkan orang tua, juga bila melihat kesuksesan adik-adik dan keponakannya tanpa narkoba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun tekad Wahyu sudah bulat. Tanggal 16 Agustus 2004, harus menjadi hari terakhir ia pakauw. ”Kalau saja aku nggak make. Kalau dihitung-hitung, sudah ada Rp 500 juta aku buang cuma buat putauw. Kalau aku tabung, mungkin aku sudah punya macam-macam sekarang,” keluhnya. Apalagi ia punya tanggung jawab merawat anak semata wayangnya. Selain itu, kepercayaan sudah muncul kembali dari orang tuanya. Orang tuanya yang kini menjalani bisnis agro di kampungnya, sudah menawarinya untuk meneruskan bisnis mereka. “Tapi aku sendiri merasa belum mampu mengontrol diri sendiri. Aku masih perlu kontrol dari orang lain. Aku nggak mau terjebak lagi,” tegas Koordinator Ikatan Korban Napza (IKON) Bali, paguyuban para mantan pecandu yang getol mengadvokasi penghapusan stigma terhadap pecandu narkoba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Senada dengan Wahyu, Dayu Rupini (32 tahun) kini juga punya tekad serupa. Ibu satu anak ini tak mau lagi mengenal narkoba.  Pasalnya, narkoba sudah mengubah hidupnya. Tekad Dayu Rupini merantau ke Denpasar dari kampungnya di Bedugul, Tabanan Bali, untuk menuntut ilmu di SMA di Denpasar, justru membawanya ke dalam jebakan narkoba.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dayu mengenal narkoba dari pacarnya sendiri. “Terus terang, saya tidak ngerti saat itu. Karena ditawarin pacar, saya takut ditinggal sama dia, saya mau,” jelasnya. Apalagi, dari 50 orang teman sekelasnya waktu itu, sekitar 25 persennya pake narkoba. Sebelum mengenal putauw, Dayu terlebih dahulu diperkenalkan dengan rokok, minuman keras, obat penenang (nipam), shabu, dan ekstasi. Setiap hari, diskotik jadi tempat tujuannya. Minum shabu atau menghisap shabu dengan bong, selalu dilakukan sebelum berangkat menikmati house music. Hingga suatu kali, ia ditawari putauw. Kebetulan, saat itu ia tengah kelelahan setelah semalam suntuk ke diskotik. Oleh sang pacar, putauw dikatakan bisa mengembalikan energinya. “Ternyata bener. Saya seger lagi,” tandasnya. Sejak itu, Dayu tak bisa melepaskan diri dengan putauw. “Waktu sekolah, saya nggak pernah ikuti pelajaran. Gimana saya ikut pelajaran? Saya sakauw. Orang-orang belajar di depan, saya stone di belakang. Kepala sekolah sampai bosan lihat saya. Makanya diluluskan saja dengan nilai tidak memuaskan,” ujar Dayu sambil tertawa.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lepas dari SMA, Dayu berpura-pura ingin melanjutkan kuliah. “Duit untuk kuliah saya pakai beli narkoba. Nggak mikir gimana hari depan saya,” kenangnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal pakauw, Dayu mengaku hanya dengan dragon (dihirup). Tapi lama kelamaan, kantongnya mulai berat memenuhi kebutuhan putauw yang harganya masih Rp 10 ribu per paket ketika itu. Apalagi, pacarnya juga sudah tidak punya biaya lagi untuk membayari kebutuhan putauwnya. Sementara dalam sehari, ia membutuhkan sedikitnya Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu hanya untuk beli putauw. Pakauw dengan jarum suntik kemudian jadi pilihan, karena lebih irit. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk bisa terus pakauw, segala cara dilakuakan Dayu. Mencuri perhiasan orang tuanya, menjual sepeda motor yang dibelikan untuk kuliah, dan menyebar kebohongan-kebohongan untuk dapat uang. Di tahun 1998, kebobrokan Dayu ketahuan orang tua. Gara-garanya, ia tertangkap tangan membawa 1 gram putauw bersama pacarnya. Keduanya divonis penjara 4 bulan. Orang tuga keduanya pun saling menyalahkan. Sejak itu, Dayu putus dengan pacar yang menjerumuskannya itu. Orang tuanya sangat dikecewakan Dayu. Apalagi, ia sempat diberi kepercayaan untuk menjaga dua adiknya untuk tinggal di Denpasar. Ia dan adik-adiknya bahkan dikontrakkan rumah di Denpasar. “Kedua adik saya sempat juga nyoba make, karena terlalu setring lihat saya make. Untungnya mereka nggak keterusan. Adik saya malah muntah-muntah habis pake. Sekarang, mereka udah jadi orang sukses,” ujar Dayu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lepas dari penjara, juga dari pacarnya, Dayu tetap tak bisa lepas dari putauw. Karena tak ada lagi kepercayaan dari orang tua, Dayu harus mengupayakan sendiri biaya untuk membeli putauw. Ia bahkan sempat harus “menjual diri” kepada sejumlah BD (bandar) untuk dapat putauw. “Jadi, setiap malam aku cari duit untuk bisa terus make,” sesal Dayu. Pindah dari satu BD ke BD lain, terus dilakukan Dayu agar bisa terus pakauw. “Bayangkan, saya make dari heroin masih seharga Rp 10 ribu per paket, sampai 150 ribu per paket. Di mana cari duit? Ya kriminal,” tambahnya. Dayu beruntung, ia tidak pernah mengalami OD. Menurutnya, ia cenderung berhati-hati saat make. ”Aku pake sedikit-sedikit. Nggak berani langsung banyak. Kalau pake sampai 1 gram langsung misalnya, bia aja OD,” begitu Dayu yang mengaku tahu hanya dari pengalaman. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan salah seorang BD yang dikencaninya, Dayu bahkan sampai hamil. Beruntung, BD yang sudah beranak istri itu mau bertanggung jawab menikahinya di bawah tangan. Tapi satu syarat yang harus diterima Dayu, ia dicerai setelah anaknya berusi tiga bulan. Beruntung, orang tua Dayu yang petani di desanya, mau mengurus anak laki-lakinya yang kini sudah berusia 7 tahun.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tahun 2002, Dayu kembali ditangkap polisi. Kali ini, gara-gara ia ketahuan membawa enam paket putauw. “Kebetulan lagi stone, nyari taksi mau ke pulang Bedugul. Tapi ketahuan polisi, ditangkap,” jelasnya. Namun ia hanya dipenjara 8 bulan. “Saya ditebus orang tua. Memang begitulah, saya masih dimanja orang tua waktu itu. Pecandu seharusnya tidak boleh terlalu dimanja. Pecandu harus dicintai. Bukan dengan dikasi uang, tapi dengan diberi kasih sayang,” terangnya mencoba memberi saran bagi orang tua pecandu lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keluar dari LP Kerobokan, keluarga besar Dayu di kampung sempat menolak kehadirannya. ”Saya nggak diterima. Mereka ngusir saya dari rumah,” jelasnya. Beruntung, orang tua Dayu masih menyayanginya. ”Mereka mendukung saya masuk ke methadone (terapi methadone). Awal ikut terapi methadone, saya tetap make putauw. Tapi lama-lama, saya berhasil juga ninggalin putauw,” terang Dayu senang. Terapi methadone merupakan terapi substitusi heroin yang dikonsumsi dengan diminum. Terapi ini resmi diterapkan di Indonesia untuk mengurangi penggunaan jarum suntik di kalangan pecandu narkoba. Setelah tiga tahun menjalani terapi methadone, Dayu akhirnya berhasil melepaskan diri dari segala macam narkoba. Bersih di methadone setelah 3 tahun. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah bersih, Dayu memutuskan untuk aktif di Yakeba.“Dulu cita-cita saya jadi guru. Setelah jadi pecandu,  saya jadi guru dengan mengisi testimoni soal kehidupan saya di sekolah-sekolah di Denpasar dan Gianyar. Sekadar untuk memberi gambaran kepada mereka, aagar jangan sampai terjerat narkoba seperti aya,” ujar Dayu. Ia membayangkan, kalau saja uangnya tidak digunakan untuk membeli putauw, mungkin ia sudah bisa beli rumah dan mobil sendiri. ”Saya habiskan ratusan juta rupiah cuma untuk putauw,” keluhnya.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dayu yang kini aktif sebagai petugas lapangan program distribusi jarum suntik untuk pecandu narkoba, sebuah program resmi yang dilaksanakan di Bali sejak 2002 lalu, mengaku sedih melihat banyak teman barengnya dulu yang sudah meninggal. Yang jelas, satu prinsip Dayu yang selalu dipegangny kini, ia tak mau lagi mencoba narkoba. ”Rokok merupakan jalan menuju narkoba. Jangan coba-coba,” tegas Dayu mengingatkan para remaja. Apalagi, banyak klien pecandu yang jadi dampingannya sekarang, merupakan anak-anak SMA sepertinya dulu. ”Saya berusaha ajak mereka untuk meninggalkan narkoba. Tapi kalau memang nggak bisa, setidaknya mereka jangan memakai jarum suntik bergantian, karena berisiko tertular HIV,” tegasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hubungan pertemanan yang salah, memang bisa jadi jalan utama bagi seseorang terjebak narkoba. Galle, 32 tahun, juga mengalaminya. Waktu itu tahun 1998, ketika ia masih duduk di bangku SMP, teman-temannya sudah mengajak menghisap rokok. DI bangku SMA, pergaulannya berkembang ke minuman keras. Ditambah kemudian dengan obat-obatan penenang sejenis Nipam, lantas ganja. Menurut Galle, rasa ingin tahu yang tinggi ditambah banyaknya masalah keluarga yang dihadapinya waktu itu, membuatnya tergiur mencoba. Sejarah candunya pun cukup panjang. Beberapa kali mencoba menjauh, tapi Galle selalu gagal. Ia bahkan mulai mengenal putauw beberapa tahun kemudian. Awalnya, putauw hanya didragon. Namun gara-gara sempat masuk Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, karena ketahuan mencuri untuk beli putauw, ia mulai memilih jalan menyuntik. Serbuk putauw dicairkan dengan air, lantas disuntikkan ke tubuhnya. Galle mengaku tak belajar khusus untuk menyuntik. Prinsipnya sederhana, hanya perlu mencari urat untuk disuntikkan. ”Nggak ada yang ngajarin. Cuma lihat teman-teman aja,” begitu bapak 2 anak ini. Make dengan untik, mencurutnya jauh lebih irit. Perbandingannya dengan dragon, mencapai 1 banding 3. Artinya, untuk efek yang sama, didragon memerlukan putauw tiga kali lebih banyak dibandingkan disuntikkan.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Delapan bulan penjara, tak membuat Galle jera. Ia kembali mencari komunitas lamanya di Kuta. Ia dan temannya biasa mencari wisatawan, untuk ditawari narkoba. ”Kita jual ke mereka segala macam. Mulai mushroom sampai kokain. Kalau dapat BR (barang), kita make bersama. Kadang juga dapat cubitannya. Jadi lebih untung,” jelasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keuntungan yang didapat dari berbisnis, membuat Galle tak pernah kehabisan biaya untuk dapat barang. Meskipun harga heroin pada waktu itu sudah cukup tinggi, mencapai Rp 25 ribu per paket. Tapi, pernah sesekali ia kesulitan mencari barang. Biasanya, itu terjadi bila polisi sedang gencar melakukan operasi. ”Kalau masalah biaya, saya nggak pernah punya masalah,” jelasnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tahun 1997, Galle terjerat kasus hukum lagi. Bukan soal narkoba, tapi dampak dari narkoba itu. Ia terlibat kasus kekerasan dengan seorang tamunya asal Australia. ”Saya berkelahi dalam kondisi ngggak sadar, habis kena drugs,” jelas Galle yang ketika itu divonis penjara 6 bulan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lagi-lagi, di LP ia tetap bisa make. Namun setelah keluar dari LP, ia mencoba mengurangi pemakaian putauw. Itu berkat desakan dari pacarnya sendiri. Tapi untuk pengalihan, ia tetap memakai shabu dan cimeng (ganja,red). Kebutuhannya akan ganja lumayan tinggi. Sedikitnya, 3 sampai 4 kali sehari ia harus kena ganja. Waktu itu, ia masih bisa membeli murah, hanya Rp 10 ribu per am (per amplop). Tapi, ketika terakhir make, harganya mencapai Rp 50 ribu per am.”Make putauw sih masih dikit, tapi nggak jarum suntik. ”Karena dua temanku meninggal di kontrakanku sendiri karena OD make putauw,” jelas Galle. Ketika itu, temannya yang baru keluar dari LP memutuskan menumpang di rumah kontrakannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya di tahun 1999, Galle sukses meninggalkan PT. Tapi Cimeng dan Ekstasi, tetap jadi temannya. “Prinsipnya waktu itu, yang penting nggak putauw. Karena waktu itu sudah tahu rasa sakitnya,” tandasnya. Galle mengaku sudah berhenti total dari kebiasaannya mengkonsumsi narkoba sejak tahun 2002. Tekad untuk berubah terutama didapat dari dukungan istri yang dinikahinya tahun 2001 lalu. Selain itu, Galle juga mendapat banyak dukungan dari LSM penanggulangan narkoba. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keseharian Galle kini memang belum lepas dari narkoba. Bedanya, kini ia tak lagi mau mencoba narkoba. Ia justru melakukan pendampingan terhadap pecandu narkoba yang masih aktif. Sejak 2002, ia menjadi petugas lapangan Yayasan Hatihati, yayasan penanggulangan narkoba di Bali. Kesepakatan dengan yayasan, bahwa petugas lapangan tidak boleh lagi memakai narkoba, juga menjadi pemacu semangat laki-laki berperawakan sedang ini untuk mencoba-coba narkoba. Meski ia mengakui, sugesti untuk memakai kadang tetap muncul. Sugesti itu terutama muncul ketika ia sedang menghadapi masalah. Terkadang, ketika ia mendengar house music, suges untuk menggunakan ekstasi juga muncul. Bila mendengar lagi reggae, suggest untuk make ganja muncul. Ia bahkan pernah tersuggest untuk menggunakan putauw ketika melihat beberapa klien dampingannya akan pesta PT. Tapi Galle tak mau terjebak. Ia selalu lari setiap kali sugges itu datang. “Memang suggestnya yang berat. Tapi saya nggak mau lagi. Apalagi sudah banyak teman yang OD,” tegas Galle. Setidaknya, biaya yang sudah ia keluarkan untuk narkoba diperkirakan sudah mencapai sekitar Rp 100 juta. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7773909146439955711?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7773909146439955711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7773909146439955711' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7773909146439955711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7773909146439955711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/02/perjuangan-panjang-melepas-kecanduan.html' title='Perjuangan Panjang Melepas Kecanduan'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-2933463171375869520</id><published>2007-02-10T02:10:00.000-08:00</published><updated>2007-07-17T02:12:51.678-07:00</updated><title type='text'>Taman Koral Demi Moral</title><content type='html'>Sebuah taman terumbu karang dibangun di area yang bukan habitat terumbu karang. Media tanamnya dialiri arus listrik. Sedimentasi tinggi mengancam pertumbuhannya. Dibangun untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setangkai bibit koral yang panjangnya tak lebih dari lima sentimeter, dipamerkan Wayan Patut kepada sejumlah turis di atas ponton berukuran sedang di perairan Sanur. Layaknya seorang pemateri, nelayan asal Desa Serangan itu serius menjelaskan cara-cara penanaman terumbu karang. Juga bagaimana cara perawatannya.”Bibit ini ditempel saja di atas substrat buatan, agar tidak goyang bila terkena arus,” jelas Patut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika briefing untuk penyelaman usai, semua wisatawan dibekali sebuah sikat halus berukuran kecil. Fungsinya, tak lain untuk membersihkan terumbu karang dari sampah dan kotoran-kotoran yang dapat mengganggu pertumbuhannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wahana wisata Sea Walker, sebuah wahana berjalan di bawah laut dengan menggunakan helm khusus, kini punya objek baru yang ditawarkan kepada turis. Tak cuma menikmati keindahan terumbu karang buatan Sanur yang telah dirintis sejak akhir 2005 lalu, wisatawan juga diberi kesempatan untuk berperan serta merawat terumbu karang itu. Dengan dibekali sebuah sikat halus, para wisatawan dipersilakan membersihkan karang-karang itu. Bahkan untuk bisa ikut membersihkan karang-karang itu, wisatawan diwajibkan membayar biaya tambahan 5 dolar AS per orang, di luar biaya wajib sekitar 55-65 dolar AS. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taman terumbu karang buatan di kedalaman sekitar 7 meter perairan Sanur, disebut dengan Taman Coral Sanur, memang telah menjadi daya tarik wisata baru dari Sanur. Pantai yang menjadi pintu masuk awaL para turis ke Bali di masa lampau itu, kini tak cuma dikenal karena sunrise, pasir putih, dan keunikan adat istiadatnya saja. Taman Coral Sanur juga jadi daya tarik tersendiri. Yang membuatnya makin unik, taman koral ditanam di area blank spot, area yang bukan habitat terumbu karang.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taman Coral Sanur dirintis bersama oleh aktivis lingkungan, pengusaha, nelayan, dan masyarakat wilayah Sanur sejak Desember 2005 lalu. Pembangunan taman bawah air itu, menurut penggagasnya Made Mangku, bermula dari terjadinya erupsi pantai yang sangat memprihatinkan di Sanur. Karang yang ada di daerah Palung Semawang, yang berfungsi sebagai barier, rusak sekitar 80 persennya. Itu membawa Sanur masuk alam kategori tingkat kerusakan karang terparah diantara pantai-pantai lain di Bali.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Mangku yang juga Koordinator Tim Revitalisasi Palung Semawang, banyak penyebab rusaknya terumbu karang Sanur. Dulunya, banyak masyarakat setempat yang mengambil karang secara illegal. Karang-karang itu dulunya banyak dijual untuk bahan bangunan. Selain itu, terjadi juga penangkapan ikan secara serampangan. Banyak nelayan ikan hias yang melakukan penangkapan dengan sianida potasium.”Ini jadi penyebab paling parah karena bagaimanapun, terumbu karang paling takut dengan getaran. Kerusakan makin diperparah akibat pembuangan limbah yang langsung ke laut dari sungai di wilayah sekitar Denpasar. Terjadi pula penutupan terumbu karang oleh sampah-sampah plastik yang dibawa arus. Ini banyak terjadi pada setiap musim timur dan tenggara, sekitar bulan Juli dan Agustus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Program transplantasi karang sanur, awalnya digarap secara komunal. &lt;br /&gt;“Awalnya kita masuk dengan mengumpulkan teman-teman yang ada, pebisnis, pengusaha. Kita yakinkan mereka untuk kerjasama, ternyata pengusaha mensupport. Kita sama-sama urunan. Ada yang ngasi tangki, regulator dan masker untuk perlengkapan menyelam, ada yang kasi nasi bungkus, dan lain-lain,” kenang Mangku. Hingga kini, program revitalisasi terumbu karang tersebut sudah disupport 15 orang pengusaha watersport, kelompok nelayan, dan masyarakat setempat  dari empat banjar dan satu kelompok, yakni dari Banjar Batu Jimbar, Banjar Semawang, Banjar Blanjong, Banjar Bet Ngandang, dan kelompok Tanjung. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada rencana awalnya, Taman Coral Sanur rencananya dibangun di atas lahan 5 Ha. Lahan yang semula hanya hamparan pasir itu, bakal dibagi dalam 3 zone. Terdiri dari zone kreatif, zone preservatif, dan zone konservatif. Taman Koral Sanur rencananya dibentuk dengan pola layaknya taman bunga. Ada pintu masuk di zona kreatif dengan deretan koral jenis acropora beraneka warna membentuk tulisan “Welcome to Sanur”.Tak kalah dengan taman-taman pada umumnya, ada juga terumbu yang membentuk pagar, rencananya memagari semua areal taman koral. Masing-masing zone, juga dipisahnya dengan pagar koral melintang. Taman Coral Sanur mengadopsi konsep pembangunan pura, dimana terbagi atas 3 area, jaba sisi (areal paling luar), jaba tengah (area tengah), dan jeroan (area dalam).  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Zone kreatif rencananya dibangun seluas 2 Ha. Zone pintu masuk taman coral ini menggunakan infrastruktur beton sebagai media. Metodenya dengan transplantasi, menggunakan substrat buatan berupa plamir. Substrat digunakan agar bibit koral bisa tertanam dengan kuat. Sedikit goyangan, bakal memperlambat pertumbuhan koral. Penggunaan plamir sebagai substrat, dilakukan setelah sejumlah substrat lain dicoba. “Pernah saya coba semen putih, ternyata lambat. Tidak efektif. Pemilihan substrat yang tepat sangat penting karena kalau substrat mengandung zat yang tidak sesuai dengan karang itu, karangnya akan mati,” tegas Mangku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di zone kreatif, bibit karang dibiarkan tumbuh secara alamiah. Hanya diperlukan perawatan sekitar 10 hari sekali untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang dapat menggaggu pertumbuhannya. Dalam 6 bulan, pertumbuhan krang biasanya agak pelan. Namun pada bulan ke-3, karang akan tumbuh cepat, sekitar 3 cm per bulan. Tiga bulan pertama biasa disebut proses survive bagi karang untuk tumbuh. Meski demikian, perawatan tetap harus rutin dilakukan sampai karang berusia minimal 1 tahun. “0-1 tahun adalah masa paling penting. Setelah itu, dibiarkan saja, kuat dia,” tegas Mangku.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di zone 2, atau zone preservatif yang direncanakan seluas 1,5 Ha, program transplantasi menggunakan sistem biorock. Media yang digunakan pada zone ini bukan lagi beton, melainkan besi. Untuk memicu pertumbuhannya, digunakan arus listrik bertegangan rendah 2,6 volt. Arus listrik berfungsi agar proses pengapuran lebih cepat sehingga lebih mudah menangkap mikroorganisme karang. Tapi teknik ini tak mudah, karena tangkapan soft coral dalam jumlah besar perlu dihindari. Soft coral yang tertangkap terlalu banyak dibandingkan hard coral justru dapat berdampak negatif bagi program transplantasi itu sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama dengan zone kreatif, koral di zone preservatif yang sudah dirintis April 2006 lalu juga membutuhkan proses survive. Bahkan proses survivenya lebih panjang, mencapai 6 bulan. “Karena di zone ini bisa ada goyangan. Kalau dengan media beton, angka hidupnya 90 persen. Dengan biorock, cuma 70 persen. Kecepatan tumbuhnya sama,” tambah Mangku yang Koordinator Sekretariat Kerja Penyelamatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (SKPPLH). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di zone akhir, zone konservatif, rencananya digunakan sistem tidal. Zone seluas 1,5 Ha tersebut bakal dibangun dengan konsep biorock, mirip zona preservatif. Bedanya, penggerak listrik yang digunakan dihasilkan dari turbin yang digerakkan ombak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hingga kini, pembangunan Taman Coral Sanur baru rampung sekitar 10 persennya. Di zone kreatif, sudah tertanam 50 are dari 2 Ha yang direncanakan. Masih ada sekitar 4000 bibit koral yang harus ditanam di zona ini. sementara di zone preservatif, baru tertanam 1000 bibit dari rencana 250.000 bibit. Zona konservatif rencananya baru akan dibangin di tahun ketiga, 2008 mendatang. Sejumlah terumbu karang dengan kerangka berbentuk  mirip pura, akan dibangun di areal ini. Juga bakal dipasang prasasti-prasasti yang ditandatangani para pejabat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sensitivitas yang tinggi dari terumbu karang, membuat proses transplantasi karang harus memperhatikan banyak hal. Pasir yang stabil, air jernih, matahari bagus, dan arus tembus, sangat penting bagi pertumbuhan karang-karang tersebut. Intrusi yang tinggi dan banyak limbah, akan mempersulit pertumbuhan coral. Begitu juga pasang-surut air laut, adanya air rusak, ombak besar, dan air kotor, akan mempersulit pertumbuhan koral. Sementara untuk proses penanaman, musim paling baik adalah musim barat, sekitar Desember-Februari. Air yang tenang di musim barat, membuat proses penanaman menjadi mudah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Suhu sedang juga sangat membantu. Suhu rata-rata daerah tropis, termasuk Indonesia, sangat bagus untuk pertumbuhan terumbu karang. Karenanya terumbu karang di negara ini sangat variatif dengan aneka warna. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemilihan lokasi blank spot, awalnya diharapkan untuk menghidupkan kembali tempat-tempat yang rusak oleh gerusan erosi. Ini menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, diperlukan media yang kuat memegang karang-karang tersebut. Meski begitu, bukan berarti tanpa kendala. Mangku sendiri mengaku kaget karena ternyata di areal penanaman terjadi sedimentasi yang sangat tinggi. “Sampai sekarang saya tidak berani janji ini akan berhasil atau nggak. Karena tingkat sedimennya tinggi,” tegas Mangku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam satu tahun, tingkat sedimentasi di areal penanaman mencapai hampir 80 cm. Penyebabnya, diperkirakan karena sedimen transport process atau arus yang membawa sedimen ke pantai, tidak stabil. Ini diperkirakan dampak proyek pengamanan Pantai Sanur yang dilakukan beberapa tahun lalu. Tidak stabilnya sedimen transport process membuat sedimen terbawa arus ke wilayah yang rendah, termasuk Palung Semawang. Palung Semawang yang dulunya sedalam 137 meter, kini makin dangkal menjadi hanya 90 meter. Tak pelak, ini memberi pengaruh pada  pembangunan Taman Coral Sanur yang dibangun di sekitar Palung Semawang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ironis memang, karena tujuan awal pembangunan taman coral Sanur di area Palung Semawang adalah untuk meminimalisasi gerak arus langsung ke palung. Ini dilakukan untuk mengurangi erosi pantai gara-gara sedimen transport yang sempat terpotong oleh reklamasi pantai Serangan. “Ternyata tekanan sedimen transport jauh lebih besar. Saya justru khawatir kalau taman karang itu akan tertutup sedimentasi sepenuhnya,” keluh Mangku. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedimentasi yang tinggi, membuat terumbu karang yang telah tumbuh kini nyaris rata dengan pasir. Padahal saat penanaman awal, terumbu karang ditanam dengan media beton dan besi setinggi 160 cm. “Bayangkan, setahun sedimentasi 80 cm. Padahal pertumbuhan karang cuma 3 cm per bulan,” selorohnya. Karenanya, menurut Mangku diperlukan penyedotan pasir dari areal Taman Coral Sanur  dengan teknik Traper Section Happer Drager (TSHD), teknik penyedotan pasir laut yang cukup ramah lingkungan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Mangku, upaya mengantisipasi tenggelamnya seluruh Taman Coral Sanur sangat penting. Apalagi dana yang dikeluarkan secara swadaya oleh pengusaha, nelayan dan masyarakat Sanur tak sedikit. Diperkirakan, total dana yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 500 juta. “Tapi kita tidak hitung secara riil. Itu hanya hitung-hitungan kasar dari biaya total yang diperlukan untuk semua sarana dan prasarana yang dikeluarkan secara swadaya,” tandasnya. Ada juga bantuan dana dari APBD Bali, serta bantuan sarana dari Departemen Kelautan dan Perikanan. Diperkirakan, total dana yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan Taman Coral sanur itu selama lima tahun mencapai Rp 9,6 miliar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dampak paling nyata dari pembangunan Taman Coral Sanur tersebut adalah meningkatnya populasi ikan, terutama ikan hias. Di areal yang tadinya tidak ada ikan, kini justru dipenuhi ikan-ikan berwarna-warni. Namun belum ada penelitian soal spesies ikan yang muncul di areal taman koral. Meski demikian, nelayan pencari ikan hias di wilayah Sanur masik dilarang melakukan pengambilan ikan di areal taman koral. “Nanti kalau semua selesai, baru boleh dimanfaatkan untuk bisnis,” ujar Mangku yang rencananya akan mengeluarkan sertifikasi untuk ikan-ikan yang diambil dengan cara ramah lingkungan dari Taman Coral Sanur. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika menginjak tahun kelima, Taman Coral Sanur diharapkan bisa memberi manfaat ekonomi bagi kehidupan masyarakat Sanur dan sekitarnya. Taman Coral juga diharapkan menjadi destinasi wisata baru, yakni pariwisata bawah laut. Juga diharapkan bisa menjadi pusat penelitian bawah laut. “Tujuan awal kami pada dasarnya bukan untuk mengembalikan terumbu karang, tapi untuk beri paradigma berpikir yang benar untuk masyarakat,” tegas Mangku. [Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-2933463171375869520?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/2933463171375869520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=2933463171375869520' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2933463171375869520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/2933463171375869520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/02/taman-koral-demi-moral.html' title='Taman Koral Demi Moral'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-5559708292547672824</id><published>2007-02-08T10:28:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:29:39.464-07:00</updated><title type='text'>Dinkes Provinsi Jatim Rencana Tambah Layanan HIV/AIDS</title><content type='html'>Thursday, 08 February 2007  &lt;br /&gt;Surabaya - Surya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jatim berencana akan menambah rumah sakit yang memberi pelayanan bagi pasien HIV/AIDS. Selama ini rumah sakit serupa hanya ditemui di RSU Dr Soetomo di Surabaya (Ruang Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi/RPIPI) yang berada di Jatim bagian tengah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar lebih terjangkau di daerah, maka akan ditambah rumah sakit yang melayani orang hidup dengan HIV di Jatim sebelah Barat dan Timur,” kata Kepala Dinkes Provinsi Jatim dr Iwan M Mulyono MPH, Kamis (8/2), pada penutupan Pertemuan Nasional HIV&amp;AIDS ke-3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Barat ditunjuk daerah Madiun dan Kediri. Sedangkan bagian Timur ditunjuk daerah Malang dan Banyuwangi. Tentu saja, rumah sakit yang akan memberi pelayanan HIV/AIDS merupakan rumah sakit yang sudah mempunyai fasilitas lengkap dan tenaga medis yang mumpuni untuk menangani pasien HIV dan AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional memberi penghargaan khusus bagi 34 aktivis AIDS 'Generasi Pertama'. Orang-orang tersebut antara lain Dra Nafsiah Mboi SpA MPH, dr M Nasser SpKK D Law, Prof Dr Jusuf Barakbah SpKK (K), almarhumah Suzanna Murni atas usahanya memperjuangkan hak asasi manusia orang hidup dengan HIV, Dede Oetomo, Putu Oka Sukanta, Samsuridjal Djauzi, Slamet Riyadi dan Danny I Yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terpilih karena dianggap sebagai individu yang berani mendobrak, menerobos, serta menciptakan hal-hal baru untuk mengatasi kebekuan di tingkat wacana maupun tindakan. Serta memenuhi kriteria kemampuan profesional, managerial, dan administrator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan lima jurnalis yang memenangkan lomba penulisan HIV/AIDS bertema Remaja dan HIV/AIDS adalah Juara I diraih Choirul Innayah (Radar Mojokerto), Antara Bahasa Anak-anak, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja, dan Dewasa; juara II diraih Tanti Hapsari SH (Bernas, Jogja), Remaja dan HIV/AIDS: Antara Stigmatisasi dan Sematan Pita Merah HIV/AIDS; Juara III Zainul Abi (Medan Bisnis), Anak Jalanan di Medan: Komunitas Marginal yang Rentan Tertular HIV/AIDS; Juara IV Gunarso (Suara Merdeka, Semarang), Ketika HIV Masuk Sekolah; dan Juara V Komang Erviani (freelance Jakarta Post), Kisara Keeps Youth Away from Drugs and Teen Sex. ida&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-5559708292547672824?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/5559708292547672824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=5559708292547672824' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5559708292547672824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/5559708292547672824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/02/dinkes-provinsi-jatim-rencana-tambah.html' title='Dinkes Provinsi Jatim Rencana Tambah Layanan HIV/AIDS'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-8338055466125238738</id><published>2007-02-02T10:30:00.000-08:00</published><updated>2008-03-14T10:33:16.416-07:00</updated><title type='text'>HASIL LOMBA PENULISAN untuk JURNALIS</title><content type='html'>TEMA : "REMAJA dan HIV &amp; AIDS" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, ternyata Lomba Penulisan tentang HIV &amp; AIDS untuk Jurnalis dengan tema "REmaja dan HIV&amp;AIDS" mendapatkan respon yang cukup positif dari jurnalis seantero negeri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya naskah yang masuk ke meja panitia.&lt;br /&gt;Setelah melalui diskusi yang cukup alot dan cukup memakan waktu, Dewan juri yang terdiri atas ;&lt;br /&gt;1. Bp. Slamet Riyadi&lt;br /&gt;2. Sdr. Danny I Yatim&lt;br /&gt;3. Sdri. Kindy Marina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memutuskan bahwa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara I: Sdr. Khoirul Inayah (Mojokerto)&lt;br /&gt;Judul Tulisan: HIV/AIDS: Antara Bahasa Anak-anak, Remaja dan Dewasa&lt;br /&gt;Dimuat di Radar Mojokerto, 10 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara II: Sdr. Shanti Hapsari (Yogyakarta) &lt;br /&gt;Judul Tulisan: Remaja dan HIV/AIDS (1) Antara Stigmatisasi dan Sematan Pita Merah, dan Remaja dan HIV.AIDs (2): Tidak Cukup Hanya ABC, Kini ABCD&lt;br /&gt;Dimuat di Bernas Jogja, Senin 8 Januari 2007 dan Selasa, 9 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara III: Sdr. Zainul Abdi (Medan) &lt;br /&gt;Judul Tulisan: Anak Jalanan di Medan: Komunitas Marginal yang Rentan Tertular HIV/AIDS&lt;br /&gt;Dimuat di Medan Bisnis, Sabtu, 6 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara IV: Sdr Gunarso (Semarang).&lt;br /&gt;Judul Tulisan: Ketika HIV Masuk Sekolah&lt;br /&gt;Dimuat di Harian Suara Merdeka, 13 September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara V : Sdr Komang Erviani (Denpasar) &lt;br /&gt;Judul Tulisan: Kisara keeps youth away from drugs and teen sex&lt;br /&gt;Dimuat di Jakarta Post, Kamis, 6 April 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pemenang, di samping ganjaran uang tunai juga diberikan kesempatan untuk meliput Pertemuan Nasional HIV &amp; AIDS ke-3 dengan ketentuan;&lt;br /&gt;1. Biaya Transportasi Udara kelas Ekonomi non Garuda ke Surabaya p.p.&lt;br /&gt;2. Akomodasi&lt;br /&gt;menjadi tanggungan panitia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-8338055466125238738?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/8338055466125238738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=8338055466125238738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8338055466125238738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/8338055466125238738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2007/02/hasil-lomba-penulisan-untuk-jurnalis.html' title='HASIL LOMBA PENULISAN untuk JURNALIS'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-7665743872621270800</id><published>2006-12-20T02:00:00.000-08:00</published><updated>2007-07-17T02:01:18.132-07:00</updated><title type='text'>Mati Muda Bunuh Asa</title><content type='html'>Dalam lima bulan, empat siswa di Bali mengakhiri hidupnya dengan gantung. Ada yang depresi ditinggal pacar, ada juga yang bosan disuruh belajar. Pola pengasuhan anak kini lebih mementingkan faktor materi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak ada hujan, tak ada angin, Wayan Yasmini, 40 tahun, tiba-tiba merasa seperti disambar petir Selasa sore, 6 Desember 2006 lalu. Niatnya bertemu dengan sang putra, Made Sukadana, setelah hampir seharian membantu tetangga yang sedang menggelar upacara adat, tak terkabul. Berharap melihat keceriaan Sukadana, Yasmini justru menemukan bocah 13 tahun itu tergantung dengan sebuah dasi pramuka berwarna merah putih di plafon kamarnya. Berteriak, hanya itu yang bisa dilakukannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Sukadana, Wayan Wirka, 43 tahun, tak kalah kaget. Mendengar teriakan istrinya, Wirka yang sedang menunggui warung sayuran di depan rumah bergegas menuju kamar.. “Saya langsung angkat tubuhnya, tapi sudah tidak bernyawa lagi,”tuturnya. Terpukul, tentu saja. Apalagi selama iniYasmini dan Wirka merasa tak ada masalah dengan anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP 1 Kerambitan, Tabanan itu. Hari itu, Sukadana tak menunjukkan perangai berbeda dari biasa. Sepulang sekolah, penari cilik yang pernah tampil di ajang Pesta Kesenian Bali 2003 itu beraktivitas seperti biasa. Makan siang, kemudian berangkat ke sawah mencari kangkung untuk pakan dua kelinci kesayangannya.Terakhir, Wirka melihat Sukadana menonton serial kungfu di televisi. Karena sudah makan, Wirka tak lagi memperhatikan gerak-gerik Sukadana. Ia tak mengira itu jadi saat terakhir bertemu dengan sang anak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi bunuh diri tersebut, tak hanya menggemparkan warga Dusun Penarukan Kaja, Penarukan, Kerambitan, Tabanan, tempat tinggalnya. Kenekatan Sukadana yang tidak diketahui penyebabnya itu, juga mengemparkan masyarakat Bali. Bagaimana tidak, ulah Sukadana telah menambah daftar panjang aksi bunuh diri di Bali, khususnya yang dilakukan oleh siswa. Sebelumnya, pada 11 September 2005, seorang siswa SMAN 1 Denpasar, AA Trisna Putra, juga telah ditemukan tewas gantung di kamar mandi rumahnya. Diduga, Tisna merasa frustasi setelah ditinggal pacarnya yang bersekolah di SMAN 4 Denpasar. Tidak itu saja. Seorang siswa kelas 5 SD di Dusun Siyakin, Kintamani, Bangli, juga mengalami nasib tragis 25 Agustus lalu. Wayan Tara, 12 tahun ditemukan tewas tergantung di pohon di sebuah tegalan. Penyebabnya sepele. Tara kelihatannya kesal karena sering disuruh rajin belajar oleh orang tuanya.  Peristiwa bunuh diri oleh Sukadana, tampaknya tak akan jadi yang terakhir. Terbukti, hanya berselang sehari, pada Rabu 7 Desember, duka kembali berselimut gara-gara aksi bunuh diri. Kali ini menimpa keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Made Paing, warga Banjar Nyaweh, Selulung, Kintamani, Bangli. Putranya, Ketut Ratmadi, 14 tahun, yang bersekolah di SMP Negeri 2 Kintamani, ditemukan tewas di pohon jeruk miliknya. Lagi-lagi, tak jelas apa penyebabnya. Sebelum ditemukan, Ratmadi terlihat baik-baik saja, malah tengah asyik menonton TV.  Aksi bunuh diri, menurut psikiater dari Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Sanglah, dr. Lely Setyawati, Sp.KJ., tak lepas dari kepribadian anak bersangkutan. Anak yang mudah emosional, cenderung sangat mungkin melakukan aksi-aksi nekat seperti bunuh diri. Meski demikian, faktor lingkungan justru dapat memegang peranan penting. Terutama terkait dengan pola pengasuhan oleh orang tua.  Dikatakan Lely, banyak sekali anak-anak sekarang ini yang harus hidup di tengah kesibukan kerja orang tuanya. Akibatnya,. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua juga cenderung berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kuantitas pertemuan dengan orang tua yang menjadi barang langka, orang tua sekarang juga cenderung mengukur kemampuannya mengasuh anak dari sisi materi. Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan lingkungannya masing masing. Lely menyebut anak-anak sekarang cenderung belajar dari dirinya sendiri, atau teman teman seumurannya yang notabene masih memiliki tingkat emosional kurang lebih sama. “Orang tua jarang di rumah, anak diberi materi untuk memenuhi semua kebutuhannya. Orang tua biasanya melupakan faktor emosional. Minta apa-apa selalu dikasi. Sekalinya nggak dikasi, anak jadi emosi,”jelas ibu satu putri itu. Untuk tipe anak dengan emosional yang tidak stabil, menurut Lely, sangat mungkin mengambil jalan pintas (bunuh diri). “Tayangan-tayangan TV mungkin juga bisa mempengaruhi, tapi peranannya kecil sekali,”tambah Lely yang sudah 3 tahun menggeluti profesinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara medis, penyebab seseorang membunuh dirinya sendiri dapat dikelompokkan menjadi 3, yakni karena depresi, gangguan jiwa berat yang disertai halusinasi (sisofremia), serta impulsif (kecenderungan untuk bereaksi dengan cepat tanpa memikirkan akibatnya). Sekitar 80 persen kasus bunuh diri yang “sukses”, biasanya terjadi karena depresi. Namun sebagian besar kasus bunuh diri di kalangan siswa, disebabkan sifat impulsif yang memang umum dialami anak-anak dan remaja. Menariknya, sebagian besar pasien percobaan (gagal) bunuh diri yang kini tengah dikonseling Poliklinik Jiwa RS Sanglah, dipicu oleh sifat impulsif. “Yang masuk kelompok Impulsif biasanya anak-anak muda,”jelasnya.  Dikatakan Lely, jumlah kasus bunuh diri yang “sukses” dan terungkap media, sebenarnya tergolong kecil dibandingkan total kasus percobaan bunuh diri. Setiap harinya, Poliklinik Jiwa RS Sanglah menerima sedikitnya 1 orang pasien baru. Modus yang diusahakan juga beragam. Mulai dari minum racun serangga, menyilet nadi, hingga gantung diri. “Jadi, sebulan kita rata-rata dapat 25 orang pasien yang gagal bunuh diri,”tutur Lely. Kisaran umurnya antara 10 tahun-75 tahun. Sebagian besar diantaranya berumur antara 20-23 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lely mengaku, tak mudah melakukan pencegahan terhadap aksi-aksi bunuh diri. Apalagi untuk mereka yang cenderung impulsif. Ironisnya, ia melihat ada kecenderungan di masyarakat yang tidak peduli dengan sinyal-sinyal dari mereka yang hendak melakukan bunuh diri. Bagi mereka yang depresi misalnya, umumnya memperlihatkan kesedihan luar biasa, perasaan cemas, keluhan sakit, hilangnya nafsu makan, dan lainnya. Sementara di kalangan mereka yang mengalami sisofremia umumnya memperlihatkan perilaku sehari-hari yang nyeleneh. Berpenampilan aneh dan cenderung ngomong sendiri untuk merespon halusinasinya.  Meski kecenderungan bunuh diri karena impulsif tidak dapat dideteksi semudah depresi dan sisofremia, namun secara umum anak-anak yang cenderung sering emosional perlu dapat perhatian lebih. Orang tua harus mampu memanajemen emosi anak, sehingga sewaktu-waktu tak mengarah pada tindakan nekat. Bagaimanapun, orang tua akan selalu menjadi faktor penentu masa depan anak-anaknya.[Komang Erviani]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-7665743872621270800?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/7665743872621270800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=7665743872621270800' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7665743872621270800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/7665743872621270800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2006/12/mati-muda-bunuh-asa.html' title='Mati Muda Bunuh Asa'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-987304789199205489</id><published>2006-12-12T22:03:00.001-08:00</published><updated>2007-07-20T22:06:44.981-07:00</updated><title type='text'>Pengobatan Tersandung Masalah</title><content type='html'>Kompleksitas masalah yang dihadapi perempuan HIV positif, membuatnya makin terpuruk. Banyak kendala kesehatan yang jadi batu sandungan pada pengobatannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat Tini ( 28 tahun) untuk untuk memiliki anak dengan  pasangannya, ternyata tak mudah diwujudkan. Ternyata, obat antiretroviral (ARV) jenis Evafirenz yang dikonsumsi sejak mengetahui dirinya terinfeksi HIV, membuyarkan keinginannya memberi adik laki-laki bagi dua anak perempuannya. Perempuan yang diduga terinfeksi HIV dari penggunaan narkoba suntik itu, mengaku tak tahu  kalau obat yang sebenarnya dikonsumsi untuk menekan perkembangan virus dalam tubuhnya akan membuat kandungannya kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Tini tak putus asa. Atas pertimbangan dokter dan konselornya, Tini memutuskan untuk mengganti obat ARV-nya dengan kombinasi jenis lain. “Walaupun kita statusnya Odha (orang dengan HIV &amp; AIDS), harapan untuk punya anak kan ada,” pikirnya saat itu. Tak lama setelah mengganti obatnya, Tini malah mengalami efek samping yang lumayan berat. Tumbuh bercak kehitaman di sekujur tubuhnya, kandidiasis (sejenis jamur) pada lidahnya dan permukaan bibirnya pecah-pecah. Tini bahkan tak bisa menyantap makan. Tini berpikir ulang. Ia akhirnya memutuskan kembali pada jenis obat lamanya, Evafirenz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Tini yang mengalami masalah itu. Pokja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Tuti Parwati Merati, mengaku sering menemukan kasus serupa. Dokter penemu kasus HIV pertama di Indonesia pada 1987 itu mengakui, ada beberapa jenis obat ARV yang berefek pada keringnya kandungan. Hal itu disebabkan karena ada reaksi yang menyebabkan respon hormon menjadi lambat. Jenis Evafirenz misalnya, tidak boleh dikonsumsi oleh Odha perempuan yang ingin memiliki anak. Pada perempuan, obat jenis ini membuat hormon tidak normal sehingga pematangan sel telur tidak terjadi. Ini membuat pengkonsumsinya sulit hamil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan Odha perempuan, menurut Tuti, sangat kompleks. Tak cuma menyangkut masalah medis, tetapi juga sosial dan psikologis. Sebuah kasus sempat membuat Tuti miris. Seorang Odha perempuan, sebut saja Wayan Parni, awalnya sudah dengan tegas menyatakan bahwa ia tak ingin lagi memiliki anak. Ketegasan itu membuat Tuti yakin untuk memberikan obat jenis evafirenz kepada pasiennya yang sudah cukup berumur itu. Namun setelah lama berselang, Parni tiba-tiba datang meminta obatnya diganti dengan jenis lain. Alasannya, suaminya ingin punya anak lagi. Pertimbangan efek samping yang terlalu keras, membuat Tuti enggan memenuhi keinginan pasiennya itu. “Saya bilang, pikir dulu. Efek sampingnya nggak ringan,” kenang Tuti. Karena terus mendesak, Parni akhirnya diperbolehkan mengganti obatnya. Benar saja, tak lama setelah menggenti obatnya, Parni lantas mengalami efek samping luar biasa yang membuatnya tergolek berhari-hari di rumah sakit. “Dia cuma bilang, saya harus bagaimana lagi. Suami saya ingin punya anak lagi,” jelas Tuti.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Klinik Kesehatan Reproduksi Yayasan Rama Sesana, Luh Putu Upadisari, juga menegaskan besarnya dampak sosial dan psikologis yang membuat Odha perempuan terpuruk dalam proses pengobatannya. Tekanan sosial dan psikologis yang kuat, cenderung menghambat pengobatan dan perawatan Odha perempuan.  &lt;br /&gt;Sejumlah perempuan HIV positif juga kerap mengalami berbagai macam masalah saat haid. Mulai dari pendarahan yang berlangsung lebih lama daripada biasa, pendarahan waktu tidak haid, masa haid yang lebih cepat, haid yang lebih ringan dengan lebih lama antara masa haid, haid yang kadang kala tidak terjadi, bahkan haid yang tidak terjadi sama sekali.  Ayu misalnya. Perempuan HIV positif yang juga mantan pengguna narkoba suntik itu, mengaku haidnya tidak teratur. Ia juga mengalami sakit perut luar biasa saat haid. Menurutnya, itu terjadi sejak ia tahu dirinya terinfeksi HIV. Marni, sebut saja begitu, juga pernah bermasalah dengan haidnya. Akibat terinfeksi HIV, perempuan asal Buleleng yang terinfeksi HIV dari suaminya, sempat tidak haid berbulan-bulan. Namun sejak mengikuti terapi ARV, Marni tak lagi mengalami masalah haid. “Sekarang lancar-lancar aja. Rutin tiap bulan,” ujar ibu satu anak itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Sari, sapaan akrab Upadisari, menjelaskan permasalahan haid pada Odha pada dasarnya disebabkan oleh sistem hormon yang tidak normal. Bisa karena efek obat ARV, gangguan trombosit, ditambah lagi dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun. Pada perempuan HIV positif yang mengalami gangguan trombosit (pembekuan darah), perdarahan saat haid dapat menjadi jauh lebih banyak. Gangguan trombosit juga bisa terjadi karena efek samping terapi ARV. Kalau sudah begini, anemia atau kekurangan hemoglobin (Hb) bisa terjadi. Anemia menyebabkan kelelahan, sesak napas dan pusing. “Secara alami, Odha sudah mengalami penurunan kekebalan tubuh. Jadi jumlah leukosit di dalam tubuhnya sudah rendah. Itu akan menambah keterpurukan daya tahan tubuhnya. Dia akan menjadi lemah, menjadi gampang terinfeksi, gampang kena penyakit lain,” terang sari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perempuan HIV positif juga tidak menstruasi dalam jangka waktu lama. Ini terjadi karena secara umum pada perempuan HIV positif, respon hormonnya cenderungb lambat. Bisa karena efek ARV, bisa juga karena daya tahan tubuh yang berkurang. Pasalnya, menstruasi sangat berhubungan dengan pembentukan hormon estrogen dan progesteron. Perempuan pada tahap AIDS, lebih mungkin mengalami perdarahan yang tidak teratur. Kehilangan berat badan, terutama kehilangan lemak, juga dapat mempengaruhi haid. Penggunaan narkoba dan stress terus menerus, juga dapat menyebabkan haid yang tidak teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis infeksi oportunistik lain, jelas Sari, menghantui kesehatan Odha  perempuan. Kanker leher rahim misalnya. HIV memudahkan seorang perempuan HIV positif menderita kanker leher rahim. Ini karena sistem kekebalan tubuhnya yang terganggu. Dijelaskan Sari, dengan infeksi virus HIV, sifat leher rahim menjadi lebih rentan terhadap infeksi menular seksual. Salah satu infeksi yang disinyalir menyebabkan kanker leher rahim adalah ppapiloma virus, atau katrib disebut jengger ayam. Perempuan yang pernah terkena IMS, cenderung lebih mudah terkena kanker leher rahim. Karenanya, penting bagi setiap perempuan, terutama perempuan HIV positif, untuk rutin melakukan papsmear. “Karena perubahan sel yang terjadi di leher rahim bersifat periodik. Jadi kalau kita lengah di saat tertentu, siapa tahu saat itu justru terjadi perubahan sel, infeksi atau yang lain, tegas Sari mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odha perempuan perokok, memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk terkena kanker leher rahim. Kandungan nikotin dalam rokok, memudahkan terjadinya perubahan sel secara umum. Rokok juga berhubungan dengan radikal bebas yang beredar di tubuh, yang juga menyebabkan perubahan sel berlebihan. &lt;br /&gt;Akses informasi yang sangat minim, menjadi kendala serius dalam pengobatan dan perawatan perempuan HIV positif. Bahkan, cenderung terjadi persaingan pengobatan yang menghambat pengobatan oleh dokter. Contoh sederhana, pengobatan keputihan yang dianggap cukup dengan daun sirih. Beban sosial yang lebih berat di puindah perempuan Odha, menambah kendala. Di komunitas masyarakat Bali misalnya, masih ada kecenderungan mengutamakan pendidikan laki-laki. Meski kecenderungan itu sudah berkurang, namun menurut Sari, masih ada sebagian masyarakat yang cenderung mengutamakan pendidikan anak laki-lakinya. “Itu yang membuat, secara tidak langsung, perempuan menjadi semakin terpuruk dengan informasinya,” tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang dihadapi perempuan HIV positif, tidak sesimpel kelihatannya. Meski demikian, dukungan  orang sekitar akan sangat penting untuk mewujudkan harapan mereka. Seperti Tini, yang masih berharap mendapat anak ketiga dari rahimnya. “Siapa tahu nanti, kalau kita punya rejeki, Tuhan menghendaki, umur kita masih panjang, Aku masih ingin punya anak laki-laki,” begitu Tini. [Komang Erviani, Ikha Widari / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 23,Desember 2006]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6593244638726587008-987304789199205489?l=warnawarnibali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/feeds/987304789199205489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6593244638726587008&amp;postID=987304789199205489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/987304789199205489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6593244638726587008/posts/default/987304789199205489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://warnawarnibali.blogspot.com/2006/12/pengobatan-tersandung-masalah_12.html' title='Pengobatan Tersandung Masalah'/><author><name>Ni Komang Erviani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09501272791560043108</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6593244638726587008.post-85582593062253108</id><published>2006-12-12T22:03:00.000-08:00</published><updated>2007-07-20T22:05:53.156-07:00</updated><title type='text'>Pengobatan Tersandung Masalah</title><content type='html'>Kompleksitas masalah yang dihadapi perempuan HIV positif, membuatnya makin terpuruk. Banyak kendala kesehatan yang jadi batu sandungan pada pengobatannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat Tini ( 28 tahun) untuk untuk memiliki anak dengan  pasangannya, ternyata tak mudah diwujudkan. Ternyata, obat antiretroviral (ARV) jenis Evafirenz yang dikonsumsi sejak mengetahui dirinya terinfeksi HIV, membuyarkan keinginannya memberi adik laki-laki bagi dua anak perempuannya. Perempuan yang diduga terinfeksi HIV dari penggunaan narkoba suntik itu, mengaku tak tahu  kalau obat yang sebenarnya dikonsumsi untuk menekan perkembangan virus dalam tubuhnya akan membuat kandungannya kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Tini tak putus asa. Atas pertimbangan dokter dan konselornya, Tini memutuskan untuk mengganti obat ARV-nya dengan kombinasi jenis lain. “Walaupun kita statusnya Odha (orang dengan HIV &amp; AIDS), harapan untuk punya anak kan ada,” pikirnya saat itu. Tak lama setelah mengganti obatnya, Tini malah mengalami efek samping yang lumayan berat. Tumbuh bercak kehitaman di sekujur tubuhnya, kandidiasis (sejenis jamur) pada lidahnya dan permukaan bibirnya pecah-pecah. Tini bahkan tak bisa menyantap makan. Tini berpikir ulang. Ia akhirnya memutuskan kembali pada jenis obat lamanya, Evafirenz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma Tini yang mengalami masalah itu. Pokja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Tuti Parwati Merati, mengaku sering menemukan kasus serupa. Dokter penemu kasus HIV pertama di Indonesia pada 1987 itu mengakui, ada beberapa jenis obat ARV yang berefek pada keringnya kandungan. Hal itu disebabkan karena ada reaksi yang menyebabkan respon hormon menjadi lambat. Jenis Evafirenz misalnya, tidak boleh dikonsumsi oleh Odha perempuan yang ingin memiliki anak. Pada perempuan, obat jenis ini membuat hormon tidak normal sehingga pematangan sel telur tidak terjadi. Ini membuat pengkonsumsinya sulit hamil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan Odha perempuan, menurut Tuti, sangat kompleks. Tak cuma menyangkut masalah medis, tetapi juga sosial dan psikologis. Sebuah kasus sempat membuat Tuti miris. Seorang Odha perempuan, sebut saja Wayan Parni, awalnya sudah dengan tegas menyatakan bahwa ia tak ingin lagi memiliki anak. Ketegasan itu membuat Tuti yakin untuk memberikan obat jenis evafirenz kepada pasiennya yang sudah cukup berumur itu. Namun setelah lama berselang, Parni tiba-tiba datang meminta obatnya diganti dengan jenis lain. Alasannya, suaminya ingin punya anak lagi. Pertimbangan efek samping yang terlalu keras, membuat Tuti enggan memenuhi keinginan pasiennya itu. “Saya bilang, pikir dulu. Efek sampingnya nggak ringan,” kenang Tuti. Karena terus mendesak, Parni akhirnya diperbolehkan mengganti obatnya. Benar saja, tak lama setelah menggenti obatnya, Parni lantas mengalami efek samping luar biasa yang membuatnya tergolek berhari-hari di rumah sakit. “Dia cuma bilang, saya harus bagaimana lagi. Suami saya ingin punya anak lagi,” jelas Tuti.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Klinik Kesehatan Reproduksi Yayasan Rama Sesana, Luh Putu Upadisari, juga menegaskan besarnya dampak sosial dan psikologis yang membuat Odha perempuan terpuruk dalam proses pengobatannya. Tekanan sosial dan psikologis yang kuat, cenderung menghambat pengobatan dan perawatan Odha perempuan.  &lt;br /&gt;Sejumlah perempuan HIV positif juga kerap mengalami berbagai macam masalah saat haid. Mulai dari pendarahan yang berlangsung lebih lama daripada biasa, pendarahan waktu tidak haid, masa haid yang lebih cepat, haid yang lebih ringan dengan lebih lama antara masa haid, haid yang kadang kala tidak terjadi, bahkan haid yang tidak terjadi sama sekali.  Ayu misalnya. Perempuan HIV positif yang juga mantan pengguna narkoba suntik itu, mengaku haidnya tidak teratur. Ia juga mengalami sakit perut luar biasa saat haid. Menurutnya, itu terjadi sejak ia tahu dirinya terinfeksi HIV. Marni, sebut saja begitu, juga pernah bermasalah dengan haidnya. Akibat terinfeksi HIV, perempuan asal Buleleng yang terinfeksi HIV dari suaminya, sempat tidak haid berbulan-bulan. Namun sejak mengikuti terapi ARV, Marni tak lagi mengalami masalah haid. “Sekarang lancar-lancar aja. Rutin tiap bulan,” ujar ibu satu anak itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Sari, sapaan akrab Upadisari, menjelaskan permasalahan haid pada Odha pada dasarnya disebabkan oleh sistem hormon yang tidak normal. Bisa karena efek obat ARV, gangguan trombosit, ditambah lagi dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun. Pada perempuan HIV positif yang mengalami gangguan trombosit (pembekuan darah), perdarahan saat haid dapat menjadi jauh lebih banyak. Gangguan trombosit juga bisa terjadi karena efek samping terapi ARV. Kalau sudah begini, anemia atau kekurangan hemoglobin (Hb) bisa terjadi. Anemia menyebabkan kelelahan, sesak napas dan pusing. “Secara alami, Odha sudah mengalami penurunan kekebalan tubuh. Jadi jumlah leukosit di dalam tubuhnya sudah rendah. Itu akan menambah keterpurukan daya tahan tubuhnya. Dia akan menjadi lemah, menjadi gampang terinfeksi, gampang kena penyakit lain,” terang sari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perempuan HIV positif juga tidak menstruasi dalam jangka waktu lama. Ini terjadi karena secara umum pada perempuan HIV positif, respon hormonnya cenderungb lambat. Bisa karena efek ARV, bisa juga karena daya tahan tubuh yang berkurang. Pasalnya, menstruasi sangat berhubungan dengan pembentukan hormon estrogen dan progesteron. Perempuan pada tahap AIDS, lebih mungkin mengalami perdarahan yang tidak teratur. Kehilangan berat badan, terutama kehilangan lemak, juga dapat mempengaruhi haid. Penggunaan narkoba dan stress terus menerus, juga dapat menyebabkan haid yang tidak teratur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis infeksi oportunistik lain, jelas Sari, menghantui kesehatan Odha  perempuan. Kanker leher rahim misalnya. HIV memudahkan seorang perempuan HIV positif menderita kanker leher rahim. Ini karena sistem kekebalan tubuhnya yang terganggu. Dijelaskan Sari, dengan infeksi virus HIV, sifat leher rahim menjadi lebih rentan terhadap infeksi menular seksual. Salah satu infeksi yang disinyalir menyebabkan kanker leher rahim adalah ppapiloma virus, atau katrib disebut jengger ayam. Perempuan yang pernah terkena IMS, cenderung lebih mudah terkena kanker leher rahim. Karenanya, penting bagi setiap perempuan, terutama perempuan HIV positif, untuk rutin melakukan papsmear. “Karena perubahan sel yang terjadi di leher rahim bersifat periodik. Jadi kalau kita lengah di saat tertentu, siapa tahu saat itu justru terjadi perubahan sel, infeksi atau yang lain, tegas Sari mengingatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Odha perempuan perokok, memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk terkena kanker leher rahim. Kandungan nikotin dalam rokok, memudahkan terjadinya perubahan sel secara umum. Rokok juga berhubungan dengan radikal bebas yang beredar di tubuh, yang juga menyebabkan perubahan sel berlebihan. &lt;br /&gt;Akses informasi yang sangat minim, menjadi kendala serius dalam pengobatan dan perawatan perempuan HIV positif. Bahkan, cenderung terjadi persaingan pengobatan yang menghambat pengobatan oleh dokter. Contoh sederhana, pengobatan keputihan yang dianggap cukup dengan daun sirih. Beban sosial yang lebih berat di puindah perempuan Odha, menambah kendala. Di komunitas masyarakat Bali misalnya, masih ada kecenderungan mengutamakan pendidikan laki-laki. Meski kecenderungan itu sudah berkurang, namun menurut Sari, masih ada sebagian masyarakat yang cenderung mengutamakan pendidikan anak laki-lakinya. “Itu yang membuat, secara tidak langsung, perempuan menjadi semakin terpuruk dengan informasinya,” tandasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan yang dihadapi perempuan HIV positif, tidak sesimpel kelihatannya. 
