Dunia remaja memang seru. Program pendidikan kesehatan reproduksi via teknologi informasi, menambah serunya kehidupan remaja di tiga SMA di Bali. Bicara seksualitas bukan lagi tabu.
Tangan kanan Budiasih, siswa kelas 11 IPA SMA 3 Denpasar, sibuk menggeser mouse salah satu komputer di lab sekolahnya. “Coba klik Bab 5,” begitu Anak Agung Sagung Dwi Cahyani, sang guru. Dari monitor di hadapan Budi, muncul kalimat dengan font besar, siapa yang bertanggung jawab?. “Coba diklik lagi,” lanjut Cahyani. Gambar seorang laki-laki dan perempuan dengan sejumlah alternatif tanggung jawab, disuguhkan dengan sangat menarik dari software tersebut. Ada tanggung jawab mengasuh anak, membersihkan rumah, menentukan pendidikan anak, mengatur keuangan, dan lainnya.
Budi dan puluhan temannya mendapat tugas mencocokkan tanggung jawab-tanggung jawab itu dengan pihak yang bertanggung jawab. Laki-laki, atau perempuan? Tulisan mengasuh anak diklik Budi dengan kursor mouse-nya, ditariknya ke sisi perempuan. Menurutnya, tugas mengasuh anak adalah tugas perempuan. Tetapi program menolak. “Coba letakkan di tengah, antara laki-laki dan perempuan,” Cahyani menganjurkan. Benar saja, program menerima dengan baik. “Berarti, mengasuh anak adalah tugas bersama laki-laki dan perempuan. Bukan tugas perempuan saja,” jelas Cahyani.
Hari itu, pertengahan September lalu, Budi dan beberapa teman sekelasnya bukan sedang belajar komputer. “Yuk, bicara gender” begitu materi yang dibahas hari itu. Tapi pelajaran ekstra selepas jam pelajaran itu diberikan dengan piranti lunak komputer. Kok bisa? “Ini adalah bagian dari program Dunia Remajaku Seru (DAKU),” jelas Koordinator Kita Sayang Remaja (Kisara), dr Oka Negara.
DAKU merupakan program pendidikan kesehatan reproduksi dengan memanfaatkan teknologi informasi. Program ini dilaksanakan oleh WPF (World Population Fundation) yang bekerjasama dengan PKBI Bali melalui Kisara, untuk mendekatkan pendidikan kesehatan reperoduksi kepada remaja di Bali. “Ini adalah adaptasi dari program yang sudah dilaksanakan di Vietnam dan Uganda oleh WPF,” demikian Palupi Widjajanti, Representatif WPF di Indonesia.
Di Indonesia, DAKU juga dilaksanakan di beberapa wilayah lain seperti Jakarta, Lampung, Medan, dan Jambi. Di Bali sendiri, program DAKU baru dirintis di tiga sekolah, yakni di SMA 2 Denpasar, SMA 3 Denpasar dan SMA 4 Denpasar. Ketiga sekolah dipilih sebagai perintis karena pertimbangan fasilitas komputer yang dimiliki dan keterbukaan pengelola sekolah. Namun ke depan, program ini rencananya akan diperluas ke sekolah-sekolah lain di Bali.
Dunia Remajaku Seru memang menawarkan sistem pembelajaran baru yang asyik dan menarik. Ada selipan-selipan games, kuis, juga diskusi. ”Modul kita buat semenarik mungkin, menyesuaikan dengan kebutuhan remaja sekarang,” jelas Palupi tentang 14 bab modul pelajaran yang dipersiapkan. Selain tentang gender, ada juga bab tentang informasi HIV/AIDS, narkoba, pendekatam berbasis hak azasi manusia (HAM), perubahan prilaku, proses kehamilan, serta bagaimana menimbulkan empati terhadap orang dengan HIV/AIDS (Odha).
Siang itu misalnya, empat siswa diberikan tugas untuk memperagakan bagaimana seorang siswa perempuan menjadi laki-laki macho, bagaimana menjadi seorang kakek tua, dan bagaimana seorang siswa laki-laki menjadi ibu hamil. Dalam memperagakan peran-peran tersebut, diharapkan siswa memahami arti gender yang sesungguhnya.
“ Ini bagus, pengennya diterusin lagi,” ujar Budiasih. Ketua Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) SMA 3 Denpasar, Putu Lina Sudiyawati, juga menyambut baik program DAKU. “Bahkan banyak teman-teman di luar KSPAN yang ingin ikut,” jelas Lina. Karena keterbatasan sarana, program DAKU sampai saat ini memang masih diprioritaskan bagi anggota ekstrakurikuler KSPAN.
Tokoh Hindu, Ida Pedanda Gede Ketut Tianyar Sebali, mengaku sangat mendukung adanya program pendidikan kesehatan reproduksi untuk para remaja. Menurutnya, pendidikan seks lebih dini akan membuat remaja lebih waspada. [Komang Erviani, Ikha Widari / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Selasa, 10 Oktober 2006
Senin, 09 Oktober 2006
Mereka Terlahir dengan HIV
HIV/AIDS sudah menjadi problem untuk populasi anak-anak. Banyaknya pihak yang tidak menyadarinya, menghambat penanganan kesehatan mereka. Karena tak mudah mengenali HIV pada anak.
Kadek Rendra (2,5 tahun), sebut saja begitu, hanya terduduk diam di pangkuan Luh Polih (45 tahun), sang nenek. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Tak tampak pancaran keceriaan dari wajah bocah laki-laki itu. Ekspresi wajahnya datar.
Rendra memang tak seperti anak-anak lain seusianya. Jangankan berjalan, merangkak pun ia belum bisa. Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ada dalam darahnya, membuat tubuh bocah yatim piatu ini tak berkembang secara normal.
Tanda-tanda tidak normal pada kesehatan Rendra, sebenarnya telah terlihat sejak ia berusia tiga bulan. “Biasanya kan anak kecil sehat. Tapi ini nggak naik-naik timbangannya. Turun-turun terus. Enam kilo (gram), lima kilo, bisa turun lagi tiga kilo,” cerita Wayan Parmita (53 tahun), sang kakek. Berat badan yang terus turun saat itu, membuat tubuh Rendra terlihat tak normal. Hanya ukuran leher dan kepala saja yang normal. Tubuhnya yang terlalu kecil bahkan tak mampu menyangga kepalanya sendiri.
Rendra kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Buleleng, sekitar 25 km dari desa tempat tinggalnya di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali. Dokter menyatakan Rendra mengalami radang paru-paru dan gizi buruk. Operasi sempat dilakukan terhadap bocah malang itu. Pasca operasi, kondisinya sedikit membaik. Pertumbuhan badannya mulai normal, meski gizi buruknya belum teratasi sepenuhnya. Namun, sesak nafas masih sering dialami.
Radang paru-paru yang cukup parah, tak wajar pada anak seusianya, mengundang curiga. Dari sanalah tim dokter menyarankan melakukan tes HIV terhadap keduanya. Tes akhirnya dilakukan 2005 lalu. Tes awalnya hanya dilakukan terhadap Rendra. Hasil tes ternyata reaktif. Hasil yang sama didapat saat sang kakak, Gede Mahendra (4,5 tahun), juga dites. Kakak beradik Mahendra dan Rendra ternyata positif terinfeksi HIV.
HIV (Human Immunodeficiency Syndrome) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Dalam jangka waktu tertentu, HIV dapat menyebabkan kumpulan gejala penyakit pada pengidapnya. Fase inilah yang disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penularan virus ini dapat terjadi melalui pertukaran beberapa cairan tubuh manusia, yakni darah, cairan kelamin, dan air susu ibu.
Tak seorang pun bisa memastikan, dari mana virus HIV masuk ke tubuh kedua bocah laki-laki itu. Bisa jadi melalui proses persalinan atau air susu ibu. Parmita menduga, virus tersebut ditularkan oleh ayah kedua bocah, sebut saja Komang Feri. Menurutnya, Feri yang tak lain adalah anak kandungnya sempat mengakui kebiasaannya berganti-ganti pasangan semasa muda dulu. Dari perilakunya itu, Feri diperkirakan telah menularkan virusnya kepada Luh Diah, yang kemudian menularkannya lagi kepada Mahendra dan Rendra. Feri dan Luh Diah baru melakukan tes HIV beberapa bulan setelah hasil tes Mahendra dan Rendra diterima. Keduanya dinyatakan positif, dan meninggal awal 2006 lalu.
Virus HIV menjadikan Rendra dan Mahendra yatim piatu. Keduanya kini juga harus hidup dengan membawa virus yang sama dalam darahnya. HIV kini memang tak cuma mengancam orang dewasa. Sekretariat Program Gabungan PBB untuk Penanggulangan HIV/AIDS, UNAIDS menyebutkan, anak-anak di bawah usia lima tahun merupakan satu dalam enam kematian terkait-AIDS global, dan satu dalam tujuh infeksi global baru. Seorang anak meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS setiap menit dari setiap hari. Disebutkan pula, setiap hari terdapat hampir 2.000 infeksi balita baru yang sebagian besarnya ditularkan dari ibu ke bayi, dan 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS. Setiap hari pula, 15 juta anak telah kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya akibat AIDS.
Di Indonesia sendiri, persentase anak berumur 0-14 tahun yang tercatat terinfeksi HIV telah meningkat sampai 40% setiap tahunnya. Ini terjadi sejak lima tahun belakangan. Bali juga menyumbang angka yang tidak sedikit. Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada Agustus 2006 menyebutkan, di Bali ada 9 kasus HIV positif pada anak di bawah usia 1 tahun. Tentu saja, angka itu tidak cukup menggambarkan kondisi sesungguhnya. Seperti fenomena gunung es, masih banyak anak-anak terinfeksi HIV lainnya yang belum tercatat. Salah satu faktor penyebabnya, karena banyak pihak yang tidak menyadari bahwa HIV/AIDS sudah menjadi problem untuk populasi anak-anak.
Dokter spesialis anak, Ketut Dewi Kumara Wati, mengakui, tidak mudah mengenali kasus HIV pada anak-anak. “Anak-anak kan sering sakit, nggak suka makan, jadinya kurus, itu hal-hal yang sangat sering kita temukan,” jelas Kepala Divisi Alergi Immunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah itu. Akibatnya, para dokter dan orang tua umumnya tak terpikir kalau HIV yang menjadi penyebab dasar dari penyakit yang dideritanya.
Hal itu pula yang terjadi pada putri pasangan Nana (22) dan Wawan (27), sebut saja Neneng (1 tahun 7 bulan). Pertengahan 2005 lalu, Neneng harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Denpasar. “Waktu itu badannya panas, diare, dan sampai kejang-kejang,” ujar sang ayah bercerita. Menurut Wawan, putri pertamanya itu sudah sakit-sakitan sejak usianya 5 bulan. Bahkan dokter yang merawatnya saat itu menyebut, telah terjadi infeksi pada paru-parunya.
Infeksi paru-paru yang tidak biasa pada anak-anak, membuat Wawan yang positif terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) agak was was. Ia khawatir sang anak terinfeksi virus penyerang sistem kekebalan tubuh yang ada dalam darahnya. Wawan mengambil inisiatif, berterus terang tentang latar belakang dirinya sebagai pecandu narkoba suntik (penasun) yang kini telah terinfeksi HIV. “Waktu itu Nana dan Neneng langsung disarankan untuk tes darah,” kenang Wawan. Tes HIV akhirnya dilakukan terhadap Nana dan Neneng. Namun entah karena alasan apa, hasil tes tersebut hingga kini belum diketahuinya.
Delapan hari dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatannya perlahan membaik. Namun seminggu setelahnya, penyakitnya kambuh. Suhu badannya naik lagi, batuk, dan tumbuh jamur di lidahnya (kandidiasis oral). “Dokter bilang dia kena gejala bronkhitis,” cerita Wawan. Kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, membuat Neneng terpaksa dirawat oleh Nur (40), sang nenek.
Kondisi Neneng kini sudah jauh lebih baik. “Dia jarang sakit-sakitan kayak dulu,” kata ibunya. Sayang, di usia 1 tahun 7 bulan, Neneng belum bisa berjalan layaknya anak seusianya. Kaki mungilnya tak mampu menopang tubuh yang beratnya 9 kilogram. Sakit yang terus menerus menimpa Neneng, membuat perkembangan organ tubuhnya tak normal. Ironisnya, sejak 6 bulan lalu ia sudah tidak minum susu formula lagi karena keterbatasan dana. Maklum, penghasilan Wawan dari bekerja sebagai pengantar air minum kemasan isi ulang cenderung tak menentu. Setiap satu galon air yang diantarnya, Wawan hanya bisa mengantongi Rp 500. “ Kadang-kadang kalau capek, aku istirahat aja dulu,” kata Wawan yang dalam enam bulan belakangan mengalami penurunan CD4 sampai 130, dari sebelumnya 480 menjadi 350. CD4 adalah sel pembentuk sistem kekebalan tubuh. Sel-sel inilah yang diserang virus HIV, sehingga tingkat kekebalan tubuh pengidapnya menjadi lemah.
Keterbatasan ekonomi juga membuat pola makan Neneng tidak teratur, “Kalau lapar biasanya dia nangis, terus saya kasih makan apa adanya saja. Kalau dia minta minum susu, saya hanya kasih air teh manis,” ungkap Nana.
Neneng masih cukup beruntung. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan Shinta (3 tahun). Bocah perempuan itu telah kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupannya, diduga karena HIV. ”Seluruh badannya dipenuhi herpes, dan tubuhnya saat itu kurus. Sementara perutnya membuncit,” kenang Galle, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati yang sekaligus pendamping kedua orang tua Shinta, sebut saja Budi dan Wati. Budi dan Wati merupakan pasangan pengguna narkoba suntik (penasun) di kawasan Kuta.
Itu terjadi 2003 silam. Karena sakit, Shinta sempat dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah dan mendapat pendampingan dari beberapa relawan Bali+, kelompok dukungan bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Ketika itu, Budi juga telah mengalami sakit yang tidak biasa. Badannya demam, juga muncul herpes dan jamur pada mulutnya (kadidiasis oral). Hasil tes menyebutkan, Budi positif HIV. Ia meninggal tak lama setelah Shinta jatuh sakit.
Kematian suaminya, membuat Wati shock. Ia yang ketika itu mengandung anak ketiganya, tiba-tiba jatuh sakit. Pendarahan hebat dialami Wati saat usia kandungannya menginjak 5 bulan. Saat perempuan yang pernah menjalani tes HIV ketika menghuni Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Denpasar karena kasus narkoba tersebut dirawat di Rumah Sakit Sanglah, Shinta menyusul kepergian sang ayah sebelum sempat menjalani tes darah untuk memastikan status HIV-nya. Wati bahkan tak sempat mengetahui kabar kematian Shinta, hingga tiga hari setelahnya ia pun meninggal dunia. Anak ketiganya tak sempat terlahir ke dunia.
Yang tersisa dari keluarga Budi kini hanyalah Dian (8 tahun), putri pertama mereka. Bocah perempuan itu kini dirawat oleh bibinya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Beruntung, Dian tumbuh menjadi anak yang sehat. Minah, ibu kandung Budi, sama sekali tidak menyangka anak, menantu dan cucunya akan pergi selama-lamanya dalam waktu yang hampir bersamaan. “Budi pernah bilang kalau penyakit yang dialami keluarganya adalah Penyakit Menular Anak Muda,” kenang Minah.
Ancaman HIV kini bukan lagi monopoli orang dewasa. Meningkatnya penularan HIV pada ibu rumah tangga, menjadi jalan meningkatnya penularan kepada anak-anak. Entah sudah berapa banyak anak yang menjadi korban penularan HIV dari orang tuanya. [Komang Erviani, Asep Hidayat / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Kadek Rendra (2,5 tahun), sebut saja begitu, hanya terduduk diam di pangkuan Luh Polih (45 tahun), sang nenek. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Tak tampak pancaran keceriaan dari wajah bocah laki-laki itu. Ekspresi wajahnya datar.
Rendra memang tak seperti anak-anak lain seusianya. Jangankan berjalan, merangkak pun ia belum bisa. Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang ada dalam darahnya, membuat tubuh bocah yatim piatu ini tak berkembang secara normal.
Tanda-tanda tidak normal pada kesehatan Rendra, sebenarnya telah terlihat sejak ia berusia tiga bulan. “Biasanya kan anak kecil sehat. Tapi ini nggak naik-naik timbangannya. Turun-turun terus. Enam kilo (gram), lima kilo, bisa turun lagi tiga kilo,” cerita Wayan Parmita (53 tahun), sang kakek. Berat badan yang terus turun saat itu, membuat tubuh Rendra terlihat tak normal. Hanya ukuran leher dan kepala saja yang normal. Tubuhnya yang terlalu kecil bahkan tak mampu menyangga kepalanya sendiri.
Rendra kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Buleleng, sekitar 25 km dari desa tempat tinggalnya di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali. Dokter menyatakan Rendra mengalami radang paru-paru dan gizi buruk. Operasi sempat dilakukan terhadap bocah malang itu. Pasca operasi, kondisinya sedikit membaik. Pertumbuhan badannya mulai normal, meski gizi buruknya belum teratasi sepenuhnya. Namun, sesak nafas masih sering dialami.
Radang paru-paru yang cukup parah, tak wajar pada anak seusianya, mengundang curiga. Dari sanalah tim dokter menyarankan melakukan tes HIV terhadap keduanya. Tes akhirnya dilakukan 2005 lalu. Tes awalnya hanya dilakukan terhadap Rendra. Hasil tes ternyata reaktif. Hasil yang sama didapat saat sang kakak, Gede Mahendra (4,5 tahun), juga dites. Kakak beradik Mahendra dan Rendra ternyata positif terinfeksi HIV.
HIV (Human Immunodeficiency Syndrome) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Dalam jangka waktu tertentu, HIV dapat menyebabkan kumpulan gejala penyakit pada pengidapnya. Fase inilah yang disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penularan virus ini dapat terjadi melalui pertukaran beberapa cairan tubuh manusia, yakni darah, cairan kelamin, dan air susu ibu.
Tak seorang pun bisa memastikan, dari mana virus HIV masuk ke tubuh kedua bocah laki-laki itu. Bisa jadi melalui proses persalinan atau air susu ibu. Parmita menduga, virus tersebut ditularkan oleh ayah kedua bocah, sebut saja Komang Feri. Menurutnya, Feri yang tak lain adalah anak kandungnya sempat mengakui kebiasaannya berganti-ganti pasangan semasa muda dulu. Dari perilakunya itu, Feri diperkirakan telah menularkan virusnya kepada Luh Diah, yang kemudian menularkannya lagi kepada Mahendra dan Rendra. Feri dan Luh Diah baru melakukan tes HIV beberapa bulan setelah hasil tes Mahendra dan Rendra diterima. Keduanya dinyatakan positif, dan meninggal awal 2006 lalu.
Virus HIV menjadikan Rendra dan Mahendra yatim piatu. Keduanya kini juga harus hidup dengan membawa virus yang sama dalam darahnya. HIV kini memang tak cuma mengancam orang dewasa. Sekretariat Program Gabungan PBB untuk Penanggulangan HIV/AIDS, UNAIDS menyebutkan, anak-anak di bawah usia lima tahun merupakan satu dalam enam kematian terkait-AIDS global, dan satu dalam tujuh infeksi global baru. Seorang anak meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS setiap menit dari setiap hari. Disebutkan pula, setiap hari terdapat hampir 2.000 infeksi balita baru yang sebagian besarnya ditularkan dari ibu ke bayi, dan 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan AIDS. Setiap hari pula, 15 juta anak telah kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya akibat AIDS.
Di Indonesia sendiri, persentase anak berumur 0-14 tahun yang tercatat terinfeksi HIV telah meningkat sampai 40% setiap tahunnya. Ini terjadi sejak lima tahun belakangan. Bali juga menyumbang angka yang tidak sedikit. Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada Agustus 2006 menyebutkan, di Bali ada 9 kasus HIV positif pada anak di bawah usia 1 tahun. Tentu saja, angka itu tidak cukup menggambarkan kondisi sesungguhnya. Seperti fenomena gunung es, masih banyak anak-anak terinfeksi HIV lainnya yang belum tercatat. Salah satu faktor penyebabnya, karena banyak pihak yang tidak menyadari bahwa HIV/AIDS sudah menjadi problem untuk populasi anak-anak.
Dokter spesialis anak, Ketut Dewi Kumara Wati, mengakui, tidak mudah mengenali kasus HIV pada anak-anak. “Anak-anak kan sering sakit, nggak suka makan, jadinya kurus, itu hal-hal yang sangat sering kita temukan,” jelas Kepala Divisi Alergi Immunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah itu. Akibatnya, para dokter dan orang tua umumnya tak terpikir kalau HIV yang menjadi penyebab dasar dari penyakit yang dideritanya.
Hal itu pula yang terjadi pada putri pasangan Nana (22) dan Wawan (27), sebut saja Neneng (1 tahun 7 bulan). Pertengahan 2005 lalu, Neneng harus menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Denpasar. “Waktu itu badannya panas, diare, dan sampai kejang-kejang,” ujar sang ayah bercerita. Menurut Wawan, putri pertamanya itu sudah sakit-sakitan sejak usianya 5 bulan. Bahkan dokter yang merawatnya saat itu menyebut, telah terjadi infeksi pada paru-parunya.
Infeksi paru-paru yang tidak biasa pada anak-anak, membuat Wawan yang positif terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) agak was was. Ia khawatir sang anak terinfeksi virus penyerang sistem kekebalan tubuh yang ada dalam darahnya. Wawan mengambil inisiatif, berterus terang tentang latar belakang dirinya sebagai pecandu narkoba suntik (penasun) yang kini telah terinfeksi HIV. “Waktu itu Nana dan Neneng langsung disarankan untuk tes darah,” kenang Wawan. Tes HIV akhirnya dilakukan terhadap Nana dan Neneng. Namun entah karena alasan apa, hasil tes tersebut hingga kini belum diketahuinya.
Delapan hari dirawat di rumah sakit, kondisi kesehatannya perlahan membaik. Namun seminggu setelahnya, penyakitnya kambuh. Suhu badannya naik lagi, batuk, dan tumbuh jamur di lidahnya (kandidiasis oral). “Dokter bilang dia kena gejala bronkhitis,” cerita Wawan. Kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, membuat Neneng terpaksa dirawat oleh Nur (40), sang nenek.
Kondisi Neneng kini sudah jauh lebih baik. “Dia jarang sakit-sakitan kayak dulu,” kata ibunya. Sayang, di usia 1 tahun 7 bulan, Neneng belum bisa berjalan layaknya anak seusianya. Kaki mungilnya tak mampu menopang tubuh yang beratnya 9 kilogram. Sakit yang terus menerus menimpa Neneng, membuat perkembangan organ tubuhnya tak normal. Ironisnya, sejak 6 bulan lalu ia sudah tidak minum susu formula lagi karena keterbatasan dana. Maklum, penghasilan Wawan dari bekerja sebagai pengantar air minum kemasan isi ulang cenderung tak menentu. Setiap satu galon air yang diantarnya, Wawan hanya bisa mengantongi Rp 500. “ Kadang-kadang kalau capek, aku istirahat aja dulu,” kata Wawan yang dalam enam bulan belakangan mengalami penurunan CD4 sampai 130, dari sebelumnya 480 menjadi 350. CD4 adalah sel pembentuk sistem kekebalan tubuh. Sel-sel inilah yang diserang virus HIV, sehingga tingkat kekebalan tubuh pengidapnya menjadi lemah.
Keterbatasan ekonomi juga membuat pola makan Neneng tidak teratur, “Kalau lapar biasanya dia nangis, terus saya kasih makan apa adanya saja. Kalau dia minta minum susu, saya hanya kasih air teh manis,” ungkap Nana.
Neneng masih cukup beruntung. Setidaknya, ia lebih beruntung dibandingkan Shinta (3 tahun). Bocah perempuan itu telah kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupannya, diduga karena HIV. ”Seluruh badannya dipenuhi herpes, dan tubuhnya saat itu kurus. Sementara perutnya membuncit,” kenang Galle, Petugas Lapangan Yayasan Hatihati yang sekaligus pendamping kedua orang tua Shinta, sebut saja Budi dan Wati. Budi dan Wati merupakan pasangan pengguna narkoba suntik (penasun) di kawasan Kuta.
Itu terjadi 2003 silam. Karena sakit, Shinta sempat dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah dan mendapat pendampingan dari beberapa relawan Bali+, kelompok dukungan bagi orang dengan HIV/AIDS (Odha). Ketika itu, Budi juga telah mengalami sakit yang tidak biasa. Badannya demam, juga muncul herpes dan jamur pada mulutnya (kadidiasis oral). Hasil tes menyebutkan, Budi positif HIV. Ia meninggal tak lama setelah Shinta jatuh sakit.
Kematian suaminya, membuat Wati shock. Ia yang ketika itu mengandung anak ketiganya, tiba-tiba jatuh sakit. Pendarahan hebat dialami Wati saat usia kandungannya menginjak 5 bulan. Saat perempuan yang pernah menjalani tes HIV ketika menghuni Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Denpasar karena kasus narkoba tersebut dirawat di Rumah Sakit Sanglah, Shinta menyusul kepergian sang ayah sebelum sempat menjalani tes darah untuk memastikan status HIV-nya. Wati bahkan tak sempat mengetahui kabar kematian Shinta, hingga tiga hari setelahnya ia pun meninggal dunia. Anak ketiganya tak sempat terlahir ke dunia.
Yang tersisa dari keluarga Budi kini hanyalah Dian (8 tahun), putri pertama mereka. Bocah perempuan itu kini dirawat oleh bibinya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Beruntung, Dian tumbuh menjadi anak yang sehat. Minah, ibu kandung Budi, sama sekali tidak menyangka anak, menantu dan cucunya akan pergi selama-lamanya dalam waktu yang hampir bersamaan. “Budi pernah bilang kalau penyakit yang dialami keluarganya adalah Penyakit Menular Anak Muda,” kenang Minah.
Ancaman HIV kini bukan lagi monopoli orang dewasa. Meningkatnya penularan HIV pada ibu rumah tangga, menjadi jalan meningkatnya penularan kepada anak-anak. Entah sudah berapa banyak anak yang menjadi korban penularan HIV dari orang tuanya. [Komang Erviani, Asep Hidayat / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Menghambat Gerak Virus di Tubuh si Kecil
Virus HIV bergerak lebih gesit di tubuh anak-anak. Perawatan yang salah sering jadi pemicu merosotnya kondisi kesehatan mereka. Perlu perhatian lebih dari para orang dewasa.
Kakak beradik asal Busungbiu Buleleng, sebut saja Gede Mahendra (4,5 tahun) dan Kadek Rendra (2,5 tahun), tiba-tiba dinyatakan positif terinfeksi HIV pada pertengahan 2005 lalu. HIV diketahui telah merusak sistem kekebalan tubuh kedua bocah laki-laki itu. Berbagai jenis penyakit akut, mulai dari mal nutrisi, jamur pada kulit, hingga radang paru-paru, telah menggerogoti tubuh mungil mereka.
HIV (Human Immunodeficiency Syndrome) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Dalam jangka waktu tertentu, HIV dapat menyebabkan kumpulan gejala penyakit pada pengidapnya. Fase inilah yang disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penularan virus ini dapat terjadi melalui pertukaran beberapa cairan tubuh manusia, yakni darah, cairan kelamin, dan air susu ibu.
HIV yang hidup dalam darah Mahendra dan Rendra, diperkirakan berasal dari ibunya, sebut saja Luh Diah. Penularan bisa jadi melalui proses persalinan, atau air susu ibu (ASI). Luh Diah sendiri, dipastikan tertular dari suaminya yang tak lain ayah kedua bocah, sebut saja Komang Feri. Ayah kandung Feri, Wayan Parmita (53 tahun) menduga, Feri tertular HIV akibat kebiasaannya berganti-ganti pasangan semasa muda dulu.
Mahendra dan Rendra, tertular virus dari orang tuanya. Tetapi gejala-gejala akibat penularan virus itu, justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra. Sebaliknya, Feri dan Luh Diah baru merasakan gejala penyakit beberapa bulan setelah hasil tes Mahendra dan Rendra diterima. Sesuai dugaan awal, Feri dan Luh Diah dinyatakan positif HIV. Keduanya meninggal awal 2006 lalu akibat berbagai penyakit yang ditimbulkan gara-gara virus itu.
Gejala-gejala penyakit yang justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra dibandingkan kedua orang tuanya, mengindikasikan kerja virus dapat lebih cepat dalam tubuh anak-anak. Hal itu diakui Ketua Pokja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, Tuti Parwati. Menurut penemu kasus HIV/AIDS pertama di Bali itu, sel-sel tubuh anak yang lebih muda cenderung lebih cepat terpengaruh. Itu sebabnya, virus HIV menjadi cenderung lebih cepat menggerogoti tubuh anak-anak dibandingkan orang dewasa.
Hal senada diakui dokter spesialis anak, Ketut Dewi Kumara Wati. Kepala Divisi Alergi Immunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah itu menyebut, dalam kondisi normal pun tingkat kekebalan tubuh anak-anak cenderung lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Itu karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum cukup terlatih. “Kita orang dewasa, setiap hari kontak dengan virus, tidak sakit. Tapi pada anak-anak, kan cepat sekali sakit,” jelas dokter yang banyak merawat anak HIV positif sejak 2004 .
Dua bulan lalu, Dewi juga menemukan infeksi HIV pada seorang bayi perempuan, sebut saja Tiara (10 bulan). Ketika ditemukan, Tiara telah mengalami diare kronis. Oleh orang tuanya, Tiara dikatakan telah mengalami diare sejak lahir. Berbagai rumah sakit telah dicoba untuk menyembuhkan, termasuk sebuah rumah sakit di Surabaya Jawa Timur.
Penyakit yang tak kunjung sembuh, mengundang kecurigaan adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh Tiara. Apalagi setelah uji lab atas kotorannya, ditemukan jamur-jamur yang tidak biasa menyerang anak-anak. Atas dasar itulah, Dewi melakukan pendalaman terhadap kedua orangtua Tiara. Hasilnya, orangtua Tiara mengaku pernah bersentuhan dengan aktivitas berisiko. “Ternyata ayahnya mengaku pernah ‘jajan’ dan make narkoba,” terang Dewi. Benar saja, hasil tes menemukan ada HIV dalam darah Tiara. Pemeriksaan tambahan berupa tes virulogis, menemukan sudah ada 4,6 juta copy virus HIV dalam darah bayi mungil itu.
Baru beberapa waktu setelah itu, kedua orang tua Tiara menjalani tes HIV, dan hasilnya reaktif (positif). “Biasanya memang anaknya duluan yang ketahuan (positif HIV),” tambah Dewi.
Menurut catatan Yayasan Spiritia, ada tiga tipe anak-anak HIV positif jika dilihat dari reaksi virusnya. Ada ‘pelanjut cepat’ di mana anak yang terinfeksi agak dini pada kehamilan akan mengembangkan tanda dan gejala penyakit pada usia 1-2 tahun. Anak tersebut akan melaju ke fase AIDS, di mana mulai muncul gejala-gejala penyakit, dengan sangat cepat. Kadar CD4 (sel pembentuk sistem kekebalan tubuh) akan merosot menjadi di bawah 100 sebelum usia dua tahun. Pada orang normal, kadar CD4 seharusnya 500.
Tipe kedua adalah ‘pelanjut pelan’, di mana harapan hidupnya lebih baik. Anak-anak ini terinfeksi saat melahirkan atau proses menyusui. Mereka cenderung mengembangkan bukti kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pada usia 7-8 tahun. Kehilangan sel CD4 akan berlanjut berangsur-angsur. Terakhir, ada pula sekelompok anak dengan HIV positif yang akan tetap sehat dengan sedikit atau tanpa gejala penyakit dan kadar CD4 yang nyaris normal sampai usia anak 9 tahun.
Penelitian terhadap anak HIV positif di sejumlah negara maju menunjukkan, ketahanan hidup rata-rata mereka hanya 8-9 tahun. Ini berbeda dengan rentang waktu orang dewasa untuk mencapai fase AIDS sejak pertamakali terinfeksi yang bisa mencapai 10 tahun, bahkan lebih.
Selain Tiara, Dewi juga tengah merawat tiga anak positif HIV lainnya. Satu anak berusia 2,5 tahun, sebut saja Dian, diketahui terinfeksi setelah ditemukan dalam kondisi mal nutrisi yang parah. Bocah perempuan itu juga menderita asma. Setelah didalami, ternyata sang ibu telah meninggal dengan gejala-gejala mirip AIDS. Sementara sang ayah ternyata tengah menjalani terapi antiretroviral (ARV), terapi untuk menekan perkembangan virus HIV dalam darah bagi Odha.
Dua anak lainnya, adalah saudara kembar berusia 12 bulan. Keduanya tergolong bayi dari ibu HIV/AIDS (BIHA), sebutan untuk bayi yang terlahir dari ibu HIV positif di mana perkembangannya memang telah dipantau secara medis sejak dalam kandungan.
Penanganan kesehatan anak-anak HIV positif, bukan hal mudah. Dokter spesialis anak di RSU Singaraja, Ketut Ngurah Alit, menilai hal itu karena status HIV pada anak-anak umumnya baru diketahui setelah kondisi kesehatan mereka memburuk. Biasanya, kecurigaan adanya infeksi HIV baru muncul bila pertumbuhan anak tidak normal. Indikasinya beragam. Mulai dari sakit-sakitan, berat badan terus merosot, ada infeksi jamur yang berulang, sampai radang paru-paru yang tidak sembuh-sembuh. “Akhirnya, waktu kita temukan kondisinya sudah tidak baik,” jelas dokter yang menangani Mahendra dan Rendra ini.
Merawat anak dengan HIV positif, memang gampang-gampang susah. Salah satu kuncinya sebenarnya sangat sederhana, yakni kondisi rumah dan lingkungannya. Higienitasnya lingkungan rumah harus betul-betul dijaga. Anak HIV harus dijauhkan dari kondisi-kondisi yang memudahkan dia sakit. Menurut Dewi, anak tanpa HIV sekali pun, sangat rentan dengan penyakit. “Menurut pakar, dengan kondisi yang bersih sekali pun, anak dengan HIV positif pasti akan sakit. Apalagi kalau kondisinya tidak bersih,” ungkap Dewi.
Bahkan kontak dengan orang lain yang membawa virus, walau tidak dalam kondisi sakit, bisa membuat anak HIV tertular virus. Itu terjadi pada Dian beberapa waktu lalu. Virus campak telah membuat kulitnya memerah sampai berhari-hari. “Biasanya orang kena campak bisa sembuh dalam seminggu. Tapi dia kena campak berulang-ulang, dan nggak sembuh-sembuh. Jadi nggak jelas dia dapat virusnya dari mana,” Dewi menjelaskan.
Tak cuma itu, menjaga asupan gizi juga sangat penting. “Dia harus memakan makanan yang kaya kalori, lengkap proteinnya,” ujar Dewi lagi. Asupan gizi tidak seimbang, banyak menjadi kendala pada penanganan anak dengan HIV positif. Itu pula yang dihadapi Ketut Ngurah Alit dalam menanangani Mahendra dan Rendra. Menurut Alit, pengetahuan yang kurang tentang asupan gizi seimbang, telah memicu menurunnya kualitas kesehatan mereka. Belum lagi masalah kemampuan ekonomi yang tidak bagus. “Itu sangat merusakkan anak-anak itu. Karena bagaimanapun, penyakitnya sendiri sudah bikin orang gizi buruk. Jadi kalau sudah makan, ya sudah. Entah apa yang dimakan, kita nggak tahu. Apa hanya ubi saja, atau dia dapat susu. Kita nggak tahu. Padahal untuk anak-anak HIV, gizi tinggi yang perlu,” terangnya. Perawatan yang tepat, menjadi kunci peningkatan kualitas hidup anak-anak dengan HIV positif. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Kakak beradik asal Busungbiu Buleleng, sebut saja Gede Mahendra (4,5 tahun) dan Kadek Rendra (2,5 tahun), tiba-tiba dinyatakan positif terinfeksi HIV pada pertengahan 2005 lalu. HIV diketahui telah merusak sistem kekebalan tubuh kedua bocah laki-laki itu. Berbagai jenis penyakit akut, mulai dari mal nutrisi, jamur pada kulit, hingga radang paru-paru, telah menggerogoti tubuh mungil mereka.
HIV (Human Immunodeficiency Syndrome) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga seseorang menjadi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. Dalam jangka waktu tertentu, HIV dapat menyebabkan kumpulan gejala penyakit pada pengidapnya. Fase inilah yang disebut dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penularan virus ini dapat terjadi melalui pertukaran beberapa cairan tubuh manusia, yakni darah, cairan kelamin, dan air susu ibu.
HIV yang hidup dalam darah Mahendra dan Rendra, diperkirakan berasal dari ibunya, sebut saja Luh Diah. Penularan bisa jadi melalui proses persalinan, atau air susu ibu (ASI). Luh Diah sendiri, dipastikan tertular dari suaminya yang tak lain ayah kedua bocah, sebut saja Komang Feri. Ayah kandung Feri, Wayan Parmita (53 tahun) menduga, Feri tertular HIV akibat kebiasaannya berganti-ganti pasangan semasa muda dulu.
Mahendra dan Rendra, tertular virus dari orang tuanya. Tetapi gejala-gejala akibat penularan virus itu, justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra. Sebaliknya, Feri dan Luh Diah baru merasakan gejala penyakit beberapa bulan setelah hasil tes Mahendra dan Rendra diterima. Sesuai dugaan awal, Feri dan Luh Diah dinyatakan positif HIV. Keduanya meninggal awal 2006 lalu akibat berbagai penyakit yang ditimbulkan gara-gara virus itu.
Gejala-gejala penyakit yang justru lebih dulu terlihat di tubuh Mahendra dan Rendra dibandingkan kedua orang tuanya, mengindikasikan kerja virus dapat lebih cepat dalam tubuh anak-anak. Hal itu diakui Ketua Pokja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, Tuti Parwati. Menurut penemu kasus HIV/AIDS pertama di Bali itu, sel-sel tubuh anak yang lebih muda cenderung lebih cepat terpengaruh. Itu sebabnya, virus HIV menjadi cenderung lebih cepat menggerogoti tubuh anak-anak dibandingkan orang dewasa.
Hal senada diakui dokter spesialis anak, Ketut Dewi Kumara Wati. Kepala Divisi Alergi Immunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah itu menyebut, dalam kondisi normal pun tingkat kekebalan tubuh anak-anak cenderung lebih lemah dibandingkan orang dewasa. Itu karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum cukup terlatih. “Kita orang dewasa, setiap hari kontak dengan virus, tidak sakit. Tapi pada anak-anak, kan cepat sekali sakit,” jelas dokter yang banyak merawat anak HIV positif sejak 2004 .
Dua bulan lalu, Dewi juga menemukan infeksi HIV pada seorang bayi perempuan, sebut saja Tiara (10 bulan). Ketika ditemukan, Tiara telah mengalami diare kronis. Oleh orang tuanya, Tiara dikatakan telah mengalami diare sejak lahir. Berbagai rumah sakit telah dicoba untuk menyembuhkan, termasuk sebuah rumah sakit di Surabaya Jawa Timur.
Penyakit yang tak kunjung sembuh, mengundang kecurigaan adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh Tiara. Apalagi setelah uji lab atas kotorannya, ditemukan jamur-jamur yang tidak biasa menyerang anak-anak. Atas dasar itulah, Dewi melakukan pendalaman terhadap kedua orangtua Tiara. Hasilnya, orangtua Tiara mengaku pernah bersentuhan dengan aktivitas berisiko. “Ternyata ayahnya mengaku pernah ‘jajan’ dan make narkoba,” terang Dewi. Benar saja, hasil tes menemukan ada HIV dalam darah Tiara. Pemeriksaan tambahan berupa tes virulogis, menemukan sudah ada 4,6 juta copy virus HIV dalam darah bayi mungil itu.
Baru beberapa waktu setelah itu, kedua orang tua Tiara menjalani tes HIV, dan hasilnya reaktif (positif). “Biasanya memang anaknya duluan yang ketahuan (positif HIV),” tambah Dewi.
Menurut catatan Yayasan Spiritia, ada tiga tipe anak-anak HIV positif jika dilihat dari reaksi virusnya. Ada ‘pelanjut cepat’ di mana anak yang terinfeksi agak dini pada kehamilan akan mengembangkan tanda dan gejala penyakit pada usia 1-2 tahun. Anak tersebut akan melaju ke fase AIDS, di mana mulai muncul gejala-gejala penyakit, dengan sangat cepat. Kadar CD4 (sel pembentuk sistem kekebalan tubuh) akan merosot menjadi di bawah 100 sebelum usia dua tahun. Pada orang normal, kadar CD4 seharusnya 500.
Tipe kedua adalah ‘pelanjut pelan’, di mana harapan hidupnya lebih baik. Anak-anak ini terinfeksi saat melahirkan atau proses menyusui. Mereka cenderung mengembangkan bukti kerusakan parah pada sistem kekebalan tubuh pada usia 7-8 tahun. Kehilangan sel CD4 akan berlanjut berangsur-angsur. Terakhir, ada pula sekelompok anak dengan HIV positif yang akan tetap sehat dengan sedikit atau tanpa gejala penyakit dan kadar CD4 yang nyaris normal sampai usia anak 9 tahun.
Penelitian terhadap anak HIV positif di sejumlah negara maju menunjukkan, ketahanan hidup rata-rata mereka hanya 8-9 tahun. Ini berbeda dengan rentang waktu orang dewasa untuk mencapai fase AIDS sejak pertamakali terinfeksi yang bisa mencapai 10 tahun, bahkan lebih.
Selain Tiara, Dewi juga tengah merawat tiga anak positif HIV lainnya. Satu anak berusia 2,5 tahun, sebut saja Dian, diketahui terinfeksi setelah ditemukan dalam kondisi mal nutrisi yang parah. Bocah perempuan itu juga menderita asma. Setelah didalami, ternyata sang ibu telah meninggal dengan gejala-gejala mirip AIDS. Sementara sang ayah ternyata tengah menjalani terapi antiretroviral (ARV), terapi untuk menekan perkembangan virus HIV dalam darah bagi Odha.
Dua anak lainnya, adalah saudara kembar berusia 12 bulan. Keduanya tergolong bayi dari ibu HIV/AIDS (BIHA), sebutan untuk bayi yang terlahir dari ibu HIV positif di mana perkembangannya memang telah dipantau secara medis sejak dalam kandungan.
Penanganan kesehatan anak-anak HIV positif, bukan hal mudah. Dokter spesialis anak di RSU Singaraja, Ketut Ngurah Alit, menilai hal itu karena status HIV pada anak-anak umumnya baru diketahui setelah kondisi kesehatan mereka memburuk. Biasanya, kecurigaan adanya infeksi HIV baru muncul bila pertumbuhan anak tidak normal. Indikasinya beragam. Mulai dari sakit-sakitan, berat badan terus merosot, ada infeksi jamur yang berulang, sampai radang paru-paru yang tidak sembuh-sembuh. “Akhirnya, waktu kita temukan kondisinya sudah tidak baik,” jelas dokter yang menangani Mahendra dan Rendra ini.
Merawat anak dengan HIV positif, memang gampang-gampang susah. Salah satu kuncinya sebenarnya sangat sederhana, yakni kondisi rumah dan lingkungannya. Higienitasnya lingkungan rumah harus betul-betul dijaga. Anak HIV harus dijauhkan dari kondisi-kondisi yang memudahkan dia sakit. Menurut Dewi, anak tanpa HIV sekali pun, sangat rentan dengan penyakit. “Menurut pakar, dengan kondisi yang bersih sekali pun, anak dengan HIV positif pasti akan sakit. Apalagi kalau kondisinya tidak bersih,” ungkap Dewi.
Bahkan kontak dengan orang lain yang membawa virus, walau tidak dalam kondisi sakit, bisa membuat anak HIV tertular virus. Itu terjadi pada Dian beberapa waktu lalu. Virus campak telah membuat kulitnya memerah sampai berhari-hari. “Biasanya orang kena campak bisa sembuh dalam seminggu. Tapi dia kena campak berulang-ulang, dan nggak sembuh-sembuh. Jadi nggak jelas dia dapat virusnya dari mana,” Dewi menjelaskan.
Tak cuma itu, menjaga asupan gizi juga sangat penting. “Dia harus memakan makanan yang kaya kalori, lengkap proteinnya,” ujar Dewi lagi. Asupan gizi tidak seimbang, banyak menjadi kendala pada penanganan anak dengan HIV positif. Itu pula yang dihadapi Ketut Ngurah Alit dalam menanangani Mahendra dan Rendra. Menurut Alit, pengetahuan yang kurang tentang asupan gizi seimbang, telah memicu menurunnya kualitas kesehatan mereka. Belum lagi masalah kemampuan ekonomi yang tidak bagus. “Itu sangat merusakkan anak-anak itu. Karena bagaimanapun, penyakitnya sendiri sudah bikin orang gizi buruk. Jadi kalau sudah makan, ya sudah. Entah apa yang dimakan, kita nggak tahu. Apa hanya ubi saja, atau dia dapat susu. Kita nggak tahu. Padahal untuk anak-anak HIV, gizi tinggi yang perlu,” terangnya. Perawatan yang tepat, menjadi kunci peningkatan kualitas hidup anak-anak dengan HIV positif. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Menanti Kebijakan Memberi Harapan
Kebijakan pemerintah menjadi penting dalam melepaskan anak-anak dari ancaman HIV/AIDS. Pengobatan yang tepat jadi harapan. Keceriaan masa kanak-kanak berhak mereka dapat.
Mengunjungi tempat tinggal Dian (2,5 tahun), sebut saja begitu, kini hampir pasti membuat Ketut Dewi Kumara Wati berseri. Maklum, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Sanglah itu tak lagi menemukan bocah perempuan yang hanya bisa terduduk lemah. Dewi kini hanya menemukan sosok bocah yang aktif berlari ke sana kemari, selalu melempar tawa di setiap kesempatan. “Dulu dia bahkan berdiri saja nggak bisa. Sekarang sudah bisa berlari, bantu-bantu di rumah. Bahagia sekali melihatnya,” ujar Dewi bersemangat.
Ketika pertama kali bertemu, kondisi Dian memang cukup memprihatinkan. Puskesmas di wilayahnya merujuk Dian karena kurang gizi berat. Gangguan pernafasan karena asma, juga cukup mengganggu fisiknya. Hasil tes menyatakan Dian positif terinfeksi HIV. Ternyata, sang ayah tengah mengikuti terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan perkembangan virus HIV dalam darah orang dengan HIV positif (Odha). Dian juga telah kehilangan kakak dan ibu kandungnya, diperkirakan karena HIV.
Kondisi kesehatan Dian yang membaik, tak lepas dari terapi ARV yang dijalankannya sejak Februari 2006 lalu. Kini, setiap hari, Dian harus meminum obat tersebut. Dian juga tergolong beruntung, karena tidak ada efek samping yang diakibatkan obat itu. Terapi ARV memang cenderung menyebabkan efek samping yang beragam pada setiap Odha. “Sejauh ini belum ada efek samping. Mudah-mudahan nggak,” harap Dewi.
Terapi ARV merupakan salah satu bentuk pengobatan yang paling manjur bagi orang-orang terinfeksi HIV saat ini. Obat ARV yang telah disubsidi pemerintah secara penuh sejak 2004 lalu itu, telah meningkatkan kualitas hidup ratusan Odha di Bali. Tak terkecuali bagi anak-anak.
Namun menurut Dewi, belum adanya obat ARV khusus untuk anak-anak telah menjadi kendala penanganan anak-anak dengan HIV positif. Selama ini, obat ARV yang diberikan pada anak hanyalah obat ARV biasa yang disesuaikan dosisnya. Namun penerapannya menjadi sulit karena dasar pertimbangan untuk menentukan perbandingan dosis kombinasi obat menjadi jauh berbeda. Pasalnya, pada anak-anak ada pertimbangan berat badan dan luas permukaan tubuh. “Kalau pada orang dewasa, memang dosis sudah pas. Tapi pada anak-anak, beda. Harus dipertimbangkan berat badan dan luas permukaan tubuh,” jelas Dewi.
Pertimbangan berat badan dan luas permukaan tubuh dilakukan untuk mengukur kemampuan obat itu dimetabolisme di dalam tubuh, serta mengukur beban hati dan ginjal akibat obat itu. “Pada anak-anak, dosis itu akan sangat berpengaruh. Komposisi tubuh anak , antara lemak, padat, dan air, beda sekali dibandingkan pada orang dewasa. Pada bayi baru lahir dan bayi yang sudah beberapa bulan, balita, juga beda. Cara mereka minum obat juga beda,” keluhnya. Masih menurut Dewi, obat ARV anak sampai saat ini belum masuk ke Indonesia. Nigeria termasuk salah satu negara yang mendapat bantuan terapi ARV anak-anak.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Nafsiah Mboi, mengakui belum ada obat ARV khusus anak di Indonesia. Perempuan asal Sulawesi itu juga mengakui pentingnya pengadaan obat ARV khusus anak, mengingat kondisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. “Kita mau adakan penelitian-penelitian khusus untuk anak-anak HIV. Termasuk bagaimana pengobatan yang tepat bagi mereka,” jelas Nafsiah.
Permasalahan anak, menurut Nafsiah, tengah menjadi perhatian KPA. Untuk itu pihaknya telah membuat kelompok kerja anak dan remaja, khusus untuk membahas penanganan HIV/AIDS pada anak dan remaja usia 0 sampai 24 tahun. Pasalnya, kasus anak-anak dengan HIV positif terus meningkat. “Secara data, anak HIV tercatat tidak banyak. Hanya 17 orang anak di bawah 15 tahun. Tapi ternyata di satu rumah sakit di Jakarta saja, dikatakan sudah merawat 100 anak HIV positif. Jadi ini sudah masalah yang berbahaya dan perlu penanganan segera,” terangnya.
Upaya lain yang juga akan makin digalakkan KPA Nasional, menurut Nafsiah, adalah
Program Prevention Mother Care Prevention Mother To Child Transmission (PMTCT). PMTCT merupakan program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Prinsip utama dari program ini adalah perencanaan kehamilan oleh Odha, pencegahan penularan selama kehamilan dengan obat-obatan antiretroviral, pencegahan penularan saat kelahiran melalui caesar, serta pencegahan penularan setelah kelahiran dengan tidak memberikan air susu ibu (ASI). ASI merupakan salah satu cairan tempat tinggal virus, selain dalam darah dan cairan kelamin. Dalam program ini, bayi juga diberi obat ARV selama satu minggu pertama untuk mengurangi risiko penularan.
Ketua Kelompok Kerja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Tuti Parwati, juga menilai program PMTCT sangat penting karena 15-40 persen anak tertular dari ibunya. “Kalau ibu tidak diapa-apakan, tidak dapat treatment, berisiko,” jelas penemu kasus AIDS pertama di Indonesia pada 1987 itu.
Secara resmi, program PMTCT telah dilaksanakan di Bali melalui Rumah Sakit Sanglah sejak 2005 lalu. Belakangan, program ini juga dibentuk di Rumah Sakit Umum Singaraja. Namun sebelum dibentuk secara resmi, program ini sebenarnya telah dijalankan secara informal oleh beberapa dokter yang concern pada masalah HIV/AIDS.
Hasilnya, Bagian anak RS Sanglah kini tengah menangani 8 anak dari ibu HIV positif yang berusia antara 4 minggu sampai 4 tahun. Tiga anak di antaranya sudah dinyatakan negatif HIV setelah tes dilakukan ketika usia mereka di atas 18 bulan. 18 bulan adalah masa di mana kadar antibodi yang berasal dari ibu di dalam darah anak, mulai hilang. Pemeriksaan HIV jenis ELISA yang umum digunakan, menilai kadar antibodi HIV dalam darah. Jadi hasil tes saat anak belum berusia 18 bulan, tidak bisa memberi kepastian. Tes yang dapat memberi kepastian adalah tes PCR yang melihat langsung jumlah virus dalam darah. Namun tes jenis ini memerlukan biaya terlalu mahal sehingga jarang dilakukan. Dari tes PCR, diketahui ada 2 anak hasil program PMTCT telah positif terinfeksi HIV.
Program PMTCT memang tak menjamin anak bebas dari infeksi HIV/AIDS. Karenanya Tuti lebih menekankan pentingnya pemeriksaan HIV bagi masyarakat umum. Dengan tahu status HIV sedini mungkin, maka semua program pencegahan penularan dapat dilaksanakan. Dengan demikian, penularan HIV dapat ditekan dan tak ada lagi anak-anak yang lahir dengan membawa warisan HIV. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Mengunjungi tempat tinggal Dian (2,5 tahun), sebut saja begitu, kini hampir pasti membuat Ketut Dewi Kumara Wati berseri. Maklum, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Sanglah itu tak lagi menemukan bocah perempuan yang hanya bisa terduduk lemah. Dewi kini hanya menemukan sosok bocah yang aktif berlari ke sana kemari, selalu melempar tawa di setiap kesempatan. “Dulu dia bahkan berdiri saja nggak bisa. Sekarang sudah bisa berlari, bantu-bantu di rumah. Bahagia sekali melihatnya,” ujar Dewi bersemangat.
Ketika pertama kali bertemu, kondisi Dian memang cukup memprihatinkan. Puskesmas di wilayahnya merujuk Dian karena kurang gizi berat. Gangguan pernafasan karena asma, juga cukup mengganggu fisiknya. Hasil tes menyatakan Dian positif terinfeksi HIV. Ternyata, sang ayah tengah mengikuti terapi antiretroviral (ARV) untuk menekan perkembangan virus HIV dalam darah orang dengan HIV positif (Odha). Dian juga telah kehilangan kakak dan ibu kandungnya, diperkirakan karena HIV.
Kondisi kesehatan Dian yang membaik, tak lepas dari terapi ARV yang dijalankannya sejak Februari 2006 lalu. Kini, setiap hari, Dian harus meminum obat tersebut. Dian juga tergolong beruntung, karena tidak ada efek samping yang diakibatkan obat itu. Terapi ARV memang cenderung menyebabkan efek samping yang beragam pada setiap Odha. “Sejauh ini belum ada efek samping. Mudah-mudahan nggak,” harap Dewi.
Terapi ARV merupakan salah satu bentuk pengobatan yang paling manjur bagi orang-orang terinfeksi HIV saat ini. Obat ARV yang telah disubsidi pemerintah secara penuh sejak 2004 lalu itu, telah meningkatkan kualitas hidup ratusan Odha di Bali. Tak terkecuali bagi anak-anak.
Namun menurut Dewi, belum adanya obat ARV khusus untuk anak-anak telah menjadi kendala penanganan anak-anak dengan HIV positif. Selama ini, obat ARV yang diberikan pada anak hanyalah obat ARV biasa yang disesuaikan dosisnya. Namun penerapannya menjadi sulit karena dasar pertimbangan untuk menentukan perbandingan dosis kombinasi obat menjadi jauh berbeda. Pasalnya, pada anak-anak ada pertimbangan berat badan dan luas permukaan tubuh. “Kalau pada orang dewasa, memang dosis sudah pas. Tapi pada anak-anak, beda. Harus dipertimbangkan berat badan dan luas permukaan tubuh,” jelas Dewi.
Pertimbangan berat badan dan luas permukaan tubuh dilakukan untuk mengukur kemampuan obat itu dimetabolisme di dalam tubuh, serta mengukur beban hati dan ginjal akibat obat itu. “Pada anak-anak, dosis itu akan sangat berpengaruh. Komposisi tubuh anak , antara lemak, padat, dan air, beda sekali dibandingkan pada orang dewasa. Pada bayi baru lahir dan bayi yang sudah beberapa bulan, balita, juga beda. Cara mereka minum obat juga beda,” keluhnya. Masih menurut Dewi, obat ARV anak sampai saat ini belum masuk ke Indonesia. Nigeria termasuk salah satu negara yang mendapat bantuan terapi ARV anak-anak.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, Nafsiah Mboi, mengakui belum ada obat ARV khusus anak di Indonesia. Perempuan asal Sulawesi itu juga mengakui pentingnya pengadaan obat ARV khusus anak, mengingat kondisi tubuh anak-anak berbeda dengan orang dewasa. “Kita mau adakan penelitian-penelitian khusus untuk anak-anak HIV. Termasuk bagaimana pengobatan yang tepat bagi mereka,” jelas Nafsiah.
Permasalahan anak, menurut Nafsiah, tengah menjadi perhatian KPA. Untuk itu pihaknya telah membuat kelompok kerja anak dan remaja, khusus untuk membahas penanganan HIV/AIDS pada anak dan remaja usia 0 sampai 24 tahun. Pasalnya, kasus anak-anak dengan HIV positif terus meningkat. “Secara data, anak HIV tercatat tidak banyak. Hanya 17 orang anak di bawah 15 tahun. Tapi ternyata di satu rumah sakit di Jakarta saja, dikatakan sudah merawat 100 anak HIV positif. Jadi ini sudah masalah yang berbahaya dan perlu penanganan segera,” terangnya.
Upaya lain yang juga akan makin digalakkan KPA Nasional, menurut Nafsiah, adalah
Program Prevention Mother Care Prevention Mother To Child Transmission (PMTCT). PMTCT merupakan program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Prinsip utama dari program ini adalah perencanaan kehamilan oleh Odha, pencegahan penularan selama kehamilan dengan obat-obatan antiretroviral, pencegahan penularan saat kelahiran melalui caesar, serta pencegahan penularan setelah kelahiran dengan tidak memberikan air susu ibu (ASI). ASI merupakan salah satu cairan tempat tinggal virus, selain dalam darah dan cairan kelamin. Dalam program ini, bayi juga diberi obat ARV selama satu minggu pertama untuk mengurangi risiko penularan.
Ketua Kelompok Kerja Care Support and Treatment Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Tuti Parwati, juga menilai program PMTCT sangat penting karena 15-40 persen anak tertular dari ibunya. “Kalau ibu tidak diapa-apakan, tidak dapat treatment, berisiko,” jelas penemu kasus AIDS pertama di Indonesia pada 1987 itu.
Secara resmi, program PMTCT telah dilaksanakan di Bali melalui Rumah Sakit Sanglah sejak 2005 lalu. Belakangan, program ini juga dibentuk di Rumah Sakit Umum Singaraja. Namun sebelum dibentuk secara resmi, program ini sebenarnya telah dijalankan secara informal oleh beberapa dokter yang concern pada masalah HIV/AIDS.
Hasilnya, Bagian anak RS Sanglah kini tengah menangani 8 anak dari ibu HIV positif yang berusia antara 4 minggu sampai 4 tahun. Tiga anak di antaranya sudah dinyatakan negatif HIV setelah tes dilakukan ketika usia mereka di atas 18 bulan. 18 bulan adalah masa di mana kadar antibodi yang berasal dari ibu di dalam darah anak, mulai hilang. Pemeriksaan HIV jenis ELISA yang umum digunakan, menilai kadar antibodi HIV dalam darah. Jadi hasil tes saat anak belum berusia 18 bulan, tidak bisa memberi kepastian. Tes yang dapat memberi kepastian adalah tes PCR yang melihat langsung jumlah virus dalam darah. Namun tes jenis ini memerlukan biaya terlalu mahal sehingga jarang dilakukan. Dari tes PCR, diketahui ada 2 anak hasil program PMTCT telah positif terinfeksi HIV.
Program PMTCT memang tak menjamin anak bebas dari infeksi HIV/AIDS. Karenanya Tuti lebih menekankan pentingnya pemeriksaan HIV bagi masyarakat umum. Dengan tahu status HIV sedini mungkin, maka semua program pencegahan penularan dapat dilaksanakan. Dengan demikian, penularan HIV dapat ditekan dan tak ada lagi anak-anak yang lahir dengan membawa warisan HIV. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 21,Oktober 2006]
Kamis, 28 September 2006
Awan Putih di Udara Buleleng
Pagi sebelum matahari naik, 2 September 2006 lalu, Markus Walther, 48 tahun, sudah meninggalkan kamar hotel di kawasan wisata Lovina, Buleleng, Bali. Sembari memboyong perlengkapan terbangnya, 40 menit kemudian warga negara Swiss itu sudah tiba di Pangkalan Udara Letkol Wisnu, yang terpaut sekitar 50 km dari Lovina. Markus yang menetap di Penang Malaysia, memang tak mau terlambat tiba di Lanud yang berlokasi di Desa Sumberkina, Kecamatan Gerokgak itu. Maklum, ini merupakan kali pertama Markus berkesempatan mempertunjukkan keahlian akrobatiknya di atas langit Indonesia. Di atas langit Buleleng, Markus ingin menunjukkan aksi terbaiknya di ajang Buleleng Fly In II 2006.
Dari parkiran Lanud, langkahnya cepat menuju pesawat pribadi yang telah terparkir di apron. Pesawat buatan Perancis seharga USD 180.000 itu, sudah beberapa tahun ini dimiliki Markus bersama tiga rekannya, Andi (Austria), Toni (Australia), dan Dave (Kanada). Pesawat berkapasitas 4 orang itu sengaja dibawa Markus dari Johor Malaysia ke Buleleng, untuk mendukung aksi aerobatik udaranya. ” Dari Johor Baru (Malaysia) saya bawa ke Palembang, Halim Perdanakusuma, Semarang, baru Buleleng. Perjalanan total sekitar 4 sampai 5 jam,” terang pria berjambang itu.
Sebelum memulai aksinya, Markus mempersiapkan segala tetek bengeknya. Mulai dari mengecek kesiapan mesin pesawat, memastikan parasut keselamatan berfungsi baik, mengetes radio komunikasi, hingga mengamati gerak sinyal Navigasi GPS-nya. Semua dicek, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan dalam aksinya. Menghindari kecelakaan udara yang bisa terjadi setiap saat. Satu lagi yang tak pernah dilupakannya, yakni berdoa. ”Saya berdoa setiap saat, di setiap tempat. Itu yang terpenting,” tegasnya. Satu resepnya yang lain, yakni minum air putih.
Sambil menunggu giliran beraksi, sementara seremoni pembukaan acara Buleleng Fly In berlangsung, Markus duduk tenang di kokpit sambil memanasi mesin pesawatnya. Baju terusan warga oranye dan sebuah helm, juga sudah menempel di badan. Markus siap menunggu aba-aba.
Ketika aba-aba untuk memulai aksi telah diterima, Markus dan pesawat dengan paduan warna biru kuningnya lantas mengambil posisi di ujung landasan. Sejenak berhenti untuk berdoa, Markus langsung memaju pesawatnya dalam kecepatan tinggi. Landasan pacu Lanud Letkol Wisnu yang tak terlalu panjang, hanya sekitar 900 meter, dilalui dengan mulus. Markus mengangkasa diiringi tepukan riuh dari para pejabat, penerjun, penerbang, aparat, serta masyarakat lokal yang memenuhi area sekitar Lanud. Tepukan itu makin riuh, ketika sejumlah aksi mengerikan berhasil ditampilkan Markus. Ada gerakan berputar seperti pesenam yang salto, ada gerakan berbalik hampir 180 derajat, ada pula gerakan lurus ke atas dan ke bawah. Tak jarang penonton dibuat kaget dan ketakutan ketika Markus beraksi seolah hendak menabrak podium, atau jatuh dari ketinggian ratusan meter. ”Gila orang itu,” begitu teriak salah seorang warga.
Bahkan Kepala Staf Angkatan Udara RI, Marsekal TNI Herman Prayitno, menyatakan kekagumannya pada aksi Markus dengan pesawat yang teregistrasi di Australia miliknya. ”Luar biasa. Hebat sekali,” begitu Prayitno kepada Markus, beberapa saat setelah menyelesaikan aksinya. Menurut Prayitno, orang yang tidak kuat secara fisik maupun mental tidak akan mampu menghadapi perubahan kekuatan gravitasi yang sangat tinggi.
Menurut Markus, saat beraksi ia mencapai titik kekuatan gravitasi (G-Force) tertinggi + (plus) 6 G dan – (minus) 4 G. Pada kondisi normal, manusia biasanya berada pada titik 1 G (satu gravitasi). Pada kondisi minus, darah biasanya mengalir dari kaki ke kepala. Bagi orang yang fisiknya tak kuat, biasanya bisa mengalami black out, atau pingsan, bahkan kematian.
Markus merasa beruntung, kondisi itu tidak terjadi padanya. Markus yang sudah pernah terbang sejak setahun lalu, bahkan bisa berdiri seperti biasa sesaat setelah mengerem laju pesawat. Ia hanya membutuhkan sebotol air putih untuk memulihkan kesegaran tubuhnya.
Aerobatik memang sudah menjadi bagian dari keseharian pria yang mewakili Johor Flying Club itu, sejak 10 tahun lalu. Aksi mendebarkan itu telah dilakukan sebanyak 40 kali. Aksi kali ini menjadi aksinya yang ke-41, sekaligus aksi pertamanya di Indonesia. sebelumnya, aksi aerobatic Markus dilakukan di sejumlah negara, seperti Australia dan Malaysia. ”Sebenarnya saya sudah empat kali ke Buleleng. Tapi ini pertama kalinya saya main,” ujarnya.
Tak banyak persiapan yang dilakukan Markus untuk beraksi di langit Buleleng. Setiap satu minggu sekali, selama 3 minggu, ia melakukan latihan masing-masing selama tiga jam. Ini sekaligus untuk mempersiapkan diri dalam ajang Australia International Championship pada April 2007 mendatang. Latihan yang selalu diutamakan, yakni latihan kekuatan gravitasi (G-Force). ”Kalau tidak kuat, bisa black out,” ujar peringkat kedua di ajang Australia International Championship pada April 2006 lalu itu, santai. Karenanya, satu prinsip yang selalu dipegang, kondisi tubuh saat beraksi harus benar-benar fit. Kalau tidak, nyawa yang jadi taruhannya.
Markus mengaku senang berkesempatan tampil di Buleleng. ”Luar biasa. Ini tempat yang bagus untuk terbang,” begitu Markus. Ia juga menilai Buleleng Fly In sebagai even yang sangat menarik. Apalagi, ada support yang sukup besar dari masyarakat setempat.
Ajang Buleleng Fly In memang menjadi ajang pesta bagi para pencinta olahraga kedirgantaraan. Tak cuma aerobatic, kegiatan yang digelar selama 3 hari itu (2-4 September), juga menampilkan aeromodelling, aerosport, gantole, paralayang, terjun paying, hingga fly pass. Sebanyak 12 orang penerjun, memeriahkan acara. Ada 19 orang partisipan dari Malaysia, 3 partisipan dari Singapura, 1 partisipan dari Thailand, 1 partisipan dari Filipina, dan 12 partisipan dari Indonesia.
Ada juga kegiatan terbang gembira (joy flight) yang membuka kesempatan bagi masyarakat lokal. Guna meningkatkan kepariwisataan Buleleng, digelar pula mini rally mengitari Buleleng untuk memperkenalkan potensi kabupaten paling utara Bali itu. Pesertanya pun datang dari dalam dan luar negeri. Lomba lukis pesawat pun memeriahkan acara.
Di ajang yang sama, juga digelar lomba ogoh-ogoh (patung dari bamboo dan kertas semen) berbentuk pesawat. Ada sedikitnya 11 karya ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh sekaa teruna teruni (kelompok muda-mudi) dari Desa Sumberkima dan desa tetangganya, Pemuteran. Bentuknya pun unik-unik. Sebagian besar diantaranya mengambil angle tentara angkatan udara. Ogoh-ogoh karya Banjar Sumberkima, Desa Sumberkima, akhirnya mendapat juara I, diikuti karya sekaa teruna teruni Banjar Lokasegara Pemuteran di posisi kedua dan sekaa teruna teruni Dusun Palasari Desa Pemuteran di posisi ketiga. Ketiga karya ogoh-ogoh itu pun langsung dilelang di lokasi acara, dimana karya juara I dibeli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dengan harga Rp 2 juta, karya juara II dibeli Bupati Buleleng Putu Bagiada dengan harga Rp 2 juta, dan juara III dibeli pengusaha wisata setempat dengan harga Rp 3 juta.
Kepala Staf Angkatan Udara RI, Marsekal TNI Herman Prayitno yang membuka acara mengaku gembira dengan penyelenggaraan Buleleng Fly In yang untuk pertama digelar Agutus 2001 lalu. ”Ke depan kita mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi kalender tetap PB FASI dan KONI setiap dua tahun sekali,” ujar Prayitno yang juga Ketua Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI) Pusat. Dikatakan, ada banyak manfaat dari ajang tersebut. Selain memberi hiburan pada masyarakat, juga dalam rangka pembinaan dan memperkenalkan olahraga dirgantara di tengah-tengah masyarakat. Ke depan, ia berharap Sumberkima akan menjadi Desa Dirgantara. “Karena itu, saya akan mengusahakan sebuah pesawat bekas yang dapat dijadikan monumen di tempat ini.” tegasnya. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat mempromosikan pariwisata Bali, meyakinkan kepada dunia luar bahwa Bali sudah aman. ”Ini sangat berdampak besar terhadap perkembangan olahraga dirgantara maupun pariwisata,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Bagiada, menyoroti meningkatnya jumlah peserta dalam dan luar negeri. “Ini merupakan bukti bahwa kegiatan ini mendapat apresiasi yang cukup bagus. Hal ini merupakan peluang bagi kita semua untuk semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan di masa-masa mendatang sehingga Buleleng Fly In bukan saja menjadi kalender tetap kegiatan pariwisata minat khusus, tetapi juga secara bertahap dapat meningkatkan frekuensi pemanfaatan Lanud Letkol Wisnu,” tegasnya.
Kadek Arjana, 24 tahun, salah seorang warga setempat juga mengaku senang dengan acara tersebut. Namun ia menilai ajang kali ini kurang meriah dibanding ajang serupa pada 2001 lalu. Tak cuma itu, peserta lomba ogoh-ogoh dari Dusun Palasari Desa Pemuteran yang meraih juara II itu mengaku pesimis kegiatan itu dapat meningkatkan pariwisata Buleleng. Pria yang juga bekerja di sebuah hotel di Pemuteran itu menegaskan, tak ada dampak apapun yang terlihat dari ajang Buleleng Fly In I. ”Sudah lima tahun berjalan, tapi fungsi Lanud Letkol Wisnu belum nampak. Belum ada tamu yang mendarat langsung di sini. Belum banyak manfaat yang kami rasakan,” keluhnya. [Komang Erviani / pernah dimuat di Majalah GATRA Edisi 27 September 2006]
Dari parkiran Lanud, langkahnya cepat menuju pesawat pribadi yang telah terparkir di apron. Pesawat buatan Perancis seharga USD 180.000 itu, sudah beberapa tahun ini dimiliki Markus bersama tiga rekannya, Andi (Austria), Toni (Australia), dan Dave (Kanada). Pesawat berkapasitas 4 orang itu sengaja dibawa Markus dari Johor Malaysia ke Buleleng, untuk mendukung aksi aerobatik udaranya. ” Dari Johor Baru (Malaysia) saya bawa ke Palembang, Halim Perdanakusuma, Semarang, baru Buleleng. Perjalanan total sekitar 4 sampai 5 jam,” terang pria berjambang itu.
Sebelum memulai aksinya, Markus mempersiapkan segala tetek bengeknya. Mulai dari mengecek kesiapan mesin pesawat, memastikan parasut keselamatan berfungsi baik, mengetes radio komunikasi, hingga mengamati gerak sinyal Navigasi GPS-nya. Semua dicek, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan dalam aksinya. Menghindari kecelakaan udara yang bisa terjadi setiap saat. Satu lagi yang tak pernah dilupakannya, yakni berdoa. ”Saya berdoa setiap saat, di setiap tempat. Itu yang terpenting,” tegasnya. Satu resepnya yang lain, yakni minum air putih.
Sambil menunggu giliran beraksi, sementara seremoni pembukaan acara Buleleng Fly In berlangsung, Markus duduk tenang di kokpit sambil memanasi mesin pesawatnya. Baju terusan warga oranye dan sebuah helm, juga sudah menempel di badan. Markus siap menunggu aba-aba.
Ketika aba-aba untuk memulai aksi telah diterima, Markus dan pesawat dengan paduan warna biru kuningnya lantas mengambil posisi di ujung landasan. Sejenak berhenti untuk berdoa, Markus langsung memaju pesawatnya dalam kecepatan tinggi. Landasan pacu Lanud Letkol Wisnu yang tak terlalu panjang, hanya sekitar 900 meter, dilalui dengan mulus. Markus mengangkasa diiringi tepukan riuh dari para pejabat, penerjun, penerbang, aparat, serta masyarakat lokal yang memenuhi area sekitar Lanud. Tepukan itu makin riuh, ketika sejumlah aksi mengerikan berhasil ditampilkan Markus. Ada gerakan berputar seperti pesenam yang salto, ada gerakan berbalik hampir 180 derajat, ada pula gerakan lurus ke atas dan ke bawah. Tak jarang penonton dibuat kaget dan ketakutan ketika Markus beraksi seolah hendak menabrak podium, atau jatuh dari ketinggian ratusan meter. ”Gila orang itu,” begitu teriak salah seorang warga.
Bahkan Kepala Staf Angkatan Udara RI, Marsekal TNI Herman Prayitno, menyatakan kekagumannya pada aksi Markus dengan pesawat yang teregistrasi di Australia miliknya. ”Luar biasa. Hebat sekali,” begitu Prayitno kepada Markus, beberapa saat setelah menyelesaikan aksinya. Menurut Prayitno, orang yang tidak kuat secara fisik maupun mental tidak akan mampu menghadapi perubahan kekuatan gravitasi yang sangat tinggi.
Menurut Markus, saat beraksi ia mencapai titik kekuatan gravitasi (G-Force) tertinggi + (plus) 6 G dan – (minus) 4 G. Pada kondisi normal, manusia biasanya berada pada titik 1 G (satu gravitasi). Pada kondisi minus, darah biasanya mengalir dari kaki ke kepala. Bagi orang yang fisiknya tak kuat, biasanya bisa mengalami black out, atau pingsan, bahkan kematian.
Markus merasa beruntung, kondisi itu tidak terjadi padanya. Markus yang sudah pernah terbang sejak setahun lalu, bahkan bisa berdiri seperti biasa sesaat setelah mengerem laju pesawat. Ia hanya membutuhkan sebotol air putih untuk memulihkan kesegaran tubuhnya.
Aerobatik memang sudah menjadi bagian dari keseharian pria yang mewakili Johor Flying Club itu, sejak 10 tahun lalu. Aksi mendebarkan itu telah dilakukan sebanyak 40 kali. Aksi kali ini menjadi aksinya yang ke-41, sekaligus aksi pertamanya di Indonesia. sebelumnya, aksi aerobatic Markus dilakukan di sejumlah negara, seperti Australia dan Malaysia. ”Sebenarnya saya sudah empat kali ke Buleleng. Tapi ini pertama kalinya saya main,” ujarnya.
Tak banyak persiapan yang dilakukan Markus untuk beraksi di langit Buleleng. Setiap satu minggu sekali, selama 3 minggu, ia melakukan latihan masing-masing selama tiga jam. Ini sekaligus untuk mempersiapkan diri dalam ajang Australia International Championship pada April 2007 mendatang. Latihan yang selalu diutamakan, yakni latihan kekuatan gravitasi (G-Force). ”Kalau tidak kuat, bisa black out,” ujar peringkat kedua di ajang Australia International Championship pada April 2006 lalu itu, santai. Karenanya, satu prinsip yang selalu dipegang, kondisi tubuh saat beraksi harus benar-benar fit. Kalau tidak, nyawa yang jadi taruhannya.
Markus mengaku senang berkesempatan tampil di Buleleng. ”Luar biasa. Ini tempat yang bagus untuk terbang,” begitu Markus. Ia juga menilai Buleleng Fly In sebagai even yang sangat menarik. Apalagi, ada support yang sukup besar dari masyarakat setempat.
Ajang Buleleng Fly In memang menjadi ajang pesta bagi para pencinta olahraga kedirgantaraan. Tak cuma aerobatic, kegiatan yang digelar selama 3 hari itu (2-4 September), juga menampilkan aeromodelling, aerosport, gantole, paralayang, terjun paying, hingga fly pass. Sebanyak 12 orang penerjun, memeriahkan acara. Ada 19 orang partisipan dari Malaysia, 3 partisipan dari Singapura, 1 partisipan dari Thailand, 1 partisipan dari Filipina, dan 12 partisipan dari Indonesia.
Ada juga kegiatan terbang gembira (joy flight) yang membuka kesempatan bagi masyarakat lokal. Guna meningkatkan kepariwisataan Buleleng, digelar pula mini rally mengitari Buleleng untuk memperkenalkan potensi kabupaten paling utara Bali itu. Pesertanya pun datang dari dalam dan luar negeri. Lomba lukis pesawat pun memeriahkan acara.
Di ajang yang sama, juga digelar lomba ogoh-ogoh (patung dari bamboo dan kertas semen) berbentuk pesawat. Ada sedikitnya 11 karya ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh sekaa teruna teruni (kelompok muda-mudi) dari Desa Sumberkima dan desa tetangganya, Pemuteran. Bentuknya pun unik-unik. Sebagian besar diantaranya mengambil angle tentara angkatan udara. Ogoh-ogoh karya Banjar Sumberkima, Desa Sumberkima, akhirnya mendapat juara I, diikuti karya sekaa teruna teruni Banjar Lokasegara Pemuteran di posisi kedua dan sekaa teruna teruni Dusun Palasari Desa Pemuteran di posisi ketiga. Ketiga karya ogoh-ogoh itu pun langsung dilelang di lokasi acara, dimana karya juara I dibeli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dengan harga Rp 2 juta, karya juara II dibeli Bupati Buleleng Putu Bagiada dengan harga Rp 2 juta, dan juara III dibeli pengusaha wisata setempat dengan harga Rp 3 juta.
Kepala Staf Angkatan Udara RI, Marsekal TNI Herman Prayitno yang membuka acara mengaku gembira dengan penyelenggaraan Buleleng Fly In yang untuk pertama digelar Agutus 2001 lalu. ”Ke depan kita mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi kalender tetap PB FASI dan KONI setiap dua tahun sekali,” ujar Prayitno yang juga Ketua Federasi Aerosport Seluruh Indonesia (FASI) Pusat. Dikatakan, ada banyak manfaat dari ajang tersebut. Selain memberi hiburan pada masyarakat, juga dalam rangka pembinaan dan memperkenalkan olahraga dirgantara di tengah-tengah masyarakat. Ke depan, ia berharap Sumberkima akan menjadi Desa Dirgantara. “Karena itu, saya akan mengusahakan sebuah pesawat bekas yang dapat dijadikan monumen di tempat ini.” tegasnya. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat mempromosikan pariwisata Bali, meyakinkan kepada dunia luar bahwa Bali sudah aman. ”Ini sangat berdampak besar terhadap perkembangan olahraga dirgantara maupun pariwisata,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Buleleng, Putu Bagiada, menyoroti meningkatnya jumlah peserta dalam dan luar negeri. “Ini merupakan bukti bahwa kegiatan ini mendapat apresiasi yang cukup bagus. Hal ini merupakan peluang bagi kita semua untuk semakin meningkatkan kualitas penyelenggaraan di masa-masa mendatang sehingga Buleleng Fly In bukan saja menjadi kalender tetap kegiatan pariwisata minat khusus, tetapi juga secara bertahap dapat meningkatkan frekuensi pemanfaatan Lanud Letkol Wisnu,” tegasnya.
Kadek Arjana, 24 tahun, salah seorang warga setempat juga mengaku senang dengan acara tersebut. Namun ia menilai ajang kali ini kurang meriah dibanding ajang serupa pada 2001 lalu. Tak cuma itu, peserta lomba ogoh-ogoh dari Dusun Palasari Desa Pemuteran yang meraih juara II itu mengaku pesimis kegiatan itu dapat meningkatkan pariwisata Buleleng. Pria yang juga bekerja di sebuah hotel di Pemuteran itu menegaskan, tak ada dampak apapun yang terlihat dari ajang Buleleng Fly In I. ”Sudah lima tahun berjalan, tapi fungsi Lanud Letkol Wisnu belum nampak. Belum ada tamu yang mendarat langsung di sini. Belum banyak manfaat yang kami rasakan,” keluhnya. [Komang Erviani / pernah dimuat di Majalah GATRA Edisi 27 September 2006]
Rabu, 20 September 2006
Remaja pun tak Tahu Hari Remaja
Selamat Hari Remaja.” Penggalan tiga kata itu terus berulang, terdengar riuh di Toko Buku Gramedia, Jl Dewi Sartika Denpasar, pertengahan Agustus lalu. Sambil mengucap selamat hari remaja, sejumlah remaja membagi-bagikan dua lembar kertas warna hijau dan merah muda serta sebuah stiker bertuliskan Spirit For Me. Kertas-kertas itu berisi penjelasan hasil konferensi nasional remaja Indonesia yang dideklarasikan remaja se-Indonesia, serta tak lupa soal seluk beluk Hari Remaja Internasional 2006.
“Memang ada ya hari remaja? Kapan?” begitu Suliastini (14 tahun) dan Ari Kurniati (13 tahun) ketika ditanya tentang Hari Remaja. Walau tergolong remaja, kedua siswa SMPN 8 Denpasar yang sedang asyik membaca buku itu mengaku tak pernah mendengar soal hari remaja. Keduanya senang karena ada teman-teman sebaya mereka yang mau memberi informasi itu. “Saya juga mau ikut aktif kayak mereka,” ujar Ari malu-malu.
Informasi tentang hari remaja, memang tak banyak diketahui para remaja. Karenanya, Kita Sayang Remaja (Kisara), Muda Berdaya Bali, dan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) dari sejumlah sekolah di Denpasar, sepakat mengkampanyekan hari yang jatuh setiap 12 Agustus itu. “Ini adalah program untuk memperkenalkan hari remaja,” jelas Pramesemara, 20 tahun, pengurus Kisara.
Selain Gramedia, kampanye juga dilakukan di Toko Buku Gunung Agung, serta di perempatan Jalan Dewi Sartika. Dengan tema Spirit for Me, Spirit for Youth, Youth Spirit Againts Poverty, kampanye tersebut diharapkan mampu memberi semangat bagi remaja agar peduli untuk membantu upaya penghapusan kemiskinan. Kemiskinan, menurut Pram, merupakan sumber dari banyak masalah, termasuk masalah pendidikan, sosial, hingga HIV/AIDS. Paling tidak, remaja bisa berupaya dengan menjalankan studi dengan baik. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 20,September 2006]
Hasil Konferensi Nasional Remaja Indonesia :
1. Mengajak seluruh remaja di Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan solidaritas bersama dalam memperjuangkan pemenuhan hak-haknya.
2. Mendesak pemerintah, legislatif, penyedia layanan, orang tua, guru, masyarakat, untuk menerima, mengakui, dan memenuhi hak-hak reproduksi seksual remaja terutama menyangkut hak memperoleh informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual remaja dan hak memperoleh pelayanan konseling dan medis yang mudah diakses dan ramah remaja.
3. Mendesak pemerintah memberikan dukungan politis, alokasi anggaran, dan dukungan sumber daya lainnya secara proporsional dalam mengimplementasikan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
4. Mendesak agar program reproduksi seksual remaja yang dikembangkan oleh pemerintah, penyedia layanan, dan lembaga swadaya masyarakat, melibatkan partisipasi aktif remaja secara integral (perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi) untuk menjamin program mengakomodir kebutuhan aktual remaja menyangkut kesehatan reproduksi dan seksual.
5. Mendesak media massa agar memberikan ruang dan bersama remaja menjadi mitra dalam mengkampanyekan dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
“Memang ada ya hari remaja? Kapan?” begitu Suliastini (14 tahun) dan Ari Kurniati (13 tahun) ketika ditanya tentang Hari Remaja. Walau tergolong remaja, kedua siswa SMPN 8 Denpasar yang sedang asyik membaca buku itu mengaku tak pernah mendengar soal hari remaja. Keduanya senang karena ada teman-teman sebaya mereka yang mau memberi informasi itu. “Saya juga mau ikut aktif kayak mereka,” ujar Ari malu-malu.
Informasi tentang hari remaja, memang tak banyak diketahui para remaja. Karenanya, Kita Sayang Remaja (Kisara), Muda Berdaya Bali, dan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) dari sejumlah sekolah di Denpasar, sepakat mengkampanyekan hari yang jatuh setiap 12 Agustus itu. “Ini adalah program untuk memperkenalkan hari remaja,” jelas Pramesemara, 20 tahun, pengurus Kisara.
Selain Gramedia, kampanye juga dilakukan di Toko Buku Gunung Agung, serta di perempatan Jalan Dewi Sartika. Dengan tema Spirit for Me, Spirit for Youth, Youth Spirit Againts Poverty, kampanye tersebut diharapkan mampu memberi semangat bagi remaja agar peduli untuk membantu upaya penghapusan kemiskinan. Kemiskinan, menurut Pram, merupakan sumber dari banyak masalah, termasuk masalah pendidikan, sosial, hingga HIV/AIDS. Paling tidak, remaja bisa berupaya dengan menjalankan studi dengan baik. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 20,September 2006]
Hasil Konferensi Nasional Remaja Indonesia :
1. Mengajak seluruh remaja di Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan solidaritas bersama dalam memperjuangkan pemenuhan hak-haknya.
2. Mendesak pemerintah, legislatif, penyedia layanan, orang tua, guru, masyarakat, untuk menerima, mengakui, dan memenuhi hak-hak reproduksi seksual remaja terutama menyangkut hak memperoleh informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual remaja dan hak memperoleh pelayanan konseling dan medis yang mudah diakses dan ramah remaja.
3. Mendesak pemerintah memberikan dukungan politis, alokasi anggaran, dan dukungan sumber daya lainnya secara proporsional dalam mengimplementasikan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
4. Mendesak agar program reproduksi seksual remaja yang dikembangkan oleh pemerintah, penyedia layanan, dan lembaga swadaya masyarakat, melibatkan partisipasi aktif remaja secara integral (perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi) untuk menjamin program mengakomodir kebutuhan aktual remaja menyangkut kesehatan reproduksi dan seksual.
5. Mendesak media massa agar memberikan ruang dan bersama remaja menjadi mitra dalam mengkampanyekan dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
Remaja pun tak Tahu Hari Remaja
Selamat Hari Remaja.” Penggalan tiga kata itu terus berulang, terdengar riuh di Toko Buku Gramedia, Jl Dewi Sartika Denpasar, pertengahan Agustus lalu. Sambil mengucap selamat hari remaja, sejumlah remaja membagi-bagikan dua lembar kertas warna hijau dan merah muda serta sebuah stiker bertuliskan Spirit For Me. Kertas-kertas itu berisi penjelasan hasil konferensi nasional remaja Indonesia yang dideklarasikan remaja se-Indonesia, serta tak lupa soal seluk beluk Hari Remaja Internasional 2006.
“Memang ada ya hari remaja? Kapan?” begitu Suliastini (14 tahun) dan Ari Kurniati (13 tahun) ketika ditanya tentang Hari Remaja. Walau tergolong remaja, kedua siswa SMPN 8 Denpasar yang sedang asyik membaca buku itu mengaku tak pernah mendengar soal hari remaja. Keduanya senang karena ada teman-teman sebaya mereka yang mau memberi informasi itu. “Saya juga mau ikut aktif kayak mereka,” ujar Ari malu-malu.
Informasi tentang hari remaja, memang tak banyak diketahui para remaja. Karenanya, Kita Sayang Remaja (Kisara), Muda Berdaya Bali, dan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) dari sejumlah sekolah di Denpasar, sepakat mengkampanyekan hari yang jatuh setiap 12 Agustus itu. “Ini adalah program untuk memperkenalkan hari remaja,” jelas Pramesemara, 20 tahun, pengurus Kisara.
Selain Gramedia, kampanye juga dilakukan di Toko Buku Gunung Agung, serta di perempatan Jalan Dewi Sartika. Dengan tema Spirit for Me, Spirit for Youth, Youth Spirit Againts Poverty, kampanye tersebut diharapkan mampu memberi semangat bagi remaja agar peduli untuk membantu upaya penghapusan kemiskinan. Kemiskinan, menurut Pram, merupakan sumber dari banyak masalah, termasuk masalah pendidikan, sosial, hingga HIV/AIDS. Paling tidak, remaja bisa berupaya dengan menjalankan studi dengan baik. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 20,September 2006]
Hasil Konferensi Nasional Remaja Indonesia :
1. Mengajak seluruh remaja di Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan solidaritas bersama dalam memperjuangkan pemenuhan hak-haknya.
2. Mendesak pemerintah, legislatif, penyedia layanan, orang tua, guru, masyarakat, untuk menerima, mengakui, dan memenuhi hak-hak reproduksi seksual remaja terutama menyangkut hak memperoleh informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual remaja dan hak memperoleh pelayanan konseling dan medis yang mudah diakses dan ramah remaja.
3. Mendesak pemerintah memberikan dukungan politis, alokasi anggaran, dan dukungan sumber daya lainnya secara proporsional dalam mengimplementasikan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
4. Mendesak agar program reproduksi seksual remaja yang dikembangkan oleh pemerintah, penyedia layanan, dan lembaga swadaya masyarakat, melibatkan partisipasi aktif remaja secara integral (perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi) untuk menjamin program mengakomodir kebutuhan aktual remaja menyangkut kesehatan reproduksi dan seksual.
5. Mendesak media massa agar memberikan ruang dan bersama remaja menjadi mitra dalam mengkampanyekan dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
“Memang ada ya hari remaja? Kapan?” begitu Suliastini (14 tahun) dan Ari Kurniati (13 tahun) ketika ditanya tentang Hari Remaja. Walau tergolong remaja, kedua siswa SMPN 8 Denpasar yang sedang asyik membaca buku itu mengaku tak pernah mendengar soal hari remaja. Keduanya senang karena ada teman-teman sebaya mereka yang mau memberi informasi itu. “Saya juga mau ikut aktif kayak mereka,” ujar Ari malu-malu.
Informasi tentang hari remaja, memang tak banyak diketahui para remaja. Karenanya, Kita Sayang Remaja (Kisara), Muda Berdaya Bali, dan Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) dari sejumlah sekolah di Denpasar, sepakat mengkampanyekan hari yang jatuh setiap 12 Agustus itu. “Ini adalah program untuk memperkenalkan hari remaja,” jelas Pramesemara, 20 tahun, pengurus Kisara.
Selain Gramedia, kampanye juga dilakukan di Toko Buku Gunung Agung, serta di perempatan Jalan Dewi Sartika. Dengan tema Spirit for Me, Spirit for Youth, Youth Spirit Againts Poverty, kampanye tersebut diharapkan mampu memberi semangat bagi remaja agar peduli untuk membantu upaya penghapusan kemiskinan. Kemiskinan, menurut Pram, merupakan sumber dari banyak masalah, termasuk masalah pendidikan, sosial, hingga HIV/AIDS. Paling tidak, remaja bisa berupaya dengan menjalankan studi dengan baik. [Komang Erviani / pernah dimuat di Media HIV/AIDS dan Narkoba KULKUL Edisi 20,September 2006]
Hasil Konferensi Nasional Remaja Indonesia :
1. Mengajak seluruh remaja di Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran dan solidaritas bersama dalam memperjuangkan pemenuhan hak-haknya.
2. Mendesak pemerintah, legislatif, penyedia layanan, orang tua, guru, masyarakat, untuk menerima, mengakui, dan memenuhi hak-hak reproduksi seksual remaja terutama menyangkut hak memperoleh informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual remaja dan hak memperoleh pelayanan konseling dan medis yang mudah diakses dan ramah remaja.
3. Mendesak pemerintah memberikan dukungan politis, alokasi anggaran, dan dukungan sumber daya lainnya secara proporsional dalam mengimplementasikan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
4. Mendesak agar program reproduksi seksual remaja yang dikembangkan oleh pemerintah, penyedia layanan, dan lembaga swadaya masyarakat, melibatkan partisipasi aktif remaja secara integral (perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi) untuk menjamin program mengakomodir kebutuhan aktual remaja menyangkut kesehatan reproduksi dan seksual.
5. Mendesak media massa agar memberikan ruang dan bersama remaja menjadi mitra dalam mengkampanyekan dan memperjuangkan pemenuhan hak-hak reproduksi dan seksual remaja.
Langganan:
Postingan (Atom)