KUTA (SINDO) - Ada aksi tebang pohon di Kuta. Korbannya dua batang pohon. “Apa yang dikisahkan sebatang -pohon ketika ditebang?” teriak sejumlah anak-anak sanggar kesenian Bajra Sandi, membacakan puisi karya sastrawan Bali Cok Sawitri. Anak-anak lain lantas muncul dalam kostum pelepah pisang kering. Mereka mencoba mengungkapkan betapa aksi tebang pohon menyebabkan kekeringan di mana-mana.
Ini memang bukan aksi tebang pohon sungguhan, melainkan sebuah aksi teatrikal yang ditampilkan sekitar 35 anak-anak dan remaja akhir pekan kemarin. di Aula Kantor Kelurahan Kuta, Badung, Bali. Mereka tampil dengan sebuah aksi teater berjudul Tanah Air Api, yang mengungkap betapa aksi penebangan sebatang pohon telah merusak lingkungan di masa sekarang dan masa depan.
Aksi teatrikal Tanah Air Api digelar dalam rangkaian kegiatan Alam Raya Milik Bersama, serangkaian kegiatan dialog, workshop, proses kreatif, dan pertunjukan seni. Alam Raya Milik Bersama gelaran Kelompok Tulus Ngayah dan Institute for Global Justice bakal dilaksanakan sampai Senin (10/12) ini.
Menurut Koordinator Kelompok Tulus Ngayah, Cok Sawitri, Perayaan Alam Raya Milik Bersama dilaksanakan untuk sekadar memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat terkait isu global warming. Pasalnya, menurut Cok, bahasa-bahasa yang digunakan dalam sidang UNFCCC terlalu tinggi bagi masyarakat. Sebagian besar dari masyarakat bahkan merasa tidak punya kepentingan dengan global warming. “Padahal, yang bakal merasakan dampak langsung global warming kan masyarakat juga. Yang sekarang banyak dibahas di Nusa Dua, kami lihat sebagai gombal warming,” keluh Cok yang mengenakan kaos bertuliskan “gombal warming”.
Untuk lebih mendekatkan pemahaman global warming kepada masyarakat, jelas Cok, masyarakat adat juga dilibatkan penuh dalam kegiatan tersebut. Selain itu, sejumlah guru taman kanak-kanak juga diminta pelibatannya. “Karena guru TK adalah penyampai pesan pertama untuk anak-anak kita. Jadi mereka bisa sampaikan pesan global warming dengan benar,” ujar Cok.
Meski masih usia dini, anak-anak sanggar seni Bajrasandi rupanya cukup mengerti dengan makna tari yang mereka bawakan malam itu. Kadek Evi Andriani (11 tahun) misalnya, mengaku tidak senang melihat orang menebang pohon. “Kan kasihan kalau ditebang. Nanti panas,” ujar bocah kelas lima sekolah dasar yang berperan sebagai pohon.
Pendapat Ade Agoes Kevin (7 tahun) tak jauh beda. Meski hanya berperan sebagai pemegang payung, Kevin tegas menolak aksi penebangan pohon. “Takut. Kan nggak boleh tebang pohon. Nanti Tuhan marah,” ujar Kevin ketika ditanya pendapatnya tentang aksi tebang pohon. [Ni Komang Erviani]
Sabtu, 22 Desember 2007
Rumput Laut Pengganti Bom Ikan
BULELENG (SINDO) - Keakraban Daeng Hayak (71 tahun) dengan bom ikan dan potasium, kini tinggal sejarah. Padahal, keseharian Daeng di masa lalu tak pernah lepas dari bom ikan dan potas. Pria keturunan bugis yang lahir dan besar di Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali itu, dulunya termasuk salah satu nelayan pencari ikan dengan bom. Meski ia mengaku punya alasan untuk itu. ”Sebab saya dulu nggak tahu harus bekerja apa lagi. Sementara anak-anak harus makan dan tetap sekolah,” kenang ayah dari 10 anak itu.
Beda dulu, beda sekarang. ”Sekarang saya tahu kalau itu (bom ikan,red) merusak,” ujarnya. Daeng Hayak kini memang sudah tidak lagi menggantungkan hidupnya dari mengebom ikan. Ia kini menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut, usaha yang kini juga diikuti oleh sekitar 180 orang nelayan lain di pesisir Gerokgak, Buleleng, Bali.
Budidaya rumput laut telah menjadi mata pencaharian baru yang memberi keuntungan ekonomis bagi para nelayan Gerokgak. Setidaknya, keuntungan itulah yang dirasakan Daeng Hayak, sejak merintis budidaya rumput laut tersebut tahun 2005 lalu. ”Baru beberapa bulan saya tanam rumput laut, saya sudah bisa jual enam juta rupiah. Jauh lebih untung dibandingkan cari ikan pakai bom,” terang Daeng Hayak. Sejak tahun 2005 itu pula, banyak nelayan pencari ikan dengan bom dan potas di wilayah Gerokgak yang beralih ke budidaya rumput laut.
Naiknya popularitas rumput laut di kalangan nelayan sekitar Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu, tak cuma memberi harapan ekonomis yang tinggi bagi masyarakat pesisir Bali Barat. Setidaknya, ancaman terhadap kelestarian terumbu karang di wilayah TNBB juga telah berkurang. Berdasarkan catatan WWF-Indonesia, tutupan karang yang tersisa dalam kondisi baik pada 1998 hanya sekitar 25 persen. Hal tersebut diduga karena banyaknya aktivitas pengeboman ikan. Padahal, TNBB merupakan bank bagi semua spesies hewan dan tanaman laut Bali.
Kegiatan budidaya rumput laut mulai digiatkan di kawasan Bali barat sejak Agustus 2003 oleh masyarakat bersama Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP) dan WWF-Indonesia. FKMPP merupakan forum yang terbentuk pada 2002 sebagai respon atas banyaknya bentrokan-bentrokan kepentingan antara nelayan, masyarakat, industri pariwisata, dan kegiatan pelestarian lingkungan TNBB. “Kegiatan ini dipilih sebagai mata pencaharian alternatif yang tidak membahayakan kawasan TNBB setelah melalui proses pengkajian yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat,” jelas Misnawiyanto, Ketua FKMPP.
Lahan seluas 40 Ha di perairan Desa Sumberkima dan Desa Pejarakan, kini telah ditutupi budidaya rumput laut. Panen yang dihasilkan pun lumayan, mencapai 12 ton per bulan. Potensi budidaya rumput laut di kawasan luar TNBB itu pun masih terbuka lebar. Berdasarkan perhitungan, potensi lahan budidaya rumput laut di sekitar kawasan TNBB bisa mencapai sekitar 298 Ha, dengan potensi menghasilkan rumput laut kering sebesar 500-750 ton setiap panen.
Menurut aktivis lingkungan yang juga pengamat terumbu karang, Putu Iwan Dewantama, alih mata pencaharian masyarakat dari nelayan pengebom ikan menjadi petani rumput laut telah terbukti mampu mengembalikan kelestarian ekosistem bawah laut perairan Gerokgak. Dikatakan Iwan, hasil riset terakhir mencatat bahwa tutupan karang di perairan Gerokgak sudah meningkat menjadi 40 persen. Sebagai upaya membantu pelestarian terumbu karang, para nelayan juga telah sepakat tidak menggunakan patok untuk menanam terumbu karang. ”Para nelayan sepakat untuk menanam rumput laut dengan sistem apung. Mereka benar-benar telah sepakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya,” cerita Iwan. [Ni Komang Erviani]
Beda dulu, beda sekarang. ”Sekarang saya tahu kalau itu (bom ikan,red) merusak,” ujarnya. Daeng Hayak kini memang sudah tidak lagi menggantungkan hidupnya dari mengebom ikan. Ia kini menggantungkan hidup pada budidaya rumput laut, usaha yang kini juga diikuti oleh sekitar 180 orang nelayan lain di pesisir Gerokgak, Buleleng, Bali.
Budidaya rumput laut telah menjadi mata pencaharian baru yang memberi keuntungan ekonomis bagi para nelayan Gerokgak. Setidaknya, keuntungan itulah yang dirasakan Daeng Hayak, sejak merintis budidaya rumput laut tersebut tahun 2005 lalu. ”Baru beberapa bulan saya tanam rumput laut, saya sudah bisa jual enam juta rupiah. Jauh lebih untung dibandingkan cari ikan pakai bom,” terang Daeng Hayak. Sejak tahun 2005 itu pula, banyak nelayan pencari ikan dengan bom dan potas di wilayah Gerokgak yang beralih ke budidaya rumput laut.
Naiknya popularitas rumput laut di kalangan nelayan sekitar Taman Nasional Bali Barat (TNBB) itu, tak cuma memberi harapan ekonomis yang tinggi bagi masyarakat pesisir Bali Barat. Setidaknya, ancaman terhadap kelestarian terumbu karang di wilayah TNBB juga telah berkurang. Berdasarkan catatan WWF-Indonesia, tutupan karang yang tersisa dalam kondisi baik pada 1998 hanya sekitar 25 persen. Hal tersebut diduga karena banyaknya aktivitas pengeboman ikan. Padahal, TNBB merupakan bank bagi semua spesies hewan dan tanaman laut Bali.
Kegiatan budidaya rumput laut mulai digiatkan di kawasan Bali barat sejak Agustus 2003 oleh masyarakat bersama Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pesisir (FKMPP) dan WWF-Indonesia. FKMPP merupakan forum yang terbentuk pada 2002 sebagai respon atas banyaknya bentrokan-bentrokan kepentingan antara nelayan, masyarakat, industri pariwisata, dan kegiatan pelestarian lingkungan TNBB. “Kegiatan ini dipilih sebagai mata pencaharian alternatif yang tidak membahayakan kawasan TNBB setelah melalui proses pengkajian yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat,” jelas Misnawiyanto, Ketua FKMPP.
Lahan seluas 40 Ha di perairan Desa Sumberkima dan Desa Pejarakan, kini telah ditutupi budidaya rumput laut. Panen yang dihasilkan pun lumayan, mencapai 12 ton per bulan. Potensi budidaya rumput laut di kawasan luar TNBB itu pun masih terbuka lebar. Berdasarkan perhitungan, potensi lahan budidaya rumput laut di sekitar kawasan TNBB bisa mencapai sekitar 298 Ha, dengan potensi menghasilkan rumput laut kering sebesar 500-750 ton setiap panen.
Menurut aktivis lingkungan yang juga pengamat terumbu karang, Putu Iwan Dewantama, alih mata pencaharian masyarakat dari nelayan pengebom ikan menjadi petani rumput laut telah terbukti mampu mengembalikan kelestarian ekosistem bawah laut perairan Gerokgak. Dikatakan Iwan, hasil riset terakhir mencatat bahwa tutupan karang di perairan Gerokgak sudah meningkat menjadi 40 persen. Sebagai upaya membantu pelestarian terumbu karang, para nelayan juga telah sepakat tidak menggunakan patok untuk menanam terumbu karang. ”Para nelayan sepakat untuk menanam rumput laut dengan sistem apung. Mereka benar-benar telah sepakat untuk menjaga kelestarian lingkungannya,” cerita Iwan. [Ni Komang Erviani]
Dulunya Danau, Kini Padang Rumput
Sebagian wilayah Danau Buyan di Buleleng Bali, kini berubah menjadi padang rumput luas.
Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu.
Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan.
Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.
Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi.
Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]
Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu.
Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan.
Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.
Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi.
Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]
Dulunya Danau, Kini Padang Rumput
Sebagian wilayah Danau Buyan di Buleleng Bali, kini berubah menjadi padang rumput luas.
Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu.
Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan.
Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.
Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi.
Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]
Ketika awan yang menggelayut di atas langit Danau Buyan Buleleng Bali makin gelap, Wayan Mustanda (39 tahun) tetap asyik dengan sabit di tangannya. Dua buah karung plastik besar yang dibawanya dari rumah, nyaris penuh terisi rumput. “Sekarang lebih gampang cari rumput. Apalagi setelah danau di sini surut,” terang Mustanda yang sehari-hari beternak sapi. Mencari rumput untuk pakan ternak setiap hari, sudah menjadi rutinitas Mustanda sejak masih kanak-kanak. Namun sejak beberapa tahun belakangan, Mustanda mendapatkan lahan rumput luas yang tak pernah habis dan makin hari makin meluas. Yakni di atas lahan bekas danau buyan yang surut. “Dulu danau ini luas. Sampai ujung tanggul di sana,” cerita Mustanda sambil menunjuk ke arah tanggul danau seluas 478,33 hektar itu.
Penyusutan muka air Danau Buyan sejak beberapa tahun belakangan, telah mengubah sebagian wilayah danau buyan menjadi padang rumput luas. Bibir danau berpindah ratusan meter dari titik tanggul semula. Dermaga kayu kecil yang biasa menjadi tempat favorit para pemancing pun, kini tak lagi bisa digunakan. Air danau sudah berpindah jauh dari titik semula.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Lembaga Penelitian Universitas Udayana, muka air Danau Buyan telah mengalami penurunan sebanyak 5 meter pada periode 2003 – 2005. Memasuki tahun 2006, kondisi tinggi muka air danau makin menunjukkan penurunan yang signifikan.
Menurut Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S., anggota tim peneliti PPLH Universitas Udayana, penurunan muka air danau sejak beberapa tahun belakangan tidak hanya terjadi di danau buyan. Penurunan muka air juga terjadi di danau Tamblingan, danau alam yang letaknya bersebelahan dengan danau buyan, masih di wilayah Kabupaten Buleleng. Bali.
Dari penelitian PPLH, ditemukan ada tiga faktor penyebab turunnya muka air danau buyan dan tamblingan. Diantaranya karena curah hujan yang sangat rendah. “Curah hujan di kawasan danau sejak lima tahun terakhir jauh lebih rendah dari sebelumnya. Padahal faktor curah hujan ini sangat menopang pasokan air danau,” terang Sandi. Menurut Sandi, curah hujan di kawasan danau pada musim kemarau biasanya mencapai rata-rata 70 mili meter per bulan. Namun sejak tahun 2002, curah hujan di musim kemarau bisa hanya sekitar 0-5 mili meter. “Jadi, penurunannya sampai di bawah normal. Ini sangat mungkin disebabkan pemanasan global. Ada perubahan iklim yang berpengaruh sangat luar biasa,” ujarnya.
Selain faktor curah hujan, penurunan muka air danau juga dipengaruhi oleh alih fungsi lahan di sekitar danau. Banyaknya masyarakat sekitar danau yang beralih dari petani kopi menjadi petani sayuran, diduga memberi kontribusi yang cukup besar pada penurunan air danau. Pasalnya, kebun kopi memiliki fungsi resapan air yang sangat tinggi, dibandingkan kebun sayuran. Sandi mencatat, luasan kebun kopi di kawasan sekitar danau buyan pada 2003 hanya tersisa 14,32 hektar, dibandingkan tahun 1981 lalu yang mencapai 118,34 hektar. Selain itu, tercatat luas pemukiman sekitar danau meningkat dari hanya 58,06 hektar tahun 1981 menjadi 86,10 hektar pada 2003. “Surutnya air danau juga disebabkan ada aksi pengambilan air danau secara besar-besaran oleh warga sekitar. Karena sekarang sudah banyak hotel dan vila di sekitarnya,” tegas Sandi.
Turunnya muka air danau Buyan dan Tamblingan, dikhawatirkan dapat mengurangi pasokan air bagi masyarakat Bali. Pasalnya, danau buyan dan tamblingan merupakan dua dari empat danau alam di Bali yang memiliki fungsi vital sebagai penyangga tata air. Dua danau lainnya, yakni danau beratan di Kabupaten Tabanan dan Danau Batur di Kabupaten Bangli. Sandi berharap pemerintah dan masyarakat di sekitarnya bisa duduk bersama untuk mencegah kerusakan lingkungan yang makin parah. [Ni Komang Erviani]
Sabtu, 08 Desember 2007
Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan
Konservasi Laut Ala Nelayan Serangan
Nelayan Pulau Serangan Bali melakukan penanaman terumbu karang di wilayah laut mereka. Mengembalikan keseimbangan ekosistem yang rusak karena reklamasi dan eksplotasi karang untuk bahan bangunan.
DENPASAR (SINDO) – Belasan nelayan Pulau Serangan Denpasar Bali, sibuk merangkai potongan-potongan pipa paralon dan jaring ikan berukuran besar. “Ini akan dipakai untuk wadah meletakkan terumbu karang, sebelum dibawa ke laut,” jelas Wayan Karsika, (38 tahun), salah seorang nelayan. Sejak awal Desember ini, Karsika dan anggota Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan sibuk bersiap-siap menerima kunjungan partisipan UNFCCC (United Nation Framework on Climate Change Conference) pada 9 dan 10 Desember mendatang. “Yah, kami perbaiki bagian-bagian yang rusak aja. Biar kelihatan sedikit lebih rapi,” ujar Wayan Patut, Koordinator Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara.
Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan bakal menjadi salah satu lokasi pararel event UNFCCC, karena keberhasilan mereka membangun konservasi terumbu karang di Pulau Serangan. Konservasi dilakukan dengan melakukan penanaman terumbu karang di laut sekitar Pulau Serangan. Pulau Serangan merupakan pulau kecil di sisi timur Pulau Bali, masih berada di wilayah administratif Kota Denpasar Bali. Sejak 1997, Pulau Serangan direklamasi hingga menyatu dengan Pulau Bali. Reklamasi juga memperluas wilayah Pulau Serangan dari hanya 112 hektar menjadi seluas 480 hektar.
Menurut Wayan Patut, program konservasi dimulai pada 2003 dengan melakukan perbanyakan terumbu karang. “Kami menerapkan metode transpalantasi (stek,red),” terang Patut. Media tanam yang digunakan dalam metode transplantasi berupa kerangka plat beton yang kemudian ditempeli bibit terumbu karang dengan substrat buatan. Dengan metode ini, terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.
Sebagai upaya menggali dana untuk membiayai program konservasi, nelayan Serangan tak kehabisan akal. “Kami sekarang menjual soft coral dan terumbu karang buatan,” cerita Patut. Soft coral merupakan jenis terumbu karang lunak yang hidup di antara terumbu karang keras (hard coral,red) dan tidak memberi manfaat signifikan bagi ekosistem. Soft coral bahkan cenderung mengganggu pertumbuhan hard coral dan beracun bagi ikan. Soft coral yang diperjualbelikan nelayan Serangan, diambil dari kebun karang buatan mereka sendiri. “Kami tidak mengambil soft coral di alam bebas. Kami cuma mengambil soft coral yang mengganggu kebun karang buatan kami,”tegas Patut.
Selain menjual soft coral, nelayan Serangan juga menjual terumbu karang buatan yang dibentuk dari campuran semen, batu apung, dan mill. Sebelum dijual, karang dbuatan diletakkan di dalam laut agar ditumbuhi alga. Karang buatan yang telah ditumbuhi alga itulah yang kemudian dijual untuk hiasan akuarium air laut. Soft coral dan terumbu karang buatan nelayan Serangan sudah diekspor ke luar negeri, yakni Paris. Selain digunakan untuk membiayai program konservasi, hasil penjualan soft coral dan terumbu karang buatan juga dibagikan kepada para nelayan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari program konservasi juga dirasakan oleh nelayan setempat.
Inisiatif warga melakukan konservasi terumbu karang Pulau Serangan, tidak lepas dari proyek reklamasi besar-besaran yang dilakukan investor. Menurut Wayan Patut, ide melakukan konservasi terumbu karang di Serangan bermula dari kesadaran atas tingginya kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Kerusakan lingkungan tersebut berdampak sangat besar pada perekonomian warga.
Wayan Karsika (38 tahun) termasuk salah satu nelayan yang merasakan dampak nyata kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Gara-gara kerusakan lingkungan, kini ia hanya bisa mendapat penghasilan melaut rata-rata Rp. 10 ribu per bulan. “Itu kalau beruntung. Kalau nggak beruntung, bisa nggak makan,” terangnya. Mencari ikan sudah menjadi bagian dari keseharian Karsika sejak kecil. Ia bahkan membiayai uang sekolahnya sendiri dari hasil mencari ikan, seperti yang juga dilakukan oleh sebagian besar anak-anak Serangan lainnya ketika itu. Namun hasil laut yang melimpah sudah menjadi barang mewah bagi Karsika dan nelayan lainnya di Pulau Serangan sejak reklamasi dilakukan.
Selain kesulitan mencari ikan, reklamasi juga menyebabkan hilangnya mata pencaharian 150 orang istri nelayan yang menjadi pedagang souvenir, pencari cacing laut, serta puluhan orang penambang (transportasi penyeberangan dengan perahu,red). Serangan dulunya merupakan salah satu tempat wisata favorit di Bali dengan daya tarik utama berupa atraksi penyu. Banyaknya penyu yang bertelur secara alami di Serangan, bahkan membuat pulau ini dikenal dengan sebutan pulau penyu.“Tapi setelah reklamasi, jarang sekali ada penyu datang. Karena lingkungannya sudah rusak. Wisatawan juga jadi sepi sekali,” ujar Nyoman Sopi (42 tahun), mantan pemandu wisata yang sempat kehilangan pekerjaannya paska reklamasi.
Banyaknya mata pencaharian yang hilang, sempat membuat warga Serangan mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan. Warga memilih mencari karang di laut dan dijual untuk bahan bangunan. Setelah bertahun-tahun, baru pada 2003, warga sadar bahwa aksi tersebut makin memperparah kerusakan lingkungan di wilayah mereka. Berangkat dari kesadaran itulah, para nelayan lantas merintis upaya konservasi terumbu karang di laut Serangan. Harapannya agar kerusakan lingkungan Serangan tidak semakin parah. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali ekosistem Serangan. [Ni Komang Erviani]
Nelayan Pulau Serangan Bali melakukan penanaman terumbu karang di wilayah laut mereka. Mengembalikan keseimbangan ekosistem yang rusak karena reklamasi dan eksplotasi karang untuk bahan bangunan.
DENPASAR (SINDO) – Belasan nelayan Pulau Serangan Denpasar Bali, sibuk merangkai potongan-potongan pipa paralon dan jaring ikan berukuran besar. “Ini akan dipakai untuk wadah meletakkan terumbu karang, sebelum dibawa ke laut,” jelas Wayan Karsika, (38 tahun), salah seorang nelayan. Sejak awal Desember ini, Karsika dan anggota Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan sibuk bersiap-siap menerima kunjungan partisipan UNFCCC (United Nation Framework on Climate Change Conference) pada 9 dan 10 Desember mendatang. “Yah, kami perbaiki bagian-bagian yang rusak aja. Biar kelihatan sedikit lebih rapi,” ujar Wayan Patut, Koordinator Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara.
Kelompok Nelayan Pesisir Karya Segara Serangan bakal menjadi salah satu lokasi pararel event UNFCCC, karena keberhasilan mereka membangun konservasi terumbu karang di Pulau Serangan. Konservasi dilakukan dengan melakukan penanaman terumbu karang di laut sekitar Pulau Serangan. Pulau Serangan merupakan pulau kecil di sisi timur Pulau Bali, masih berada di wilayah administratif Kota Denpasar Bali. Sejak 1997, Pulau Serangan direklamasi hingga menyatu dengan Pulau Bali. Reklamasi juga memperluas wilayah Pulau Serangan dari hanya 112 hektar menjadi seluas 480 hektar.
Menurut Wayan Patut, program konservasi dimulai pada 2003 dengan melakukan perbanyakan terumbu karang. “Kami menerapkan metode transpalantasi (stek,red),” terang Patut. Media tanam yang digunakan dalam metode transplantasi berupa kerangka plat beton yang kemudian ditempeli bibit terumbu karang dengan substrat buatan. Dengan metode ini, terumbu karang dapat tumbuh lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari seharusnya, atau sekitar 1 cm per bulannya. Hingga kini, lahan penanaman terumbu karang di laut Serangan sudah mencapai luas 1 hektar dengan 20.000 pieces terumbu karang. Kebun karang buatan yang berada di kedalaman 4–12 meter itu kini sudah menjadi rumah bagi 40 spesies ikan.
Sebagai upaya menggali dana untuk membiayai program konservasi, nelayan Serangan tak kehabisan akal. “Kami sekarang menjual soft coral dan terumbu karang buatan,” cerita Patut. Soft coral merupakan jenis terumbu karang lunak yang hidup di antara terumbu karang keras (hard coral,red) dan tidak memberi manfaat signifikan bagi ekosistem. Soft coral bahkan cenderung mengganggu pertumbuhan hard coral dan beracun bagi ikan. Soft coral yang diperjualbelikan nelayan Serangan, diambil dari kebun karang buatan mereka sendiri. “Kami tidak mengambil soft coral di alam bebas. Kami cuma mengambil soft coral yang mengganggu kebun karang buatan kami,”tegas Patut.
Selain menjual soft coral, nelayan Serangan juga menjual terumbu karang buatan yang dibentuk dari campuran semen, batu apung, dan mill. Sebelum dijual, karang dbuatan diletakkan di dalam laut agar ditumbuhi alga. Karang buatan yang telah ditumbuhi alga itulah yang kemudian dijual untuk hiasan akuarium air laut. Soft coral dan terumbu karang buatan nelayan Serangan sudah diekspor ke luar negeri, yakni Paris. Selain digunakan untuk membiayai program konservasi, hasil penjualan soft coral dan terumbu karang buatan juga dibagikan kepada para nelayan. Dengan begitu, manfaat ekonomi dari program konservasi juga dirasakan oleh nelayan setempat.
Inisiatif warga melakukan konservasi terumbu karang Pulau Serangan, tidak lepas dari proyek reklamasi besar-besaran yang dilakukan investor. Menurut Wayan Patut, ide melakukan konservasi terumbu karang di Serangan bermula dari kesadaran atas tingginya kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Kerusakan lingkungan tersebut berdampak sangat besar pada perekonomian warga.
Wayan Karsika (38 tahun) termasuk salah satu nelayan yang merasakan dampak nyata kerusakan lingkungan akibat reklamasi. Gara-gara kerusakan lingkungan, kini ia hanya bisa mendapat penghasilan melaut rata-rata Rp. 10 ribu per bulan. “Itu kalau beruntung. Kalau nggak beruntung, bisa nggak makan,” terangnya. Mencari ikan sudah menjadi bagian dari keseharian Karsika sejak kecil. Ia bahkan membiayai uang sekolahnya sendiri dari hasil mencari ikan, seperti yang juga dilakukan oleh sebagian besar anak-anak Serangan lainnya ketika itu. Namun hasil laut yang melimpah sudah menjadi barang mewah bagi Karsika dan nelayan lainnya di Pulau Serangan sejak reklamasi dilakukan.
Selain kesulitan mencari ikan, reklamasi juga menyebabkan hilangnya mata pencaharian 150 orang istri nelayan yang menjadi pedagang souvenir, pencari cacing laut, serta puluhan orang penambang (transportasi penyeberangan dengan perahu,red). Serangan dulunya merupakan salah satu tempat wisata favorit di Bali dengan daya tarik utama berupa atraksi penyu. Banyaknya penyu yang bertelur secara alami di Serangan, bahkan membuat pulau ini dikenal dengan sebutan pulau penyu.“Tapi setelah reklamasi, jarang sekali ada penyu datang. Karena lingkungannya sudah rusak. Wisatawan juga jadi sepi sekali,” ujar Nyoman Sopi (42 tahun), mantan pemandu wisata yang sempat kehilangan pekerjaannya paska reklamasi.
Banyaknya mata pencaharian yang hilang, sempat membuat warga Serangan mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan. Warga memilih mencari karang di laut dan dijual untuk bahan bangunan. Setelah bertahun-tahun, baru pada 2003, warga sadar bahwa aksi tersebut makin memperparah kerusakan lingkungan di wilayah mereka. Berangkat dari kesadaran itulah, para nelayan lantas merintis upaya konservasi terumbu karang di laut Serangan. Harapannya agar kerusakan lingkungan Serangan tidak semakin parah. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan kembali ekosistem Serangan. [Ni Komang Erviani]
Rabu, 05 Desember 2007
Taman Koral Berbasis Masyarakat Adat
Sebuah taman koral seluas 2,5 hektar, sukses dibangun dengan teknik biorock di kedalaman 15 meter laut Pemuteran, Buleleng, Bali. Mustahil tanpa keterlibatan warga desa.
BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.
Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan.
Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran. “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.
“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat.
Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.
Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari.
Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya.
Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana.
Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.
Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]
BULELENG (SINDO)-Kadek Dharma (19 tahun) bersama tiga temannya, tampak kelelahan setelah hampir satu jam berada di kedalaman 15 km laut Pemuteran, Buleleng Bali, sekitar tiga jam perjalanan dari Kota Denpasar. Masing-masing dari mereka membawa sekantung besar sampah plastik. “Sampah di bawah (laut,red) sebenarnya masih banyak, tapi nggak mungkin kami ambil semua, Jadi, kami ambil setiap hari semampunya,” cerita warga asli Desa Pemuteran Buleleng itu.
Dharma dan ketiga temannya merupakan anggota Reef Gardener, sebutan bagi para petugas kebersihan bawah laut pemuteran. Sehari-hari, Reef Gardener bertugas membersihkan terumbu karang di laut Pemuteran dari sampah plastik. “Karena terumbu karang akan terganggu kalau ditutupi sampah plastik,” Dharma menjelaskan.
Tidak cuma Dharma yang merasa peduli dengan kehidupan terumbu karang laut di wilayah Desa Pemuteran. Made Gunaksa misalnya, kini menjadi salah satu dari 28 anggota pecalang laut Desa Adat Pemuteran. Pecalang merupakan kelompok pengamanan swakarsa oleh masyarakat adat di Bali. Seperti namanya, pecalang laut punya tugas khusus mengamankan laut di wilayah Desa Adat Pemuteran. “Kami berpatroli setiap hari. Kalau ada nelayan yang tertangkap basah menangkap ikan hias dengan potasium, langsung kami tangkap,” terang pria yang sehari-hari juga menjadi guide diving untuk tamu mancanegara itu.
“Desa kami benar-benar serius menjaga kelestarian terumbu karang di sini,” demikian Wayan Siram, tokoh masyarakat di Desa Adat Pemuteran. Pernyataan Siram cukup beralasan. Selain memiliki reef gardener dan pecalang laut, Desa Adat Pemuteran juga memiliki hamparan taman koral buatan seluas 2,5 hektar di bawah laut. Taman koral di kedalaman 15 meter tersebut, dirintis bersama pada tahun 2000 lalu antara warga masyarakat dan pengusaha pariwisata setempat.
Lewat sebuah yayasan bernama Yayasan Karang Lestari, masyarakat kembali menghijaukan wilayah laut pemuteran yang kritis ketika itu. Banyaknya aksi penangkapan ikan hias dengan bom potassium sejak tahun 1990-an, membuat kawasan laut Pemuteran sangat tidak menguntungkan bagi nelayan setempat. “Dulu kami kesulitan cari ikan. Sekali melaut, paling cuma dapat satu kaleng ikan teri batu. Padahal kalau normal, seharusnya dapat 60 sampai 70 kaleng,” kenang Komang Madiarta, nelayan setempat. Padahal, desa dengan 2000 kepala keluarga atau 8000 jiwa itu sangat menggantungkan hidup dari aktivitas melaut. Geografis desa yang kering, membuat warga hanya bisa bertanam jagung pada saat musim hujan. Buah pahit yang dipetik nelayan setempat, menjadi titik balik kesadaran mereka untuk menjaga laut Pemuteran.
Kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan taman koral di Pemuteran. Untuk mempercepat proses konservasi terumbu karang di Pemuteran, diterapkan teknik transplantasi karang dengan arus listrik. Teknologi dari Jerman itu disebut dengan biorock. Arus listrik tegangan rendah digunakan untuk mempercepat pertumbuhan karang. “Teknik biorock memungkinkan pertumbuhan karang lima sampai delapan kali lebih cepat dari pertumbuhan normal,” terang Agung Prana, Ketua Yayasan Karang Lestari.
Hasil konservasi laut pemuteran, kini sudah terlihat jelas. Sebanyak delapan puluh jenis terumbu karang dengan ratusan spesies ikan, tumbuh subur di lahan 2,5 hektar laut Pemuteran. Bahkan hanya beberapa belas meter dari sana, kini sudah dibangun sea garden, sebuah taman bawah laut yang juga dibangun dengan teknologi biorock. Bedanya, arus listrik di sea garden digerakkan oleh tenaga surya.
Sea garden dibangun dengan meletakkan enam buah bangkai kapal, puluhan patung budha, serta onggokan-ongokan bangunan tua di kedalaman 20 meter sebagai kerangka terumbu karang. Ada dua site menarik di dalam sea garden, yakni Pura Tembok dan Tangkad Jaran. “Jadi kami seperti memindahkan taman ke laut,” cerita Prana.
Hasil konservasi terumbu karang Pemuteran, juga terlihat dari banyaknya taman-taman koral yang terbentuk secara alamiah di sekitar laut Pemuteran. “Sekarang, kita nggak sulit lagi cari ikan,” terang Madiarta. Masyarakat Pemuteran kini juga tak hanya menggantungkan hidup dari bertani dan mencari ikan. Daya tarik pelestarian lingkungan membuat minat turis asing berkunjung ke Pemuteran makin tinggi. “Sekarang banyak warga kami yang kerja di hotel, juga guide. Perekonomian masyarakat malah meningkat. Makanya kami pikir, kalau bukan kami yang menjaga laut di sini, siapa lagi,” ujar Siram bangga.
Keberhasilan konservasi terumbu karang di Pemuteran, menurut Agung Prana, tak lepas dari pelibatan dan dukungan penuh dari warga desa setempat. “Teknologi biorock ini terbukti gagal di Maldiv dan Filipina. Kunci keberhasilan di Pemuteran adalah community development. Tanpa itu, teknologi apapun akan jadi percuma. Mustahil bias berhasil,” terang Prana [Ni Komang Erviani/ dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 6 Desember 2007 ]
Tebang Pohon Kena Sanksi Adat
Ketika demam perubahan iklim melanda masyarakat Indonesia dengan aksi tanam sejuta pohon, masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, justru kebingungan mencari lahan kosong untuk ditanami. Aturan adat desa setempat ternyata sudah mengatur konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro pun dibangun untuk mengurangi penggunaan bahan baker fosil.
KARANGASEM (SINDO) – Hamparan sawah luas dengan bukit menghijau di baliknya, langsung menyapa ketika memasuki perbatasan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Tak ada satu pun pemukiman warga di sekitarnya. Hanya sebuah bangunan mungil berukuran 2 x 3 meter, tampak berdiri kokoh di atas sebuah saluran irigasi milik Subak Tenganan. Subak merupakan sebutan untuk sistem saluran irigasi sawah tradisional di Bali.
Sebuah generator listrik yang digerakkan oleh putaran turbin dari aliran air subak, terlihat memenuhi bangunan mungil yang didominasi bahan kayu. “Listrik yang dihasilkan di sini, kami pakai untuk menggerakkkan penggilingan beras. Jadi, padi yang dihasilkan desa kami, bisa langsung kami olah jadi beras,” begitu Mangku Wayan Widya, tokoh Desa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan detil alur kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu.
Mikro hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang ramah lingkungan. Teknologi sederhana yang mengubah aliran air menjadi listrik tersebut, kini coba diterapkan warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan untuk menggerakkan penggilingan beras di desa mereka. “Semoga dengan begini, masyarakat desa kami tidak perlu lagi beli beras. Jadi kami bisa menikmati beras hasil panen di sawah sendiri,” harap Mangku Widya.
Pembangunan PLTMH oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, memang bukan tanpa alasan. PLTMH dibangun atas kesadaran masyarakat akan perubahan kehidupan sosial dan ekonomi yang mereka jalani. “Kami menyadari ada yang janggal. Kami punya sawah seluas 255 hektar, tetapi semua warga kami beli beras di luar desa,” terang Wakil Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra. Kelihan adat merupakan sebutan bagi tokoh pemimpin desa di Bali.
Dijelaskan Sadra, masyarakat Tenganan dulunya hidup dari sawah desa seluas total 255 hektar. “Bahkan dulu kami semua di sini punya lumbung padi, untuk menyimpan hasil panen. Seluruh hasil panen kami gunakan untuk konsumsi sendiri,” kenang Sadra. Namun kini, lumbung-lumbung padi milik warga tak lagi berfungsi. “Sekarang, semua warga beli beras di luar desa. Di swalayan atau toko-toko,” terang Sadra. Masyarakat kini terpaksa membeli beras, karena hasil panen dari sawah mereka dijual dalam bentuk gabah. Tak cuma itu. Beralihnya mata pencaharian penduduk ke bidang pariwisata, membuat sawah-sawah mereka digarap oleh warga desa tetangga dengan sistem bagi hasil.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan masyarakat adat Tenganan, lahan sawah desa seluas 255 hektar dapat menghasilkan sedikitnya 500 ton beras setiap kali panen. Namun dengan sistem bagi hasil yang belakangan diterapkan masyarakat, desa adat mendapat hasil yang jauh lebih kecil. Di tahun 2006 misalnya, desa hanya menerima 266 ton beras. Sadra memperkirakan, dari total panen yang seharusnya mereka terima pada tahun 2006, masyarakat desa mengalami kerugian total Rp. 300 juta. “Ditambah lagi, hampir semua masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli beras,” keluh Sadra.
Penggilingan beras mikrohidro diharapkan menjadi solusi untuk membangun kembali swasembada beras di Tenganan, dengan cara yang tetap ramah lingkungan. Itu sebabnya, selip beras digerakkan dengan tenaga listrik yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil. PLTMH hanya memanfaatkan sumber daya air dari sungai yang melintasi desa, Sungai Buhu. Debit air sungai Buhu yang cukup besar, yakni 350 liter/detik, kini bisa menghasilkan sedikitnya 12.500 watt listrik untuk menggerakkan alat penggilingan beras. Program PLTMH dibuat masyarakat desa Tenganan atas dukungan Yayasan Wisnu, Global Environmental Facilities-Small Grannt Programs (GEF-SGP), Jaringan Ekowisata Desa, Bank Indonesia (BI), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Desa Adat Tenganan Pegringsingan memang tergolong satu dari sedikit desa di Bali, bahkan mungkin Indonesia, yang punya kepedulian terhadap masalah lingkungan. Jauh sebelum masyarakat dunia berteriak tentang pemanasan global, desa yang terletak di bagian timur pulau Bali ini sudah mengatur pelestarian lingkungannya dalam awig-awig (aturan) desa. Aturan desa jelas mengatur peruntukan lahan dari total 917 hektar wilayahnya. “Itu sebabnya, luas sawah desa tetap 255 hektar sejak dulu. Tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah mengalihkan fungsi lahan di sini,” ujar Sadra bangga.
Keseluruhan tanah di Desa Tenganan adalah milik desa adat, walaupun atas nama perorangan atau kelompok. Pengelolaan tanah diatur jelas dalam aturan desa, terutama untuk mempertahankan keberadaannya dan kepemilikannya. Masyarakat Tenganan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Hal inilah yang menyebabkan luas wilayah Tenganan saat ini masih sama seperti pada abad ke-11 silam. Dalam aturan desa juga tegas disebutkan bahwa desa adat memiliki hak ngerampag, hak mengambil hasil bumi di tanah milik pribadi.
Sederet aturan lainnya, juga tetap dipegang erat masyarakat di desa yang kini menjadi desa wisata budaya itu. Pohon yang ada di wilayah Tenganan misalnya, tak boleh ditebang sembarangan, bahkan untuk pohon yang tumbuh di tanah milik pribadi. Terutama untuk pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, dan durian. Bahkan untuk memetik hasilnya, warga hanya dihasilkan mengambil buah yang jatuh setelah matang di pohon. Jika pohon-pohon tersebut tumbang, maka kayunya akan secara otomatis menjadi milik desa. Kayu tersebut nantinya bakal digunakan untuk membuat atau memperbaiki fasilitas umum. Karena sudah menjadi aturan, maka semua bentuk pelanggaran bakal dikenai sanksi adat. Dapat berupa teguran, dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa.
Aturan ketat Desa Tenganan, membuat desa ini tetap terjaga kelestarian alamnya. Bahkan ketika masyarakat Indonesia heboh-heboh dengan aksi tanam sejuta pohon, nmasyarakat Tenganan tak lagi menemukan lahan kosong untuk bertanam. “Kita tidak tahu lagi harus tanam pohon di mana,” ujar Sadra. Permukiman penduduk tetap terjaga tanpa mengganggu lahan hutan dan persawahan. “Jadi jelas, masyarakat Tenganan sudah melakukan konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Mereka tidak perlu ikut aksi tanam sejuta pohon, karena mereka sudah menjaga pohon-pohon yang ada sejak dulu,” ujar I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu.
Pembangunan selip beras bertenaga mikrohidro diharapkan bisa menjadi bentuk lain dari upaya konservasi lingkungan di Tenganan. Diakui Suarnatha, dana yang diperlukan untuk membangun selip beras mikrohidro tersebut tak sedikit, mencapai hampir Rp. 400 juta. “Tapi kita harus lihat manfaatnya. Ini bukti upaya pelestarian lingkungan yang nyata dari masyarakat Tenganan dengan kearifan lokalnya,” tegas Suarnatha. Masyarakat Tenganan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menyelamatkan alam dari kerusakan lingkungan. [Ni Komang Erviani / dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 4 Desember 2007]
KARANGASEM (SINDO) – Hamparan sawah luas dengan bukit menghijau di baliknya, langsung menyapa ketika memasuki perbatasan Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem Bali. Tak ada satu pun pemukiman warga di sekitarnya. Hanya sebuah bangunan mungil berukuran 2 x 3 meter, tampak berdiri kokoh di atas sebuah saluran irigasi milik Subak Tenganan. Subak merupakan sebutan untuk sistem saluran irigasi sawah tradisional di Bali.
Sebuah generator listrik yang digerakkan oleh putaran turbin dari aliran air subak, terlihat memenuhi bangunan mungil yang didominasi bahan kayu. “Listrik yang dihasilkan di sini, kami pakai untuk menggerakkkan penggilingan beras. Jadi, padi yang dihasilkan desa kami, bisa langsung kami olah jadi beras,” begitu Mangku Wayan Widya, tokoh Desa Adat Tenganan Pegringsingan, menjelaskan detil alur kerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) itu.
Mikro hidro merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang ramah lingkungan. Teknologi sederhana yang mengubah aliran air menjadi listrik tersebut, kini coba diterapkan warga masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan untuk menggerakkan penggilingan beras di desa mereka. “Semoga dengan begini, masyarakat desa kami tidak perlu lagi beli beras. Jadi kami bisa menikmati beras hasil panen di sawah sendiri,” harap Mangku Widya.
Pembangunan PLTMH oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan, memang bukan tanpa alasan. PLTMH dibangun atas kesadaran masyarakat akan perubahan kehidupan sosial dan ekonomi yang mereka jalani. “Kami menyadari ada yang janggal. Kami punya sawah seluas 255 hektar, tetapi semua warga kami beli beras di luar desa,” terang Wakil Kelihan Adat Desa Tenganan Pegringsingan, Nyoman Sadra. Kelihan adat merupakan sebutan bagi tokoh pemimpin desa di Bali.
Dijelaskan Sadra, masyarakat Tenganan dulunya hidup dari sawah desa seluas total 255 hektar. “Bahkan dulu kami semua di sini punya lumbung padi, untuk menyimpan hasil panen. Seluruh hasil panen kami gunakan untuk konsumsi sendiri,” kenang Sadra. Namun kini, lumbung-lumbung padi milik warga tak lagi berfungsi. “Sekarang, semua warga beli beras di luar desa. Di swalayan atau toko-toko,” terang Sadra. Masyarakat kini terpaksa membeli beras, karena hasil panen dari sawah mereka dijual dalam bentuk gabah. Tak cuma itu. Beralihnya mata pencaharian penduduk ke bidang pariwisata, membuat sawah-sawah mereka digarap oleh warga desa tetangga dengan sistem bagi hasil.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan masyarakat adat Tenganan, lahan sawah desa seluas 255 hektar dapat menghasilkan sedikitnya 500 ton beras setiap kali panen. Namun dengan sistem bagi hasil yang belakangan diterapkan masyarakat, desa adat mendapat hasil yang jauh lebih kecil. Di tahun 2006 misalnya, desa hanya menerima 266 ton beras. Sadra memperkirakan, dari total panen yang seharusnya mereka terima pada tahun 2006, masyarakat desa mengalami kerugian total Rp. 300 juta. “Ditambah lagi, hampir semua masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli beras,” keluh Sadra.
Penggilingan beras mikrohidro diharapkan menjadi solusi untuk membangun kembali swasembada beras di Tenganan, dengan cara yang tetap ramah lingkungan. Itu sebabnya, selip beras digerakkan dengan tenaga listrik yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil. PLTMH hanya memanfaatkan sumber daya air dari sungai yang melintasi desa, Sungai Buhu. Debit air sungai Buhu yang cukup besar, yakni 350 liter/detik, kini bisa menghasilkan sedikitnya 12.500 watt listrik untuk menggerakkan alat penggilingan beras. Program PLTMH dibuat masyarakat desa Tenganan atas dukungan Yayasan Wisnu, Global Environmental Facilities-Small Grannt Programs (GEF-SGP), Jaringan Ekowisata Desa, Bank Indonesia (BI), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Desa Adat Tenganan Pegringsingan memang tergolong satu dari sedikit desa di Bali, bahkan mungkin Indonesia, yang punya kepedulian terhadap masalah lingkungan. Jauh sebelum masyarakat dunia berteriak tentang pemanasan global, desa yang terletak di bagian timur pulau Bali ini sudah mengatur pelestarian lingkungannya dalam awig-awig (aturan) desa. Aturan desa jelas mengatur peruntukan lahan dari total 917 hektar wilayahnya. “Itu sebabnya, luas sawah desa tetap 255 hektar sejak dulu. Tidak pernah berkurang. Kami tidak pernah mengalihkan fungsi lahan di sini,” ujar Sadra bangga.
Keseluruhan tanah di Desa Tenganan adalah milik desa adat, walaupun atas nama perorangan atau kelompok. Pengelolaan tanah diatur jelas dalam aturan desa, terutama untuk mempertahankan keberadaannya dan kepemilikannya. Masyarakat Tenganan tidak boleh menjual atau menggadaikan tanah kepada orang luar Tenganan. Hal inilah yang menyebabkan luas wilayah Tenganan saat ini masih sama seperti pada abad ke-11 silam. Dalam aturan desa juga tegas disebutkan bahwa desa adat memiliki hak ngerampag, hak mengambil hasil bumi di tanah milik pribadi.
Sederet aturan lainnya, juga tetap dipegang erat masyarakat di desa yang kini menjadi desa wisata budaya itu. Pohon yang ada di wilayah Tenganan misalnya, tak boleh ditebang sembarangan, bahkan untuk pohon yang tumbuh di tanah milik pribadi. Terutama untuk pohon nangka, tehep, kemiri, pangi, cempaka, dan durian. Bahkan untuk memetik hasilnya, warga hanya dihasilkan mengambil buah yang jatuh setelah matang di pohon. Jika pohon-pohon tersebut tumbang, maka kayunya akan secara otomatis menjadi milik desa. Kayu tersebut nantinya bakal digunakan untuk membuat atau memperbaiki fasilitas umum. Karena sudah menjadi aturan, maka semua bentuk pelanggaran bakal dikenai sanksi adat. Dapat berupa teguran, dikucilkan atau bahkan dikeluarkan dari desa.
Aturan ketat Desa Tenganan, membuat desa ini tetap terjaga kelestarian alamnya. Bahkan ketika masyarakat Indonesia heboh-heboh dengan aksi tanam sejuta pohon, nmasyarakat Tenganan tak lagi menemukan lahan kosong untuk bertanam. “Kita tidak tahu lagi harus tanam pohon di mana,” ujar Sadra. Permukiman penduduk tetap terjaga tanpa mengganggu lahan hutan dan persawahan. “Jadi jelas, masyarakat Tenganan sudah melakukan konservasi lingkungan sejak abad ke-11. Mereka tidak perlu ikut aksi tanam sejuta pohon, karena mereka sudah menjaga pohon-pohon yang ada sejak dulu,” ujar I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu.
Pembangunan selip beras bertenaga mikrohidro diharapkan bisa menjadi bentuk lain dari upaya konservasi lingkungan di Tenganan. Diakui Suarnatha, dana yang diperlukan untuk membangun selip beras mikrohidro tersebut tak sedikit, mencapai hampir Rp. 400 juta. “Tapi kita harus lihat manfaatnya. Ini bukti upaya pelestarian lingkungan yang nyata dari masyarakat Tenganan dengan kearifan lokalnya,” tegas Suarnatha. Masyarakat Tenganan membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menyelamatkan alam dari kerusakan lingkungan. [Ni Komang Erviani / dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi 4 Desember 2007]
Langganan:
Postingan (Atom)