Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan
Nelayan Pulau Serangan Bali melakukan penanaman terumbu karang di wilayah laut mereka. Mengembalikan keseimbangan ekosistem yang rusak karena reklamasi dan eksplotasi karang untuk bahan bangunan.
DENPASAR (SINDO) – Belasan nelayan Pulau Serangan Denpasar Bali, sibuk merangkai potongan-potongan pipa paralon dan jaring ikan berukuran besar. “Ini akan dipakai untuk wadah meletakkan terumbu karang, sebelum dibawa ke laut,” jelas Wayan Karsika, (38 tahun), salah seorang nelayan. Sejak awal Desember ini, Karsika dan anggota Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan sibuk bersiap-siap menerima kunjungan partisipan UNFCCC (United Nation Framework on Climate Change Conference) pada 9 dan 10 Desember mendatang. “Yah, kami perbaiki bagian-bagian yang rusak aja. Biar kelihatan sedikit lebih rapi,” ujar Wayan Patut, Koordinator Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara.
Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan bakal menjadi salah satu lokasi pararel event UNFCCC, karena keberhasilan mereka membangun konservasi terumbu karang di Pulau Serangan. Konservasi dilakukan dengan melakukan penanaman terumbu karang di laut sekitar Pulau Serangan. Pulau Serangan merupakan pulau kecil di sisi timur Pulau Bali, masih berada di wilayah administratif Kota Denpasar Bali. Sejak 1997, Pulau Serangan direklamasi hingga menyatu dengan Pulau Bali. Reklamasi juga memperluas wilayah Pulau Serangan dari hanya 112 hektar menjadi seluas 480 hektar.
Menurut Wayan Patut, program konservasi dimulai pada 2003 dengan melakukan perbanyakan terumbu karang. “Kami menerapkan metode transpalantasi (stek,red),” terang Patut. Media tanam yang digunakan dalam metode transplantasi berupa kerangka plat beton yang kemudian ditempeli bibit terumbu karang dengan substrat buatan. Dengan metode ini, terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.
Sebagai upaya menggali dana untuk membiayai program konservasi, nelayan Serangan tak kehabisan akal. “Kami sekarang menjual soft coral dan terumbu karang buatan,” cerita Patut. Soft coral merupakan jenis terumbu karang lunak yang hidup di antara terumbu karang keras (hard coral,red) dan tidak memberi manfaat signifikan bagi ekosistem. Soft coral bahkan cenderung mengganggu pertumbuhan hard coral dan beracun bagi ikan. Soft coral yang diperjualbelikan nelayan Serangan, diambil dari kebun karang buatan mereka sendiri. “Kami tidak mengambil soft coral di alam bebas. Kami cuma mengambil soft coral yang mengganggu kebun karang buatan kami,”tegas Patut.
Selain menjual soft coral, nelayan Serangan juga menjual terumbu karang buatan yang dibentuk dari campuran semen, batu apung, dan mill. Sebelum dijual, karang dbuatan diletakkan di dalam laut agar ditumbuhi alga. Karang buatan yang telah ditumbuhi alga itulah yang kemudian dijual untuk hiasan akuarium air laut. Soft coral dan terumbu karang buatan nelayan Serangan sudah diekspor ke luar negeri, yakni Paris. Selain digunakan untuk membiayai program konservasi, hasil penjualan soft coral dan terumbu karang buatan juga dibagikan kepada para nelayan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari program konservasi juga dirasakan oleh nelayan setempat.
Inisiatif warga melakukan konservasi terumbu karang Pulau Serangan, tidak lepas dari proyek reklamasi besar-besaran yang dilakukan investor. Menurut Wayan Patut, ide melakukan konservasi terumbu karang di Serangan bermula dari kesadaran atas tingginya kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Kerusakan lingkungan tersebut berdampak sangat besar pada perekonomian warga.
Wayan Karsika (38 tahun) termasuk salah satu nelayan yang merasakan dampak nyata kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Gara-gara kerusakan lingkungan, kini ia hanya bisa mendapat penghasilan melaut rata-rata Rp. 10 ribu per bulan. “Itu kalau beruntung. Kalau nggak beruntung, bisa nggak makan,” terangnya. Mencari ikan sudah menjadi bagian dari keseharian Karsika sejak kecil. Ia bahkan membiayai uang sekolahnya sendiri dari hasil mencari ikan, seperti yang juga dilakukan oleh sebagian besar anak-anak Serangan lainnya ketika itu. Namun hasil laut yang melimpah sudah menjadi barang mewah bagi Karsika dan nelayan lainnya di Pulau Serangan sejak reklamasi dilakukan.
Selain kesulitan mencari ikan, reklamasi juga menyebabkan hilangnya mata pencaharian 150 orang istri nelayan yang menjadi pedagang souvenir, pencari cacing laut, serta puluhan orang penambang (transportasi penyeberangan dengan perahu,red). Serangan dulunya merupakan salah satu tempat wisata favorit di Bali dengan daya tarik utama berupa atraksi penyu. Banyaknya penyu yang bertelur secara alami di Serangan, bahkan membuat pulau ini dikenal dengan sebutan pulau penyu.“Tapi setelah reklamasi, jarang sekali ada penyu datang. Karena lingkungannya sudah rusak. Wisatawan juga jadi sepi sekali,” ujar Nyoman Sopi (42 tahun), mantan pemandu wisata yang sempat kehilangan pekerjaannya paska reklamasi.
Banyaknya mata pencaharian yang hilang, sempat membuat warga Serangan mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan. Warga memilih mencari karang di laut dan dijual untuk bahan bangunan. Setelah bertahun-tahun, baru pada 2003, warga sadar bahwa aksi tersebut makin memperparah kerusakan lingkungan di wilayah mereka. Berangkat dari kesadaran itulah, para nelayan lantas merintis upaya konservasi terumbu karang di laut Serangan. Harapannya agar kerusakan lingkungan Serangan tidak semakin parah. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali ekosistem Serangan. [Ni Komang Erviani]
Sabtu, 08 Desember 2007
Rabu, 05 Desember 2007
Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat
Sebuah taman koral seluas 2,5 hektar, sukses dibangun dengan teknik biorock di kedalaman 15 meter laut Pemuteran, Buleleng, Bali. Mustahil tanpa keterlibatan warga desa.
BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.
Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan.
Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran. “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.
“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat.
Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.
Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari.
Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya.
Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana.
Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.
Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]
BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.
Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan.
Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran. “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.
“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat.
Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.
Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari.
Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya.
Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana.
Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.
Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]
Tebang Pohon Kena Sanksi Adat
Ketika demam perubahan iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, justru kebingungan mencari lahan kosong untuk ditanami. Aturan adat desa setempat ternyata sudah mengatur konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro pun dibangun untuk mengurangi penggunaan bahan baker fosil.
KARANGASEM (SINDO) – Hamparan sawah luas dengan bukit menghijau di baliknya, langsung menyapa ketika memasuki perbatasan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Tak ada satu pun pemukiman warga di sekitarnya. Hanya sebuah bangunan mungil berukuran 2 x 3 meter, tampak berdiri kokoh di atas sebuah saluran irigasi milik Subak Tenganan. Subak merupakan sebutan untuk sistem saluran irigasi sawah tradisional di Bali.
Sebuah generator listrik yang digerakkan oleh putaran turbin dari aliran air subak, terlihat memenuhi bangunan mungil yang didominasi bahan kayu. “Listrik yang dihasilkan di sini, kami pakai untuk menggerakkkan penggilingan beras. Jadi, padi yang dihasilkan desa kami, bisa langsung kami olah jadi beras,” begitu Mangku Wayan Widya, tokoh Desa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan detil alur kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu.
Mikro hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang ramah lingkungan. Teknologi sederhana yang mengubah aliran air menjadi listrik tersebut, kini coba diterapkan warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan untuk menggerakkan penggilingan beras di desa mereka. “Semoga dengan begini, masyarakat desa kami tidak perlu lagi beli beras. Jadi kami bisa menikmati beras hasil panen di sawah sendiri,” harap Mangku Widya.
Pembangunan PLTMH oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, memang bukan tanpa alasan. PLTMH dibangun atas kesadaran masyarakat akan perubahan kehidupan sosial dan ekonomi yang mereka jalani. “Kami menyadari ada yang janggal. Kami punya sawah seluas 255 hektar, tetapi semua warga kami beli beras di luar desa,” terang Wakil Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra. Kelihan adat merupakan sebutan bagi tokoh pemimpin desa di Bali.
Dijelaskan Sadra, masyarakat Tenganan dulunya hidup dari sawah desa seluas total 255 hektar. “Bahkan dulu kami semua di sini punya lumbung padi, untuk menyimpan hasil panen. Seluruh hasil panen kami gunakan untuk konsumsi sendiri,” kenang Sadra. Namun kini, lumbung-lumbung padi milik warga tak lagi berfungsi. “Sekarang, semua warga beli beras di luar desa. Di swalayan atau toko-toko,” terang Sadra. Masyarakat kini terpaksa membeli beras, karena hasil panen dari sawah mereka dijual dalam bentuk gabah. Tak cuma itu. Beralihnya mata pencaharian penduduk ke bidang pariwisata, membuat sawah-sawah mereka digarap oleh warga desa tetangga dengan sistem bagi hasil.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan masyarakat adat Tenganan, lahan sawah desa seluas 255 hektar dapat menghasilkan sedikitnya 500 ton beras setiap kali panen. Namun dengan sistem bagi hasil yang belakangan diterapkan masyarakat, desa adat mendapat hasil yang jauh lebih kecil. Di tahun 2006 misalnya, desa hanya menerima 266 ton beras. Sadra memperkirakan, dari total panen yang seharusnya mereka terima pada tahun 2006, masyarakat desa mengalami kerugian total Rp. 300 juta. “Ditambah lagi, hampir semua masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli beras,” keluh Sadra.
Penggilingan beras mikrohidro diharapkan menjadi solusi untuk membangun kembali swasembada beras di Tenganan, dengan cara yang tetap ramah lingkungan. Itu sebabnya, selip beras digerakkan dengan tenaga listrik yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil. PLTMH hanya memanfaatkan sumber daya air dari sungai yang melintasi desa, Sungai Buhu. Debit air sungai Buhu yang cukup besar, yakni 350 liter/detik, kini bisa menghasilkan sedikitnya 12.500 watt listrik untuk menggerakkan alat penggilingan beras. Program PLTMH dibuat masyarakat desa Tenganan atas dukungan Yayasan Wisnu, Global Environmental Facilities-Small Grannt Programs (GEF-SGP), Jaringan Ekowisata Desa, Bank Indonesia (BI), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Desa Adat Tenganan Pegringsingan memang tergolong satu dari sedikit desa di Bali, bahkan mungkin Indonesia, yang punya kepedulian terhadap masalah lingkungan. Jauh sebelum masyarakat dunia berteriak tentang pemanasan global, desa yang terletak di bagian timur pulau Bali ini sudah mengatur pelestarian lingkungannya dalam awig-awig (aturan) desa. Aturan desa jelas mengatur peruntukan lahan dari total 917 hektar wilayahnya. “Itu sebabnya, luas sawah desa tetap 255 hektar sejak dulu. Tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah mengalihkan fungsi lahan di sini,” ujar Sadra bangga.
Keseluruhan tanah di Desa Tenganan adalah milik desa adat, walaupun atas nama perorangan atau kelompok. Pengelolaan tanah diatur jelas dalam aturan desa, terutama untuk mempertahankan keberadaannya dan kepemilikannya. Masyarakat Tenganan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Hal inilah yang menyebabkan luas wilayah Tenganan saat ini masih sama seperti pada abad ke-11 silam. Dalam aturan desa juga tegas disebutkan bahwa desa adat memiliki hak ngerampag, hak mengambil hasil bumi di tanah milik pribadi.
Sederet aturan lainnya, juga tetap dipegang erat masyarakat di desa yang kini menjadi desa wisata budaya itu. Pohon yang ada di wilayah Tenganan misalnya, tak boleh ditebang sembarangan, bahkan untuk pohon yang tumbuh di tanah milik pribadi. Terutama untuk pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, dan durian. Bahkan untuk memetik hasilnya, warga hanya dihasilkan mengambil buah yang jatuh setelah matang di pohon. Jika pohon-pohon tersebut tumbang, maka kayunya akan secara otomatis menjadi milik desa. Kayu tersebut nantinya bakal digunakan untuk membuat atau memperbaiki fasilitas umum. Karena sudah menjadi aturan, maka semua bentuk pelanggaran bakal dikenai sanksi adat. Dapat berupa teguran, dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa.
Aturan ketat Desa Tenganan, membuat desa ini tetap terjaga kelestarian alamnya. Bahkan ketika masyarakat Indonesia heboh-heboh dengan aksi tanam sejuta pohon, nmasyarakat Tenganan tak lagi menemukan lahan kosong untuk bertanam. “Kita tidak tahu lagi harus tanam pohon di mana,” ujar Sadra. Permukiman penduduk tetap terjaga tanpa mengganggu lahan hutan dan persawahan. “Jadi jelas, masyarakat Tenganan sudah melakukan konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Mereka tidak perlu ikut aksi tanam sejuta pohon, karena mereka sudah menjaga pohon-pohon yang ada sejak dulu,” ujar I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu.
Pembangunan selip beras bertenaga mikrohidro diharapkan bisa menjadi bentuk lain dari upaya konservasi lingkungan di Tenganan. Diakui Suarnatha, dana yang diperlukan untuk membangun selip beras mikrohidro tersebut tak sedikit, mencapai hampir Rp. 400 juta. “Tapi kita harus lihat manfaatnya. Ini bukti upaya pelestarian lingkungan yang nyata dari masyarakat Tenganan dengan kearifan lokalnya,” tegas Suarnatha. Masyarakat Tenganan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menyelamatkan alam dari kerusakan lingkungan. [Ni Komang Erviani / dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 4 Desember 2007]
KARANGASEM (SINDO) – Hamparan sawah luas dengan bukit menghijau di baliknya, langsung menyapa ketika memasuki perbatasan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Tak ada satu pun pemukiman warga di sekitarnya. Hanya sebuah bangunan mungil berukuran 2 x 3 meter, tampak berdiri kokoh di atas sebuah saluran irigasi milik Subak Tenganan. Subak merupakan sebutan untuk sistem saluran irigasi sawah tradisional di Bali.
Sebuah generator listrik yang digerakkan oleh putaran turbin dari aliran air subak, terlihat memenuhi bangunan mungil yang didominasi bahan kayu. “Listrik yang dihasilkan di sini, kami pakai untuk menggerakkkan penggilingan beras. Jadi, padi yang dihasilkan desa kami, bisa langsung kami olah jadi beras,” begitu Mangku Wayan Widya, tokoh Desa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan detil alur kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu.
Mikro hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang ramah lingkungan. Teknologi sederhana yang mengubah aliran air menjadi listrik tersebut, kini coba diterapkan warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan untuk menggerakkan penggilingan beras di desa mereka. “Semoga dengan begini, masyarakat desa kami tidak perlu lagi beli beras. Jadi kami bisa menikmati beras hasil panen di sawah sendiri,” harap Mangku Widya.
Pembangunan PLTMH oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, memang bukan tanpa alasan. PLTMH dibangun atas kesadaran masyarakat akan perubahan kehidupan sosial dan ekonomi yang mereka jalani. “Kami menyadari ada yang janggal. Kami punya sawah seluas 255 hektar, tetapi semua warga kami beli beras di luar desa,” terang Wakil Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra. Kelihan adat merupakan sebutan bagi tokoh pemimpin desa di Bali.
Dijelaskan Sadra, masyarakat Tenganan dulunya hidup dari sawah desa seluas total 255 hektar. “Bahkan dulu kami semua di sini punya lumbung padi, untuk menyimpan hasil panen. Seluruh hasil panen kami gunakan untuk konsumsi sendiri,” kenang Sadra. Namun kini, lumbung-lumbung padi milik warga tak lagi berfungsi. “Sekarang, semua warga beli beras di luar desa. Di swalayan atau toko-toko,” terang Sadra. Masyarakat kini terpaksa membeli beras, karena hasil panen dari sawah mereka dijual dalam bentuk gabah. Tak cuma itu. Beralihnya mata pencaharian penduduk ke bidang pariwisata, membuat sawah-sawah mereka digarap oleh warga desa tetangga dengan sistem bagi hasil.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan masyarakat adat Tenganan, lahan sawah desa seluas 255 hektar dapat menghasilkan sedikitnya 500 ton beras setiap kali panen. Namun dengan sistem bagi hasil yang belakangan diterapkan masyarakat, desa adat mendapat hasil yang jauh lebih kecil. Di tahun 2006 misalnya, desa hanya menerima 266 ton beras. Sadra memperkirakan, dari total panen yang seharusnya mereka terima pada tahun 2006, masyarakat desa mengalami kerugian total Rp. 300 juta. “Ditambah lagi, hampir semua masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli beras,” keluh Sadra.
Penggilingan beras mikrohidro diharapkan menjadi solusi untuk membangun kembali swasembada beras di Tenganan, dengan cara yang tetap ramah lingkungan. Itu sebabnya, selip beras digerakkan dengan tenaga listrik yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil. PLTMH hanya memanfaatkan sumber daya air dari sungai yang melintasi desa, Sungai Buhu. Debit air sungai Buhu yang cukup besar, yakni 350 liter/detik, kini bisa menghasilkan sedikitnya 12.500 watt listrik untuk menggerakkan alat penggilingan beras. Program PLTMH dibuat masyarakat desa Tenganan atas dukungan Yayasan Wisnu, Global Environmental Facilities-Small Grannt Programs (GEF-SGP), Jaringan Ekowisata Desa, Bank Indonesia (BI), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Desa Adat Tenganan Pegringsingan memang tergolong satu dari sedikit desa di Bali, bahkan mungkin Indonesia, yang punya kepedulian terhadap masalah lingkungan. Jauh sebelum masyarakat dunia berteriak tentang pemanasan global, desa yang terletak di bagian timur pulau Bali ini sudah mengatur pelestarian lingkungannya dalam awig-awig (aturan) desa. Aturan desa jelas mengatur peruntukan lahan dari total 917 hektar wilayahnya. “Itu sebabnya, luas sawah desa tetap 255 hektar sejak dulu. Tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah mengalihkan fungsi lahan di sini,” ujar Sadra bangga.
Keseluruhan tanah di Desa Tenganan adalah milik desa adat, walaupun atas nama perorangan atau kelompok. Pengelolaan tanah diatur jelas dalam aturan desa, terutama untuk mempertahankan keberadaannya dan kepemilikannya. Masyarakat Tenganan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Hal inilah yang menyebabkan luas wilayah Tenganan saat ini masih sama seperti pada abad ke-11 silam. Dalam aturan desa juga tegas disebutkan bahwa desa adat memiliki hak ngerampag, hak mengambil hasil bumi di tanah milik pribadi.
Sederet aturan lainnya, juga tetap dipegang erat masyarakat di desa yang kini menjadi desa wisata budaya itu. Pohon yang ada di wilayah Tenganan misalnya, tak boleh ditebang sembarangan, bahkan untuk pohon yang tumbuh di tanah milik pribadi. Terutama untuk pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, dan durian. Bahkan untuk memetik hasilnya, warga hanya dihasilkan mengambil buah yang jatuh setelah matang di pohon. Jika pohon-pohon tersebut tumbang, maka kayunya akan secara otomatis menjadi milik desa. Kayu tersebut nantinya bakal digunakan untuk membuat atau memperbaiki fasilitas umum. Karena sudah menjadi aturan, maka semua bentuk pelanggaran bakal dikenai sanksi adat. Dapat berupa teguran, dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa.
Aturan ketat Desa Tenganan, membuat desa ini tetap terjaga kelestarian alamnya. Bahkan ketika masyarakat Indonesia heboh-heboh dengan aksi tanam sejuta pohon, nmasyarakat Tenganan tak lagi menemukan lahan kosong untuk bertanam. “Kita tidak tahu lagi harus tanam pohon di mana,” ujar Sadra. Permukiman penduduk tetap terjaga tanpa mengganggu lahan hutan dan persawahan. “Jadi jelas, masyarakat Tenganan sudah melakukan konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Mereka tidak perlu ikut aksi tanam sejuta pohon, karena mereka sudah menjaga pohon-pohon yang ada sejak dulu,” ujar I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu.
Pembangunan selip beras bertenaga mikrohidro diharapkan bisa menjadi bentuk lain dari upaya konservasi lingkungan di Tenganan. Diakui Suarnatha, dana yang diperlukan untuk membangun selip beras mikrohidro tersebut tak sedikit, mencapai hampir Rp. 400 juta. “Tapi kita harus lihat manfaatnya. Ini bukti upaya pelestarian lingkungan yang nyata dari masyarakat Tenganan dengan kearifan lokalnya,” tegas Suarnatha. Masyarakat Tenganan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menyelamatkan alam dari kerusakan lingkungan. [Ni Komang Erviani / dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 4 Desember 2007]
Minggu, 04 November 2007
Seeing natural beauty at the top of Mount Batur
Before the cocks had started crowing early in the morning, dozens of tourists were already trekking up a path from Toya Bungah in Kintamani, Bangli regency.
All of them were headed to the top of Mount Batur, including our group.
Guided by Kadek Sarjana, 28, at the front and Wayan Julita, 27, at the back, our group walked slowly from the hotel where we had stayed overnight.
Because it was still too early in the morning, we were reluctant to move our legs. But Sarjana, who has been a tourist guide for decades, told us to get a wriggle on or we would miss the sunrise.
He said the eight-kilometer journey to the crater would take about two hours. This means that to catch a glimpse of the sunrise, visitors have to start trekking at 4 a.m. "Tourists usually want to see the sunrise from the top of the mountain. The sunrise in the area is very beautiful," Sarjana said.
After walking for several hundred meters, the shining pathway suddenly turned into a dark gravel path. There were no longer lines of tourist huts with bright lights. We just caught light from the houses of locals here and there. It was fortunate that we were equipped with small flashlights.
The more we walked the darker it got. Our sight was limited. Several times Sarjana reminded us to be aware of the ravines on the left and right sides of the path.
He is very familiar with the route having climbed the mountain for the first time at the age of 10. "I came here every morning to sell beverages," he said.
People living on the slopes of the mountain are accustomed to dealing with tourists. Sarjana, for example, has relied heavily on trekking tourism since his childhood. Every day, the small Sarjana climbed the mountain to offer beverages and snacks to the tourists.
He would return home before 8 a.m. "Sometimes I would have to run so I wouldn't be late for school. But I realized that earning money was useless if I didn't go to school," he said.
Sarjana's feelings were shared by Wayan Julita. The money he had made selling snacks and drinks not only covered his school fees but could also be used to buy essential items for his younger brothers and sisters. His mother, a farm worker, could not provide much on her low income.
"My father died when I was small. Since then I have been selling things to tourists. If I didn't do that, I wouldn't be able to survive," Julita said.
Sarjana and Julita also practiced speaking English with the tourists. The two decided to become tour guides after graduating from junior high school. Nearly every day, the two guided tourists to the top of Mount Batur. "Sometimes, I was forced to climb the mountain twice in one day," Julita said.
"Careful, there are a lot of loose rocks. Watch your step," Sarjana cried. The path was steep and full of potholes. Fortunately Julita had packed drinks and cookies for energy. "It's my job to help everyone in the group make it to the top," he said.
After walking for nearly one-and-a-half hours, we reached a stony area where clusters of wildflowers grew. In the distance, we spotted a small hut at the top of the mountain. "Not far to go," Julita said. But we were unable to witness the beauty of the sunrise. "There are too many clouds, so it's difficult to see a thing," Julita said.
Despite missing out on seeing the sunrise, we did not regret doing the walk. At 1,717 meters above sea level, we were also able to see Mount Agung, Bali's highest mountain. On the other side, Mount Abang was also clearly visible. "Everything looks so beautiful from up here," said Mita, a student at a private university in Denpasar, who was climbing Mount Batur for the first time.
By the time we had reached the top of the mountain, the small hut we had earlier seen in the distance was full of tourists. Some of them sang, others ate instant noodles and drank tea, and there were others who just sat and relaxed.
The owner of the hut, Komang Budiasa, 57, was busy serving her guests. She has been earning a living on Mount Batur for the past 20 years. "Initially I started selling food and drinks up here because my husband was sick and we were very poor. After about 10 years I built a hut to protect me from the elements," Budiasa said.
She climbs the mountain very early in the morning before the tourists arrive and returns home in the evening.
"If I'm very tired I don't go home. I sleep here," Budiasa said.
Besides Budiasa's hut, there are also three other huts where walkers can go to get warm after their long climb. A plate of instant noodles costs Rp 10,000 for local visitors and Rp 20,000 for foreign tourists. "The food is expensive because we have to bring it all the way up here. It is very heavy," Budiasa said.
Mount Batur is one of two active mountains on Bali. It erupted in 1917 and 1926. In 1917 its eruption killed more than 1,000 villagers and destroyed part of Batur village. But many people insisted on staying on in the area. The next eruption in 1926 destroyed the whole village.
There is also a big cave in the area, known as the crystal cave, and two smaller caves from where sulfuric clouds appear.
In the two caves, which are similar to two small holes, visitors can cook eggs. In five minutes, the eggs are ready to consume. "This place is truly astonishing. I hope I can come back," said Sherlin, a tourist from France.
The situation at the top of the mountain got even merrier with the arrival of long-tailed monkeys. Sarjana said the monkeys were used to tourists.
We stayed at the top of Mount Batur for several hours before returning. Our exhaustion melted away when we took a bath in naturally warm water in Toya Bungkah village. [Ni Komang Erviani/The Jakarta Post November 01,2007)
All of them were headed to the top of Mount Batur, including our group.
Guided by Kadek Sarjana, 28, at the front and Wayan Julita, 27, at the back, our group walked slowly from the hotel where we had stayed overnight.
Because it was still too early in the morning, we were reluctant to move our legs. But Sarjana, who has been a tourist guide for decades, told us to get a wriggle on or we would miss the sunrise.
He said the eight-kilometer journey to the crater would take about two hours. This means that to catch a glimpse of the sunrise, visitors have to start trekking at 4 a.m. "Tourists usually want to see the sunrise from the top of the mountain. The sunrise in the area is very beautiful," Sarjana said.
After walking for several hundred meters, the shining pathway suddenly turned into a dark gravel path. There were no longer lines of tourist huts with bright lights. We just caught light from the houses of locals here and there. It was fortunate that we were equipped with small flashlights.
The more we walked the darker it got. Our sight was limited. Several times Sarjana reminded us to be aware of the ravines on the left and right sides of the path.
He is very familiar with the route having climbed the mountain for the first time at the age of 10. "I came here every morning to sell beverages," he said.
People living on the slopes of the mountain are accustomed to dealing with tourists. Sarjana, for example, has relied heavily on trekking tourism since his childhood. Every day, the small Sarjana climbed the mountain to offer beverages and snacks to the tourists.
He would return home before 8 a.m. "Sometimes I would have to run so I wouldn't be late for school. But I realized that earning money was useless if I didn't go to school," he said.
Sarjana's feelings were shared by Wayan Julita. The money he had made selling snacks and drinks not only covered his school fees but could also be used to buy essential items for his younger brothers and sisters. His mother, a farm worker, could not provide much on her low income.
"My father died when I was small. Since then I have been selling things to tourists. If I didn't do that, I wouldn't be able to survive," Julita said.
Sarjana and Julita also practiced speaking English with the tourists. The two decided to become tour guides after graduating from junior high school. Nearly every day, the two guided tourists to the top of Mount Batur. "Sometimes, I was forced to climb the mountain twice in one day," Julita said.
"Careful, there are a lot of loose rocks. Watch your step," Sarjana cried. The path was steep and full of potholes. Fortunately Julita had packed drinks and cookies for energy. "It's my job to help everyone in the group make it to the top," he said.
After walking for nearly one-and-a-half hours, we reached a stony area where clusters of wildflowers grew. In the distance, we spotted a small hut at the top of the mountain. "Not far to go," Julita said. But we were unable to witness the beauty of the sunrise. "There are too many clouds, so it's difficult to see a thing," Julita said.
Despite missing out on seeing the sunrise, we did not regret doing the walk. At 1,717 meters above sea level, we were also able to see Mount Agung, Bali's highest mountain. On the other side, Mount Abang was also clearly visible. "Everything looks so beautiful from up here," said Mita, a student at a private university in Denpasar, who was climbing Mount Batur for the first time.
By the time we had reached the top of the mountain, the small hut we had earlier seen in the distance was full of tourists. Some of them sang, others ate instant noodles and drank tea, and there were others who just sat and relaxed.
The owner of the hut, Komang Budiasa, 57, was busy serving her guests. She has been earning a living on Mount Batur for the past 20 years. "Initially I started selling food and drinks up here because my husband was sick and we were very poor. After about 10 years I built a hut to protect me from the elements," Budiasa said.
She climbs the mountain very early in the morning before the tourists arrive and returns home in the evening.
"If I'm very tired I don't go home. I sleep here," Budiasa said.
Besides Budiasa's hut, there are also three other huts where walkers can go to get warm after their long climb. A plate of instant noodles costs Rp 10,000 for local visitors and Rp 20,000 for foreign tourists. "The food is expensive because we have to bring it all the way up here. It is very heavy," Budiasa said.
Mount Batur is one of two active mountains on Bali. It erupted in 1917 and 1926. In 1917 its eruption killed more than 1,000 villagers and destroyed part of Batur village. But many people insisted on staying on in the area. The next eruption in 1926 destroyed the whole village.
There is also a big cave in the area, known as the crystal cave, and two smaller caves from where sulfuric clouds appear.
In the two caves, which are similar to two small holes, visitors can cook eggs. In five minutes, the eggs are ready to consume. "This place is truly astonishing. I hope I can come back," said Sherlin, a tourist from France.
The situation at the top of the mountain got even merrier with the arrival of long-tailed monkeys. Sarjana said the monkeys were used to tourists.
We stayed at the top of Mount Batur for several hours before returning. Our exhaustion melted away when we took a bath in naturally warm water in Toya Bungkah village. [Ni Komang Erviani/The Jakarta Post November 01,2007)
Kamis, 18 Oktober 2007
Children Act As Guardians of Sacred 'Legong' Dance

A dozen beautiful girls danced together in the courtyard of Payogan Agung Temple in Ketewel village, Sukawati, near Ubud in Gianyar in early October.
The dancers were dressed in gold with crown-like headdresses adorned with fresh flowers. Other girls wearing similar costumes sat patiently in a corner of the temple waiting for their turn to perform.
Ni Kadek Dewi Puspayanti and the other girls are members of a legong troupe that was not formed to entertain tourists or dance enthusiasts but to serve in life cycle rites, ceremonies and celebrations. The troupe was rehearsing for the opening and closing ceremonies of the Payogan Agung Temple celebration.
"The legong Ketewel dance is only performed during ceremonies and celebrations at major temples and in villagers' private homes," said Jero Mangku Ketut Widia, a caretaker at Payogan Temple.
Legong Ketewel is said to have been created by I Dewa Agung Anom Karna, a member of the royal family of the Sukawati Kingdom in Gianyar, after a period of mediation in the temple. He said he was inspired by the angels in heaven.
Jero Mangku said it was believed that the dance was created to honor Ratu Dedari or Tu Dari (the Queen of the Angels). The people of Ketewel believe performing the dance keeps them safe by warding off evil spirits, epidemics and disasters.
"I can vividly remember when the Ketewel villagers suffered from a mysterious disease in the late 1940s," the religious leader said.
The villagers' solution was to stage the legong dance.
"I knew of a doctor who had the skills to cure the sick, but we still believed in the healing power of the dance," he said. Legong Ketewel is usually staged every six months according to the Balinese calendar when people observe the Pagerwesi holiday, one of the most important celebrations in Bali in addition to Galungan and Nyepi or the Day of Silence.
Since Legong is a sacred dance, not all girls are eligible to be dancers. Most dancers are pre-teen girls who have not yet started menstruating.
"Once we have our first period, we have to quit the troupe," said Komang Wikantini, 13. Komang was a prominent legong dancer who started her career when she was 8.
Komang and other former legong dancers are currently active in training youngsters and assisting legong dancers back stage. Legong dancers are also prohibited from consuming beef and pork. "According to Hindu beliefs, the cow is a sacred animal and the carriage of Shiva, the destroyer," said Jero Mangku Widia. "Meat symbolizes material things that can take away from the sacredness of the dance itself," he added.
Legong dancers must also refrain from consuming sour or cold food and beverages. "This is important to strengthen their teeth," he said. During a legong performance, a dancer must wear a wooden mask that they hold in place with their teeth. "If their teeth are decaying they cannot hold the mask properly," he said.
Every year, no less than 30 children audition to be legong dancers. Kadek Dewi Puspayanti was one of the 12 dancers selected this year.
"I am very proud to be a legong dancer. This is really an honor for me and my family," Puspayanti said."My parents and grandparents told me I would become a healthy and beautiful girl when I was chosen to be a legong dancer."
During a legong performance, only two dancers are allowed to perform. The rest of the group has to pray before the show and help their friends prepare for the performance.
At the Payong Agung Temple celebration the troupe had been rehearsing for, Puspayanti teamed up with 9-year-old Ni Wayan Bianka Aristania.
Ni Luh Anna, one of the trainers, said the dance allowed children to live up to their potential."They have to be physically strong as well as extremely patient," she said.
Accompanied by gamelan music from the Sekaa Gong Semara Pengulingan Indra Parwati, Puspayanti and Wayan Bianka staged the rare legong Ketewel. The two girls seemed to be in another world. The sweet smell of incense mixed with the fragrance of jasmine and frangipani flowers drifted through the temple courtyard.
According to dance expert I Wayan Dibya from the Denpasar Institute of the Arts, the legong Ketewel dance has contributed to the creation of more contemporary legong dances. "In l811, legong Ketewel was modified into what we called modern legong," he said recently, adding that in the development process, some movements had been added and others eliminated. "Legong is a rich and very elaborate dance that requires a high level of skill. Only a few dancers can fully master legong, so we are facing a shortage of qualified legong dancers," Dibya said. Dancer, choreographer and politician Guruh Sukarnoputra said recently he was concerned by the recent development of the dance form. "The dance is only fit to be perormed before tourists, It has lost its originality," Guruh said.
But both Dibya and Guruh are happy to see the children of Ketewel are still taking an interest in the dance."They are the last guardians of the rare and sacred legong Ketewel dance," Dibya said.[Ni Komang Erviani / The Jakarta Post, October 18, 2007]
Rabu, 10 Oktober 2007
Legong di Tengah Pergeseran
Tari legong punya riwayat nan panjang. Bermula dari Desa Ketewel, legong kemudian berkembang menurut gaya-gaya yang diolah para empu tari di pelbagai desa kawasan Pulau Dewata. Legong topeng diperkirakan menjadi cikal bakal tarian ini. Meski ada pergeseran, tari legong diyakini akan tetap lestari.
Alunan nada bersemangat seperangkat gamelan yang dimainkan Sekaa Semara Pegulingan Gunung Jati menyapa para tamu di Balerung Stage. Di panggung pertunjukkan sempit di Desa Peliatan, Ubud, Bali, itu sesosok penari tiba-tiba muncul dari balik tirai yang membalut sepasang candi bentar.
Gerakannya lincah, tegas, tapi tetap gemulai. Khas gerakan penari legong keraton. Tak lama kemudian, dua penari lainnya muncul dari balik tirai, menggantikan penari pertama di atas panggung. Kostumnya sama. Aksesorisnya pun tak jauh beda.
Keduanya bergerak kompak, bak sesosok penari dengan bayangannya. Tangan-tangan lentik para penari membawa mata penonton untuk terus mengikuti gerakannya. Lirik matanya lincah, membuat penonton enggan berkedip.
Entakan tegas kaki para penari bagai angin puting beliung, membius penonton di ruang pertunjukkan. Konon, gemulai gerakan kedua penari menggambarkan sosok bidadari dari kahyangan. Di tengah tarian, keduanya tiba-tiba berganti peran.
Dua tokoh bidadari kini berganti peran menjadi dua sosok ksatria kera: Subali dan Sugriwa. Dua ksatria kera gagah perkasa ini adalah kakak beradik yang berasa; dari Kerajaan Kiskenda. Mereka berseteru lantaran berebut tugas dari Dewa Indra untuk membunuh raksasa Mahesora.
Alunan gamelan pengiring tiba-tiba mengentak. Gerak gemulai penari, berubah menjadi jauh lebih tegas. Kipas yang ada di tangan keduanya, juga ikut berubah peran menjadi senjata.
Pertempuran Subali dan Sugriwa itu bukanlah ending pertunjukkan ini. Cerita kembali ke plot awal. Para penari kembali memerankan dua sosok bidadari dari khayangan. Beberapa gerak gemulai kembali diperlihatkan, sebelum penari pertama yang digambarkan sebagai sosok pembantu bidadari, menggantikan peran mereka di atas panggung.
Rupanya dalam tari legong, penari pertama yang disebut penari Condong, hanya sebagai pembuka dan penutup tari. Kehadiran tokoh Condong yang menggambarkan sosok pembantu atau abdi dari dua bidadari (tokoh utama), menjadi ciri yang tak dimiliki tari bali lainnya.
Pertunjukkan ditutup kembali dengan gerak lincah, tegas, dan gemulai si tokoh Condong. Penampilan Tari Legong Kuntir malam itu, benar-benar membius para tamu. “It’s wonderful,” seorang tamu asing di kursi tengah nyeletuk.
Versi Asli Gaya Peliatan
Legong memang tak sekadar tarian asal Bali. Tarian ini memberi satu warna tersendiri bagi penikmatnya. Tak mengherankan, banyak sekali paket pertunjukkan tari legong yang ditawarkan dalam industri pariwisata Bali.
Legong tak hanya dipentaskan sanggar pertunjukkan tradisional, melainkan juga igelar oleh kafe hingga hotel berbintang. Tarian ini kerap menjadi pertunjukkan rutin di akhir pekan. Namun pertunjukkan legong di Peliatan Ubud malam itu berbeda dari biasa.
Ada sejumlah cerita legong dalam versi asli gaya Peliatan, yang bisa disaksikan langsung oleh para tamu. Disebut versi asli, karena selama ini banyak pertunjukkan tari legong tak lagi memperhatikan orisinalitasnya. Banyak sekali pengaruh modernisasi, termasuk karena permintaan pasar pariwisata, yang menggeser orisinalitas pertunjukkan legong.
Mulai dari gerakan-gerakan yang nyaris distandardisasi oleh sejumlah sanggar tari yang terus menjamur di Bali, hingga lama waktu pertunjukkan yang bisa ditawar untuk menyesuaikan bujet si penyelenggara acara. Toh, para turis asing tak tahu kalau legong yang ditontonnya bukan versi asli.
Begitulah umumnya prinsip banyak pemilik hotel atau kafe yang menyediakan paket tari legong di tempatnya. Maka, tak mudah mendapatkan tari legong yang benar-benar asli.
Pertunjukkan legong di Peliatan malam itu disesaki pengunjung. Pertunjukkan yang digelar selama empat hari berturut-turut itu, benar-benar memanjakan penikmat seni pertunjukkan bali. Apalagi, penari yang tampil merupakan penari tua yang menyerap ilmu tari dari maestro legong, mendiang Anak Agung Gde Mandera dan Gusti Made Sengog—juga sudah meninggal.
Dua tokoh itu adalah mahaguru tari Bali yang mengembangkan tari legong gaya Peliatan. “Pertunjukan ini kami gelar untuk mengembalikan kenangan kepada masyarakat, disertai harapan agar legong gaya Peliatan tetap dicintai dan dipelihara sebagai salah satu bentuk dalam khasanah seni pertunjukan Bali, “ ujar Anak Agung Gde Oka Dalem, penyelenggara acara.
Legong gaya peliatan merupakan istilah yang digunakan untuk membedakanya dari legong dengan gaya khas daerah lain. Pasalnya, banyak daerah di Bali yang memiliki legong dengan ciri khas masing-masing.
Riwayat Tari Legong Topeng
Perjalanan legong sebagai seni pertunjukkan, ternyata cukup panjang hingga membentuk gaya-gaya daerah seperti sekarang ini. Meski tak ada sumber pasti, sejumlah pengamat tari meyakini bahwa tari legong berasal dari Desa Ketewel, sebuah desa kecil di Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Menurut I Wayan Dibia, pengamat seni tari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari legong yang kini berkembang menjadi legong keraton, bermula dari sebuah tari ritual sakral di Pura Payogan Agung, sebuah pura di Desa Ketewel. Bentuk tari legong asal Desa Ketewel pun jauh berbeda dengan legong yang ada sekarang.
Tari legong asal Ketewel itu biasa disebut tari legong topeng, karena penarinya wajib menggunakan topeng yang disangga dengan gigi. Berbeda dengan tari legong keraton yang kini dikenal gemulai, energik, tapi mengentak, gerakan tari legong topeng jauh dari kesan mengentak.
Gerakan para penari legong topeng terkesan sangat gemulai, kalem, tanpa satupun gerakan cepat. Semua berirama teratur. “Karena lakonnya bidadari, ya menggambarkan gerakan bidadari di kahyangan,” terang Mangku Widia.
Mangku Widia menambahkan, kemunculan legong topeng bermula dari seorang Ksatria di Puri Sukawati bernama I Dewa Agung Anom Karna. Ia mendapat wangsit ketika bersemadi di Pura Payogan Agung Ketewel. Sang ksatria kabarnya mendapat perintah dari Hyang Pasupati, untuk menciptakan sebuah tarian dengan karakter topeng yang telah ada.
Memang, jauh sebelum Dewa Agung Anom Karna bersemadi, sejumlah topeng bidadari telah tersimpan di Pura Payogan Agung. Topeng yang berusia ratusan tahun itu diduga buatan Ki Lampor dari Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur. Lontar Raja Purana yang ditemukan di Pura Payogan Agung mengungkapkan, topeng-topeng itu dipersembahkan oleh Raja Kediri dalam tari wali di Gunung Semeru. Paska persembahan, barulah topeng-topeng itu dibawa ke Bali dan diletakkan di Pura Payogan Agung. Tak jelas, kapan topeng-topeng itu sampai di Bali. Namun diperkirakan sejak ratusan tahun lalu. Atas wangsit itu, dengan bantuan masyarakatnya, Dewa Agung Anom Karna pun mencipatakan Tari Ratu Dari.
Tari yang digubah lengkap dengan tabuh semara pegulingan sebagai pengiringnya ini, diperkirakan sudah ada pada tahun 1811. Tari inilah yang dalam perjalanannya disebut sebagai legong topeng. Nama ”legong” diduga berasal dari akar kata bahasa Bali leg yang berarti gerak yang luwes dan elastis serta gong yang berarti gamelan.
Maka, legong disimpulkan sebagai tarian yang luwes dan diiringi dengan seperangkat gamelan.
Berkembang di Seantero Bali
Bermula dari legong topeng yang dikembangkan Anak Agung Rai Perit di Puri Paang, Sukawati, Gianyar, sejumlah pakar tari seantero Bali mulai belajar tentang seluk beluk Legong. Selanjutnya, para murid Anak Agung Rai Perit itu mengembangkan legong di daerahnya masing-masing.
Tak ada satu pun sumber yang bisa memberi kepastian, kapan legong berkembang di setiap daerah. Hal ini terkait minimnya dokumentasi yang ada tentang seni pertunjukan Bali. Menurut Wayan Dibia, seni pertunjukkan di Bali adalah bagian dari tradisi lisan yang tidak didokumentasikan secara permanen.
Selama ini, tidak ada cukup bukti yang menunjukkan dari mana dan ke mana bergeraknya Legong. “Tapi yang sudah kita kumpulkan selama ini, yakni penyebarannya dari Sukawati, lalu ke tempat lain di Gianyar. Belakangan, baru berkembang di Badung dan Denpasar,“ Wayan Dibia menerangkan.
Yang pasti, legong telah berkembang ke sejumlah daerah di Bali, disesuaikan dengan gaya khas masing-masing daerah. Berdasarkan catatan yang dibuat Proyek Pengembangan Sarana Wisata Budaya Bali pada tahun 1974, Legong berkembang di enam kabupaten di Bali. Masing-masing 20 daerah di Kabupaten Badung termasuk Denpasar, 13 daerah di Kabupaten Gianyar, tiga daerah di Kabupaten Tabanan, dua daerah di Kabupaten Buleleng, dua daerah di Kabupaten Negara, dan dua daerah di Kabupaten Karangasem.
Pengembangan Legong dengan kekhasan gaya daerah masing-masing, sangat dipengaruhi tokoh yang membawanya. Seperti yang dilakukan I Gusti Lanang Gde Sudana Jelantik dan Anak Agung Raka Saba yang membangun legong gaya Desa Saba Blahbatuh Gianyar. Wayan Lotring membangun legong gaya Kuta. Selain itu, Anak Agung Gde Mandera (1905 – 1986) dan Gusti Made Sengog (1890-1972) membangun Legong gaya Peliatan, Ubud.
Wayan Dibia menuturkan, peran tokoh-tokohnya itu karena mereka ingin memasukkan rasanya sendiri, mempengaruhi gaya masing-masing daerah. Walaupun dari sumber yang sama, setelah di bawa ke daerah, legong menjadi tontonan yang berbeda. Legong yang sumbernya sukawati, jadi berbeda-beda karena tokoh Saba ingin membuat yang lain. ”Jadi itu seolah sudah terbawa oleh ekspresi artistik ketika itu tentu ingin mengarah pada keberagaman,” katanya lagi.
Ragam Cerita dan Legong Keraton
Dalam perkembangannya itu pula, legong mulai bercerita. Tak sekadar liak liuk bidadari seperti tari asalnya. Cerita pertama yang dikembangkan adalah tentang kisah hidup Prabu Lasem dan Putri Rangkesari dari Kerajaan Daha sekitar abad ke-12. Lalu, cerita legong berkembang hingga beragam cerita.
Beberapa cerita yang ada, antara lain Legong Kuntir. Di sini diungkap pertarungan antara dua kera bersaudara Subali dan Sugriwa memperebutkan Dewi Tara dalam kisah Ramayana. Ada juga Legong Jobog yang bertutur tentang perjalanan putra Rsi Gautama, yang awalnya manusia lalu menjadi kera.
Banyak lagi cerita lain, seperti Legong Legod Bawa (kisah Lingga Manik), Legong Kuntul (kisah dua ekor burung bangau), Legong Pelayon, Legong Bapang, Legong Smarandana,Legong Sudarsana, dan Legong Prabangsa. Tari legong kemudian disebut legong keraton, karena banyak dipertunjukkan di istana. Tidak terkecuali di Istana Kepresidenan Tampak Siring, Bali.
Karena pengaruh ini pula, legong kemudian tak hanya bercerita, melainkan juga menambah satu tokoh di luar penari utama. Tokoh baru itu diberi nama Condong.
Tokoh berjuluk Condong ini tampil sebagai pembuka dan penutup tarian yang menggambarkan seorang abdi yang berwatak lembut, serius, dan formal. Belakangan, dengan terciptanya tabuh Gong Kebyar di Wilayah Buleleng, legong pun tak lagi hanya setia pada tabuh Semara Pegulingan. Beberapa legong juga kerap diiringi tabuh Gong Kebyar.
Tari legong mulai diperkenalkan kepada turis pada sekitar tahun 1927. Bali Hotel, hotel tertua di Bali, diperkirakan menjadi tempat pentas pertama tari legong di hadapan turis. Meski, di luar itu, sudah banyak turis yang datang secara sendiri-sendiri ke tempat pertunjukkan legong.
Legong makin dikenal pada tahun 1931, sejak tarian ini diperkenalkan ke dunia internasional. Ketika itu, legong Peliatan tampil dalam misi kesenian ke Paris, Perancis. Misi yang sama juga membawa legong ke Amerika Serikat pada tahun 1952.
Maknanya Makin Bergeser
Sayangnya, tak banyak daerah yang mampu mempertahankan kekhasan tari legongnya. Selain legong Peliatan yang tengah diperkenalkan kembali Legongnya, legong Saba kini juga kembali berusaha menunjukkan eksistensinya. Adalah I Gusti Ngurah Agung Serama Semadi, putra Anak Agung Raka Saba, yang berusaha memperkenalkan kembali legong gaya Saba.
Setiap Sabtu dan Minggu sore, Agung Aji Rai, begitu Semadi kerap disapa, selalu mengajari puluhan anak-anak Desa Saba tarian khasnya itu. Hal yang sama coba dilakukan I Wayan Kelo, cucu I Wayan Lotring yang kini berupaya memperkenalkan kembali legong gaya Kuta.
Namun, bagi Agung Aji Rai maupun Wayan Kelo, tak mudah mempertahankan legong gaya daerah yang diwariskan. Pasalnya, ruang yang ada untuk mereka berekspresi tak cukup banyak. Sebaliknya, permintaan pasar dan keterbatasan budget anggaran menjadi kendala. Contoh sederhananya, kini banyak penyelenggara pertunjukkan seperti hotel dan kafe mengajukan permintaan tari legong berdasarkan pasar dan anggaran tadi.
Tak mengherankan bila kini banyak tari legong yang tampil hanya 10 menit, dari yang seharusnya sekitar 20 sampai 30 menit. Ironisnya, menjamurnya sanggar-sanggar tari di Bali membuat perlakuan tidak layak terhadap kesenian Bali itu tak lagi dihiraukan. ”Daripada enggak pentas. Ya, terpaksa kami terima,” aku Agung Rai Aji. Meski demikian, Agung Rai Aji tetap optimis legong Saba tidak akan pernah punah selama ia intens mewariskannya kepada anak-anak di Saba.
Beda Agung Rai Aji, beda pula yang dilakukan Wayan Kelo. Wayan Kelo justru tegas menolak permintaan pentas tari legong di luar pakem legong gaya Kuta. ”Saya lihat, ini merupakan bentuk penghargaan yang rendah terhadap seniman Bali. Kalau kami terima, nanti legong kami yang asli bisa punah,” katanya.
Debat Ihwal Legong Turis
Pergeseran makna tari legong juga mendapat perhatian Guruh Soekarnoputra, putra proklamator Soekarno, yang juga seniman tari. Guruh yang banyak belajar tari legong di Peliatan Ubud, mengaku kecewa melihat banyaknya tari legong yang seolah sudah distandardisasi melalui lembaga pendidikan, seperti ISI Denpasar.
”Sekarang terkesan lebih banyak legong turis,” kata Guruh, yang sempat menjadi murid Anak Agung Gde Mandera, tokoh legong Peliatan. Tudingan Guruh rupanya balik mengundang komentar Dekan Seni Pertunjukan, ISI Denpasar, Ketut Sariada. Ia membantah tegas adanya standardisasi tari legong di dalam isntitusinya yang menyebabkan orisinalitas legong mulai bergeser. ”Kami jelas memiliki program pelestarian. Mahasiswa bahkan kami minta terjun langsung ke daerah-daerah lumbung seni Legong,” terang Sariada.
Wayan Dibia menegaskan, tak ada seorang pun yang bisa disalahkan atas pergeseran yang ada. Menurut dia, kita tidak bisa melihat tari Bali sebagai suatu yang standar. Setiap generasi mempunyai kontribusi untuk memperbarui kesenian tersebut.
”Itu konsekuensi tradisi seni pertunjukan yang berkembang dalam sebuah tradisi lisan. Proses pewarisannya itu secara turun temurun. Dan dalam proses itu, selalu terjadi adjustment, perubahan-perubahan. Tapi, secara umum, secara visual, ada bentuk yang dipertahankan,” tegas Dibia.
Dibia menambahkan, ekspresi seni tari Bali sangat erat kaitannya dengan konsep continue and changing. ”Ada hal-hal yang dipertahankan, yang jadi prioritas. Selain itu, ada hal-hal yang selalu diubah. Itu sudah biasa,” tegasnya.
Hal itu jelas terlihat dari banyaknya kreasi tari legong yang belakangan berkembang. Tapi Dibia membantah kondisi itu dapat menyebabkan seni legong yang benar-benar asli, punah. ”Saya yakin, itu tidak akan terjadi,” tutur Dibia optimistis.
Apalagi, tari legong memiliki kekhasan tersendiri yang membuatnya kuat. Legong menggunakan perbendaharaan tari yang agak klasik. Kekhasan lain, perwatakan suatu karakter dalam legong tidak ditentukan oleh perubahan kostum. Hanya perubahan gerak yang menunjukkan perubahan karakter.
Contohnya tokoh Condong, yang mulanya abdi, kemudian berubah menjadi musuh. ”Kalau orang hanya melihat begitu saja, bingung. Lho, tadi dia jadi begini, sekarang kok beda. Legong itu tidak membedakan karakter dan watak suatu tokoh dengan perbedaan kostum,” Dibia menegaskan.
Bahkan belakangan ini, menurut Dibia, banyak tari Bali kreasi baru yang muncul menggunakan konsep pelegongan. Banyak pula upaya mencipta legong kreasi, yang terbukti tak mengusik kekuatan tari legong asli. Legong kreasi tidak pula mengurangi kecintaan masyarakat pada tari legong asli. [Komang Erviani/ dimuat di Majalah GATRA No 47/XIII beredar 4-10 Okt 2007]
Berangkat dari Tari Ritual

Ni Wayan Wiwin Oktarini dan teman-temannya terlihat sibuk. Gadis sembilan tahun itu menghias gelungan, sejenis mahkota berwarna keemasan. Satu per satu bunga kamboja dipasangkan. Dan, gelungan yang bakal dipakai untuk menari telah siap dikenakan.
Wiwin dan teman-temannya bergegas menuju salah satu bale di Pura Payogan Agung. ”Tadi minum es ya?” tanya Luh Ana, 17 tahun, kakak pendamping mereka yang juga mantan penari legong topeng. Wiwin mengangguk sambil tersenyum.
Rupanya, hari itu Wiwin sempat minum es gara-gara lupa kalau kelompok legong topengnya akan medal. Medal adalah istilah bahasa Bali yang biasa digunakan bila legong topeng Pura Payogan Agung akan mentas di luar pura.
Di dalam Pura Payogan Agung sendiri, tari legong topeng hanya dipertunjukkan enam bulan sekali. Yakni pada upacara piodalan, perayaan rutin yang jatuh pada hari Buda Kliwon Pagerwesi sesuai dengan penanggalan Bali. Di luar itu, legong topeng Ketewel kerap dipertunjukkan di setiap upacara piodalan di pura keluarga di rumah-rumah warga.
Gara-gara minum es, Wiwin tak diperbolehkan ikut menari sore itu. ”Kalau minum es, nanti giginya enggak kuat. Jadi, enggak bisa ikut nari,” Ana menjelaskan. Sebab kekuatan gigi sangatlah penting bagi para penari legong topeng.
Maklum, sesuai namanya, para penari wajib mengenakan topeng selama membawakan tarian ini. Uniknya, topeng yang digunakan tidak diikatkan pada kepala, tetapi menggunakan janggem yang hanya bisa disangga oleh gigi penarinya. ”Kalau giginya nggak kuat, takut topengnya jatuh,” kata Ana lagi.
Persyaratan menjadi penari legong topeng, memang tak sesederhana tarian lain. Selain wajib menjaga kekuatan gigi, penari legong topeng juga dilarang keras makan daging sapi dan babi. Satu syarat terpenting, penari legong topeng belum akil balig, atau belum mengalami menstruasi.
”Ini wajib untuk menjaga kesakralan tarian,” ujar Jero Mangku Ketut Widia, 64 tahun, pemangku atau pendeta hindu di Pura Payogan Agung. Karena persyaratan yang ketat itu, maka kini hanya ada 12 orang generasi penerus tari Legong Topeng. Wiwin adalah salah satunya.
Sayang, Wiwin tak bisa tampil sore itu gara-gara lupa dengan pantangannya. Sejumlah temannya yang lain lantas mengajukan diri. Semua bersemangat. ”Soalnya bangga kalau bisa nari,” jawab Ni Kadek Dwi Puspayanti, 10 tahun, ketika ditanya motivasinya menari legong topeng.
Puspayanti dan temannya, Ni Wayan Bianka Aristania yang berusia sembilan tahun, boleh bangga hari itu. Mereka terpilih untuk menarikan legong topeng di tiga rumah warga. Meski tak terpilih, yang lainnya tak kalah gembira. Meski gagal tampil, mereka tetap bersemangat membantu Puspayanti dan Bianka berpakaian.
Kain prada yang sudah lumayan kusam dipasangkan di pinggang, menyusul sebuah baju putih berlengan panjang yang sudah cukup usang. Lalu sabuk prada yang panjangnya bermeter-meter, dililitkan melingkar dari pinggang sampai dada. Ampok-ampok (hiasan pada pinggang), lamak (hiasan depan,), hingga tutup dada (hiasan depan), dipasang menyusul. Semua berkilau keemasan, dengan perpaduan warna-warni khas pakaian tari bali. Bedanya, tak ada setitikpun bedak atau make up yang dioleskan ke wajah penari. Ini untuk menunjukkan kepolosan mereka.
Sementara penari bersiap, Luh Ana dan mantan penari legong lain yang menjadi pendamping, menghaturkan canang ke seluruh sudut pura. Di depan pintu gedong, salah satu bangunan di dalam pura, Ana menghaturkan doa-doa. Di dalam gedong itulah, tersimpan enam buah topeng yang akan digunakan dalam tari legong. Selain topeng itu, ada tiga buah topeng lain yang hanya digunakan dalam tari topeng lanang, tari topeng yang dibawakan oleh laki-laki.
Ketika waktu menunjukkan pukul lima sore, Ana memberi aba-aba agar semua bersiap. Gelungan yang tadi dihias, dipasangkan pada kepala Puspayanti dan Bianka. Keduanya lantas diperciki air suci atau tirta, yang dipercaya dapat membersihkan diri penari sebelum tampil. Sebatang dupa yang menyala, juga dipasangkan di atas gelungan mereka. Dupa dipercaya menjadi media perantara antara kita, manusia, dengan Tuhan sebagai pencipta, pelindung, sekaligus pelebur kita.
Mereka pun bergegas menuju rumah warga. Kebetulan, rumah warga yang sedang menggelar upacara tak begitu jauh. Jadi, para penari cukup berjalan kaki. Dua anak dengan bendera putih berada di barisan paling depan. Sedangkan satu orang dewasa mengusung kotak berisi enam buah topeng yang akan digunakan nanti, di kepalanya.
Sebuah payung warna kuning setia memayungi kotak topeng yang disakralkan itu. Seperangkat gamelan dibawa oleh anggota Sekaa Gong Duwe Indra Parwati, kelompok gamelan semara pegulingan yang bakal menjadi pengiring tari legong topeng.
Tak lebih dari 10 menit menyusuri jalan berbatu, para penari pun tiba di rumah warga di Banjar Tengah, Desa Ketewel. Ni Wayan Madri, 40 tahun, salah satu penghuni rumah, menyambut hangat. Menurut Madri, ia sengaja mengundang para penari legong topeng yang oleh masyarakat Ketewel lebih karib disebut Tari Tu Dari (Ratu Dedari).
”Ini wajib. Setiap upacara, Tu Dari harus ada. Kalau nggak mampu, boleh juga kita minta tirta (air suci,red) saja di Pura Payogan Agung. Tapi rasanya kurang pas kalau enggak ada Tu Dari,” begitu Madri beralasan.
Menurut Jero Mangku Ketut Widia, pemangku atau pendeta hindu di Pura Payogan Agung, tari legong topeng memiliki makna yang sangat sakral. Legong topeng merupakan pemuput karya atau penyelesai upacara. Jadi, tarian ini biasanya ditampilkan untuk menutup suatu upacara.
Selain itu, legong topeng juga dipercaya sebagai penolak bala. Mangku Widia menyatakan, pada tahun 1940-an sempat terjadi wabah penyakit yang cukup mengkhawatirkan di Desa Ketewel. Untuk mengatasi, legong topeng kemudian dipentaskan secara bergilir di semua banjar adat di desa itu. Walhasil, wabah tersebut segera tertanggulangi. ”Pada waktu itu memang ada dokter yang datang dari kota, tapi kami percaya keberhasilan menangani wabah itu tidak lepas dari pementasan tari legong topeng,” kata Mangku Widia.
Besarnya kekuatan fungsi tari legong topeng, membuat tari ini menjadi penuh makna bagi masyarakat Ketewel. Itu terlihat dari sambutan yang diberikan penghuni rumah yang mengundang mereka. Ketika memasuki rumah, penari legong berserta rombongan langsung disambut senyum para penghuni rumah. Mereka diantar menuju pura keluarga di bagian belakang rumah. Sebelum mereka tampil, sejumlah ritual masih harus dilakukan para penari dan pendampingnya.
Kotak berisi topeng juga diberi mantra-mantra oleh pendeta hindu di pura setempat. Para penari kembali mengucap doa, memohon keselamatan.
Tak lama kemudian, alunan musik dari Sekaa Gong Duwe Indra Parwati mulai mengalun, pertanda tarian bakal segera dimulai. Puspayanti dan Bianka lantas mengunyah beberapa bunga kamboja sebagai simbol membersihkan mulut. Wangi dupa pun dihirup kuat ke dalam mulutnya.
Puspayanti dan Bianka lalu mengenakan topeng pertamanya, Dibantu kakak pendampingnya. Dua topeng pertama yang ditarikan adalah topeng bidadari Sulasih dan Nilotama. Semua topeng yang ditarikan dalam legong topeng, merupakan tokoh bidadari. Selain Sulasih dan Nilotama, ada juga topeng Aminaka, Supraba, Gagarmayang, dan Tunjung Biru, yang ditarikan secara bergantian.
Di balik topeng, Puspayanti dan Bianka bergerak gemulai. Meski pandangan mereka hanya bergantung pada dua lubang yang sangat kecil, keduanya tidak terlihat canggung. Gerakannya serasi.
[Komang Erviani/ dimuat di Majalah GATRA Nomor 47 / XIII,beredar 4-10 Okt 2007]
Langganan:
Postingan (Atom)